Ceritanya, aku mau memberi kenang-kenangan sekaligus oleh-oleh dari Eropa untuk teman-teman SIM-ku yang keren. Jadilah sore ini kami makan-makan lagi di sebuah warung makan di tepi Sungai Bengawan Solo (aman dari banjir insya Allah). Inilah mungkin kali terakhir para Ranger SIM 2012 yang akan segera pensiun tepat setelah pelantikan pengurus baru nanti.

Di sebuah restoran yang lebih mahal dari pada waktu makan-makan sebelum aku berangkat ke Jerman, kami melepas lelah di senja yang baik ini, tidak hujan dan tidak berangin kencang. Satu per satu sahabat-sahabat tangguhku berdatangan dan bergabung dalam sebuah meja kotak yang cukup untuk menampung makanan yang siap kami habiskan nanti. Seperti pada umumnya menyambut orang yang baru pulang dari plesiran, apalagi dari luar negeri, mereka ingin mendengar cerita-ceritaku. Dan jadilah aku seperti tukang dongeng saja untuk menampilkan keindahan Jerman kepada mereka. Yah, tak mengapa, tapi sepertinya coklat dan berbagai kenang-kenangan yang kusodorkan itu lebih menarik dari pada ceritaku. He he he.

Inilah sore yang membuatku sangat bersyukur. Bersyukur karena dikaruniai teman-teman yang luar biasa. Dipertemukan dalam sebuah organisasi yang tidak pernah kutemui sebelumnya di kampus tercinta ini. Sebuah organisasi yang benar-benar mendewasakan kami untuk membuat sebuah pilihan dan gebrakan baru yang menyejarah. Menyingkirkan segala kejumudan pikir dan menegakkan lagi panji-panji intelektual untuk menantang setiap jiwa muda yang bergabung untuk berkiprah dalam karya dan inovasi. Aku bermimpi organisasi yang masih muda ini suatu saat akan menjadi salah satu solusi bagi Indonesia ini. Dan pada waktunya nanti, orang-orang yang di sini itu akan segera bertualang ke seluruh penjuru tanah air bahkan hingga ke mancanegara. Yah, sebagai ranger SIM periode kedua (muda banget ya umur SIM) maka PR terberat kami bukanlah melakukan manajemen birokrasi, tetapi memancang dengan kokoh sebuah nilai dasar agar generasi selanjutnya selalu memegang teguh nilai-nilai itu.

Belajar, berkarya dan mengabdi adalah nilai-nilai dasar itu. Kaum cendikia hari ini dihadapkan pada fenomena kejumudan pikir, belajar tetapi sebenarnya buang-buang waktu, berpikir tetapi sebenarnya hanya membuang masa berharga. Kuliah hanya untuk sebuah visi yang sangat pendek. Potensi yang besar itu harus dikoordinasi dan diarahkan untuk sebuah kerja bersama. Karena Indonesia hari ini butuh kerja bersama para manusianya, bukan orang-orang hebat saja. Maka aku yakin jika ranger-ranger kami yang baru nanti bisa lebih solid dari kami pasti akan menghasilkan sebuah karya dan inovasi yang jauh lebih baik dari pada kami.

Siapakah ranger-ranger SIM 2012 yang hebat ini?

Hemm, aku kasih nama sendiri yah sesukaku. Dimulai dari aku yang katanya tante Er dan si Kris adalah Ranger Merah. Sosok yang katanya idealis dan suka dengan hal-hal baru untuk menembus berbagai tantangan yang kata orang “tidak bisa”. Modal keberanian dan keyakinan, diiringi dengan komunikasi yang terus diperbaiki, alhamdulillah aku bisa memimpin SIM ini dengan husnul khatimah, sebuah akhir yang baik lagi membahagiakan.

Kemudian Ranger Biru, si Krisna D’Biker. Sahabatku yang sangat spesial bagiku. Si otak brilian yang hampir tiap hari punya ide inovasi. Mungkin karena rajin nonton Kamen Rider dan Power Ranger sehingga dia benar-benar jenius seperti si Rancodas di 3 Idiot. Dasar anak teknik, yah tiap hari dia mikir teknologi dan rekayasa. Dan ini berbuah pada kelompok studi riset dan teknologi yang kini makin menggila dengan karya-karya aneh dan inovatif, mulai dari keranjang cantik dari koran bekas hingga roket air yang masih dalam tahap penyempurnaan.

Kemudian Ranger Ungu, Tante Erny. Ga tahu kenapa kemudian aku dan si Kris suka banget manggil dia tante, padahal usia kami tak jauh beda, tapi emang dia paling tua dari kami. Sosok keibuan lagi telaten dalam membimbing, tetapi tegas dan cukup galak dalam mendisiplinkan adik-adik adalah ciri kesehariannya. Jiwa sosialnya yang tinggi mengantarkan kelompok pengabdian masyarakat SIM mulai berkiprah di sebuah desa kecil di pinggir kota Surakarta. Sebagai tante, beliau adalah orang yang paling dihormati di organisasi ini karena nasihat-nasihatnya yang bijak, hingga kalo bukan karena beda mahram, beliau pasti sudah menjeweri kami yang sering nakal dan ga jelas ini. He he, peace tante.

Kemudian Ranger Pink, si Nisaa. Calon psikolog yang aneh lagi paling putih (kata si ranger Cokelat) ini adalah sosok yang paling fenomenal. Meski dulu tidak berlatar belakang SIM dari kecil, ternyata ranger yang satu ini mudah sekali beradaptasi dan segera menemukan frekuensi untuk bersama membangun SIM. Sebagai bagiannya di PSDM untuk membengkel anak-anaknya yang masih kecil-kecil agar kerasan di SIM bersama si Ranger Hijau dan Ranger Orange.

Kemudian Ranger Cokelat dan Ranger Putih, alias si Fair dan Amrih. Dua sosok ibu-ibu yang paling rajin bawa makanan setiap kali kumpul bener-bener menjadi kenangan bagi kami. Terutama mengingatkan pada masalah perut kami yang selalu kenyang saat kedatangan beliau berdua. Layaknya satu paket, keduanya seperti Ranger Pink, bahkan mungkin perhatiannya jauh lebih besar. Aku dulu pernah bersalah pada mereka berdua, dan ketika ingat hal itu aku jadi malu. Terima kasih duo Rangerku yang hebat.

Kemudian Ranger Hijau, alias dek Thiara imut. Special bendum SIM yang paling ditakuti dan bikin orang tidak bisa tidur jika masih menyisakan urusan uang dengan beliau. Satu-satunya orang yang suka panggil aku kakak, ha ha. Mimpi-mimpinya yang keren pernah dia deklarasikan di FB untuk mendapatkan doa banyak orang yang melihatnya.

Kemudian Ranger Orange, si Kina, sarjana pertanian yang lebih dulu lulus karena dipanggil pulang oleh Ibu Bapaknya. Hemm, seorang yang easy going lagi menggila. Yang ini juga aku pernah merasa bersalah banget padanya. Hemm, maafin gue ya Bu, aduh-aduh aku ga enak banget dengan semua yang udah terjadi. Semoga menjadi ibrah yang besar bagiku. Dan semoga kamu yang udah di rumah segera dapat jodoh (#loh).

Dan ternyata masih tersisa empat ranger yang lain, karena sering menghadapi pertempuran di luar dunia kami, maka aku tidak akan banyak bercerita tentang mereka karena mereka punya cerita indah tentang dunia mereka. Ranger Hitam, Pak Budi yang kini juga menjadi Mendagri BEM UNS, kemudian Ranger Abu-Abu, si Kalis, orang yang paling takut ketemu sama aku, kemudian Ranger Kuning, dek Dita, hemm orang yang pernah kuabaikan ketika di awal kepengurusan, sekarang aktif di sebuah komunitas keren, kemudian Ranger Krem, alias si Sovi yang sejak 6 bulan lalu pamitan karena laboratorium biologi telah memanggilnya untuk menjadi penjaga. He he he.

Sore ini aku berharap mereka semua bisa datang, namun demikianlah orang-orang sibuk, akhirnya makan-makan yang gila ini hanya dihadiri oleh Ranger Merah, Ranger Biru, Ranger Ungu, Ranger Cokelat, Ranger Putih, dan Ranger Pink. Inilah kenangan indah yang terpatri dalam dadaku. Terima kasih sahabat-sahabat baikku. Kalian semua hebat dengan cara dan dunia kalian. Terima kasih telah mau membersamaiku dalam formasi Power Ranger paling tidak jelas sepanjang sejarah. Namun bolehlah kita sekarang menatap bahagia tentang masa depan SIM yang lebih produktif dan berwawasan luas.

Hemm, tak bisa lagi menulis kata-kata untuk judul ini. Aku berharap 10 tahun lagi kita bisa reunian lagi, meski dalam formasi berbeda, entah jumlahnya jadi double, tripel, atau lebih dari itu, atau malah ada regrouping, semua adalah rahasia Allah. Aku rindu saat itu datang. Jangan pernah lupakan hari ini ya teman.

We are the dream team

The diamonds for SIM everytime

Keep our brotherhood.

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.