Beji adalah sebuah desa yang terletak di kaki Bukit Wonosadi, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa ini berpenduduk kurang lebih 3000-an jiwa yang hampir sebagiannya menjadi perantau di kota-kota besar dan kembali ke desa secara periodik ketika hari lebaran.

Salah satu kultur para pemuda di desa ini adalah kebiasaan merantau pascalulus sekolah menengah, sebagian besar setelah SMA/ SMK dan sebagian besar SMP dan sangat jarang yang mau melanjutkan kuliah karena masyarakat desa ini tergolong dalam masyarakat miskin. Biasanya aktivitas harian para pemuda pada masa SMP – SMA adalah pada kebiasaan membantu orang tua bertani, aktif dalam karang taruna dan kegiatan remaja masjid. Salah satu hal yang membudaya adalah kebiasaan menghidupkan masjid setelah maghrib dengan tadarus, diskusi dan sebagainya. Hal ini cukup memberikan dampak yang positif bagi perkembangan anak-anak di desa Beji dalam mengenal agama mereka dan masyarakat. Meskipun setelah SMA/ SMK para pemuda merantau ke kota, namun proses kaderisasi dapat berjalan dengan baik melalui rutinitas yang telah membudaya tadi sehingga aktivitas ini berlangsung dengan baik sampai tahun 2005.

Namun setelah tahun 2005 dan seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, kultur kehidupan pemuda di desa ini berubah drastis. Kebiasaan menonton televisi secara berlebihan pada jam-jam belajar yang efektif mengganti kebiasaan positif yang telah membudaya sebelumnya. Kultur yang kurang baik juga dicontohkan oleh yang baru pulang dari kota, sehingga membuat masyarakat khususnya para pemuda di desa mengalami perubahan cara pandang dalam membangun cita-cita mereka ke depan. Jika semula mereka ke kota untuk mencari penghidupan, niatnya berubah untuk pamer trend dan berbagai aktivitas yang kurang baik, bahkan ada yang mengenalkan kebiasaan minum-minuman keras.

Kondisi ini memberikan dampak buruk terhadap kelangsungan aktivitas para pemuda pada tingkatan SMP dan SMA, mereka merasa malu untuk menjadi guru TPA, aktivis masjid, bahkan menjadi aktivis karang taruna. Jika dahulu para pemuda mudah diarahkan oleh sesamanya, sekarang menjadi sulit bahkan oleh kepala dusun atau kepala desanya. Aktivitas di masjid dan karang taruna menjadi mati, kecuali pada saat momen 17 Agustus dan Ramadhan saja, itu pun sudah jauh lebih buruk di bandingkan pada masa-masa sebelumnya. Hal ini sangat tidak baik untuk kelangsungan anak-anak di desa Beji jika dibiarkan berlarut-larut.

Berawal dari itu, segelintir orang yang mendapatkan kesempatan untuk kuliah, termasuk penulis di dalamnya mencoba menginisiasi perkumpulan pemuda di desa yang bergerak dalam perbaikan masyarakat khususnya pemuda. Organisasi yang kami dirikan bernama Persatuan Remaja Islam Cendikia (PRISMA) Desa Beji tahun 2011. Karena kendala waktu kuliah yang padat dan sedikitnya SDM yang memiliki kepedulian, organisasi ini belum dapat berjalan dengan baik. Namun di balik itu, kami memiliki impian besar dalam perbaikan masyarakat dan kami ingin membuat gerakan S-Cream (Social Collaboration, Reconstruction and Action for My Village). Gerakan ini kami mulai dari perbaikan kualitas pemuda untuk ke depan dimobilisasi dalam pemberdayaan masyarakat, mulai dari perbaikan paradigma masyarakat hingga pada perbaikan ekonomi. Kami berharap pascakampus dapat pulang ke desa untuk memberikan perubahan di sana dengan ilmu dan usaha yang sanggup kami buat.

(Artikel ini diajukan saat pendaftaran IYCS 2012)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.