Kategori
Dakwah Islam

Rona Islam di Negeri Matahari Terbit

Obrolan menarik dengan Sensei Sularto pagi ini. 

Kata beliau, Jepang hari ini sudah mulai memprediksi ekonomi masa depan pasca kejatuhan ekonomi Amerika nanti. Mereka berpikir bahwa umat Islam akan menjadi salah satu pemegangnya. Kini mereka mulai menggalakkan pembangunan musholla di bandara dan stasiun. 

Selain itu makanan-makanan berlabel halal juga mulai mudah dijumpai di Jepang. Bahkan di Parlemen mulai diwacanakan adanya waktu istirahat khusus yang sesuai dengan waktu shalat di perusahaan-perusahaan Jepang yang memiliki karyawan muslim. Wow, barangkali inilah hikmah dari ayat Allah, “mereka ingin memadamkan cahaya Allah, tetapi Allah justru menyempurnakan cahaya-Nya”.

Nah, umat Islam yang masih suka ribut dan eyel2an soal sistem, ya tinggalkan aja yang suka begituan. Mari yang sudah tahu prioritas, kita tetap fokus dalam kerja-kerja dakwah dan perbaikan yang membawa manfaat. Membagun tenggang rasa dan kemaafan kepada sesama saudara seiman agar terwujud keharmonian. Harmoni, itu kata yang mudah diucapkan tetapi sesungguhnya masih menjadi omong kosong di negeri ini, kecuali mereka yang Allah karuniai sifat lapang dada dan pikiran yang “semeleh”.

Facebook

Kategori
Kilas Sejarah

Lembaran Sejarah Kita yang Jaya

Dalam sebuah diskusi yang menarik dengan teman-teman yang pernah mengikuti kajian ke-Islam-an dengan salah satu pembicara DDII Jateng ada kajian tentang pondasi spiritual orang Jawa sebelum datangnya Hindu-Buddha dan Islam.

Pertanyaan yang belum terjawab dan baru praduga, mungkin dulu Allah pernah mengirim seorang nabi di masyarakat Jawa sebelum datangnya Islam. Hal itu terlihat bagaimana hakikat ketuhanan masyarakat Jawa itu tetaplah maha tunggal, jauh lebih tinggi dibandingkan agama-agama yang datang dari India. Aku sendiri ketika pernah mempelajari kitab perang Bharatayuda menemukan adanya hal aneh, bahwa di atas Bathara Guru, masih ada yang paling tinggi, Sang Hyang Wenang. Maka dari itu, meskipun kedatangan ajaran Hindu dan Buddha dari India yang sangat berbeda, maka akhirnya ajaran itu mengalami akulturasi mengikuti basis keyakinan masyarakat Jawa sebelumnya. Itulah mengapa bangunan-bangunan megah baru berdiri dimasa dinasti-dinasti India itu berkuasa.

Setelah berakhirnya Mataram Hindu, disitulah mulai banyak tanda tanya sejarah. Termasuk tanda tanya besar adalah mengapa Islam begitu berakar di masyarakat nusantara ini. Banyak fitnah yang dihembuskan bahwa Islam yang menghancurkan kerajaan-kerajaan Hindu Buddha itu, padahal siapa yang tahu bahwa barangkali di masa Airlangga, masyarakat muslim telah berkembang pesat di pesisir nusantara. Itulah mengapa peninggalan-peninggalan masa itu bukanlah candi megah semacam Borobudur dan Prambanan melainkan kitab-kitab yang bijaksana. Apakah ini pengaruh dari Islam, karena di masa keemasan Islam, warisan terbaiknya adalah tata kehidupan masyarakat yang madani dan kitab-kitab yang inspiratif.

Apakah ada nama Gadjah Mada? Karena bahkan ada sejarawan India yang menganggap nama itu ganjil. Bagaimana dengan Gaj Ahmada, itu terlihat lebih Islami. Ah otak atik gatuk katanya. Okelah, tolong kawan-kawanku yang belajar di bidang ilmu sejarah. Ini adalah ladang besar untuk mengungkap dan merekonstruksi sejarah negeri ini yang puluhan tahun disandera hingga kita tidak bisa menemukan kebanggaan pada nenek moyang kita. Kita tetap partisan dan mengklaim bahwa pahlawan yang ini milik kita, yang itu bukan. Jika kalian mau mengambil bagian ini, maka sungguh akan ada pintu ilmu yang terbuka yang selama ini tidak pernah kita ketahui. Selagi kran kebebasan masih terbuka di mata kita.

Kita belum menemui fase kebangunan sejarah. Kita bingung dalam sejarah kita bukan. Karena kita belum bisa mengakui secara obyektif tentang fase perjuangan bangsa ini. Sementara Snock Hurgronje dan timnya telah berhasil memahami sejarah masyarakat Indonesia sehingga dia berhasil membangun serangan mematikan di masyarakat. Yang Aceh dan Sumatra, diadu domba ulama dengan penguasanya. Yang di Jawa dihidupkan ilmu kebatinannya dengan dalih kembali ke ajaran pra Islam. Dan hari ini, banyak kita lihat saudara-saudara kita sekalipun menjadi seorang muslim, tetapi telah kehilangan kebanggaannya atas keyakinan yang agung ini. Di sisi lain, kita juga menjumpai segelintir yang bersikap kasar dan bengis kepada pemeluk agama yang lain sehingga timbul persepsi negatif tentang Islam.

Sungguh aku ingin berfoto dengan kebanggaan di depan lukisan Sultan Agung Hanyokrokusumo, Pangeran Diponegoro, Sultan Hassanuddin, Imam Bonjol dan yang selainnya sebagaimana Recep Tayyip Erdogan yang dengan penuh kebanggaan berfoto memakai baju kebesarannya di depan lukisan Sultan Muhammad al-Fatih, sang penakluk Konstantinopel, pemimpin terbaik yang dijanjikan oleh Rasulullah shallahu’alayhi wasallam setelah beberapa kali di dinasti sebelumnya, kaum muslimin menemui kegagalan. Kita tidak perlu ribut soal pahlawan kita siapa, tapi mari kita menunduk dan melihat kembali jejak-jejak mereka yang juga manusia biasa, ada celanya juga, namun sungguh inspirasi yang mereka hadirkan untuk kita pasti akan membuat kita berhenti untuk mengeluh dan mencela seperti kebanyakan orang hari ini.

Mari buka lembaran sejarah kita, bukan untuk nostalgia, tapi untuk mencari inspirasi kebangunan umat di akhir zaman. Bukan dengan diskusi saja, melainkan berpikir mendalam untuk mencari mata air-mata air kegemilangan peradaban yang pernah menyerlah di bumi Allah ini. Ini tugas kita, para pemuda yang masih diberi kebebasan intelektual untuk belajar dan mencari itu, sebelum kelak kebebasan dibabat habis atau masa perang dikumandangkan. Karena jika kita beriman, kita percaya ada akhir zaman yang akan mengantarkan kita pada kemenangan sejati. Sekali lagi, kita akan menang dan tegaklah Khilafah alaa Minhajin Nubuwwah di muka bumi ini sebelum hari akhir itu tiba.

Kategori
Dakwah Islam

Lingkaran Inspiratifnya Manusia #3

Build up The Real Human

Di lingkaran inspiratifnya manusia, kita belajar untuk membentuk konsep manusia yang Top. Bener-bener Top Ten. Ga hanya pasang surut seperti Top Ten-nya lagu-lagu yang menjadi hit di radio-radio kesayangan Anda. Atau Top Ten-nya para idol yang lagi berjudi dengan nasib bermodal terkenal. Di sini kita serius benar-benar membentuk diri yang top. Manusianya manusia.

Di lingkaran inspiratif kita belajar bagaimana menjadi insan bertuhan yang sesungguhnya. Kita belajar bagaimana membangun interaksi yang tiada duanya dengan Allah tanpa adanya bumbu macam-macam yang mengurangi kemesraan hubungan itu. Kita belajar mengharu biru untuk mengatakan bahwa kita hamba-Nya yang sangat lemah dan selalu membutuhkan penjagaan-Nya, bukan berbisnis dengan memaksakan argument bahwa karena kita sudah menyembah-Nya maka Dia harus mengabulkan doa-doa kita. Dia jauh lebih tahu apa yang kita butuhkan dan apa yang terbaik buat kita, maka tugas kita hanya menyatakan dengan segala kerendahan hati akan kelemahan dan kekurangan kita di hadapan-Nya. Selanjutnya biarlah Dia yang memutuskan.

Di lingkaran inspiratif, kita belajar pula bagaimana mengikuti sebuah aturan. Kita membedakan mana aturan yang mutlak dan mana yang fleksibel. Mutlak terkadang bukan berarti doktrinasi karena jika didalami justru itu menjadi ketenangan diri, lantas kenapa diprotes atau dirasionalkan. Tetapi ada aturan yang bisa kita aplikasikan sesuai dengan prinsip kekinian. Di situlah kami juga belajar tentang banyak hal, seluas mungkin dan sedalam mungkin. Jadi setidaknya kami harus mengarungi tiga dimensi, bahkan jika mampu lebih dari itu.

Di lingkaran inspiratif, kita belajar tentang bagaimana menunjukkan perilaku manusia kita. Karena manusia adalah sosok yang berbudi dan berbelas kasih. Bukan sosok yang suka menyalak seperti anjing ataupun kera yang rakus makan pisangnya sendiri. Di sini kita belajar menjadi manusia seutuhnya agar dapat menjalin keharmonian dengan yang lain. Bekerja sama dalam hal-hal yang bisa dilakukan tetapi juga berusaha mandiri agar tidak menjadi beban bagi orang lain.

Pokoknya, lingkaran inspiratifnya manusia itu membuat kita semakin berkembang sebagai manusia, bukan menjadi dewa. Kita tinggal di dunia, bukan di alam khayangan. Bahkan khayangan itu sendiri bukanlah imajinasi tentang sebuah dunia yang sempurna seperti dalam otak kita. Allah telah menerangkan bahwa kita tidak akan pernah mampu mengimajinasikan alam seperti itu. Kita harus sadar, kita tinggal di alam manusia yang membuat kita mengerti apa itu cinta, apa itu benci. Apa itu suka, apa itu enggan. Apa itu baik, apa itu buruk.

The last, kisah para nabi dan rasul yang Allah tegaskan dalam bagian yang lebih besar dari Kalam-Nya yang selalu kita baca itu menyiratkan sebuah pesan manusiawi bahwa menjadi manusia yang baik di tengah kondisi sangat rusak adalah hal yang masuk akal. Buktinya para nabi, yang juga manusia sejati itu tetap bisa jadi orang baik meskipun mereka tinggal di lingkungan yang rusak. Maka mengusahakan diri sungguh-sungguh agar tetap menjadi orang baik itu lebih penting ketimbang menyalahkan lingkungan yang buruk. Bahkan mengubah lingkungan yang buruk pun tidak seharusnya kita memulai dari sebuah celaan, tetapi kita mulai dari sebuah senyum dan pujian bahwa setiap orang masih punya kesempatan untuk berubah menjadi baik.

Demikianlah secebis kisah dari lingkaran inspiratifnya manusia. Semoga kita tetap sadar untuk menjadi manusia yang berusaha untuk adil menilai segala hal.

Kategori
Dakwah Islam

Lingkaran Inspiratifnya Manusia #2

Berat-Berat Tapi Hemat

Jika Anda adalah instrukturnya, maka sadari sejak awal kebosanan anggota Anda. Karena jika ada satu yang keluar, itu artinya Anda memutus satu optimisme yang seharusnya berkembang. Apalagi jika yang keluar menggunakan cara pemutusan sepihak, apalagi menggunakan pendekatan arus pendek. Wow, bahaya sekali nanti. Karena segala kesalahpahaman itu lebih buruk akibatnya ketimbang sesuatu yang jelas-jelas salah. Karena sesuatu yang jelas salah, terbukti berhasil dipahami. Tetapi kalau salah paham, siapa yang paham coba?

Jika Anda berhasil membangunnya, mengumpulkan yang terserak, menjelaskan yang missing, dan mengembalikan yang terputus, alangkah luar biasanya. Itu adalah investasi masa depan yang tidak terperikan lagi. Itulah jalan paling kilat yang dipilih oleh para nabi dalam membangun bisnis akhirat. Itulah jalan yang dilanjutkan para ulama dan para pejuang Islam ini. So, mengapa kita sering melupakan sisi manusiawi ini saat kita berinteraksi dengan manusia? Mereka adalah entitas yang butuh cara berbeda-beda namun bisa dipantik dengan satu visi yang sama, yakni syurga.

Jika ditanya, menjadi instruktur dan fasilitor itu ringan atau berat? Tergantung niatnya. Jika niatnya memang cari pengikut, ya berat, karena niatnya salah. Tapi kalo niatnya ngajak sama mengikut Rasulullah, maka prosesnya akan lebih mudah. Karena tidak ada yang kemudian jadi tuan tanah (sebagai khas feodalisme) di mana dapat memerintah semena-mena yang lain. Semua berjalan atas prinsip saling percaya yang dilandasi pengetahuan yang mendalam dan diikuti kepahaman.

Jadi kepahaman itu datang setelah adanya pengetahuan yang mendalam. Lha kalo pengertian dan konsepnya saja nggak dapat, bagaimana paham? Nah di sinilah tanggung jawab akhirat instruktur itu. Bukan masalah banyak atau sedikitnya pengikut, tapi bisa tidak menjelaskan dengan baik sehingga memudahkan orang paham. Karena mau paham atau tidak itu urusan yang mendengar, tapi setidaknya kita bisa belajar dari banyak guru mana yang bisa memahamkan dan mana yang tidak. Nah ketika ladang amal ini sukses kita capai, wow kita akan hemat ratusan bahkan ribuan tahun dalam memperpanjang masa permohonan belas kasih kepada Allah agar Dia berkenan memasukkan kita ke dalam syurga-Nya.

Di lingkaran inspiratifnya manusia, kita belajar tentang cinta. Cinta yang sejati akan membuat kita selalu jujur menilai diri kita. Cinta yang membuat kita mengerti diri kita dengan lebih baik sehingga mampu memandang orang lain dengan adil. Membela yang dizalimi namun juga mampu menahan diri dari menghina yang tinggi hati. Cinta membuat kita memilih diam, jika berkata membuat orang semakin salah paham. Cinta membuat kita memilih netral, jika mendukung salah satu teman kita menimbulkan perpecahan. Karena poros cinta kita adalah untuk kemenangan dakwah Islam ini yang mencahaya seperti yang dijanjikan dalam sabdanya.

bersambung ….

Kategori
Dakwah Islam

Lingkaran Inspiratifnya Manusia #1

Lingkaran yang Menginspirasi

Pernah dengar liqo? Halaqah? Atau yang sejenis itu. Barangkali ada di antara pembaca yang langsung terkoneksi dengan terminologi lain seperti kaderisasi, partai politik, dan mungkin ada yang mikir sangat konyol, pembibitan terorisme. Jika mikirnya tentang kaderisasi, well itu benar. Jika mikirnya soal partai politik, mohon bijak menilainya agar Anda tidak terjebak pada justifikasi tidak penting bin salah sasaran. Dan jika Anda berpikiran itu pembibitan terorisme, jelas Anda termasuk orang yang mengidap sakit hati, hingga ke taraf sakit jiwa.

Sabar dulu, karena aku mau berbagi tentang hal-hal seperti itu. Aku lebih suka menyebutkan dengan lingkaran inspiratif. Yak, kita gunakan saja bahasa Indonesia, yang sesuai dengan kaum bangsa Indonesia. Bagiku, lingkaran inspiratif itu bukanlah tempat seperti yang kerap ditakuti orang-orang karena banyaknya doktrin yang ditanamkan. Bukan juga tempat yang membosankan di kalangan orang-orang yang mudah bosan dengan pertanyaan yang sama soal aktivitas harian dan pekanannya. Bukan juga tempat yang hanya berisi kampanye penggalangan dukungan untuk hal-hal yang sifatnya sempit.

Di lingkaran inspiratif itu kita diajak untuk berpikir dengan cara manusia. Jadi jika suatu ketika ada lingkaran yang mengajarkan pola pikir para dewa di khayangan, jelas ada masalah di instrukturnya yang tidak melakukan konversi bahasa atau barangkali para pesertanya yang salah masuk lingkaran. Namanya saja lingkaran inspiratifnya manusia, maka di sini kita ditekankan kesadaran sebagai manusia untuk sadar, untuk berpikir, lalu berbuat atas kesadaran dan buah pikir. Maka beginilah indahnya lingkaran inspiratifnya manusia.

Di lingkaran inspiratifnya manusia, kita akan dibiasakan untuk melihat kenyataan yang ada di dunia manusia, bukan malah menutupinya, apalagi membabi buta. Sehingga sikap yang timbul pun sikap manusiawi dengan fitrahnya. Selalu membenci segala perilaku kejahatan, tetapi tidak membenci pelakunya. Selalu memuji perilaku kebajikan, tetapi tidak memuji-muji pelakunya setinggi langit. Itulah dunianya manusia di mana kita tidak merasakan masalah apa-apa jika suatu ketika orang itu berbuat baik, di kesempatan yang lain berbuat salah. Karena yang kita benci adalah perilaku kesalahan yang dilakukan, bukan orangnya. Orangnya adalah ladang sharing kebaikan yang kita miliki, bukan malah dijauhi, difitnah, hingga digunjingi rame-rame untuk bahan pem-bully-an. Maka kita berharap tidak melakukan kesalahan yang sama.

Maka membangun lingkaran inspiratif berarti membangun optimisme ketika di luar kita tak lagi mendapatkan ruang pembicaraan tentang idealisme yang manusiawi. Di luar kita hanya sering lihat idealisme yang tertera dalam buku. Sering pula kita dapati idealisme dalam praktik para aktor film yang tentu kesehariannya dapat kita duga antitesisnya. Di lingkarang inspiratif ini, kita benar-benar berbicara dan berbagi cerita tentang perjalanan kita mempertahankan idealisme. Bukan lagi berbicara tentang omong kosong.

bersambung ….

Kategori
Dakwah Islam

Dua Logika yang Bertolak Belakang

Ceritanya aku pernah melakukan diskusi dengan salah satu mentorku. Beliau bercerita tentang dua logika yang berkebalikan. Kedua logika ini boleh jadi dipahami oleh umat Islam secara terpisah. Sehingga seringkali terjadi perdebatan dan permusuhan sesama umat Islam yang terkadang lebih sengit ketimbang bagaimana mencari solusi atas perbedaan-perbedaan tertentu yang sejatinya tidak perlu dibesar-besarkan.

Suatu ketika ada seorang cendekia muda yang berbicara pada sebuah seminar yang diselenggarakan oleh salah satu universitas ternama di negeri ini. Temanya berkaitan dengan realitas masyarakat Islam yang hari ini masih dipenuhi unsur-unsur kebatinan, klenik, dan pengaruh ajaran Hindu-Buddha dalam ritual ibadah keseharian mereka.

Dengan terangnya sang pembicara ini selalu mengulang-ulang bahwa ajaran Islam ini telah dikotori oleh pengaruh-pengaruh luar tersebut sehingga para penganutnya hari ini belum dapat ber-Islam dengan benar. Ini logika pertama yang disampaikan oleh san cendekia tadi, AJARAN ISLAM YANG DIANUT UMAT ISLAM INDONESIA MASIH DIPENGARUHI AJARAN HINDU-BUDDHA.

Namun yang mengejutkan, ada seorang Kyai yang sudah sepuh mengajukan sanggahan dengan sebuah pertanyaan seperti ini.

“Saudara membuat pernyataan begitu atas dasar apa? Coba dijawab, duluan mana yang masuk ke Indonesia, Hindu-Buddha atau Islam?”, tanya sang Kyai

“Tentu saja lebih dahulu Hindu-Buddha”, jawab sang pembicara

“Lalu mengapa Saudara mengatakan bahwa ajaran Islam dikotori oleh ajaran Hindu-Buddha? Bagaimana logika berpikir Saudara? Bukankah justru Islam-lah yang “mengotori“ ajaran Hindu-Buddha. Jadi jika hari ini masih banyak umat Islam yang ber-Islam dengan menampakkan sisi-sisi ajaran Hindu-Buddha atau aliran kepercayaan, itu artinya Islam belum “mengotori“ sempurna sejak diajarkannya para perintis dakwah Islam dahulu. Nah, itu tugas kita untuk melanjutkan menjelaskan Islam sebaik-baiknya, sejelas-jelasnya hingga setiap orang yang hari ini belum ber-Islam dengan baik menjadi mengerti dan perlahan-lahan mau berubah menuju jalan Islam yang sebenarnya seperti yang dituntunkan Rasulullah. Bukannya mengulang-ulang menyalahkan ajaran Hindu-Buddha yang memang lebih dahulu datang ke Indonesia.“

Argumentasi sang kyai jelas menjadi antitesis atas pernyataan sang cendekia tadi. Mengapa, karena menurut padangan beliau justru AJARAN ISLAM MEMBERI PENGARUH PADA AJARAN HINDU-BUDDHA yang lebih dahulu berakar di Indonesia.

Kawan, singkat cerita dua logika tadi adalah dua hal yang bertolak belakang. Dampak yang ditimbulkan pun akan berbeda. Ketika kita menggunakan logika pertama, maka nuansa dakwah yang dibangun cenderung menyalahkan keaadan dan mengumpati segala penyimpangan yang ada. Dan selalu mengkambinghitamkan ajaran orang lain.

Ketika kita menggunakan logika kedua, maka sebesar apapun tantangan dan penyimpangan yang terjadi, kita akan tetap sabar menapaki dakwah ini. Tetap berjuang menjelaskan keindahan dan kebenaran Islam. Karena kita sadar, kita hanya melanjutkan tugas para ulama yang telah membuka dakwah Islam di nusantara ini. Sejarah telah menunjukkan bahwa dakwah Islam di Indonesia berlangsung damai. Maka tak heran masyarakat Hindu-Buddha ketika itu mau memeluk Islam dengan sukarela.

Jika ternyata hingga hari ini hal-hal yang dirasa menyimpang dari ajaran Islam yang dibawa Rasulullah masih tampak, maka tugas kita bukan memaki mereka yang melakukan itu. Tetapi menjelaskan dan mendekati mereka dengan kasih sayang. Kita hanyalah seorang dai, bukan seorang hakim yang berhak memvonis orang-orang yang menjadi obyek dakwah kita. Tugas kita mengajak dengan segala kreativitas dan cara yang terpuji. Bukan dengan cara-cara kasar, apalagi mau menang sendiri.

Dua logika, dengan variabel yang sama, tapi implikasinya berbeda ketika kita salah menaruh tempatnya.

Kategori
Dakwah Islam

Aktivis dan Shirah Nabawiyah

Ini hanyalah sebuah refleksi kecil setelah beberapa kesempatan yang lalu sering diminta berbagi dengan adik-adik yang menjadi aktivis kampus (atau tepatnya adalah aktivis dakwah kampus). Aktivis, begitulah gelar yang secara otomatis tersemat pada sosok-sosok yang hari-harinya sibuk tidak hanya kuliah di kampus tapi setelah itu masih harus rapat (kadang namanya jadi syura), diskusi, menggelar acara sarasehan, kajian, seminar dan macam-macam. Pokoknya, potret aktivis sibuk sekali di mata mahasiswa  yang hippies dan menjadi pengikut K3 (kantin, kampus, kos-kosan).

Namun, ada fenomena yang kutemukan di dunia aktivis yang sempat ku temui di forum-forum itu. Aktivis identik dengan generasi pemimpin yang terlahir. Mereka sering diskusi bahwa aktivis itu adalah generasi harapan, agent of change atau apa lah namanya. Yang jelas aktivis kampus itu adalah mata rantai kepemimpinan yang telah bersambung dari masa lalu hingga masa kini. Sehingga yang sekarang menjadi aktivis kampus itu biasanya adalah orang-orang yang ke depan akan memegang tampuk kepemimpinan masyarakat nanti.

Fenomena tersebut sederhana saja tapi menusuk perasaanku dalam-dalam. Ketika aku bertanya kepada para ikhwan dan akhwat yang sangat keren itu, apakah mereka sudah menghatamkan satu buku saja tentang Shirah Nabawiyah, missal karyanya Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfury. Jawaban yang mengejutkan adalah sangat sedikit dari mereka yang sudah mengkhatamkan buku yang menjadi juara penulisan shirah nabawiyah yang diselenggarakan oleh Rabithah Alam al-Islamiyah itu. Hebat, aktivis (di tempat yang saya berinteraksi dengan mereka) ternyata shirah nabawiyah saja ternyata belum khatam.

Fenomena itu menyiratkan beberapa pelajaran penting, di antaranya

Pertama, betulkah jiwa aktivis hari ini itu tumbuh atas sebuah ketersambungan sejarah yang murni dari dasar perjuangannya? Atau jangan-jangan jiwa yang terbentuk hari ini masih dalam taraf doktrinasi yang tumbuh karena interaksi. Jika interaksi berkurang maka ghirah hilang. Shirah nabawiyah adalah pangkal dan alasan dari setiap perjuangan mengapa umat Islam harus bangkit, belajar, tumbuh, berkembang, membangun peradaban dan memajukan dunia. Jika itu saja masih abai (dalam pandanganku sengaja tidak mengkhatamkan di usia-usia produktif sebagai aktivis adalah bentuk pengabaian terhadap sebuah pondasi keaktivisan) dalam membaca jejak yang paling terpuji itu, apa jadinya dengan tindakan aktivis hari ini. Silahkan dipikirkan sendiri.

Kedua, potret umat Islam hari ini yang masih lemah ghirah belajarnya. Membaca adalah salah satu ukuran penentu kecerdasan bangsa saat ini. Negara-negara skandinavia tingkat bacanya sangat tinggi maka tak heran jika mereka menduduki peringkat tinggi dalam dunia pendidikannya. Sedangkan negara-negara muslim, khususnya tanah air kita tercinta Indonesia yang mayoritas penduduknya adalah umat Islam masih sangat jauh tertinggal. Budaya literasi membaca saja di kalangan intelektualnya masih rendah, apalagi di kalangan masyarakat yang dicap tidak intelek, tentu makin parah lagi. Membaca saja malas, apalagi menulis.

Ketiga, sesungguhnya perlu upaya nyata dari aktivis kampus untuk mengubah cara belajarnya hari ini. Mari kita mulai dari pokok mengapa kita harus menjadi aktivis, bukan hanya pada perintah bahwa kita harus menjadi aktivis. Aktivis itu panggilan jiwa, maka mari sempurnakan panggilan itu dengan kelengkapan ilmu dan pemahamannya yang baik. Karena energi panggilan jiwa itu sangat dahsyat. Jika kita tidak mengerti mengapa kita bergerak, untuk apa dan demi apa dalam koridor perjuangan yang jelas ini, maka bukankah hari-hari kita akan menjadi bulan-bulanan orang lain. Di saat hari ini umat Islam sibuk saling mengklaim, menjatuhkan dan belajar untuk dewasa menjadi satu umat yang dijanjikan kemenangannya di akhir zaman nanti, maka mari sibukkan diri kita dengan aktivitas-aktivitas belajar dan berproses untuk mengerti hal-hal yang mendasar dari perjalanan kehidupan kita.

Menjadi aktivis kampus itu tidak untuk gagah-gagahan sama sekali. Bahkan dalam bahasa hematku, justru saat kita menjadi aktivis kampus itu kita menjadi mahasiswa yang PALING BIASA di antara mahasiswa lainnya. Karena kita menjalani perilaku ideal kita sebagai mahasiswa ketika yang lain menjadi mahasiswa luar biasa (entah karena apa luar biasanya). Menjadi mahasiswa biasa, hidup biasa, bersikap biasa, dan mencipta karya mahasiswa biasa.

Biasa berjuang, biasa berdiskusi, biasa membela, biasa menyodorkan gagasan solutif, biasa berperilaku cerdas menyikapi masalah yang ada, dan bersedia meminta maaf jika salah. Aktivis kampus, lebih lagi aktivis dakwah kampus belum khatam Shirah Nabawiyah? Lantas apa yang bisa membangun kerangka perjuangan ini jika permata itu saja tak dimiliki.

Kategori
Dakwah Islam

Masjid Cap “Orang Tua”

Masjid di Indonesia hari ini ibarat jamur bertebaran. Di mana-mana mudah sekali dijumpai masjid. Simbolnya kelihatan dari kubah dan suara azan yang sering terdengar (minimal maghrib – isya’). Sangat berbeda ketika aku pernah tinggal sebulan di Jerman, di mana masjid masih jarang dijumpai dan kalau pun ada itu pun perlu klarifikasi isi dalamnya. Karena masjid di sana ya seperti rumah biasa, tidak ada tanda kubahnya dan azannya pun hanya terdengar di dalam ruangan saja.

Yang membedakan keduanya adalah masjid di Jerman penuh sesak, bahkan ketika shalat Jumat sampai shalatnya saling bersinggungan kepala dengan pantat. Berjubel banyaknya kaum muda di sana, baik yang berwajah Turki, Maroko, China, bahkan warga asli Eropa yang berkulit putih (tentunya kebanyakan adalah warga negara Jerman). Sedangkan kebanyakan masjid di Indonesia hari ini sepi (khususnya di lingkungan pedesaan), terkadang angker, bahkan di waktu maghrib dan isya’ pun ketika ramai formasinya berisi orang-orang tua yang tinggal menunggu panggilan sang Pencipta. Ironi, namun inilah realita yang sedang terjadi di negeri yang berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia.

Judul masjid “orang tua” ini terinspirasi dari merk dagang cap OT (orang tua) yang katanya dipercaya sejak tahun 1948. Tidak usah tertawa, ceritanya aku sekarang sering sekali berinteraksi dengan teman-teman blogger di suatu kawasan di Solo. Di markas itu aku ikut bergabung online di daerah yang kenceng banget sinyalnya. Namun memang inilah ibrah bergabung dengan teman-teman di komunitas blogger. Mereka adalah komunitas independent yang mengedepankan toleransi tinggi di mana urusan pribadi benar-benar urusan pribadi tanpa boleh dicampuri orang lain, termasuk di sini adalah masalah ibadah. Yang butuh ya lakukan sendiri tanpa harus cerewet mengatur orang lain.

Nah ketika tibanya waktu shalat, ada yang segera wudhu shalat di kamarnya, ada yang juga tetap melenggang dengan pekerjaannya, dan segelintir dari kami, terkadang aku sendiri yang memutuskan untuk pergi sejenak ke masjid yang cukup dekat dari situ. Yang masih ku syukuri, setiap kali azan berkumandang maka aktivitas musik dan berbagai bunyi-bunyian segera mereka hentikan untuk membiarkan kalimat Allah itu terlantun.

Masjid itu cukup luas, banyak orang yang shalat (lumayanlah yang datang untuk setiap waktu shalatnya, bahkan waktu subuh pun masih bisa sampai 1 shaf). Sayangnya adalah hampir tidak ada anak-anak usia muda sepantaranku atau yang lebih kecil turut shalat berjamaah di situ selain aku dan takmir muda yang menjadi penjaga masjid itu. Di sebelah masjid ada angkringan yang banyak dipakai nongkrong anak-anak sekolah yang membolos (yakin deh membolos soalnya Senin-Kamis sering sekali ada anak usia SMA yang nongkrong di sana sebelum dzuhur). Inilah realita masjid yang ada di markas online ku sekarang.

Aku yakin, hari ini masjid-masjid yang masih banyak dikunjungi anak-anak muda adalah masjid yang bercokol di kawasan pinggirang kampus, termasuk masjid kampusnya atau masjid-masjid yang masih berada di lingkaran kawasan pesantren. Ada pun masjid di pedesaan, apalagi masjid di pelosok-pelosok daerah seperti daerahku Gunungkidul yang katanya abangan kini tinggal dimakmurkan oleh orang-orang tua yang sedang menunggu dijemput ajalnya. Wajarlah orang tua, udah tua masih tidak mau sujud ya keterlaluan pasti. Tapi itu juga ternyata ada loh (pengalaman pribadi) bagaimana menjumpai masjid yang jamaahnya borongan. Yang jadi muadzin, imam, makmum sekaligus oleh satu orang. Trus masalah?

Sahabatku para aktivis, inilah realita masyarakat kita hari ini. Di tengah pembicaraan dakwah yang gegap gempita untuk melakukan perburuan kedudukan dan harta yang kerap diasumsikan sebagai indikator kemenangan dakwah bagi mereka-mereka yang terobsesi, kita harus mengelus dada melihat masyarakat yang hari ini semakin jauh dari agamanya. Ini bukan hal yang sederhana ketika di kampus kita berapi-api membicarakan berbagai upaya perubahan di masyarakat, menyusun skema kegiatan dakwah dan organisasi, namun di luar sana masyarakat Islam justru tidak Islami lagi. Ini adalah bias ketika banyak aktivis dakwah memilih berhenti dari peran membimbing umat dan terlalu terobsesi dengan berbagai kekuasaan.

Hari ini aku harus mengakui bahwa aku bersalah telah meninggalkan sementara adik-adik di desa. Dulu pernah hidup kegiatan itu, dan kami bisa sering pulang untuk menyukseskan kegiatan itu. Namun kerasnya adat di masyarakat disamping tuntutan harga diri dalam pekerjaan membuat ksatria-ksatria muda yang baru lulus SMA itu harus memilih ke kota sebelum dihakimi dengan perkataan menyakitkan oleh masyarakat. Mau kuliah mereka tidak mampu seperti karena ekonominya tak semapan ayahku atau sedikit dari kami. Alhasil, rintisan yang telah berjalan cukup lama itu akhirnya game over. Dan aku memilih pergi untuk sementara. Bagaimana dengan desa kalian?

Hari ini aku terus berupaya membangun sebuah basis bisnis yang memungkinkan aku kembali ke desa lagi dan menikmati banyak waktu untuk berbagi dan berkeliling di desa. Menyapa generasi muda untuk kembali bertemu di masjid-masjid yang kini menjadi masjid cap orang tua. Ada banyak kemungkinan untuk mengembalikan itu, tapi semua harus dicoba sampai Allah kelak berkenan menjadikan harapan ini terwujud.

Mengapa dakwah di masyarakat sangat penting? Aku menghargai mereka-mereka yang hari ini sedang berlomba-lomba menduduki kursi parlemen. Aku menghargai sahabat-sahabat yang menganggap bahwa kemenangan dakwah itu dilihat dari kepemimpinan yang tercapai. Tapi kita tidak seharusnya lupa bahwa kekacauan negara ini tidak semata-mata karena pemimpin yang korup dan jahat, tetapi juga karena perilaku rakyatnya yang semakin tidak karuan dan tidak mau ditata.

Negeri ini adalah negeri mayoritas muslim, ada banyak kerja dakwah yang juga penting untuk kita bangun di tataran akar rumput. Bukan semata-mata untuk menuai kemenangan dalam kepemimpinan. Tetapi karena memang kita punya peran besar bagi masyarakat. Oleh karena mereka masyarakat muslim, maka ketidakhadiran mereka di masjid-masjid mereka seharusnya membuat hari-hari kita ketakutan karena jangan-jangan kita termasuk orang yang kelak akan dimasukkan ke neraka karena diberi banyak ilmu dan kemampuan tapi tidak menggunakannya dengan maksimal untuk tugas membimbing dan mengajak masyarakat untuk meramaikan rumah Allah seperti di zaman Rasulullah meletakkan pondasi masyarakat yang Islami.

Semoga dapat menjadi renungan kita bersama.

Kategori
Dakwah Islam

Keren di Kampus, Jaminankah Keren di Rumah?

Gara-gara sebuah SMS teman yang intinya menceritakan kegalauannya menghadapi ortunya pascakampus aku jadi tergerak untuk menulis tentang refleksi menjadi aktivis kampus. Intinya ini ada sebuah persepsi yang kayaknya berkembang di kampus hari ini dan menjangkiti sebagian aktivis kampus. Sebagian saja. Yakni mereka yang menjadikan kampus sebagai tempat pelarian dari kehidupan di rumah. Membangun diri di kampus, hebat di kampus, namun kemudian abai pada para ortunya. Hingga akhirnya mereka menjumpai pergolakan yang sangat mengerikan ketika pascakampus.

Dakwah dari yang Terdekat

Kata ustadz Syafii, seorang aktivis tidak dikatakan hebat jika ia tidak mampu mendakwahi keluarganya sendiri sekalipun terlihat hebat dan berkiprah di kampus. Mengapa? Karena sebenarnya ladang dakwah terdekat dan terbaik ya keluarga kita itu. Dan itulah pilar terkokoh yang akan membuat kita tegar di atas jalan dakwah dan kuat bertahan di tengah gelombang ujian.

Mengambil inspirasi dari perjalanan dakwah Rasulullah, maka kita tentu tidak pernah lepas untuk memperhatikan salah seorang yang menjadi pilar kekuatan dakwah beliau. Siapakah dia? Dialah sang paman, Abu Thalib yang tetap dalam kekafirannya namun begitu setia dan gigih membela sang Nabi. Dan secara tidak langsung itu menjadi sebuah kebaikan baginya karena turut menjaga dakwah Islam, hingga akhirnya Allah menjanjikan untuk menyiksanya di neraka dengan siksaan teringan, yaitu berada di atas bara yang membuat otaknya mendidik.

Apa yang menarik? Yang menarik adalah keberhasilan sang Nabi untuk meyakinkan sang paman bahwa dakwah yang dibawanya itu adalah dakwah yang benar dan beliau selalu di atas jalan yang benar. Urusan hidayah itu memang hak prerogatif Allah, tetapi Nabi telah menunjukkan upaya terbaiknya sehingga sang Paman rela mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi sang keponakan dari makar orang-orang kafir yang tidak lain adalah saudara-saudara atau koleganya sendiri. Itulah arti penting keluarga dalam menjaga kekokohan dakwah dan keberlanjutan dakwah ke depan.

Bagaimana kabar keluarga kita hari ini? Nah inilah pertanyaan yang bisa jadi menohok sebagian aktivis hari ini yang masih abai terhadap keluarganya sendiri meskipun telah luar biasa mendedikasikan dirinya di kampus. Mau apa coba, ketika di kampus menjadi seperti singa tetapi di hadapan keluarganya seperti cacing kepanasan. Bahkan meminta dengan santun kepada orang tuanya agar shalat saja tak mampu. Menyedihkan sekali jika realita ini benar-benar terjadi. Tapi apa ada? Sepertinya realita ini ada kok. Ga percaya? Buktikan sendiri.

Ortuku adalah Benteng Hebatku

Maka dari itu, bagaimana pun kita menjadi aktivis di kampus sampai-sampai berderaja tinggi sekalipun. Dakwah terhadap keluarga adalah prioritas yang seharusnya menjadi visi dakwah paling wahid. Jadi perhatian kepada ayah, ibu, adik, kakak, atau siapa pun yang masih menjadi bagian dari keluarga dekat kita hendaknya luar biasa. Mengapa? Siapa lagi yang akan menjadi benteng terakhir ketika kita didesak dengan desakan yang kuat? Siapa lagi yang akan menjadi tempat persinggahan terakhir ketika kita telah terusir dari penerimaan masyarakat? Ya itu lah keluarga kita.

Kebahagiaan yang paling membahagiakan dalam upaya dakwah ini adalah ketika kita melihat keluarga kita yang mungkin belum hobi sholat (sholat kok hobi), maksudnya masih bolong-bolong menjadi konsisten dalam menjaga sholatnya. Ibu atau saudara-saudara perempuan kita yang tadinya masih pede dengan pakaian-pakaian kecil menjadi tergerak untuk menutupi auratnya secara syar’i. Itulah sebenarnya kebahagian yang aku yakin sanggup membuat air mata kita menetes pelan ke lantai bersemai keharuan yang dalam.

Bagaimana jika belum tergerak? Yah setidaknya mereka mengerti dengan apa yang kita lakukan. Syukur-syukur mendukung apa yang tengah kita lakukan hari ini. Itu sangat penting kawan. Jangan sampai apa yang telah kita bangun di kampus, di kawah yang sangat ideal ini, hancur berkeping-keping di hadapan hujjah orang tua lantaran kita abai untuk membimbing mereka. Bagaimanapun, bukanlah murabbi atau qiyadah kita yang sanggup memberi perlindungan yang baik sebaik perlindungan dari keluarga.

Mengambil Ibrah dari Kisah Terserak

Ada kisah beberapa akhwat yang harus berjuang untuk bisa berjilbab dirumahnya. Entah harus berhadapan dengan orang tuanya lantaran mereka berubah drastis dari yang sebelumnya serba terbuka menjadi sangat tertutup auratnya.  Bahkan terkadang harus berseteru dengan ibu mereka sendiri. Duh, beratnya, tapi itulah ujian yang akan menjadikan sang akhwat tegar dan menjadikan ladang pahala baginya untuk membuat sang Ibu tersadar dan mau mengerti pentingnya menutup aurat dalam Islam.

Ada juga kisah beberapa ikhwan yang kemudian dijuluki teroris lantaran dulunya biasanya janggutnya mulus sekarang berserakan rambut-rambut hitam (jenggot maksudnya) dan dahinya hitam. Itu stigma yang sering dilontarkan orang-orang kepolisian dan orang-orang yang telah mengkonsumsi persepsi ini. Semua itu menjadi tantangan tersendiri bagi para aktivis agar tetap dapat menjaga dirinya teguh dalam pengamalan Islam dan sekaligus memberikan pelajaran berharga bagi orang lain yang belum mengenal dekat dengan Islam.

Bagaimana membangun kedekatan dengan mereka? Yah, tidak perlu susah apalagi bertingkah sok ustadz/ah. Tetaplah menjadi anak baik seperti versi mereka, namun kita tetap konsisten menunjukkan perubahan kita dalam pengamalan syari. Dan selalu gunakan bahasa yang santun kepada mereka. Mari hidupkan forum diskusi yang santai bersama keluarga agar saling mengerti. Hingga akhirnya timbul kepercayaan yang besar dari orang tua terhadap kita. Setidaknya mereka bisa menerima kehadiran kita dalam versi yang baru dan mau mendukung kita (baca membiarkan kita) untuk terus berproses menjadi pribadi muslim/ah yang lebih baik.

Keluarga adalah aset terbaik dalam dakwah. Sehebat apa pun di kampus, jika keluarga terbengkalai. Maka kita akan menjadi pengulang kisah mubaligh-mubaligh tua yang hobi ngisi di masjid-masjid di luar masjidnya sendiri. Konon, orang ini ternyata memang bukan panutan yang baik untup para  jamaah di daerahnya sendiri. Jika ini benar, apa yang masih tersisa dari perjuangan para aktivis? Selain hanya keberhasilan semu di kampus dan serasa hilang ketika kembali ke alam nyata. Bukan karena keluarga, tetapi karena kita yang abai untuk berdakwah kepada keluarga.

Kategori
Teks Pidato

Meneladani Dakwah Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

Innal hamdalillah nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastaghfiruhu

wa na’udzubillahi min syururi anfusina wa min syayyi’ati a’malina

man yahdihillahu falaa mudhilla lahu

wa man yudh-lilhu falaa hadiya lahu

Asyahadu an laa ilaaha illallah wahdahu laa syarika lahu

Wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluhu laa nabiya ba’dahu

Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa ash-habihi ‘ajma’in

Amma ba’du

Dewan Juri yang saya hormati

Bapa Ibu guru pendamping yang saya hormati

Rekan-rekan peserta lomba yang saya cintai

Serta hadirin yang dirahmati Allah

Segala puji hanyalah kepunyaan Allah, pencipta dan pemelihara alam semesta yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dia lah yang memberi nikmat Iman dan Islam di dalam hati kita sehingga kita bisa hidup sebagai seorang muslim. Sebuah kemuliaan yang semoga kita bisa menjaganya hingga ajal kita tiba dan meninggal dalam keadaan husnul khatimah. Amin ya Rabbal ‘alamin

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita nabiyullah Muhammad shallallahu álayhi wa sallam. Nabi yang mendapat sanjungan dari Allah sebagai manusia yang memiliki akhlak teragung. Sehingga sejarah mencatat kebesaran namanya dalam membangun peradaban manusia. Semoga kita dapat menapaki jejak langkah beliau dalam dakwah Islam sehingga kelak kita berhak mendapatkan syafaat beliau di Padang Mahsyar. Amin ya Rabbal ‘alamin

Hadirin kaum muslimin hafidzakumullah

Pada kesempatan yang berbahagia ini, perkenankanlah saya untuk menyampaikan uraian tentang melihat keagungan pribadi dan meneladani dakwah Rasulullah shallallahu álayhi wa sallam.

Sebagaimana telah kita ketahui, Rasulullah shallallahu álayhi wa sallam adalah sosok yang sangat luar biasa. Beliau adalah potret manusia paling sempurna di dunia ini yang tidak akan pernah tertandingi oleh manusia mana pun. Beliau adalah pemimpin yang adil, imam yang ditaati jamaahnya, orang tua yang penuh kasih sayang, dan masih banyak sanjungan yang dapat disematkan pada pribadi beliau.

Kepribadian beliau yang luar biasa ini ternyata menjadi sebab pertolongan Allah terhadap keberhasilan dakwah Islam di dunia ini. Adalah sebuah capaian yang luar biasa ketika hanya dalam waktu 23 tahun seluruh jazirah Arab dapat dipersatukan dalam panji Laa ilaaha illallah. Dan lebih luar biasa lagi ketika dalam 800 tahun saja, Islam dapat memayungi dua pertiga dunia ini. Apa rahasia di balik kesuksesan dakwah yang luar biasa ini? Mari kita simak uraian-uraian selanjutnya dalam pemaparan ini.

Hadirin kaum muslimin hafidzakumullah

Rasulullah shallallahu álayhi wa sallam menjadikan dakwah sebagai laku utama dalam kehidupannya. Sebagai seorang utusan Allah, maka beliau menjadikan seluruh hidupnya untuk menyeru umat manusia agar memurnikan ibadah mereka semata-mata kepada Allah azza wa jalla. Lalu bagaimana beliau menjalani kehidupannya ini? Berikut ini adalah sekelumit perjalanan dakwah beliau yang menggambarkan keunggulan dan ketinggian budi beliau sehingga hidayah Islam diturunkan oleh Allah kepada bangsa Arab pada masa itu.

Pertama, beliau adalah sosok yang selalu jujur sejak sebelum diangkat menjadi nabi dan rosul, sehingga masyarakat memberi gelar beliau Al-Amin, sebuah gelar yang belum pernah diberikan kepada seorang Arab satupun sebelumnya dan tidak pernah diberikan kepada manusia sepeninggalnya. Kejujuran beliau inilah menjadi daya tarik bagi kaumnya sehingga beliau sukses dalam perniagaannya dan sangat disayangi kaumnya. Setelah beliau menjadi rasul, sebenarnya kebencian kaum Quraisy pada waktu itu adalah bukan kepada beliau, tetapi pada risalah Islam yang dibawa beliau. Sehingga perkataan buruk yang dialamatkan kepada beliau sebagai pendusta, penyihir dan sebagainya sebenarnya hanyalah sebuah kedustaan belaka karena mereka masih percaya bahwa Muhammad shallallahu álayhi wa sallam tidak mungkin berdusta.

Yang kedua, beliau adalah orang yang penyabar lagi penyayang. Suatu hari ketika beliau berjalan melewati seorang kafir Quraisy, maka orang tersebut kemudia meludahi beliau. Beliau hanya membalas dengan senyuman tanpa sedikitpun menunjukkan kemarahan sambil berlalu. Keesokan harinya, kejadian yang sama terulang lagi hingga akhirnya suatu ketika beliau tidak mendapati orang tersebut. Maka nabi bertanya kepada tetangga di sekitar itu, ternyata orang tersebut sedang sakit. Maka nabi menjadi orang pertama yang menjenguknya dan menunjukkan kasih sayang yang besar kepada orang tersebut. Sikap nabi yang begitu penyabar dan penyayang ini akhirnya mengantarkan orang tersebut pada hidayah Allah sehingga dengan penuh kerelaan dia mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapat Rasulullah shallallahu álayhi wa sallam.

Hadirin kaum muslimin hafidzakumullah      

Yang ketiga, beliau adalah orang yang adil dan berjiwa besar. Ketika kaum muslimin mengalami kekalahan dalam perang Uhud, maka kaum munafiq memanaskan suasana dengan menyalahkan kaum muslimin yang memaksa nabinya untuk berperang di luar kota Madinah. Maka dengan kebesaran jiwanya beliau menenangkan kaum muslimin bahwa hasil ini adalah hasil terbaik yang diberikan oleh Allah atas keputusan yang telah dicapai melalui musyawarah bersama dan kekalahan yang terjadi adalah sebagai ujian dari Allah kepada kaum muslimin. Beliau bahkan menghibur para mujahid Uhud dengan firman Allah bahwa jika mereka pulang dengan terluka, maka sesungguhnya orang-orang kafir pun juga dalam keadaan terluka. Yang membedakan adalah orang muslim pulang dalam keridhoan Allah sedangkan mereka dalam kemurkaan Allah. Begitulah sikap adil dan jiwa besar yang ditunjukkan oleh Rasulullah untuk tidak menyalahkan salah satu pihak atau melebihkan suatu pihak atas yang lain.

Yang keempat, beliau adalah sosok manusia pemaaf. Ketika terjadi Fathul Makkah, umat Islam telah berdiri di atas angin untuk menghancurkan kaum kafir Quraisy. Hanya cukup dengan satu komando dari Rasulullah shallallahu álayhi wa sallam saja, seluruh kepala orang-orang kafir dapat dipenggal dalam sekejap. Namun ternyata beliau memilih sebuah perkataan indah yang menyejarah.

Beliau bertanya “Wahai sekalian orang Quraisy, apa yang bisa ku perbuat kepada kalian menurut pendapat kalian?”

Orang kafir pun menjawab “Yang baik-baik sebagai saudara yang mulia dan anak saudara yang mulia”

Beliau bersabda, “ Kukatakan kepada kalian seperti yang dikatakan Yusuf alayhi salam kepada saudara-saudaranya. Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian. Pergilah karena kalian orang-orang yang bebas.”

Siksaan yang beliau terima lebih dari 13 tahun di Makkah dan masih ditambah dengan peperangan yang beliau alami setelah di Madinah ternyata sama sekali tidak membuahkan dendam kepada kaumnya bahkan meskipun beliau telah berada di puncak kekuatan dan kekuasaan. Akhirnya banyak sekali kaum kafir Quraisy yang masuk Islam setelah itu.

Hadirin kaum muslimin hafidzakumullah

Demikianlah sekelumit keteladanan yang telah dicontohkan Rasulullah shallallahu álayhi wa sallam. Sebuah keteladanan agung yang dengannya Allah meluaskan cahaya Islam ini, menembus hati-hati yang kaku dan gelap, menyeberangi lautan yang membentang dan menghiasi setiap belahan bumi-Nya agar kalimat takbir senantiasa berkumandang di sana. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari potongan kisah kehidupan beliau.

Akhirnya, mari kita senantiasa menjaga kecintaan kita kepada beliau dengan terus-menerus mempelajari Islam melalui kitabullah dan sunnah-sunnah yang beliau wariskan kepada kita. Semoga kita dapat menjadi penerus dakwah beliau, yang mewarisi sifat-sifat mulia beliau. Sehingga kelak kita pantas merasakan sejuknya telaga beliau ketika manusia berada dalam kehausan yang tak terperi.

Demikianlah uraian dari saya, banyak salah dalam ucapan mohon untuk dimaafkan. Ambillah yang baik dari paparan ini, karena ia datang dari Allah, dan tinggalkan yang buruk, karena ia datang dari syaitan dan kebodohan diri saya.

Billahit taufiq wal hidayah

Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

dibawakan oleh Ananda Hendri Septian Ari Kurnia dalam MTQ Pelajar tahun 2011

(Terus melaju ke tingkat Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan mendapat Juara III)