Setelah media memberitakan tentang Sultan Brunei yang menetapkan pemberlakuan hukum Islam, maka media juga membuat berita tentang kabar-kabar tidak senonoh yang dilakukan keluarga kerajaan (bener ga? Ya embuh, tanya saksi matanya dong).

Setelah media memberitakan tentang perjanjian Helsinki yang salah satu poinnya penerapan syariat Islam di Aceh, maka media juga memberitakan tentang hal-hal amoral di Aceh (katanya yang di Aceh ya memang kejadian itu ada, tapi mengapa kemajuan akibat pelaksanaan hukum Islam tidak diliput).

Media gemar memberitakan perkosaan dan korupsi secara membabi buta tetapi hanya sedikit atau bahkan mungkin tidak ada berita yang berimbang tentang kemajuan pemerintahaan dan kegiatan-kegiatan positif di masyarakat yang sebenarnya juga sangat banyak.

Dan dalam berbagai pola pemberitaan media kita pasti menjumpai cara menaikkan berita buruk untuk menghantam berita yang baik. Untuk apa? Agar saat kita mendengar Islam, maka yang muncul adalah ketakutan, bukan ketertarikan untuk mendalami Islam (yang sesungguhnya baru kita tahu sebatas kulitnya sejauh ini). Agar kita terbiasa menikmati suasana bangga di tengah penderitaan orang lain, mereka yang jadi korban dan mereka yang melakukan kejahatan. Kita akan lebih menikmati suasana untuk mengumpat, menjelek-jelekkan, hingga berujung untuk saling mendengki satu sama lain.

Stop baca berita dengan serius (baca sambil lalu saja). Berita adalah landing page iklan, baca sekedar tahu info dan trend, apalagi pemberitaan politik. Lupakan saja sekumpulan omong kosong itu, cukuplah untuk kita tahu saja apa mainan media pekan ini. Ada berita langit yang lebih indah dan mendalam untuk kita baca dan hayati. Ada suara qalbu yang lebih syahdu untuk kita dengar dari pada suara penyiar yang menggosip keterlaluan itu.

Facebook

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.