Berat-Berat Tapi Hemat

Jika Anda adalah instrukturnya, maka sadari sejak awal kebosanan anggota Anda. Karena jika ada satu yang keluar, itu artinya Anda memutus satu optimisme yang seharusnya berkembang. Apalagi jika yang keluar menggunakan cara pemutusan sepihak, apalagi menggunakan pendekatan arus pendek. Wow, bahaya sekali nanti. Karena segala kesalahpahaman itu lebih buruk akibatnya ketimbang sesuatu yang jelas-jelas salah. Karena sesuatu yang jelas salah, terbukti berhasil dipahami. Tetapi kalau salah paham, siapa yang paham coba?

Jika Anda berhasil membangunnya, mengumpulkan yang terserak, menjelaskan yang missing, dan mengembalikan yang terputus, alangkah luar biasanya. Itu adalah investasi masa depan yang tidak terperikan lagi. Itulah jalan paling kilat yang dipilih oleh para nabi dalam membangun bisnis akhirat. Itulah jalan yang dilanjutkan para ulama dan para pejuang Islam ini. So, mengapa kita sering melupakan sisi manusiawi ini saat kita berinteraksi dengan manusia? Mereka adalah entitas yang butuh cara berbeda-beda namun bisa dipantik dengan satu visi yang sama, yakni syurga.

Jika ditanya, menjadi instruktur dan fasilitor itu ringan atau berat? Tergantung niatnya. Jika niatnya memang cari pengikut, ya berat, karena niatnya salah. Tapi kalo niatnya ngajak sama mengikut Rasulullah, maka prosesnya akan lebih mudah. Karena tidak ada yang kemudian jadi tuan tanah (sebagai khas feodalisme) di mana dapat memerintah semena-mena yang lain. Semua berjalan atas prinsip saling percaya yang dilandasi pengetahuan yang mendalam dan diikuti kepahaman.

Jadi kepahaman itu datang setelah adanya pengetahuan yang mendalam. Lha kalo pengertian dan konsepnya saja nggak dapat, bagaimana paham? Nah di sinilah tanggung jawab akhirat instruktur itu. Bukan masalah banyak atau sedikitnya pengikut, tapi bisa tidak menjelaskan dengan baik sehingga memudahkan orang paham. Karena mau paham atau tidak itu urusan yang mendengar, tapi setidaknya kita bisa belajar dari banyak guru mana yang bisa memahamkan dan mana yang tidak. Nah ketika ladang amal ini sukses kita capai, wow kita akan hemat ratusan bahkan ribuan tahun dalam memperpanjang masa permohonan belas kasih kepada Allah agar Dia berkenan memasukkan kita ke dalam syurga-Nya.

Di lingkaran inspiratifnya manusia, kita belajar tentang cinta. Cinta yang sejati akan membuat kita selalu jujur menilai diri kita. Cinta yang membuat kita mengerti diri kita dengan lebih baik sehingga mampu memandang orang lain dengan adil. Membela yang dizalimi namun juga mampu menahan diri dari menghina yang tinggi hati. Cinta membuat kita memilih diam, jika berkata membuat orang semakin salah paham. Cinta membuat kita memilih netral, jika mendukung salah satu teman kita menimbulkan perpecahan. Karena poros cinta kita adalah untuk kemenangan dakwah Islam ini yang mencahaya seperti yang dijanjikan dalam sabdanya.

bersambung ….

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.