Kalo banyak orang sekarang yang mikirnya politis sih mungkin iya. Tapi kalo sekarang banyak politisi yang “berpolitik” mah, nanti dulu, aku ga mau bilang iya. Nalarku yang bodoh ini lebih melihat banyak politisi yang sedang berbisnis materi, bukan berpolitik. Mengapa? Karena berpolitik itu butuh keberanian dan kelurusan hati. Sedangkan bisnis materi itu modal berani sama analisis untung rugi yang¬†cermat.

Ya sudah Pak Bu, mari lanjutkan kerja lagi, jenengan nggagasi politik tenanan yo ra marai tentrem neng ati to. Apalagi jenengan bukan pelaku politik dalam skala yang diperdebatkan itu. Kita masih punya urusan politik Dul, yakni mendirikan parlemen dihati kita untuk memutuskan apakah detik ini, dalam suasana begini, dan untuk tujuan ini kita harus misuh-misuh atau kalem, harus membenci atau mencintai. Kalo sudah nanti tinggal naik ke level keluarga, RT, RW, Kampung, Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten, Provinsi, Nasional. Semoga sukses.

Gabung di komunitas online itu dapat keteladanan penting tentang arti rendah hati. Sejauh bergaul dengan orang-orang hebat yang hobi “nungguin leptop dan PC” mereka adalah orang-orang yang cenderung silent dan produktif. Keahlian mereka ditunjukkan dalam bekerja, bukan wacana. Sang suhu coding hingga yang mbaurekso server justru terkadang tersembunyikan dalam kesahajaannya. Seperti halnya sang sopir yang mengawal kami dalam perjalanan Bandung-Bogor adalah seorang konsultan sebuah perusahaan. Dan guru-guru hebat itu selalu tersembunyi, baru ngaku kalo kita sungguh-sungguh ingin belajar ilmu-ilmu penting padanya. Maka tidak usah tertipu dengan label-label, cukuplah label sebagai tanda pengenal tapi itu bukan standar.

Sumber :

Facebook 1 

Facebook 2

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.