oleh Harry Hassan Santosa

Saya sebenarnya bukan penganut deschooling maupun penganut schooling. Saya juga tidak sepaham dgn orangtua yang memindahkankan kurikulum sekolah ke rumah lalu menamakannya Homeschooling.

Saya penganut pendidikan berbasis potensi dan akhlak. Pendidikan sejati bagi saya adalah pendidikan yg konteks dan berelasi dengan potensi, baik potensi manusia maupun potensi masyarakat, budaya dan kearifan atau agama. Ujungnya adalah kemandirian, kepemimpinan dan kemanfaatan berbasis potensi2 itu.

Bagi saya learning atau schooling yg tdk berelasi dengan potensi2 tsb, dan tdk berujung kepada kemandirian, kepemimpinan dan kemanfaatan individu dan lokal/komunitas maka bukan pendidikan.

Dalam kaitan dgn bahasan di thread ini, saya hanya ingin, pemerintah mendatang tdk memandang persekolahan akademis nasional adalah satu2nya jalan utk orang mendapat pendidikan, dan satu2nya ukuran suksesnya pendidikan. Negara tidak boleh campur tangan terlalu jauh dalam praktek persekolahan kecuali fasilitas dan kebijakan umum,

Negara mesti memfasilitasi dan mengakui serius semua jenis keragaman pendidikan yg lain, walau dgn kurikulum buatan sendiri, serta ukuran2 sukses yg lain, misalnya ukuran karya, ukuran pengakuan komunitas bukan kelulusan akademis dll.

Negara hanya memfasilitasi, membantu menstrukturkan tiap keberagaman lokalitas, memasok ahli yg diperlukan oleh penyelenggara2 pendidikan tsb baik keluarga2 maupun komunitas2.

Desa2 nelayan di Halmahera atau Papua sana, mungkin tdk butuh smp, sma atau smk, mereka hanya membutuhkan pesantren perikanan, yg memadukan akhlak dan potensi lokal dgn target kemampuan membangun desa, bukan ijasah dan segala tetek bengek. Nah, negara fasilitasi saja itu.

Banyak keluarga mungkin juga tdk butuh persekolahan akademis, mereka hanya ingin anak2 mereka fokus pd bakat dan akhlak, mereka butuh merancang pendidikan anak2nya sendiri, mereka butuh memagangkan anak2nya pd expert2 di komunitas terkait. Nah, negara fasilitasi saja itu.

Istilah kerennya demokratisasi pendidikan.

Salam Pendidikan Peradaban

Facebook

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.