Kategori
Resensi Buku

Islam di Mata Orang Jepang, Sebuah Petualangan Spiritual

Islam di Mata Orang JepangIndonesia adalah negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia. Tetapi Islam di Indonesia memiliki fenomena yang sangat unik. Ada banyak warna yang terjadi di negeri ini. Di satu sisi itu adalah khazanah sejarah karena posisi Indonesia yang strategis di jalur pelayaran dunia dan mudah menerima perubahan, tapi sisi pahitnya adalah masih sering terjadinya konflik antar sesama orang Islam sendiri.

Ke-Islam-an orang Indonesia sendiri menarik banyak orang asing non-muslim untuk dipelajari meskipun di kalangan umat Islam sendiri justru memandang hal ini tidak terlalu menarik. Entah apa pun tujuannya, khazanah pergerakan Islam yang tumbuh subur di Indonesia membuat banyak peneliti asing membuat studi komparasi tentang Islam. Dahulu Snouck Hurgronje meneliti khazanah Islam di Indonesia untuk menyukseskan kolonialisme Belanda. Hari, mungkin yang begitu juga masih ada, tetapi ada juga yang meneliti karena memang benar-benar ingin belajar.

Alasan kedua itulah yang menurutku lebih mendasari perjalanan yang dilakukan oleh Prof. Hisanori Kato, salah satu peneliti Jepang yang bosan di Amerika Serikat lalu memilih berlabuh cukup lama di Indonesia. Sosok lelaki ramah yang kini menjadi guru besar di Osaka Butsuryo College. Saat dia di Indonesia, dia mencoba mewawancarai tokoh-tokoh Islam dari berbagai tipe pergerakan yang ia ketahui.

Dia temui Gus Dur, Fadli Zon, Abu Bakar Ba’asyir, Ulil Abshar Abdala, Ismail Yusanto dll. Memang Kato San tidak mewawancarai semua tokoh yang mewakili representasi umat Islam di Indonesia secara penuh, tetapi kita perlu belajar bagaimana mengenal perspektif dari aktivitas yang ia lakukan. Dia tidak serta merta percaya tuduhan tentang Ba’asyir sebagai teroris karena dia sendiri merasa dimuliakan sebagai tamu saat berkunjung ke Ponpes Ngruki sebelum akhirnya Ba’asyir ditangkap dan dipenjarakan di Nusakambangan.

Yang jelas ini adalah pandangan dari orang asing non muslim memandang warna Islam yang berkembang di tanah air kita. Tentu saja kita tidak selalu harus setuju dengan pernyataannya, tetapi sudahkah kita melakukan hal yang sama untuk melihat keragaman Islam di negeri kita dengan pandangan yang jernih, bukan sekedar katanya dia katanya mereka. Karena bagi kita penting melakukan ini agar kita benar-benar bisa mengerti dan menemukan cara menyatukan kaum muslimin yang masih terpecah belah. Di samping itu, kita juga mengerti alasan dari orang-orang yang selama ini kerap menebarkan kontroversi dengan harapan kita memiliki sikap yang tepat kepada mereka, bukan sekedar emosi.

Bagaimana pun, karakter masyarakat muslim di Indonesia itu sangat unik. Berbeda dengan gaya Timur Tengah, berbeda pula dengan muslim di Barat yang saat ini tengah tumbuh. Maka dari itu kita butuh wawasan yang sesuai dengan harapan tumbuh kebijaksanaan di negeri ini untuk menyikapi perbedaan yang ada, termasuk menangani tumbuhnya aliran-aliran sesat secara tepat. Persebaran Islam di negeri ini memiliki sejarahnya sendiri maka penting kita untuk mempelajarinya kembali, bukan sekedar ikut-ikutan dan mengambil rujukan teknis yang tidak tepat.

Kategori
Kilas Sejarah

Lembaran Sejarah Kita yang Jaya

Dalam sebuah diskusi yang menarik dengan teman-teman yang pernah mengikuti kajian ke-Islam-an dengan salah satu pembicara DDII Jateng ada kajian tentang pondasi spiritual orang Jawa sebelum datangnya Hindu-Buddha dan Islam.

Pertanyaan yang belum terjawab dan baru praduga, mungkin dulu Allah pernah mengirim seorang nabi di masyarakat Jawa sebelum datangnya Islam. Hal itu terlihat bagaimana hakikat ketuhanan masyarakat Jawa itu tetaplah maha tunggal, jauh lebih tinggi dibandingkan agama-agama yang datang dari India. Aku sendiri ketika pernah mempelajari kitab perang Bharatayuda menemukan adanya hal aneh, bahwa di atas Bathara Guru, masih ada yang paling tinggi, Sang Hyang Wenang. Maka dari itu, meskipun kedatangan ajaran Hindu dan Buddha dari India yang sangat berbeda, maka akhirnya ajaran itu mengalami akulturasi mengikuti basis keyakinan masyarakat Jawa sebelumnya. Itulah mengapa bangunan-bangunan megah baru berdiri dimasa dinasti-dinasti India itu berkuasa.

Setelah berakhirnya Mataram Hindu, disitulah mulai banyak tanda tanya sejarah. Termasuk tanda tanya besar adalah mengapa Islam begitu berakar di masyarakat nusantara ini. Banyak fitnah yang dihembuskan bahwa Islam yang menghancurkan kerajaan-kerajaan Hindu Buddha itu, padahal siapa yang tahu bahwa barangkali di masa Airlangga, masyarakat muslim telah berkembang pesat di pesisir nusantara. Itulah mengapa peninggalan-peninggalan masa itu bukanlah candi megah semacam Borobudur dan Prambanan melainkan kitab-kitab yang bijaksana. Apakah ini pengaruh dari Islam, karena di masa keemasan Islam, warisan terbaiknya adalah tata kehidupan masyarakat yang madani dan kitab-kitab yang inspiratif.

Apakah ada nama Gadjah Mada? Karena bahkan ada sejarawan India yang menganggap nama itu ganjil. Bagaimana dengan Gaj Ahmada, itu terlihat lebih Islami. Ah otak atik gatuk katanya. Okelah, tolong kawan-kawanku yang belajar di bidang ilmu sejarah. Ini adalah ladang besar untuk mengungkap dan merekonstruksi sejarah negeri ini yang puluhan tahun disandera hingga kita tidak bisa menemukan kebanggaan pada nenek moyang kita. Kita tetap partisan dan mengklaim bahwa pahlawan yang ini milik kita, yang itu bukan. Jika kalian mau mengambil bagian ini, maka sungguh akan ada pintu ilmu yang terbuka yang selama ini tidak pernah kita ketahui. Selagi kran kebebasan masih terbuka di mata kita.

Kita belum menemui fase kebangunan sejarah. Kita bingung dalam sejarah kita bukan. Karena kita belum bisa mengakui secara obyektif tentang fase perjuangan bangsa ini. Sementara Snock Hurgronje dan timnya telah berhasil memahami sejarah masyarakat Indonesia sehingga dia berhasil membangun serangan mematikan di masyarakat. Yang Aceh dan Sumatra, diadu domba ulama dengan penguasanya. Yang di Jawa dihidupkan ilmu kebatinannya dengan dalih kembali ke ajaran pra Islam. Dan hari ini, banyak kita lihat saudara-saudara kita sekalipun menjadi seorang muslim, tetapi telah kehilangan kebanggaannya atas keyakinan yang agung ini. Di sisi lain, kita juga menjumpai segelintir yang bersikap kasar dan bengis kepada pemeluk agama yang lain sehingga timbul persepsi negatif tentang Islam.

Sungguh aku ingin berfoto dengan kebanggaan di depan lukisan Sultan Agung Hanyokrokusumo, Pangeran Diponegoro, Sultan Hassanuddin, Imam Bonjol dan yang selainnya sebagaimana Recep Tayyip Erdogan yang dengan penuh kebanggaan berfoto memakai baju kebesarannya di depan lukisan Sultan Muhammad al-Fatih, sang penakluk Konstantinopel, pemimpin terbaik yang dijanjikan oleh Rasulullah shallahu’alayhi wasallam setelah beberapa kali di dinasti sebelumnya, kaum muslimin menemui kegagalan. Kita tidak perlu ribut soal pahlawan kita siapa, tapi mari kita menunduk dan melihat kembali jejak-jejak mereka yang juga manusia biasa, ada celanya juga, namun sungguh inspirasi yang mereka hadirkan untuk kita pasti akan membuat kita berhenti untuk mengeluh dan mencela seperti kebanyakan orang hari ini.

Mari buka lembaran sejarah kita, bukan untuk nostalgia, tapi untuk mencari inspirasi kebangunan umat di akhir zaman. Bukan dengan diskusi saja, melainkan berpikir mendalam untuk mencari mata air-mata air kegemilangan peradaban yang pernah menyerlah di bumi Allah ini. Ini tugas kita, para pemuda yang masih diberi kebebasan intelektual untuk belajar dan mencari itu, sebelum kelak kebebasan dibabat habis atau masa perang dikumandangkan. Karena jika kita beriman, kita percaya ada akhir zaman yang akan mengantarkan kita pada kemenangan sejati. Sekali lagi, kita akan menang dan tegaklah Khilafah alaa Minhajin Nubuwwah di muka bumi ini sebelum hari akhir itu tiba.