Lingkaran yang Menginspirasi

Pernah dengar liqo? Halaqah? Atau yang sejenis itu. Barangkali ada di antara pembaca yang langsung terkoneksi dengan terminologi lain seperti kaderisasi, partai politik, dan mungkin ada yang mikir sangat konyol, pembibitan terorisme. Jika mikirnya tentang kaderisasi, well itu benar. Jika mikirnya soal partai politik, mohon bijak menilainya agar Anda tidak terjebak pada justifikasi tidak penting bin salah sasaran. Dan jika Anda berpikiran itu pembibitan terorisme, jelas Anda termasuk orang yang mengidap sakit hati, hingga ke taraf sakit jiwa.

Sabar dulu, karena aku mau berbagi tentang hal-hal seperti itu. Aku lebih suka menyebutkan dengan lingkaran inspiratif. Yak, kita gunakan saja bahasa Indonesia, yang sesuai dengan kaum bangsa Indonesia. Bagiku, lingkaran inspiratif itu bukanlah tempat seperti yang kerap ditakuti orang-orang karena banyaknya doktrin yang ditanamkan. Bukan juga tempat yang membosankan di kalangan orang-orang yang mudah bosan dengan pertanyaan yang sama soal aktivitas harian dan pekanannya. Bukan juga tempat yang hanya berisi kampanye penggalangan dukungan untuk hal-hal yang sifatnya sempit.

Di lingkaran inspiratif itu kita diajak untuk berpikir dengan cara manusia. Jadi jika suatu ketika ada lingkaran yang mengajarkan pola pikir para dewa di khayangan, jelas ada masalah di instrukturnya yang tidak melakukan konversi bahasa atau barangkali para pesertanya yang salah masuk lingkaran. Namanya saja lingkaran inspiratifnya manusia, maka di sini kita ditekankan kesadaran sebagai manusia untuk sadar, untuk berpikir, lalu berbuat atas kesadaran dan buah pikir. Maka beginilah indahnya lingkaran inspiratifnya manusia.

Di lingkaran inspiratifnya manusia, kita akan dibiasakan untuk melihat kenyataan yang ada di dunia manusia, bukan malah menutupinya, apalagi membabi buta. Sehingga sikap yang timbul pun sikap manusiawi dengan fitrahnya. Selalu membenci segala perilaku kejahatan, tetapi tidak membenci pelakunya. Selalu memuji perilaku kebajikan, tetapi tidak memuji-muji pelakunya setinggi langit. Itulah dunianya manusia di mana kita tidak merasakan masalah apa-apa jika suatu ketika orang itu berbuat baik, di kesempatan yang lain berbuat salah. Karena yang kita benci adalah perilaku kesalahan yang dilakukan, bukan orangnya. Orangnya adalah ladang sharing kebaikan yang kita miliki, bukan malah dijauhi, difitnah, hingga digunjingi rame-rame untuk bahan pem-bully-an. Maka kita berharap tidak melakukan kesalahan yang sama.

Maka membangun lingkaran inspiratif berarti membangun optimisme ketika di luar kita tak lagi mendapatkan ruang pembicaraan tentang idealisme yang manusiawi. Di luar kita hanya sering lihat idealisme yang tertera dalam buku. Sering pula kita dapati idealisme dalam praktik para aktor film yang tentu kesehariannya dapat kita duga antitesisnya. Di lingkarang inspiratif ini, kita benar-benar berbicara dan berbagi cerita tentang perjalanan kita mempertahankan idealisme. Bukan lagi berbicara tentang omong kosong.

bersambung ….

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.