Kategori
Kilas Sejarah

Refleksi di Balik Senyum Pak Harto #2

Mungkin gara-gara itu salah satu faktornya, kini optimisme bangsa perlahan mulai surut. Banyak yang bertanya, “Bisakah Indonesia menjadi lebih baik?”. Banyak yang bilang, ah sudahlah, jangan sok idealis, nanti kalau kita tidak ikut arus nanti bakal mati digilas oleh realita. Benarkah? Sebegitu pesimiskah kita. Tak kita lihatlah bahwa NKRI ini sangat luas yang hingga kini setelah proklamasi itu tak ada satupun makhluk asing, entah itu bernama CIA, FBI, atau bahkan Mossad yang berhasil mencerai-beraikannya secara terbuka. Belum lagi dengan masyarakatnya, kekayaannya.

Memang sekarang kita semakin merasa kacau dengan berbagai hal yang tidak jelas ini. Sekolah jadi tidak jelas, jadi guru juga sepertinya semakin tidak jelas arahnya (cuma semakin jelas gajinya), jadi pegawai negeri lebih tidak jelas lagi (karena banyak yang sekarang kerja santai padahal mereka memakan uang rakyat cukup banyak, kalau saja kita boleh menyebut APBN itu dengan Baitul Mal pasti tahulah rasanya). Tapi apakah itu alasan untuk kita yang masih sekarang mengerti itu kemudian ikut-ikutan berkata, Indonesia sudah kacau dan hancur. Atau malah sekalian berbasah ria dan ikut menikmati kekacauan ini.

Masih ada waktu untuk mengembalikan senyum Pak Harto yang katanya dulu mengerikan itu. Jika kita memandang senyum Pak Harto itu adalah perlambang rezim militer yang kejam tapi santun, haruskah kita mengelak bukti bahwa saat itu juga negeri kita mengalami keteraturan pembangunan (meskipun konon utang sih dari kapitalis barat) dan rakyat bisa hidup tenteram (kebanyakan rakyat di akar rumput pasti jujur berkata bahwa zaman Pak Harto itu lebih enak, namun tidak bagi kita para kaum intelektual). Itulah yang bisa dicontoh dari masa beliau, meskipun sisi yang lainnya kejam dan menyakitkan kita.

Hari ini senyum anak sekolah hilang karena sekolah itu tidak menyenangkan. Karena belajar itu menjadi sebuah beban, bahkan terkadang mencabulkan (karena belakangan beberapa guru mulai gerah dengan bantuan-bantuan buku bacaan yang sebenarnya tidak sesuai untuk siswa sekolah). Senyum petani dan masyarakat desa hilang karena dukungan pemerintah yang minim dan tingginya impor atas ambisi para pengusaha. Senyum para elit negeri ini menjadi menakutkan, karena itu kamuflase untuk saling menjatuhkan ketika kesempatannya tiba. Tinggal satu senyum yang masih indah menurutku, senyuman Pak Harto.

Mengembalikan Senyum Pak Harto

Jika di masa beliau, kita hampir saja memiliki industri pesawat terbang, apa yang bisa dimulai lagi hari ini? Dalam hitung-hitungan bodoh jangka panjang, ketika Indonesia memiliki industri pesawat terbang, secara tidak langsung itu adalah proses akselerasi untuk menunaikan janji kemerdekaan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kesejarhteraan. Kata Pak Habibie, ketika semua pulau di nusantara itu terhubung, tak mudahkah sektor ekonomi itu tumbuh pesat?

Memiliki pesawat sendiri itu akan mengurangi beban impor teknologi (karena impor pesawat berarti impor teknisinya juga, kalo punya sendiri berarti pasti akan ada sistem yang terbangung bersamaan dengan pesatnya industri pesawat, sehingga banyak terlahir putra bangsa yang cerdas dan menjadi aset terbaik sepanjang masa). Dengannya maka kebijakan nasional tentang pendidikan pasti akan terus diperbaiki sehingga pendidikan bangsa ini mengalami kemajuan. Dan itu akan menjadikan bangsa ini berpola pikir maju dan modern, mirip-mirip Jepang lah.

Ketika pola pikir bangsa kita maju, masihkah kita sibuk mengurusi dimensi politik secara berlebihan seperti hari ini? Ketika sebagian besar orang hanya sibuk ngurusi politik tapi tidak memahami realitas politik. Ada juga sekelompok orang yang anti dengan politik? Memangnya ada negara berjalan tanpa sebuah sistem politik. Tidak salah memikirkan politik, tetapi salahnya adalah jika semua dipolitisi akan terjadi kerusakan hebat yang multidimensional.

Aku bukan pemuja Pak Harto. Tetapi melihat senyumnya yang masih indah hingga hari ini, aku masih yakin bangsa ini bisa bangkit kembali. Sudahlah, mari kita kembali dengan membangun value diri masing-masing. Tidak usah berapi-api ketika berdemonstrasi apalagi menentang berbagai kebijakan pemerintah yang kita sendiri kurang mendalami permasalahannya. Tidak usah sok suci dengan diri kita sehingga membatasi berbagai ruang komunikasi dan pertemanan kita.

Beliau mungkin menyisakan kepahitan sejarah yang memilukan, yakni mendistorsi sejarah bangsa ini. Namun apa yang pernah beliau perbuat selama 32 tahun seharusnya juga ada yang bisa diambil pelajarannya, yakni membuat bangsa ini tertata dan bergerak membangun meski pun sampai kejatuhannya bangsa ini belum sampai pada akhir pembangunan fisiknya menuju negara modern. Setiap pemimpin selain Rasulullah pasti memiliki kekurangan, apakah itu yang harus selalu diperbincangkan dan ditertawakan? Kotor banget mulut kita. Mari kita berbicara yang baik-baik tentang mereka saja.

Ajakan membuat kumpulan tulisan tentang opini-opini baik untuk para presiden Indonesia pernah terlontar dari salah satu adikku yang keren. Haruskah kita benar-benar menulis? Sepertinya penting untuk mengganti bacaan-bacaan berita di koran yang kian tidak bermutu, atau buku-buku lawakan yang laris dan kurang berbobot itu. Mari kita kembalikan senyum Pak Harto untuk bangsa ini.

Kategori
Kilas Sejarah

Refleksi di Balik Senyum Pak Harto #1

Kemarin waktu habis mengisi training teman-teman UNY di Kaliurang aku terdampar lama di Stasiun Lempuyangan. Banyak hal yang kupandang telah berubah saat ini. Mungkin juga karena aku sangat jarang naik kereta kalau bepergian. Lebih enak berpacu bersama si Hitam. Namun kali ini aku ingin merasakan kereta baru PT KAI sehingga aku memutuskan untuk menggunakan kereta dan mengandangkan si Hitam di Stasiun Balapan, stasiun kenangan yang mengingatkanku pada lagu-lagu indahnya Didi Kempot.

Di stasiun yang relatif padat dan ramai itu aku melihat banyak hal yang tidak kutemui 3-5 tahun yang lalu. Mulai dari sekelompok pemudi, lebih tepatnya usia-usia ABEGE hanya bercelana mini dan nampang di kursi antrean penumpang dengan gaya-gaya artis yang juga ga jelas (apanya yang menarik) dengan segala aksesorisnya. Kemudian ada seorang satpam yang sangat baik melayani penumpang yang tunanetra ditengah kecuekan public sore itu. Hingga ketemu teman yang ramah dan wajahnya mirip ketua SKI FKIP yang sekarang, langsung akrab padahal aku juga tidak tahu namanya (karena belum sempat kenalan keburu ngobrol ngalor ngidul sampai keasyikan). Untungnya aku ga nanya, mas kakaknya si ….. ya? Begitulah pemandangan sore itu.

Pak Harto Tersenyum

Nah, dari sekian pemandangan yang aneh-aneh itu ada pemandangan yang menantik pikiranku. Yaitu penjual kaos yang disana bergambar pak Harto tersenyum, dengan tulisan “Piye kabare? Isih penak jamanku to“ (Bagaimana kabarnya? masih enak pada zaman saya kan). Senyum Pak Harto yang memang misterius itu sangat fenomenal. Konon, bagi rival-rival politik beliau, senyumnya adalah kiamat kecil bagi mereka. Yang pasti ingatan itu tertuju pada beberapa kejadian masa lalu yang bersambung hingga sekarang.

Jika mencermati era reformasi yang katanya dulu digaungkan dan berhasil diletuskan sebagai solusi atas rezim penindasan orde baru nyatanya hari ini juga tidak ada jawabannya. Tiga tahun berlalu dari reformasi, para elit negeri ini masih bisa berkata kan masih proses. Lima tahun, delapan tahun, hingga sepuluh tahun, bahkan sekarang menjelang 12 tahunnya ternyata kondisi Indonesia bukannya makin jelas seperti yang dijanjikan oleh reformasi tetapi semakin kacau balau. Maaf kata-kata yang mengakhiri kalimat ini biasanya muncul dari kalangan akar rumput yang tidak mengerti konstelasi politik negeri ini tetapi hanya menilai berdasarkan sudut pandang visual dan pengalaman hidup terbatas.

Memang sih, sekarang enak, berkicau sembarangan enak, mulai dari media elektronik, cetak, hingga jejaring sosial yang belakangan menjamur. Rekayasa dan pembentukan opini publik pun sangat mudah, apalagi kalo corong-corong media berada di genggaman kekuasaan. Kata salah satu komisaris KPI dalam sebuah kolomnya di suatu media online, kita memang selamat dari rezim tentara, tapi sekarang malah memasuki rezim media. Kalau rezim tentara, menentang paling banter cuma diciduk kemudian di bunuh, yang nentang (tapi dalam hati) insya Allah selamat. Tapi sekarang menentang rezim media, tidak ada selamatnya kecuali yang memang mereka menyelamatkan diri. Kalau nyata-nyata menentang, opini publik dirinya bakal rusak oleh media, kalau diam tapi terus melototin lama-lama juga ikut ngacau mikirnya karena penetrasi opini yang luar biasa. Kalau menjauh juga terkadang tidak gaul karena ketinggalan informasi. Susah banget ini kalo mau dipikir.

Kaisar Media

Dengan berkuasanya rezim media yang tak pernah diketahui pengendali sesungguhnya, (banyak yang menduga bahwa medianya si Anu itu pasti telah diperintah si Anu untuk memberitakan yang beginian, tapi apakah memang benar 100% begitu?) maka hari ini Indonesia itu adalah negeri yang terlihat buruk. Bayangkan, setiap hari beritanya kalau tidak kriminal ya skandal, atau pencitraan seseorang sampai kentutnya aja jadi berita. Atau juga gosip-gosip para artis yang secara tidak langsung adalah pembelajaran buruk bagi masyarakat yang terlanjur bermental miskin tapi ingin punya banyak uang dan fasilitas. Atau sinetron-sinetron dan berbagai konser musik yang sebenarnya lebih terlihat buang-buang waktu. Semua berjalan sak karepe dhewe tanpa ada sebuah kontrol yang jelas dari pemegang kedaulatan negeri ini.

Memang kedaulatan itu ada ditangan rakyat. Permasalahannya rakyat yang seperti apa seharusnya? Rakyat yang tiap hari hura-hura dan tidak kerja gara-gara cuma joged-joged di depan panggung? Atau rakyat yang tiap hari hanya mengeluh dan memprotes kenaikan gaji sementara kapasitas dan hasil kerjanya saja dipertanyakan kualitasnya? Atau rakyat yang mudah diombang-ambingkan dalam berbagai isu karena kekuasaan rezim media yang mengerikan seperti hari ini? Mari tertawa saja, agar kita ikut-ikutan menggila dari pada dipikir susah-susah. Kan nonton acara TV atau baca berita itu urusan pribadi, benar, jadi silahkan baca dan isi kepala kita dengan sampah yang berserakan itu.

Padahal negeri ini punya segudang potensi baik dan kebaikan yang tersimpan di dada-dada para penduduknya dan seluruh jengkal tanah dan air yang terhampar dari Sabang – Merauke. Hanya saja potensi itu tertutupi bahkan kini tersekat oleh buruknya persepsi mereka sendiri, dan selimut rezim media yang semakin kuat mencengkeram ibu pertiwi. Terlepas benar tidaknya media itu dikendalikan oleh pemiliknya sendiri demi kekuasaannya. Yang pasti media hari ini telah mampu mengubah setiap makhluk yang bisa membaca dan melihatnya menjadi pasukan baru yang mirip Uruk Hai (di film The Lord of The Rings) dan setia di bawah perintah mereka.