Ceritanya aku pernah melakukan diskusi dengan salah satu mentorku. Beliau bercerita tentang dua logika yang berkebalikan. Kedua logika ini boleh jadi dipahami oleh umat Islam secara terpisah. Sehingga seringkali terjadi perdebatan dan permusuhan sesama umat Islam yang terkadang lebih sengit ketimbang bagaimana mencari solusi atas perbedaan-perbedaan tertentu yang sejatinya tidak perlu dibesar-besarkan.

Suatu ketika ada seorang cendekia muda yang berbicara pada sebuah seminar yang diselenggarakan oleh salah satu universitas ternama di negeri ini. Temanya berkaitan dengan realitas masyarakat Islam yang hari ini masih dipenuhi unsur-unsur kebatinan, klenik, dan pengaruh ajaran Hindu-Buddha dalam ritual ibadah keseharian mereka.

Dengan terangnya sang pembicara ini selalu mengulang-ulang bahwa ajaran Islam ini telah dikotori oleh pengaruh-pengaruh luar tersebut sehingga para penganutnya hari ini belum dapat ber-Islam dengan benar. Ini logika pertama yang disampaikan oleh san cendekia tadi, AJARAN ISLAM YANG DIANUT UMAT ISLAM INDONESIA MASIH DIPENGARUHI AJARAN HINDU-BUDDHA.

Namun yang mengejutkan, ada seorang Kyai yang sudah sepuh mengajukan sanggahan dengan sebuah pertanyaan seperti ini.

“Saudara membuat pernyataan begitu atas dasar apa? Coba dijawab, duluan mana yang masuk ke Indonesia, Hindu-Buddha atau Islam?”, tanya sang Kyai

“Tentu saja lebih dahulu Hindu-Buddha”, jawab sang pembicara

“Lalu mengapa Saudara mengatakan bahwa ajaran Islam dikotori oleh ajaran Hindu-Buddha? Bagaimana logika berpikir Saudara? Bukankah justru Islam-lah yang “mengotori“ ajaran Hindu-Buddha. Jadi jika hari ini masih banyak umat Islam yang ber-Islam dengan menampakkan sisi-sisi ajaran Hindu-Buddha atau aliran kepercayaan, itu artinya Islam belum “mengotori“ sempurna sejak diajarkannya para perintis dakwah Islam dahulu. Nah, itu tugas kita untuk melanjutkan menjelaskan Islam sebaik-baiknya, sejelas-jelasnya hingga setiap orang yang hari ini belum ber-Islam dengan baik menjadi mengerti dan perlahan-lahan mau berubah menuju jalan Islam yang sebenarnya seperti yang dituntunkan Rasulullah. Bukannya mengulang-ulang menyalahkan ajaran Hindu-Buddha yang memang lebih dahulu datang ke Indonesia.“

Argumentasi sang kyai jelas menjadi antitesis atas pernyataan sang cendekia tadi. Mengapa, karena menurut padangan beliau justru AJARAN ISLAM MEMBERI PENGARUH PADA AJARAN HINDU-BUDDHA yang lebih dahulu berakar di Indonesia.

Kawan, singkat cerita dua logika tadi adalah dua hal yang bertolak belakang. Dampak yang ditimbulkan pun akan berbeda. Ketika kita menggunakan logika pertama, maka nuansa dakwah yang dibangun cenderung menyalahkan keaadan dan mengumpati segala penyimpangan yang ada. Dan selalu mengkambinghitamkan ajaran orang lain.

Ketika kita menggunakan logika kedua, maka sebesar apapun tantangan dan penyimpangan yang terjadi, kita akan tetap sabar menapaki dakwah ini. Tetap berjuang menjelaskan keindahan dan kebenaran Islam. Karena kita sadar, kita hanya melanjutkan tugas para ulama yang telah membuka dakwah Islam di nusantara ini. Sejarah telah menunjukkan bahwa dakwah Islam di Indonesia berlangsung damai. Maka tak heran masyarakat Hindu-Buddha ketika itu mau memeluk Islam dengan sukarela.

Jika ternyata hingga hari ini hal-hal yang dirasa menyimpang dari ajaran Islam yang dibawa Rasulullah masih tampak, maka tugas kita bukan memaki mereka yang melakukan itu. Tetapi menjelaskan dan mendekati mereka dengan kasih sayang. Kita hanyalah seorang dai, bukan seorang hakim yang berhak memvonis orang-orang yang menjadi obyek dakwah kita. Tugas kita mengajak dengan segala kreativitas dan cara yang terpuji. Bukan dengan cara-cara kasar, apalagi mau menang sendiri.

Dua logika, dengan variabel yang sama, tapi implikasinya berbeda ketika kita salah menaruh tempatnya.

4 Comments

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.