oleh Harry Hassan Santosa

Bagi para pelanggan dan pengikut sistem persekolahan nasional, baik negeri maupun swasta, baik formal maupun informal, mohon jangan pernah bilang anak saya aman2 saja dari berbagai kasus dan ekses yg diakibatkan kesalahan mindset dan praktek persekolahan.

Kasus demi kasus, satu demi satu muncul dan semakin banyak terkuak, baik kasus yg lama yg membuat kita biasa2 saja krn sudah sering didengar, maupun kasus yg baru yg membuat publik sesaat tercengang2 lalu kemudian akan terbiasa lagi. Seperti biasa memori publik lemah dan mudah lupa, apalagi jika ada situasi politik atau selebritis yg menjadi gosip atau ghibah nasional.

Mari lihat satu persatu.

Kasus tawuran dan bully, nampaknya sudah tdk menjadi perhatian serius publik lagi krn memang terus menerus terjadi dan rutin. Orang bisa menikmati videonya di youtube setiap saat, lalu publik hanya tinggal menghitung data2 statistik, berapa yang mati, berapa yang luka2 hampir mati, berapa yg cidera ringan dstnya sambil bersyukur, “alhamdulillah itu bukan anak saya atau keluarga saya”

Kasus kecurangan dan mencontek UN sekarang bukan lagi hal yg tabu. Orangtua dan guru boleh saja tidak suka dgn perbuatan ini, tetapi mencontek sudah menjadi perbuatan yg massive, umum dan berjama’ah. Membeli bocoran adalah ritual tahunan, siswa smp dan sma “urun dana” utk membeli bocoran. Lalu sekolah dan ortu? Ya mereka pura2 saja tidak tahu, bahkan terkuak bhw di banyak sekolah, bocoran dibuat oleh team khusus guru2 yg dirancang oleh kepala sekolah. Sukar dipungkiri bhw mencontek ini sudah melanda siapapun, anehnya masih banyak ortu yg masih bilang, “alhamdulillah itu bukan anak saya”.

Kasus pelecehan seksual dan pedofili yang marak belakangan, ternyata kasusnya sudah ribuan dan berlangsung sejak lama, hanya saja disembunyikan dan tdk menjadi perhatian publik serius. Seperti biasa orang2 Indonesia kebanyakan baru takjub jika itu menimpa orang kaya dan sekoleh bule. Mungkin anda akan bilang, “alhamdulillah anak saya di sekolah agama dan tdk mungkin menjadi korban”. Siapa bilang? Menurut bunda Elly Risman, kasus pelecehan seksual, pedofili, homoseksual juga melanda sekolah agama dan pesantren.

Kasus stress parah dan bunuh diri. Sepanjang tahun 2002 – 2007, kasus bunuh diri sudah menimpa lebih dari 17 orang anak. Data2 tahun setelahnya bisa jadi semakin meningkat. Terakhir pelajar SMP di Tabanan Bali, yang bunuh diri. Siswi malang itu menggantung diri pakai dasi sekolah, sepulang UN krn soal UN dianggap berat. Kasus stress sedang sampai berat mungkin paling banyak terjadi. Lagi2, para penikmat sistem persekolahan nasional jangan berkata, “alhamdulillah anak2 saya nyaman2 saja”.

Silahkan dicheck, di komunitas2 pendidikan informal yang kelimpahan siswa stress parah atau yg dikeluarkan krn stress. Seorang pengelola pendidikan informal bercerita bhw ada siswa yg stress sampai membenci agama, benci Tuhan dan tidak mau sholat dstnya.

Seorang teman pengajar bimbel, bercerita bhw 20 tahun silam, ada siswi berjilbab rapih dari sekolah Islam, yang (maaf), menjadi terganggu jiwanya akibat stress berat. Siswi yg malang ini, konon sakit dan memaksakan diri ketika UN berlangsung, sehingga mengalami stress berat. Tentu saja siswi ini akhirnya tidak lulus, dan pada tahun2 berikutnya selalu datang ke bimbel tempat teman saya mengajar sambil membawa buku2 tebal seolah2 utk konsultasi belajar, pdhl sdh dianggap mengalami gangguan jiwa berat.

Tentu saja kita bisa mengatakan, “alhamdulillah itu bukan anak saya”. Angka2 itu hanya statistik sampai kita atau anak kita mengalaminya sendiri. Ini pengalaman saya pribadi, seorang anak perempuan di keluarga besar saya, mengalami “hang” selama berhari2, tidak mengenal siapapun dan hanya tergolek di tempat tidur. Penyebabnya adalah beban belajar yg berat. Aktifitasnya, seperti umumnya anak2 di kota besar, Sekolah Islam fullday ditambah eskul dan bimbel hampir setiap hari. Lalu “hang!*

Taubatlah, wahai pendidikan nasional.

Seorang mengirim sms dan bilang bhw pendidikan nasional kita sedang sekarat dan sedang darurat. Saya bilang yg sekarat dan darurat adalah anak2 kita, generasi mendatang bangsa Indonesia. Maka jalan taubat satu2nya adalah melakukan perubahan Mindset dan Praktek Sistem Persekolahan

1. Pendidikan bukan sekolah pacuan siswa, tetapi pendidikan adalah taman siswa. Di pacuan, anak2 dianggap kuda yg mesti dicambuk utk memenangkan pertandingan. Di taman, anak2 kita dianggap bunga2 indah beraneka warna yg mesti ditumbuhkan dgn kasih sayang dan cara2 yg spesifik satu sama lain. Sebenarnya sudah banyak pakar psikologi atau pakar manajemen yang meminta agar beban pelajaran persekolahan jangan dibuat berat, seolah2 anak2 kita seperti kuda pacuan dan sekolah adalah pacuan kuda. Pendidikan itu seharusnya sebuah miniatur dunia yang membuat anak2 kita menjadi asik, curious, nyaman, bahagia, dstnya sehinga mereka memiliki imaji2 positif ttg Tuhan, ttg Alam, ttg Manusia, ttg belajar dsbnya. Luka imaji akan menyebabkan luka persepsi, dan luka persepsi akan membuat rusaknya pensikapan kelak ketika dewasa.

2. Gunakan ukuran daya potensi bukan ukuran daya saing. Dalam persekolahan yg mengabdi pd industrialisasi dan kapitalisme juga sosialisme, ukuran2 yg dipakai adalah daya saing utk meniru bangsa lain. Anak2 kita digegas utk menjadi anak lain. Yang hebat adalah yang bisa menguasai semua. Potensi unik dan karya anak2 kita tdk lagi dihargai, kecuali nilai pd raport dan ijasah semata. Termasuk yg tdk dihargai adalah karya2 dan budaya lokal serta kearifan dan keunggulan desa2, krn itu semua dianggap bukan daya saing. Anak2 Indonesia, yg tdk mengenal dirinya dan tdk mengenal desanya/daerahnya, apalagi menghebatkannya, sama saja dgn generasi yg hilang, yaitu generasi yg melayang2 entah kemana, kehilangan konsep diri dan konsep bangsa, menjauh dari jatidiri dan jatibangsa juga jatiagama.

3. Nilai dan akhlak yg dijunjung dan dimuliakan bukan prestise materi. Persekolahan telah menjadi prestise bagi banyak orangtua, makin mahal makin prestise. Makin megah gedungnya, makin banyak bule nya, makin luas halaman parkirnya, makin mentereng furniturnya, makin eksklusif kurikulumnya, bagi kalangan tertentu makin terlihat “beragama” walau cuma akumulasi kurikulum dll, makin prestise. Persekolahan beginian hanya akan membuat anak2 kita menjadi elitis, tidak peka terhadap kehidupan sosial dan sekitarnya, mudah melecehkan kelas sosial di bawahnya, mengukur kemuliaan dari mobil dan jabatan orangtuanya, dstnya. Guru2 di sekolah dgn pungutan mahal, lebih sering dipandang sbg “orang gajian” yg menjadi buruh2 yg dipekerjakan dan masa depan hidupnya tergantung kebaikan yayasan. Dalam mindset spt ini, sulit diharapkan adanya keteladanan yg alamiah. Ingat bhw kehebatan moral dan performa tdk bisa diajarkan tetapi ditularkan lewat keteladanan.

Mari kita rancang perubahan pendidikan sekemampuan kita, setidaknya kita punya program pendidikan ideal di rumah dan di komunitas/jama’ah kita sendiri, yang akan menyelamatkan anak2 kita generasi Indonesia, hari ini dan masa depan.

Salam Pendidikan Peradaban

Facebook

2 Comments

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.