Build up The Real Human

Di lingkaran inspiratifnya manusia, kita belajar untuk membentuk konsep manusia yang Top. Bener-bener Top Ten. Ga hanya pasang surut seperti Top Ten-nya lagu-lagu yang menjadi hit di radio-radio kesayangan Anda. Atau Top Ten-nya para idol yang lagi berjudi dengan nasib bermodal terkenal. Di sini kita serius benar-benar membentuk diri yang top. Manusianya manusia.

Di lingkaran inspiratif kita belajar bagaimana menjadi insan bertuhan yang sesungguhnya. Kita belajar bagaimana membangun interaksi yang tiada duanya dengan Allah tanpa adanya bumbu macam-macam yang mengurangi kemesraan hubungan itu. Kita belajar mengharu biru untuk mengatakan bahwa kita hamba-Nya yang sangat lemah dan selalu membutuhkan penjagaan-Nya, bukan berbisnis dengan memaksakan argument bahwa karena kita sudah menyembah-Nya maka Dia harus mengabulkan doa-doa kita. Dia jauh lebih tahu apa yang kita butuhkan dan apa yang terbaik buat kita, maka tugas kita hanya menyatakan dengan segala kerendahan hati akan kelemahan dan kekurangan kita di hadapan-Nya. Selanjutnya biarlah Dia yang memutuskan.

Di lingkaran inspiratif, kita belajar pula bagaimana mengikuti sebuah aturan. Kita membedakan mana aturan yang mutlak dan mana yang fleksibel. Mutlak terkadang bukan berarti doktrinasi karena jika didalami justru itu menjadi ketenangan diri, lantas kenapa diprotes atau dirasionalkan. Tetapi ada aturan yang bisa kita aplikasikan sesuai dengan prinsip kekinian. Di situlah kami juga belajar tentang banyak hal, seluas mungkin dan sedalam mungkin. Jadi setidaknya kami harus mengarungi tiga dimensi, bahkan jika mampu lebih dari itu.

Di lingkaran inspiratif, kita belajar tentang bagaimana menunjukkan perilaku manusia kita. Karena manusia adalah sosok yang berbudi dan berbelas kasih. Bukan sosok yang suka menyalak seperti anjing ataupun kera yang rakus makan pisangnya sendiri. Di sini kita belajar menjadi manusia seutuhnya agar dapat menjalin keharmonian dengan yang lain. Bekerja sama dalam hal-hal yang bisa dilakukan tetapi juga berusaha mandiri agar tidak menjadi beban bagi orang lain.

Pokoknya, lingkaran inspiratifnya manusia itu membuat kita semakin berkembang sebagai manusia, bukan menjadi dewa. Kita tinggal di dunia, bukan di alam khayangan. Bahkan khayangan itu sendiri bukanlah imajinasi tentang sebuah dunia yang sempurna seperti dalam otak kita. Allah telah menerangkan bahwa kita tidak akan pernah mampu mengimajinasikan alam seperti itu. Kita harus sadar, kita tinggal di alam manusia yang membuat kita mengerti apa itu cinta, apa itu benci. Apa itu suka, apa itu enggan. Apa itu baik, apa itu buruk.

The last, kisah para nabi dan rasul yang Allah tegaskan dalam bagian yang lebih besar dari Kalam-Nya yang selalu kita baca itu menyiratkan sebuah pesan manusiawi bahwa menjadi manusia yang baik di tengah kondisi sangat rusak adalah hal yang masuk akal. Buktinya para nabi, yang juga manusia sejati itu tetap bisa jadi orang baik meskipun mereka tinggal di lingkungan yang rusak. Maka mengusahakan diri sungguh-sungguh agar tetap menjadi orang baik itu lebih penting ketimbang menyalahkan lingkungan yang buruk. Bahkan mengubah lingkungan yang buruk pun tidak seharusnya kita memulai dari sebuah celaan, tetapi kita mulai dari sebuah senyum dan pujian bahwa setiap orang masih punya kesempatan untuk berubah menjadi baik.

Demikianlah secebis kisah dari lingkaran inspiratifnya manusia. Semoga kita tetap sadar untuk menjadi manusia yang berusaha untuk adil menilai segala hal.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.