Gara-gara sebuah SMS teman yang intinya menceritakan kegalauannya menghadapi ortunya pascakampus aku jadi tergerak untuk menulis tentang refleksi menjadi aktivis kampus. Intinya ini ada sebuah persepsi yang kayaknya berkembang di kampus hari ini dan menjangkiti sebagian aktivis kampus. Sebagian saja. Yakni mereka yang menjadikan kampus sebagai tempat pelarian dari kehidupan di rumah. Membangun diri di kampus, hebat di kampus, namun kemudian abai pada para ortunya. Hingga akhirnya mereka menjumpai pergolakan yang sangat mengerikan ketika pascakampus.

Dakwah dari yang Terdekat

Kata ustadz Syafii, seorang aktivis tidak dikatakan hebat jika ia tidak mampu mendakwahi keluarganya sendiri sekalipun terlihat hebat dan berkiprah di kampus. Mengapa? Karena sebenarnya ladang dakwah terdekat dan terbaik ya keluarga kita itu. Dan itulah pilar terkokoh yang akan membuat kita tegar di atas jalan dakwah dan kuat bertahan di tengah gelombang ujian.

Mengambil inspirasi dari perjalanan dakwah Rasulullah, maka kita tentu tidak pernah lepas untuk memperhatikan salah seorang yang menjadi pilar kekuatan dakwah beliau. Siapakah dia? Dialah sang paman, Abu Thalib yang tetap dalam kekafirannya namun begitu setia dan gigih membela sang Nabi. Dan secara tidak langsung itu menjadi sebuah kebaikan baginya karena turut menjaga dakwah Islam, hingga akhirnya Allah menjanjikan untuk menyiksanya di neraka dengan siksaan teringan, yaitu berada di atas bara yang membuat otaknya mendidik.

Apa yang menarik? Yang menarik adalah keberhasilan sang Nabi untuk meyakinkan sang paman bahwa dakwah yang dibawanya itu adalah dakwah yang benar dan beliau selalu di atas jalan yang benar. Urusan hidayah itu memang hak prerogatif Allah, tetapi Nabi telah menunjukkan upaya terbaiknya sehingga sang Paman rela mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi sang keponakan dari makar orang-orang kafir yang tidak lain adalah saudara-saudara atau koleganya sendiri. Itulah arti penting keluarga dalam menjaga kekokohan dakwah dan keberlanjutan dakwah ke depan.

Bagaimana kabar keluarga kita hari ini? Nah inilah pertanyaan yang bisa jadi menohok sebagian aktivis hari ini yang masih abai terhadap keluarganya sendiri meskipun telah luar biasa mendedikasikan dirinya di kampus. Mau apa coba, ketika di kampus menjadi seperti singa tetapi di hadapan keluarganya seperti cacing kepanasan. Bahkan meminta dengan santun kepada orang tuanya agar shalat saja tak mampu. Menyedihkan sekali jika realita ini benar-benar terjadi. Tapi apa ada? Sepertinya realita ini ada kok. Ga percaya? Buktikan sendiri.

Ortuku adalah Benteng Hebatku

Maka dari itu, bagaimana pun kita menjadi aktivis di kampus sampai-sampai berderaja tinggi sekalipun. Dakwah terhadap keluarga adalah prioritas yang seharusnya menjadi visi dakwah paling wahid. Jadi perhatian kepada ayah, ibu, adik, kakak, atau siapa pun yang masih menjadi bagian dari keluarga dekat kita hendaknya luar biasa. Mengapa? Siapa lagi yang akan menjadi benteng terakhir ketika kita didesak dengan desakan yang kuat? Siapa lagi yang akan menjadi tempat persinggahan terakhir ketika kita telah terusir dari penerimaan masyarakat? Ya itu lah keluarga kita.

Kebahagiaan yang paling membahagiakan dalam upaya dakwah ini adalah ketika kita melihat keluarga kita yang mungkin belum hobi sholat (sholat kok hobi), maksudnya masih bolong-bolong menjadi konsisten dalam menjaga sholatnya. Ibu atau saudara-saudara perempuan kita yang tadinya masih pede dengan pakaian-pakaian kecil menjadi tergerak untuk menutupi auratnya secara syar’i. Itulah sebenarnya kebahagian yang aku yakin sanggup membuat air mata kita menetes pelan ke lantai bersemai keharuan yang dalam.

Bagaimana jika belum tergerak? Yah setidaknya mereka mengerti dengan apa yang kita lakukan. Syukur-syukur mendukung apa yang tengah kita lakukan hari ini. Itu sangat penting kawan. Jangan sampai apa yang telah kita bangun di kampus, di kawah yang sangat ideal ini, hancur berkeping-keping di hadapan hujjah orang tua lantaran kita abai untuk membimbing mereka. Bagaimanapun, bukanlah murabbi atau qiyadah kita yang sanggup memberi perlindungan yang baik sebaik perlindungan dari keluarga.

Mengambil Ibrah dari Kisah Terserak

Ada kisah beberapa akhwat yang harus berjuang untuk bisa berjilbab dirumahnya. Entah harus berhadapan dengan orang tuanya lantaran mereka berubah drastis dari yang sebelumnya serba terbuka menjadi sangat tertutup auratnya.  Bahkan terkadang harus berseteru dengan ibu mereka sendiri. Duh, beratnya, tapi itulah ujian yang akan menjadikan sang akhwat tegar dan menjadikan ladang pahala baginya untuk membuat sang Ibu tersadar dan mau mengerti pentingnya menutup aurat dalam Islam.

Ada juga kisah beberapa ikhwan yang kemudian dijuluki teroris lantaran dulunya biasanya janggutnya mulus sekarang berserakan rambut-rambut hitam (jenggot maksudnya) dan dahinya hitam. Itu stigma yang sering dilontarkan orang-orang kepolisian dan orang-orang yang telah mengkonsumsi persepsi ini. Semua itu menjadi tantangan tersendiri bagi para aktivis agar tetap dapat menjaga dirinya teguh dalam pengamalan Islam dan sekaligus memberikan pelajaran berharga bagi orang lain yang belum mengenal dekat dengan Islam.

Bagaimana membangun kedekatan dengan mereka? Yah, tidak perlu susah apalagi bertingkah sok ustadz/ah. Tetaplah menjadi anak baik seperti versi mereka, namun kita tetap konsisten menunjukkan perubahan kita dalam pengamalan syari. Dan selalu gunakan bahasa yang santun kepada mereka. Mari hidupkan forum diskusi yang santai bersama keluarga agar saling mengerti. Hingga akhirnya timbul kepercayaan yang besar dari orang tua terhadap kita. Setidaknya mereka bisa menerima kehadiran kita dalam versi yang baru dan mau mendukung kita (baca membiarkan kita) untuk terus berproses menjadi pribadi muslim/ah yang lebih baik.

Keluarga adalah aset terbaik dalam dakwah. Sehebat apa pun di kampus, jika keluarga terbengkalai. Maka kita akan menjadi pengulang kisah mubaligh-mubaligh tua yang hobi ngisi di masjid-masjid di luar masjidnya sendiri. Konon, orang ini ternyata memang bukan panutan yang baik untup para  jamaah di daerahnya sendiri. Jika ini benar, apa yang masih tersisa dari perjuangan para aktivis? Selain hanya keberhasilan semu di kampus dan serasa hilang ketika kembali ke alam nyata. Bukan karena keluarga, tetapi karena kita yang abai untuk berdakwah kepada keluarga.

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.