Hari ini cukup spesial bagi organisasi yang telah membesarkan dan membuatku banyak belajar di sana, Studi Ilmiah Mahasiswa. Tepat di periode kepengurusan ketiga sebagai UKM, hari ini sang ketua umum SIM, Dwi Prasetyo mempertanggungjawabkan kepengurusannya. Kami yang menjadi alumni mendapatkan kesempatan untuk hadir di forum yang kami rindukan di tahun yang lalu itu.

Kehadiran kami sebagai alumni tentu tidak lebih sebagai ajang silaturahim dan membelajarkan adik-adik tentang bagaimana cara mengevaluasi sebuah kinerja lembaga secara solutif dan inovatif. UKM ini telah berjanji untuk tidak menjadi bagian dari sejarah masa lalu yang hanya sibuk debat untuk masalah titik, koma dan eyel-eyelan seputar program kerja yang tidak terlaksana yang tersaji dalam matriks-matriks super rumit. UKM ini belajar menyederhanakan sebuah masalah dan belajar menjadi sebuah keluarga.

Bagi diriku sendiri, LPJ pengurus tahun ini adalah cermin bagaimana keberhasilan kaderisasi kami. Jika mereka memaparkan sesuatu yang berkualitas, itu artinya kepengurusan kami di masa lalu berhasil. Jika ternyata tidak, maka itu artinya kepengurusan kami masih banyak kekurangan. Jadi menurutku, keberhasilan kepengurusan SIM itu tidak dilihat dari periodenya, tapi 2 periode sesudahnya.

Menurut kebijakan yang kami buat, pengurus inti itu menangani dua angkatan sesudahnya. Artinya untuk angkatan tepat dibawahnya, pengurus bertanggung jawab untuk menyiapkan mereka sebagai para pemimpin masa depan. Sedangkan untuk adik tingkatnya lagi, pengurus harus menyediakan ladang belajar dan aktualisasi yang seusai.

Maka pengurus yang berhasil adalah pengurus yang mampu membuat kepengurusan sesudahnya berkembang jauh lebih baik dari masanya. Sekaligus mewariskan tanggungan calon-calon pemimpin yang sudah mapan pemikirannya. Apakah itu sudah tercapai? Kami tidak ingin menilai kinerja kami sendiri. Kami mempersilahkan semua untuk melihat bagaimana SIM 2013 ini dan SIM 2014 nanti. Tentu saja, SIM 2014 nanti lebih berhak diklaim oleh adik-adik kami yang LPJ-an hari ini.

Intinya, banyak perspektif berorganisasi kita yang hari ini perlu diupgrade. Kekolotan cara berpikir kita, akibat kemalasan belajar dan bertualang adalah sebuah bahaya besar. Jika itu hanya berakibat pada diri kita tidak masalah, tapi jika pola pikir itu menular pada generasi kita dan mengakar hingga berabad-abad lamanya, siapa yang akan bertanggung jawab di akhirat nanti? Semoga kita bisa bijak untuk berpikir.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.