Berbicara soal pendidikan di negeri ini adalah topik yang hangat, baik karena itu memang masalah substansial atau untuk keperluan bisnis. Berbagai seminar digelar untuk mendiskusikannya, meskipun sedikit darinya membuahkan solusi yang konkrit untuk menyelesaikan permasalahan pendidikan di negeri ini. Setidaknya masih ada orang yang mau berbicara dan beretorika meskipun yang mau mengambil tindakan masih jauh dari yang diharapkan.

Ceritanya tadi malam dan tadi pagi aku mendapat tugas untuk membantu kegiatan outcamp adik-adik Sekolah Alam Bengawan Solo di Segorogunung. Karena Pak Indrawan Yepe alias mbah Gondrong yang biasanya kerap mengawal kegiatan outbond anak-anak SABS berhalangan hadir aku diminta untuk menggantikannya dalam menunjukkan rute-rutenya. Tentu saja aku tahu karena tempat ini adalah tempat persinggahanku dikala stress dan galau sejak mengenal Pak Indrawan. Di tempat inilah idealismeku dibentuk dan dipupuk hingga akhirnya terus berkembang dan bisa tetap belajar hingga kini.

Sebuah pemandangan tidak biasa kujumpai tadi malam ketika bersama para juniorku di lingkaran inspiratif mengunjungi rumah Pak Sumadi, markas yang digunakan oleh para pengunjung segoro gunung. Di depan rumah terparkir beberapa mobil mulai dari yang kelas menengah hingga yang mewah, Honda Jazz. Wow, ternyata agenda outcamp kali ini tidak hanya diikuti oleh siswa-siswa SABS tetapi juga orang tua siswa. Aku baru tahu bahwa ternyata ada pengusaha kaya juga yang menyekolahkan anak mereka di SABS. Kurasa inilah salah satu harapan kebangkitan itu.

Aku melihat kejadian ini luar biasa. Mengapa? Karena orang tua mulai dari yang kelas bawah hingga kelas elit meluangkan waktu 2 hari untuk turut mengikuti kegiatan seperti ini jelas bukan hal biasa bukan. Pemandangan yang kerap kita jumpai di sekolah-sekolah negeri adalah ketidakpedulian orang tua untuk mengawal dan mengenal makna pendidikan yang sesungguhnya. Mereka hanya peduli bagaimana mencukupi uang saku dan SPP putera-puterinya serta menagih nilai yang diperolehnya. Jika tidak puas, maka disewalah para guru untuk membantu belajar dengan target yang tidak berubah juga, nilai.

Mas Jefri, sang kepala sekolah yang berlatar belakang pendidikan teknik arsitek ini menceritakan bahwa para penduduk Segorogunung kaget karena baru kali ini ada anak-anak SD yang masih kelas 1 – 3 berani bertamu sendirian di rumah, berdiskusi dan melakukan wawancara kepada sang pemilik rumah. Mereka juga meminta izin untuk melihat kebun dan bertanya-tanya apa pun yang mereka ingin tahu tentang berkebun di lereng Gunung Lawu itu. Pemandangan menarik ini tentu berbeda dengan aktivitas rutin yang membosankan di ruang kelas karena siswa malu-malu dan takut untuk bertanya dan mengeksplorasi apa pun yang ingin dia tahu.

Ini hanyalah sebuah gambaran kecil bagaimana pendiri Sekolah Alam Bengawan Solo dan super team-nya berjuang untuk mengembalikan filosofi pendidikan yang sesungguhnya, yakni membangun partisipasi orang tua dan masyarakat sebagai sekolah kedua setelah sekolah yang sebenarnya untuk menjadi ruang belajar siswa. Sudah tidak jamannya lagi sekarang orang tua menuntut sekolah menyediakan pembelajaran yang bagus sementara di rumah orang tua justru merusaknya dengan berbagai fasilitas yang tidak mendukung kenyamanan belajar siswa.

Hari ini, aku masih punya alasan untuk tetap menentang berbagai kebijakan pendidikan yang cenderung mengeksploitasi siswa ini. Karena masih ada para pejuang yang rela berkorban meninggalkan kenyamanan pilihan hidup mereka untuk menjadi sahabat baik para generasi Indonesia. Pak Yudi, sang pendiri bisa saja menjadi eksportir mebel besar kalau dia lebih sibuk mengurus bisnis mebelnya. Mas Jefri, tentu lebih sukses saat menjadi arsitek dan bekerja di perusahaan konstruksi raksasa karena beliau tergolong mahasiswa berprestasi di kampusnya. Kemudian para punggawa yang lain. Merekalah orang-orang hebat sesungguhnya yang membuatku kagum. Merekalah para pahlawan pendidikan yang masih bisa kulihat hari ini. Semoga Allah selalu memberikan kekuatan pada mereka untuk bertahan dalam jalan juang ini.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.