Kategori
Catatan Perjalanan

Saat Perjalanan Adalah Pencarian Diri

Hemm, bagi yang pernah dengar lagu “Menjemput Bidadari” karya Epicentrum pasti tidak asing dengan kalimat di atas. Tapi kali ini aku meng-copas-nya untuk memberi tajuk perjalananku hari ini. Sebuah perjalanan yang kurasakan sangat berbeda dari sekian perjalanan yang serupa. Perjalanan menuju pantai selatan, pantai nan indah di tempat kelahiran kami.

Kejadian tak Terduga

Rencananya hari ini mau survey untuk tempat rekreasi ibu-ibu dan santri TPA. Yah, kalau di rumah melulu sepertinya tidak asyik. Apa lagi kalau TPA cuma Iqro dan hafalan melulu. Sesekali penting kan untuk tadabur alam. Nah, inilah saatnya kami yang muda-muda (maksudku adik-adik remas, tapi aku jadi ikut merasa muda, dan aku emang masih muda) buat event yang sesuai. Awalnya banyak yang mau ikut, sampai akhirnya berkurang satu demi satu, karena berbagai alasan.

Ada yang tiba-tiba cancel karena rewang di hajatan saudara. Ada yang tidak jadi ikut karena ga ada temannya (lho kok) meskipun akhirnya tetep jadi berangkat. Ada yang kena sedikit insiden di tengah perjalanan sehingga memilih pulang, dan yang tadi udah bertekad berangkat akhirnya harus ikut pulang lagi (motornya terbatas kan). Yah, begitulah riwehnya acara jalan-jalan hari ini. Sempat molor jadinya. Tapi Alhamdulillah kami bisa mencapai pantai Sundak tepat saat dimulai shalat Jumat. Alhamdulillah belum telat.

Sundak yang Memesona

Usai shalat jumat kami segera menuju bibir pantai. Meskipun banyak pemandangan ga jelas di sana-sini, kami berlalu saja sambil bergurau. Memanglah kami lebih tepat sebagai kumpulan tim futsal dagelan dengan aku sebagai manajernya. Setelah mejeng sesaat di sana, diputuskan untuk mendaki bukit yang lebih tinggi agar juga bisa foto-foto lagi.

Di sana aku mulai melihat keaslian adik-adikku yang unik itu. Ada yang memang suka narsis (mirip aku dikit), ada yang suka penjadi pendukung kenarsisan (alias tukang foto), ada yang tipikal figuran (kacian, ga jelas tu gajinya, lho kok). What ever, akhirnya aku bisa dapat gambar baru untuk dijadikan foto profil di FB, khususnya buat dipamerin ke adikku yang pada ga jadi berangkat tadi. Ha ha ha. Setelah puas dalam dunia kenarsisan dan keglidigan (maklum lah, khas anak gunung, yang ruwet-ruwet mah kita jelajahin meskipun batu karangnya tajam-tajam), aku berpisah dengan adik-adikku. Mereka ingin menikmati masa kecil mereka (ups, masa ABG ding) dengan mencari-cari sesuatu di bibir pantai. Okelah adik, silahkan dinikmati sepuasnya tour hari ini. Nanti ketemuan lagi pas ashar ya di masjid Sundak.

Mereka pun pergi, dan aku justru mencari tempat yang sepi di sekitar itu, dibibir pantai, di tepi jurang karang yang kokoh. Alhamdulillah dapat, cuma ga sengaja mergokin sepasang anak manusia yang aku curigai mereka bukan suami istri. Hatiku berkata, “hayo mas mbak, pada ngapain tuh”. Ha ha ha. Kayaknya mereka jadi sungkan lihat aku yang mbolang ke pantai pakai koko lengan pendek. Dengan sikap tak acuh, aku segera duduk dan mengeluarkan mushaf. Sejuknya angin pantai membuat sinaran mentari tak terasa menyengat badanku. Sejuk dan nikmat sekali.

Kuselesaikan targetan tilawah di situ, kemudian kulanjutkan dengan hafalan-hafalan yang sudah tersimpan. Hemm, setelah puas, ku layangkan pandangan ke laut lepas, bertafakkur. Kemudian banyak teringat berbagai hal yang membuatku menangis. Oh, sepertinya aku harus sering ke tempat seperti ini sendirian saja agar aku bisa menghidupkan hati ini yang semakin keras saja. Maka nikmat tuhan yang manakah yang akan engkau dustakan? Masya Allah, inilah karunia yang tidak Allah berikan kepada saudara-saudara kita di tengah padang pasir. Mengapakah kita masih belum bersyukur?

Di sepanjang garis pantai sekarang sudah diberi paying seperti pantai-pantai di Bali. Semuanya tampak ramai dan tak pernah sepi dari pengunjung saat lebaran seperti ini. Di belakang pantai, ternyata juga terdapat tambak yang cukup luas. Dan masyarakat pun sepertinya semakin pandai berbisnis dan memanjakan pengunjung. Inikah titik kebangkitan Gunungkidul dari garis pantai? Benar-benar telah berubah dari sekian tahun yang lalu saat aku berkunjung ke sini. Segala puji bagimu ya Rabb, semoga apa yang menjadi indah seperti ini bisa terjaga dan tidak menjadi sumber kemurkaan-Mu nanti. Keelokan pemandangan nan memesona ini tak lain adalah ujian dari-Mu untuk menguji rasa syukur kami. Semoga kami bisa menjadi hamba yang bersyukur.

Masih Ingat Pak?

Setelah puas berkelana menaiki puncak-puncak karang dan bertafakkur. Akhirnya aku kembali ke masjid sambil menunggu datangnya waktu ashar dan kembalinya adik-adik. Sambil geleng-geleng kepala aku berpikir betapa mengerikannya kehidupan anak muda zaman sekarang. Gardu-gardu pandang di bukit-bukit karang justru menjadi tempat mesum yang sangat mengasyikkan. Hemm, apa pun lah, mesum atau pacaran, intinya ketika dua orang lawan jenis tanpa disertai mahram kemudian berkhalwat (berduaan menyendiri) ya tetap saja itu maksiat. Naudzubillah mindzalik.

Sesampai di masjid, aku menulis beberapa paragraf kisah cintaku hari ini. Cinta yang luar biasa. Tiba-tiba dari belakang aku merasa ada sosok yang berjalan mendekatiku. Aku menoleh dan aku tersenyum agak kaget. Ada sosok yang sangat ku kenal berseragam polisi berpangkat provos. Aku sangat kenal dengan wajah beliau, salah satu jamaah di garda depan yang memakmurkan masjid Agung ketika aku masih di ma’had dahulu. Beliau adalah Pak Suwadi. Aku sapa beliau dengan halus dan bertanya, “masih ingat Pak dengan saya?”. Dengan mantap dan tegas beliau menjawab, masih. Alhamdulillah, ukhuwah yang udah hampir 4 tahun terpisah akhirnya terjalin kembali. Tidak ada yang berbeda antara beliau memakai koko atau pun berseragam polisi. Nahnu duat qobla kulli syai’ tetap beliau jalankan meskipun sedang bertugas.

Dengan suara beliau yang khas, berkumandanglah adzan ashar hingga berhentilah konser dangdut di panggung sebelah yang agak jauh. Aku pandang ke belakang, yah adik-adik belum kembali. Mau SMS tidak ada sinyal. Ah, ya udah, biar saja, aku yakin sebentar lagi juga akan datang. Usai shalat ashar, obrolan pun diteruskan. Masya Allah, beliau ternyata sudah menjalani puasa Syawal di hari kelimanya. Padahal sejak senin beliau bertugas di kawasan pantai Sundak sampai Sabtu. Luar biasa, jadi malu, padahal aku sehari pun belum menjalankan ibadah itu. Hemm, harus segera menyusul.

Kukup nan Exotis

Tak lama kemudian adik-adik sampai di masjid dan segera menunaikan shalat ashar. Dan akhirnya aku mohon diri kepada Pak Suwadi untuk meneruskan perjalanan ke Pantai Kukup. Meskipun sudah terporsir waktu di Sundak, karena kami adalah serombongan laki-laki yang jelas tidak hobi bawa bekal makanan tetapi juga pelit untuk jajan sehingga selama di Sundak ikut-ikutan puasa jajan, namun kami tetap semangat untuk menyaksikan senja di pantai Kukup.

Sesampainya di sana, luar biasa. Pertama kali yang kami datangi adalah para penjual ikan hias di pinggir jalan menuju pantai. Keren-keren ikannya sekarang. Ga rugi deh datang ke sini. Banyak spesies baru yang baru ku kenali, setelah sebelumnya belum pernah mengetahuinya waktu berkunjung ke sana. Sesampainya di sana, seperti biasa aku berpisah dengan adik-adik. Aku meneruskan kebiasaanku “penekan” bukit karang. Dan lagi-lagi pantai Kukup makin elok Eh, tak lama kemudian mereka ikut-ikutan menyusulku karena sebuah SMS ajakanku untuk kembali narsis. Tapi sesampai di atas kami urungkan sesaat sambil mengejek Hendri yang bener-bener kelaparan mengingat hampir sejak pagi tidak ada makanan yang masuk ke perutnya. Wajah dan hidungnya yang memerah menjadi makanan empuk sekelompok pebanyol amatiran. Sabar ya Ndri.

Makan Malam Spektakuler

Sesuai dengan kesepakatan. Untuk mendapatkan harga yang sesuai dengan pesanan kami akan makan setelah sampai di kota Wonosari. Perjalanan pulang pun segera dilakukan sebelum matahari masuk ke peraduannya. Kejar-kejaran dan melawan hawa dingin mengiringi sore hari kami. Hingga akhirnya kami sampai di pinggiran kota waktu shalat maghrib. Segera kami singgah dan menunaikan panggilan-Nya itu. Dan hemm, imamnya luar biasa cepet dah. Belum juga baca sampai separo, main gerak terus aja. Sabar.

Dan ternyata apes, warung padang favorit kami yang cocok untuk kantong remaja plus “kawula tedha” ternyata tidak buka. Ha ha, setelah berdebat cukup alot diputuskanlah makan di warung Sate Kambing Pak Turut. Nekat ke situ karena memang terkenal enaknya, meskipun sebenarnya ketar-ketir juga dengan harganya. Bismillah, makan dah. Tahukah berapa harganya? Karena sewaktu makan daya lahap kami seperti hewan kelaparan sehingga harus menambah nasi 2 kali, jadinya budgetnya membengkak. Makan malam yang paling mewah bagi kami selama jalan-jalan, 25rb per orang. Mungkin bagi yang baru pada pulang dari Jakarta itu kecil, tapi orang-orang desa seperti kami yang buat beli pulsa aja memilih pecahan 5ribuan tentu itu menjadi shock therapy tersendiri. Tak apalah, kapan lagi bisa begini, mumpung masih lebaran.

Demikianlah cerita perjalananku yang tak terlupakan di hari ini bersama adik-adik yang dinantikan menjadi pemuda-pemuda yang shalih. Semoga kelak bisa mengubah masyarakatnya ke depan menjadi masyarakat yang lebih baik, taat pada syariat Islam dan berdedikasi untuk Indonesia.

Kategori
Alam Sekitar

Exotisme Gunungan Selatan : Memantapkan Mimpi di Masa Depan

Adalah kebiasaanku saat ini, yaitu menebarkan virus “blusukan” kepada adik-adikku yang masih imut-imut hingga yang amit-amit. Untuk apa, agar mereka tetap ingat bahwa kita adalah orang desa. Hidup di atas tanah yang menjadi saksi sejarah pergolakan-pergolakan di masa lalu. Agar mereka tidak bermudah-mudah meninggalkan daerah itu untuk sebuah alasan yang sederhana. Harus cinta, cinta kepada tanah harapan.

Bukit Kenangan

Pertama adalah kunjunganku ke gunungan bagian timur di pekan pertama Ramadhan. Sebagai awalan ramadhan, sekaligus menuruti keinginan adikq yang katanya merasa didiskriminasi gara-gara ga ikut momen jalan-jalan (yah situ juga jalan-jalan kok masih ngambek minta diajak jalan-jalan). Aha, tak masalah. Intinya aku bisa kembali ke bukit kenangan itu.

Itulah bukit kecil dengan formasi batu hitam yang banyak ditumbuhi akasia, mangga dan jambu mede (jawa : jambu mente). Ketika aku menjejakkan kaki di sana, teringat aku sekian tahun silam bagaimana pernah berkejar-kejaran dengan orang-orang yang mengaku pemilik manga gara-gara kami memakan mangga-mangga di sana secara innocent. “Pelem Keong” itulah mangga khas yang lembah kenangan yang begitu diminati pencuri musiman macam kami waktu itu (ga tahu deh sekarang).

Di atas sana aku dapat memandang berbagai pemandangan yang indah. Satu kata yang terucap, “Gunungkidulq masih hijau”. Hanya orang-orang yang telah keblinger jika mereka ditanya asalnya masih berbelit-belit atau malah berbohong. Apa susahnya mengatakan orang Gunungkidul, orang desa. Inilah desaku yang permai, daerah yang juga sangat indah. Sayangnya, mengapa kita lupa dengan semua ini. Aku pun berdiskusi puas dengan adik-adikku yang udah “gaduk kuping” sambil menunggu mereka yang kecil-kecil berkeliaran sepuasnya. Kami pun berfoto bareng dan meninggalkan tempat itu dengan sejuta impian. Dan yang paling mengesankan adalah saat aku mengupload foto-foto itu di FB, ternyata luar biasa. Sahabat-sahabatq yang sekarang menjadi urban worker di ibukota negara begitu antusias dan meluapkan emosinya dalam komentar-komentar yang membangkitkan memori di masa lalu. Indahnya, tempat itu masih teringat kuat pada mereka.

Laskar Mentari

Sekedar penyela yang sekaligus bukan plagiasi atas Laskar Pelangi. Kunjungan kedua ini kami menyusuri gunungan yang sebelah barat. Ternyata tempat ini jauh lebih exotis daripada yang timur. Susunan bebatuan di kawasan ini jauh lebih bagus dan khas. Lebih-lebih kami datang saat matahari baru akan terbit sehingga kami dapat menyaksikan prosesi terbitnya matahari di balik gunung Lawu. Indahnya, inilah apa yang terserlah di dalam al-Quran. Inilah kekaguman yang akan menguatkan keimanan kita kepada sang Pencipta, Allah azza wa jalla.

Dengan personil yang lebih banyak dan bersenjata lengkap (secara hampir setiap anak-anak SMP ke bawah pasti membawa minimal satu pak petasan korek = long rek di saku mereka) kami menyusuri semak belukar di pinggir dusun sebelah barat. Biarlah, asal nanti tidak mengganggu orang-orang. Dari pada diledakkan di pemukiman, jelas akan menggangu orang-orang yang sedang beristirahat pagi atau mengaji. Itulah sebuah pembelajaran awal bagaimana mengarahkan dan memperkenalkan dunia baru pada anak-anak. Merekalah lascar mentari yang kelak akan menjadi penerus perjuangan kami di tanah kelahiran ini.

Hal yang paling berkesan adalah bagaimana aku bisa menatap lebih luas tentang hijaunya hutan di kawasan utara gunungkidul, di bawah kaki barisan gunung gambar yang sekarang rawan pencurian. Oh, itu asset daerah yang harus dilindungi. Kemudian kulayangkan di sebelah barat, di sana ada hutan kayu putih yang pabriknya dulu pernah kukunjungi. Hemm, terkadang terbersit sebuah mimpi besar untuk memajukan daerah. Lagi-lagi pertanyaannya? Lha dirimu sekarang sudah ngapain? Hayo jawab dulu lah, nanti juga akhirnya akan ke sana.

Akhirnya, kisah ini akan menjadi babak baru sejarah bagaimana aku harus berhitung mulai dari sekarang untuk satu tahun ke depan. Aku harus lulus, tapi apakah aku akan menjadi orang kantoran yang disuruh-suruh gitu. Kok sepertinya aku harus menciptakan pilihan itu sejak sekarang. Bukankah Allah telah membentangkan langit ini untuk kita bisa melihat berbagai bintang di sana. Yah, bukankah hidup itu sebuah pilihan. Hakikatnya tidak ada seorang pun yang berhak mengatur diri ini, yang ada adalah bahwa aku harus sadar untuk mengatur diri agar bisa selaras dengan alam dan menjaga hubungan terbaik dengan makhluk-Nya. Mungkin suatu saat pertempuran itu akan terjadi, yakni pertempuran dalam diri antara sebuah idealisme dengan tekanan pragmatism. Siapa yang akan menang? Tak tahulah, tapi aku akan berusaha agar idealisme ini yang selalu menang.

Jika tinggal di sana adalah suatu kebaikan. Kuharap Allah kelak berkenan memberikan pendamping yang sanggup bertahan di tanah yang syarat dengan batuan itu. Bukan untuk bermewah, tapi untuk hidup terhormat di mata alam. Semoga!

Kategori
Alam Sekitar

Punthuk Tapan : Antara Klenik, Tempat Pacaran, Hingga Zona Penempaan Cinta

Tidak ada yang lebih menenteramkan kecuali ketika melihat kembali tanah kelahiran bercahaya. Jika saat fathul Makkah pun para sahabat Muhajirin bersyukur dan bertakbir dapat kembali ke Makkah, tanah kelahiran mereka, apakah kita tak rindu untuk membawa cahaya bagi tanah kelahiran kita? -Ardika-

Ada yang kenal dengan istilah “punthuk”? Ha ha ha. Orang jawa saja belum tentu sekarang tahu. (secara wong Jawa wis lekas ilang Jawane). Punthuk adalah sebutan untuk daerah yang relative lebih tinggi dari yang lain dalam bentuk gundukan bukit kecil. Maka tulisan ini dimulai dengan judul Punthuk Tapan, artinya sebuah gundukan bukit kecil yang terletak di daerah Tapansari, Desa Watusigar, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunungkidul.

Katanya Angker

Aku jadi teringat waktu masih SD dulu. Kebetulan waktu itu aku sangat penakut, tetapi sangat suka dengerin cerita horror. Ga jelas tenan kan. Tetapi itulah adanya. Maka ketika membahas Punthuk Tapan, asosiasi yang ada di masa lalu adalah daerah di kawasan tengah alas (belantara) yang banyak jin dan hantunya. Tidak salah sih, karena memang itu banyak dikunjungi orang yang mau tirakat dan mencari wangsit. Klenik dan menyesatkan.

Konon katanya di sana ada gambar-gambar wayang yang tidak diketahui siapa pembuatnya. (Yang pasti orang, masak hewan) Aku ga melihat itu, tetapi kondisi ini membuat daerah itu relatif terjaga dengan baik sehingga sebenarnya itu adalah tempat yang tepat untuk kontemplasi dan muhasabah. Tapi bukan untuk mencari-cari sesuatu yang dekat dengan kesyirikan.

Tempat Pacaran

Kenapa aku cerita tentang tempat ini. Ceritanya tanggal 8 kemarin aku mengajak skuad TPA-q dan 2 sahabat kecilku (sebutan untuk trio GJ keilmiahan), E(r)ny dan Krisna, juga mbak Indah, inspiratorku dalam pengabdian masyarakat, serta adik masa depanku di SIM, Rais. Nah, atas saran salah satu adikku akhirnya kami mengunjungi Punthuk Tapan. Agak jauh memang tapi menyenangkan kok. Dan akhirnya aku bisa melihat fenomena yang lain di sana.

Ketika sudah sampai puncak, temen2 yang akhwat pada beristirahat menikmati suasana desa yang cukup asri meski menjelang kemarau. Sedangkan aku dan beberapa teman laki-laki ingin membuktikan batu-batu yang bergambar wayang-wayang tadi. Eh, ternyata lempeng batu-batu yang banyak itu, justru lebih banyak berisi tulisan-tulisan aneh bin ga jelas. Masak disana tertulis “si putra love si putri”, kira-kira begitu lah. Dan jumlahnya banyak sekali. Hipotesisku, tempat ini berarti sekarang justru marak juga sebagai tempat pacaran, bahkan mungkin yang lebih dahsyat dari itu. Naudzubillah min dzalik.

Zona Penempaan Cinta

Lain halnya dengan pacaran tadi. Aku ingin mengatakan bahwa aku sekarang akan sering mengajak adik-adik TPA yang masih kecil ke tempat-tempat spesial seperti ini yang ada di daerahku sendiri. Mengapa? Aku ingin mengajak mereka menemukan cintanya untuk tanah kelahiran. Tingginya angka urbanisasi di daerahku cukup membuatku merasa ngeri dan begitu gelisah. Bagaimana tidak, pemuda2 usia produktif harusnya masih bisa berkembang harus stagnan karena tekanan budaya dan ekonomi sehingga mereka harus berjuang ke kota untuk mencari uang dan “membalas budi” atau lebih tepatnya membayar ganti rugi atas biaya hidup yang telah diberikan orang tuanya sebelum itu.

Mengapa aku katakan ganti rugi, karena tidak sedikit orang tua yang berkata, “Le, sinau lan gek ndang lulus, trus nyang kutho, kirimono Bapakmu saben sasi, ben iso dolan” (Nak, belajar dan segera lulus ya, segera ke kota, dan kirimi Bapak uang setiap bulan, biar bisa jalan-jalan). Tidak salah memang dan memang seharusnya demikian, tetapi jika budaya ini bersifat transaksional, maka sesungguhnya ada kebijakan kolektif yang melarang generasi muda untuk maju dan menciptakan perubahan. Maka aku hanya berusaha dengan langkah kecil ini. Menawarkan cinta, selanjutnya terserah mereka mewujudkannya. Dan selain WaGe (Watu Gendong), tempat ini pun bisa menjadi tempat penempaan cinta, cinta yang baik dan untuk kebaikan.

Sepertinya aku akan mengajak adik-adik yang besar untuk Camping di sana suatu saat. Semoga benar-benar terwujud.

Kategori
Alam Sekitar

Potensi Ombak di Gunungkidul : Sumber Energi Masa Depan yang Menjanjikan

Gunungkidul, jika kata tersebut disampaikan sekilas pikiran kita tertuju pada sebuah kawasan kapur nan tandus yang kering kerontang. Memang persepsi itu tidak sepenuhnya salah. Namun sangat tidak adil jika ketika nama Gunungkidul disebut yang terbersit hanyalah gambaran seperti itu. Padahal di sepanjang pantai selatan daerah karst ini, terhampar puluhan pantai yang sangat indah dengan deburan ombak besar khas Samudera Hindia. Dari timur ke barat, terhampar pasir putih nan lembut dalam deretan pantai-pantai kecil mulai dari Sadeng, Wedi Ombo, Siung, bahkan sampai Ngrenehan dan Ngobaran di ujung barat sebelum akhirnya terhenti di daerah patahan yang memisahkan antara kabupaten Gunungkidul dengan kabupaten Bantul. Itulah sisi lain yang memesona dari kabupaten di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang dikategorikan sebagai daerah tertinggal.

Namun demikian, penulis tidak akan memaparkan lebih jauh lagi tentang masalah pantai di gunungkidul dalam paper ini. Ada hal yang mengagumkan saat kita mengamati karang-karang yang ada di sepanjang pantai Gunungkidul. Cekungan-cekungan yang terbentuk pada batu karang gunungkidul yang cukup keras menunjukkan bahwa kekuatan ombak pantai selatan sangat besar. Hal ini wajar, karena memang berasal dari Samudera Hindia.

Di sisi lain, pasokan listrik di kabupaten yang berpenduduk 685.210 ini masih belum menjangkau seluruh wilayah secara optimal. Bahkan daerah-daerah pelosok selatan dan timur masih menggunakan energi listrik dari tenaga matahari yang jumlahnya terbatas melalui bantuan yang diberikan oleh Universitas Gadjah Mada. Masalah makin bertambah, karena energy listrik yang diperlukan itu tidak hanya untuk dipakai dalam penerangan, tetapi juga untuk menggerakkan pompa dalam mengangkut air tanah. Maklum, gunungkidul dikenal sebagai daerah yang sulit air. Bukan karena tidak ada air, tetapi kondisi batuan dan kedalaman air yang agak sulit di jangkau membuat warganya harus memberikan pengorbanan yang besar untuk mendapatkan suplai air bersih yang cukup. Maka dari itu diperlukan sebuah solusi untuk meningkatkan pasokan listrik yang memadai di kabupaten seluas 1.485,36 km2.

Berdasarkan beberapa paparan masalah dan potensi yang ada, maka penulis ingin membedah potensi ombak yang ada di kawasan pantai Gunungkidul agar kita mengetahui lebih jauh bagaimana potensi itu dapat dikembangkan dan langkah-langkah nyata apa yang dapat kita sumbangkan untuk meningkatkan pasokan energy listrik sehingga dapat mencukupi dan menjangkau seluruh kawasan kabupaten tersebut.

Berdasarkan data dari kementerian ESDM RI, daerah samudera Hindia sepanjang pantai selatan Jawa sampai Nusa Tenggara adalah lokasi yang memiliki potensi energi gelombang cukup besar berkisar antara 10-20 kW per meter gelombang, bahkan beberapa penelitian menyimpulkan bahwa energi gelombang di beberapa penelitian menyimpulkan bahwa energi gelombang di beberapa titik di Indonesia bisa mencapai 70 kW per meter di beberapa lokasi.

Karakteristik energi gelombang sangat sesuai untuk memenuhi kebutuhan energi kota-kota pelabuhan dan pulau-pulau terpencil di Indonesia. Sayangnya, pengembangan teknologi pemanfaatan energi gelombang di Indonesia saat ini masih belum optimal namun cukup menjanjikan. Pantai barat pulau Sumatera bagian selatan dan pantai selatan pulau Jawa bagian barat berpotensi memiliki energi gelombang laut sekitar 40 kW per meter. Meskipun penelitian untuk mendapatkan teknologi yang optimal dalam mengkonversi energi gelombang laut masih terus dilakukan, saat ini ada beberapa alternatif teknologi yang dapat dipilih. Alternatif teknologi yang diprediksikan tepat dikembangkan di pesisir pantai selatan pulau Jawa adalah Teknologi Tapered Channel (Tapchan).

Kegiatan pengembangan dan penelitian teknologi pemanfaatan energi gelombang masih terus dilakukan oleh kalangan peneliti dan akademisi. Beberapa penelitian untuk meningkatkan daya pada sistem konversi energi gelombang laut jenis cavity resonator dengan memodifikasikan bentuk tabung silinderya. Hasil penelitian menunjukan bahwa apabila periode gelombang diperbesar, maka tekanan udara yang terjadi orifice (lubang kecil diatas tabung) menjadi cukup signifikan yaitu rata-rata sekitar 40 persen lebih besar dari sebelumnya. Selanjutnya jika tinggi gelombang diperbesar maka tekanan yang terjadi menjadi besar signifikan yaitu rata-rata sekitar 200 persen. Bagaimanapun juga pengembangan teknologipembangkitan listrik dari energi gelombang masih tertinggal 10 sampai 20 tahun di belakang pengembangan teknologi pembangkitan energi terbarukan lainnya seperti mikro hidro maupun surya.

Peningkatan efisiensi dan kapasitas pembangkitan harus terus dilakukan, sampai saat ini pemanfaatan energi gelombang yang sudah diaplikasikan di Indonesia baik oleh lembaga litbang (BPPT, PLN) maupun institusi pendidikannya lainya, baru pada tahap penelitian dengan kapasitas beberapa kW. Energi pasang surut di wilayah Indonesia terdapat pada banyak pulau. Cukup banyak selat sempit yang membatasinya maupun teluk yang dimiliki masing-masing pulau. Hal ini memungkinkan untuk memanfaatkan energi pasang surut. Saat laut pasang dan surut aliran airnya dapat menggerakan turbin untuk membangkitkan listrik.

Sampai saat ini belum ada penelitian untuk pemanfaatan energi pasang surut yang memberikan hasil yang cukup signifikan di Indonesia. Negara-negara yang telah melakukan penelitian terhadap pemanfaatan energi pasang surut diantaranya Perancis, Rusia, Amerika Serikat, Kanada sejak tahun 1920. Tidak jauh berbeda dengan energi pasang surut, energi panas laut di Indonesia juga baru mencapai tahap penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti. Berdasarkan pola arus di perairan Indonesia pada kondisi pasang purnama, saat pasang tertinggi dan pada kondisi pasang perbani, saat surut terendah, diketahui bahwa secara umum kecepatan arus yang ada tidak terlalu besar, kecuali pada daerah Selat Bali, Selat Lombok dan Selat Makassar.

Saat ini pemanfaatan arus laut untuk pembangkitan tenaga listrik sudah sampai pada tahap impelemntasi (pilot project) oleh Tim T-files dari ITB dan Dr. Erwandi dari Laboratorium Hidrodinamika Indonesia, BPPT dan BRKP Kementerian Kelautan dan Perikanan. Tim T-Files ITB telah merancang turbin hidrokintetik jenis gorlov helical dan saat ini telah berhasil diujicobakan di Nusa Penida, Bali pada akhir Juli 2009 dengan kapasitas 5 kW (bekerjasama dengan Balitbang KESDM). Sementara BPPT dan BRKP-KKP bekerjasama dengan PT.Kobold Nusa (perusahaan patungan antara Ponte di Archimede (PdA), Italia dan PT. Walinusa Energi, akan membangun turbin arus laut dengan kapasitas 20 kW di Selat Lombok dan diharapkan proyek ini akan selesai pada pertengahan tahun 2011.

BPDP – BPPT pada tahun 2004 telah berhasil membangun prototype OWC pertama di Indonesia. Prototype itu dibangun di pantai Parang Racuk, Baron, Gunung Kidul. Prototype OWC yang dibangun adalah OWC dengan dinding tegak. Luas bersih chamber 3m x 3m. Tinggi sampai pangkal dinding miring 4 meter, tinggi dinding miring 2 meter sampai ke ducting, tinggi ducting 2 meter. Prototype OWC 2004 ini setelah di uji coba operasional memiliki efisiensi 11%. Pada tahun 2006 ini pihak BPDP – BPPT kembali membangun OWC dengan sistem Limpet dipantai Parang Racuk, Baron, Gunung Kidul . OWC Limpet dibangun berdampingan dengan OWC 2004 tetapi dengan model yang berbeda. Dengan harapan besar energi gelombang yang bisa dimanfaatkan dan efisiensi dari OWC Limpet ini akan lebih besar dari pada OWC sebelumnya.

Dari uraian yang cukup panjang di atas diketahui bahwa potensi ombak pantai selatan, khususnya di kawasan pantai kabupaten Gunungkidul sangat besar. Ini adalah sumber energi masa depan yang sangat besar. Untuk sebuah kabupaten yang masih kekurangan pasokan listrik primer akan sangat sulit untuk mengembangkan sektor industrinya jika tidak didukung oleh penambahan pasokan listrik dalam skala besar.  Padahal hasil bumi Gunungkidul yang berupa gaplek dan tanaman palawija cukup berkualitas. Seharusnya hal itu dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat jika semuanya dapat diolah dan dijadikan produksi olahan di Gunungkidul sendiri sebelum dikirim ke daerah luar.

Maka dari itu, penulis menguraikan sebuah mimpi dan gagasan untuk dapat mewujudkan mimpi tersebut di masa depan. Mimpi yang diharapkan dapat terwujud adalah terpenuhinya pasokan listrik di seluruh wilayah kabupaten Gunungkidul dengan memanfaatkan energi gelombang laut. Apa yang dapat dilakukan? Pertama, membangun visi bersama untuk mewujudkan Gunungkidul yang kaya sumber energi. Hal ini dapat dilakukan melalui kampanye ke berbagai elemen masyarakat untuk membuka paradigma mereka agar mau mengerti pentingnya pendidikan yang visioner bagi generasi mereka. Pendidikan yang tidak pragmatis adalah harga mati bagi putra-putri Gunungkidul, yaitu pendidikan yang bervisi pengembangan masyarakat agar ke depan tumbuh kesadaran selaku putra-putra daerah untuk kembali membangun daerahnya. Di mana pun boleh sukses, yang penting setelah itu kembali untuk membangun daerahnya

Hal yang selanjutnya adalah mendorong kesadaran para pelajar Gunungkidul melalui seminar-seminar yang membuka wawasan tentang potensi alam Gunungkidul yang banyak. Diharapkan ada putra-putri Gunungkidul yang menekuni lebih jauh bidang-bidang yang diperlukan untuk pemanfaatan energi gelombang laut melalui jenjang perkuliahan hingga akhirnya lahir ilmuwan-ilmuwan yang memiliki perhatian untuk mengembangkan daerahnya. Mengapa hal ini penting untuk dilakukan? Karena saat ini sebenarnya sudah cukup banyak orang Gunungkidul yang telah menempati posisi strategis di pemerintahan namun kontribusi langsung kepada masyarakat Gunungkidul belum dirakasakan secara maksimal. Di sisi lain, tingkat urbanisasi masyarakat akibat keinginan untuk mendapatkan penghasilan layak di kota sangat tinggi. Para pelaku urbanisasi ini adalah generasi muda yang lulus SMA/ SMK namun tidak berminat melanjutkan kuliah. Maka sekali lagi, membuka wawasan generasi muda Gunungkidul secara terencana dan berkelanjutan adalah jalan yang harus diusahakan dengan cara apa pun.

Gagasan ini tidak untuk diwujudkan dalam waktu yang singkat. Tapi pasti ada hal yang dapat kita lakukan sejak sekarang. Yaitu dengan berbagi gagasan dan terus menyebarkan ide-ide perubahan melalui berbagai aktivitas nyata, mulai dari membentuk komunitas-komunitas pemuda. Dimulai dari teman-teman terdekat, maka kita wujudkan impian itu satu demi satu. Kemudian didukung dengan pembentukan jaringan komunikasi yang baik antara pemuda dan pemerintah maka akan terwujud sebuah tatanan kehidupan masyarakat baru yang peduli pada perbaikan generasi untuk mewujudkan Gunungkidul yang berkecukupan energi.

Referensi:

http://www.pariwisata.gunungkidulkab.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=47&Itemid=34

http://www.gunungkidulkab.go.id/home.php?mode=content&id=78

http://www.ebtke.esdm.go.id/energi/energi-terbarukan/arus-laut/498-pengembangan-potensi-energi-gelombang-di-indonesia-belum-optimal.html

(repost from http://baktinusadduns.wordpress.com/2012/04/01/potensi-ombak-di-gunungkidul-sumber-energi-masa-depan-yang-menjanjikan/)

Kategori
Alam Sekitar

Hemat Air, Bahkan dalam Berwudhu

Fenomena kelangkaan air di Gunungkidul sejak beberapa tahun silam sudah bukan rahasia lagi. Setiap musim kemarau, kekeringan selalu melanda kawasan karst yang ada di sebelah timur kota Yogyakarta ini. Meskipun beberapa bulan lalu sumur Bribin II telah diresmikan sebagai sumber pemenuhan kebutuhan air masyarakat Gunungkidul di kawasan timur dan selatan, ancaman kekeringan masih tetap membayangi pikiran setiap warga di sana.

Kenyataan tersebut merupakan konsekuensi yang harus dirasakan oleh masyarakat kawasan karst. Tanah di kawasan karst tidak memiliki kemampuan menahan air hujan yang meresap sehingga cadangan air permukaan kawasan ini tidak mencukupi kebutuhan masyarakat yang tinggal di atasnya.

Sebenarnya ada satu solusi utama yang seandainya terealisasi dengan baik fenomena kelangkaan air ini tidak akan terjadi lagi, yaitu pengangkatan air dari lapisan bawah. Di Gunungkidul, air permukaan bawah atau lebih sering dikenal sebagai sungai bawah tanah sangat banyak jumlahnya. Debit air yang mengalir  juga relatif besar. Hanya saja, karena terlalu dalam maka timbul masalah  baru terkait teknologi yang akan digunakan dalam usaha pengangkatan air sampai permukaan bumi. Permasalahan tersebut adalah rendahnya tingkat pengetahuan dan penguasaan masyarakat terhadap Iptek khususnya bidang hidrologi dan mekanik. Disamping rendahnya Iptek yang dikuasai oleh masyarakat, biaya yang diperlukan pun sangat mahal jika harus mendatangkan alat dari luar negeri.

Maka dari itu, sambil terus mengusahakan berbagai kerja sama dan kemitraan dengan negara-negara yang memiliki teknologi tersebut, perlu adanya usaha sadar dari masyarakat untuk meminimalisir terulangnya kelangkaan air pada musim kemarau. Usaha yang dilakukan dapat berupa usaha intensifikasi dan usaha ekstensifikasi. Usaha intensifikasi dapat dilakukan dengan penghematan  penggunaan air. Penghematan dapat dilakukan dengan cara peningkatan efisiensi dan efektivitas penggunaan air. Sedangkan usaha ekstensifikasi dapat dilakukan dengan cara meningkatkan jumlah cadangan penyimpanan air pada musim penghujan untuk digunakan pada musim kemarau.

Beberapa usaha nyata yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas penggunaan air dapat dilakukan mulai dari lingkup rumah tangga sampai masyarakat. Pada lingkup rumah tangga, penghematan air dapat dilakukan pada kebutuhan dapur, MCK, dan aktivitas lain termasuk ibadah. Ibu yang cerdas akan mencuci perangkat dapur secara berkala dan dalam jumlah yang banyak sekaligus agar air yang digunakan lebih efisien. Untuk keperluan mandi, air yang digunakan secukupnya saja, misalnya dengan menggunakan ember sebagai takaran air setiap kali mandi. Sehingga meskipun air di bak mandi penuh, kita tetap disiplin dengan menggunakan air sehemat-hematnya. Bahkan dalam berwudhu pun bagi masyarakat muslim sebaiknya tetap berhemat dengan cara menggunakan ember kecil yang diberi lubang kecil sehingga jumlah air yang digunakan lebih efisien seperti yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Kebiasaan berwudhu dengan menggunakan kran tidak bagus untuk masyarakat Gunungkidul.

Pada tingkat masyarakat, usaha intensifikasi untuk penghematan air dapat dilakukan di berbagai aspek, misalnya pada bidang pertanian. Sistem penyiraman yang tepat sasaran pada waktu bertani tembakau di musim kemarau sangat penting agar sumber cadangan air dapat mencukupi hingga sampai datangnya musim penghujan berikutnya. Selain itu, masih banyak aktivitas lain yang dapat dilakukan dalam rangka penghematan air.

Sedangkan kegiatan ekstensifikasi untuk mengatasi kelangkaan air dapat dilakukan dengan meningkatkan jumlah tangkapan air pada musim penghujan untuk ditampung dan digunakan pada musim kemarau. Usaha nyata yang dapat dilakukan adalah dengan membuat bak-bak penampungan pada setiap rumah dan penampungan umum di masyarakat. Pengisian bak-bak penampungan dapat dilakukan dengan mengarahkan aliran air hujan dari atap rumah menggunakan talang. Air yang mengalir dari talang diberikan penyaring kasar sebelum masuk ke dalam bak. Air ditampung ke dalam bak yang telah diberi zeolit alam untuk menetralkan keasamannya. Di Gunungkidul, zeolit bukanlah barang yang sulit untuk ditemukan, bahkan kualitas zeolit alami dari Gunungkidul tergolong sangat baik.

Untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat agar dapat mengantisipasi kelangkaan air pada musim kemarau perlu adanya upaya berkesinambungan dari berbagai pihak mulai dari pemerintah, tokoh masyarakat, LSM dan organisasi pemuda. Kegiatan penyuluhan dan sosialisasi dari pemerintah, pendampingan oleh LSM dan organisasi pemuda, serta pemantauan oleh publik dan para tokoh masyarakat sangat penting guna menyukseskan upaya penghematan air dan peningkatan efektivitas dan efisiensi penggunaan air di kabupaten Gunungkidul dan daerah-daerah lain yang permasalahan serupa.

(Artikel ini mendapatkan 5 besar terbaik Artikel MAPIPTEK)