Dalam sebuah diskusi yang menarik dengan teman-teman yang pernah mengikuti kajian ke-Islam-an dengan salah satu pembicara DDII Jateng ada kajian tentang pondasi spiritual orang Jawa sebelum datangnya Hindu-Buddha dan Islam.

Pertanyaan yang belum terjawab dan baru praduga, mungkin dulu Allah pernah mengirim seorang nabi di masyarakat Jawa sebelum datangnya Islam. Hal itu terlihat bagaimana hakikat ketuhanan masyarakat Jawa itu tetaplah maha tunggal, jauh lebih tinggi dibandingkan agama-agama yang datang dari India. Aku sendiri ketika pernah mempelajari kitab perang Bharatayuda menemukan adanya hal aneh, bahwa di atas Bathara Guru, masih ada yang paling tinggi, Sang Hyang Wenang. Maka dari itu, meskipun kedatangan ajaran Hindu dan Buddha dari India yang sangat berbeda, maka akhirnya ajaran itu mengalami akulturasi mengikuti basis keyakinan masyarakat Jawa sebelumnya. Itulah mengapa bangunan-bangunan megah baru berdiri dimasa dinasti-dinasti India itu berkuasa.

Setelah berakhirnya Mataram Hindu, disitulah mulai banyak tanda tanya sejarah. Termasuk tanda tanya besar adalah mengapa Islam begitu berakar di masyarakat nusantara ini. Banyak fitnah yang dihembuskan bahwa Islam yang menghancurkan kerajaan-kerajaan Hindu Buddha itu, padahal siapa yang tahu bahwa barangkali di masa Airlangga, masyarakat muslim telah berkembang pesat di pesisir nusantara. Itulah mengapa peninggalan-peninggalan masa itu bukanlah candi megah semacam Borobudur dan Prambanan melainkan kitab-kitab yang bijaksana. Apakah ini pengaruh dari Islam, karena di masa keemasan Islam, warisan terbaiknya adalah tata kehidupan masyarakat yang madani dan kitab-kitab yang inspiratif.

Apakah ada nama Gadjah Mada? Karena bahkan ada sejarawan India yang menganggap nama itu ganjil. Bagaimana dengan Gaj Ahmada, itu terlihat lebih Islami. Ah otak atik gatuk katanya. Okelah, tolong kawan-kawanku yang belajar di bidang ilmu sejarah. Ini adalah ladang besar untuk mengungkap dan merekonstruksi sejarah negeri ini yang puluhan tahun disandera hingga kita tidak bisa menemukan kebanggaan pada nenek moyang kita. Kita tetap partisan dan mengklaim bahwa pahlawan yang ini milik kita, yang itu bukan. Jika kalian mau mengambil bagian ini, maka sungguh akan ada pintu ilmu yang terbuka yang selama ini tidak pernah kita ketahui. Selagi kran kebebasan masih terbuka di mata kita.

Kita belum menemui fase kebangunan sejarah. Kita bingung dalam sejarah kita bukan. Karena kita belum bisa mengakui secara obyektif tentang fase perjuangan bangsa ini. Sementara Snock Hurgronje dan timnya telah berhasil memahami sejarah masyarakat Indonesia sehingga dia berhasil membangun serangan mematikan di masyarakat. Yang Aceh dan Sumatra, diadu domba ulama dengan penguasanya. Yang di Jawa dihidupkan ilmu kebatinannya dengan dalih kembali ke ajaran pra Islam. Dan hari ini, banyak kita lihat saudara-saudara kita sekalipun menjadi seorang muslim, tetapi telah kehilangan kebanggaannya atas keyakinan yang agung ini. Di sisi lain, kita juga menjumpai segelintir yang bersikap kasar dan bengis kepada pemeluk agama yang lain sehingga timbul persepsi negatif tentang Islam.

Sungguh aku ingin berfoto dengan kebanggaan di depan lukisan Sultan Agung Hanyokrokusumo, Pangeran Diponegoro, Sultan Hassanuddin, Imam Bonjol dan yang selainnya sebagaimana Recep Tayyip Erdogan yang dengan penuh kebanggaan berfoto memakai baju kebesarannya di depan lukisan Sultan Muhammad al-Fatih, sang penakluk Konstantinopel, pemimpin terbaik yang dijanjikan oleh Rasulullah shallahu’alayhi wasallam setelah beberapa kali di dinasti sebelumnya, kaum muslimin menemui kegagalan. Kita tidak perlu ribut soal pahlawan kita siapa, tapi mari kita menunduk dan melihat kembali jejak-jejak mereka yang juga manusia biasa, ada celanya juga, namun sungguh inspirasi yang mereka hadirkan untuk kita pasti akan membuat kita berhenti untuk mengeluh dan mencela seperti kebanyakan orang hari ini.

Mari buka lembaran sejarah kita, bukan untuk nostalgia, tapi untuk mencari inspirasi kebangunan umat di akhir zaman. Bukan dengan diskusi saja, melainkan berpikir mendalam untuk mencari mata air-mata air kegemilangan peradaban yang pernah menyerlah di bumi Allah ini. Ini tugas kita, para pemuda yang masih diberi kebebasan intelektual untuk belajar dan mencari itu, sebelum kelak kebebasan dibabat habis atau masa perang dikumandangkan. Karena jika kita beriman, kita percaya ada akhir zaman yang akan mengantarkan kita pada kemenangan sejati. Sekali lagi, kita akan menang dan tegaklah Khilafah alaa Minhajin Nubuwwah di muka bumi ini sebelum hari akhir itu tiba.

Sumber : https://www.facebook.com/ardika.zaid/posts/10201697011017828

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.