Berita sekarang itu kejar tayang, maka pembaca berita yang baik itu cukup tahu trend yang sedang dikembangkan media. Berita itu diproduksi untuk membuat para pengiklan datang bergilir menempelkan bannernya. Soal fakta itu nomor dua, tidak penting juga jika kita bukan siapa-siapa. Jika terlalu percaya berita, rugi sudah waktunya terbuang sia-sia dan menunjukkan betapa lemahnya intelegensia kita.

Jika kita diminta untuk berdoa kepada Allah agar diberi sakinah, tapi khawatir berat gara-gara berita itu salah kita sendiri menggadaikan tawakkal kepada harta dan dunia. Manusia di muka saat ini dipenjara oleh berbagai indeks, mulai dari kurs mata uang hingga indeks2 lainnya. Mereka yang tahu hal ini pasti akan menjauhi atau berusaha meraup keuntungan besar dari permainan yang lucu dan aneh ini.

Cukup ketak-ketik sembari ngopi, maka ketakutan dan kekhawatiran ditebarkan bak teror. Sampai-sampai kita dibuat lupa berdoa dan mengawali pagi dengan optimisme. Ketakutan itu kini telah menjamah dunia sekolah dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Ketakutan itu telah membutakan banyak pasang mata kaum intelektual sekalipun ia bergelar profesor atau mbahnya profesor sekaligus.

Mari ingat, ingat ini hari Senin kawan, sudahkan berpuasa sunnah. Ingatkah hari ini malaikat Allah naik dan turun untuk melaporkan amalan kita. Apakah kita memberi ruang hati kita untuk berpikir dan berzikir kepada-Nya. Apakah lisan kita baik yang terucap maupun terstatuskan di sini telah berhenti dari ghibah, baik itu soal sepele hingga ghibah politik khas media massa yang sering kita ikuti.

Tidak perlu merasa paling benar sendiri karena itu akan menghadirkan kesombongan dan keangkuhan. Jika kita yakini sesuatu itu benar, maka pelihara akhlak agar kebenaran itu tetap tersampaikan dengan baik dan di saat yang baik. Banyaknya orang yang merendahkan agama Islam dan menghina Rabb kita mungkin karena banyak lisan kita yang menyakiti dan mencerca mereka. Padahal Quran sudah melarang kita untuk mencerca sesembahan mereka secara berlebihan agar mereka tidak mencerca Allah dengan lebih keji dan keterlaluan.

Yuk perbanyak istighfar.

Facebook

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.