Gempa bumi merupakan salah satu bentuk bencana alam yangsulit diprediksi. Kehadirannya sangat tiba-tiba dan terkadang menimbulkan dampak yang sangat mengerikan. Namun demikian, kawasan rawan gempa bumi dapat diprediksi dan dibuat perkiraan waktu-waktu terjadinya secara umum. Teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini memungkinkan manusia untuk mengeksplorasi dan mengetahui lebih jauh perilaku lempeng bumi atau aktivitas bumi lainnya yang berpotensi menimbulkan gempa bumi.

Salah satu kawasan yang berpotensi gempa adalah zona perbatasan antar lempeng di permukaan bumi, misalnya perbatasan antara lempeng Asia dan Australia yang terbentang sepanjang pesisir pantai barat Sumatra; pantai selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Gempa karena hal ini sering dikatakan sebagai gempa tektonik yang biasanya kekuatannya relatif jauh lebih besar dibandingkan dengan gempa yang lain. Misalnya pada gempa Aceh pada tahun 2003, atau gempa Yogyakarta tahun 2006, banyak sekali korban jiwa yang berjatuhan dan terjadi kerusakan yang sangat parah.

Kawasan lainnya adalah di daerah sekitar gunung berapi yang masih aktif., yaitu kawasan yang berada di jalur lava gunung berapi. Di Indonesia jalur lava ini melewati pulau Sumatra, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Gunung berapi yang masih aktif, misalnya Merapi akan sangat berpotensi menimbulkan gempa di kawasan sekelilingnya pada saat mengalami erupsi seperti yang baru saja terjadi pada bulan November-Desember 2010. Kawasan DIY bagian selatan dan Jawa Tengah yang melingkupi Gunung Merapi mengalami bencana gempa setiap saat ketika gunung ini tengah mengalami erupsi disamping semburan awan panas dan abu vulkanik yang begitu melimpah.

Berdasarkan dari uraian di atas, ada masalah yang patut untuk diperhatikan  yaitu perilaku masyarakat saat terjadi gempa. Banyak sekali sumber informasi yang menceritakan bahwa banyaknya korban jiwa saat gempa adalah karena kesalahan sikap dan tindakan yang dilakukan oleh masyarakat yang mengalami gempa tersebut. Misalnya ketika terjadi gempa yang dahsyat, masyarakat justru tidak segera berlindung disudut-sudut bangunan tembok atau dibawah papan besi yang kuat. Mereka justru berlindung di bawah meja-meja yang rapuh atau di daerah yang dekat tembok yang rawan runtuh. Akibatnya mereka tidak dapat berbuat apa-apa ketika benda-benda berat atau tembok yang kuat runtuh menimpa mereka. Jika sudah demikian, daftar korban akan terus berjatuhan.

Maka dari itu, perlu sebuah program pembelajaran bagi masyarakat secara berkelanjutan dan teratur. Pembelajaran ini tidak sekedar pembelajaran yang hanya dilakukan setelah melihat dampak gempa yang besar, tetapi menitikberatkan pada aspek keberlanjutan dan keterulangan secara teratur. Selama ini pemerintah hanya mencanangkan program sosialisasi kepada masyarakat untuk mengantisipasi terjadinya gempa dalam bentuk roadshow yang biasanya hanya dilakukan sekali pasca gempa. Namun demikian ada hal positif yang sudah dibangun pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yaitu dibentuknya Taruna Siaga Bencana (Tagana). Hanya saja, sejauh ini peran Tagana lebih menitikberatkan pada evakuasi dan penanganan masyarakat tepat saat bencana terjadi.

Bermula dari sedikit celah permasalahan ini, maka perlu kiranya dilakukan semacam pembelajaran kepada masyarakat tentang antisipasi dan tindakan yang harus dilakukan saat gempa terjadi secara berkelanjutan dan teratur melalui program terpadu. Penulis mengusulkan adanya suatu kerja sama antara BNPB dan Perguruan tinggi dalam menelurkan program ini, yaitu Course of Earthquake Rescue Strategy (CEReS).

CEReS merupakan bentuk kolaborasi antara BNPB dengan Perguruan tinggi yang menyelenggarakan program Kuliah Kerja Nyata bagi mahasiswa. Program ini mengambil prinsip dari peribahasa setali tiga uang atau sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui, yaitu mahasiswa yang menjalani KKN di daerah-daerah yang berpotensi gempa, khususnya gempa tektonik mendapat satu tugas tambahan untuk melakukan CEReS kepada masyarakat mitra mereka dalam lingkup yang lebih luas. Dengan demikian proses pembelajaran kepada masyarakat tentang tindakan yang tepat saat gempa terjadi dapat terus dilakukan secara berkelanjutan dan teratur seiring dengan teraturnya  kegiatan KKN yang diselenggarakan oleh Perguruan Tinggi Tersebut.

Perguruan tinggi memetakan wilayah yang akan menjadi daerah yang akan diberdayakan melalui kegiatan KKN PPM untuk proyeksi bebarapa tahun sesuai dengan kebutuhan dan hasil penelitian yang dilakukan. BNPB membuat jaring komunikasi dengan perguruan-perguruan tinggi tersebut dan menawarkan proposal untuk pembelajaran kepada masyarakat tentang kebencanaan, khususnya gempa bumi. Kemudian ketika pembekalan KKN, Perguruan tinggi memberikan kesempatan kepada BNPB untuk memberikan pembekalan tambahan kepada mahasiswa yang wilayah KKN-nya merupakan daerah yang berpotensi rawan terjadi gempa bumi sekaligus menugaskan mereka untuk melakukan pembelajaran kebencanaan yang berkaitan dengan tindakan yang tepat saat gempa bumi terjadi.

Ketika KKM PPM dilaksanakan, mahasiswa melakukan sosialisasi pada lingkup wilayah yang lebih luas (misalnya pada tingkat kecamatan) sesuai dengan karakteristik wilayah yang ada di daerah itu. Proses sosialisasi dapat dilakukan melalui simulasi secara intensif kepada para pemuda dari perwakilan desa. Selain itu sosialisasi dapat dikembangkan dengan menitipkan brosur dan stiker yang berisi tips-tips sederhana dalam mengambil tindakan yang tepat saat gempa terjadi kepada para peserta training agar diperluas kepada masyarakat. Amunisi dan pendanaan khusus kegiatan ini diperoleh dari BNPB. Proses ini akan berlangsung secara periodik, yaitu setiap mahasiswa melakukan KKN PPM di daerah tersebut, baik pada desa yang sama atau desa yang berbeda di lingkup kecamatan tersebut.

CEReS ini cukup efektif karena langsung kepada masyarakat dan secara berkelanjutan. Efektivitas program ini dapat dilihat dari lebih banyaknya masyarakat yang akan mendapat sosialisasi karena banyaknya jumlah mahasiswa yang melakukan KKN di daerah-daerah yang masih menjadi kawasan berpotensi gempa. Program ini akan bermanfaat bagi masyarakat secara lebih luas dibandingkan hanya jika dilakukan oleh jajaran BNPB bersama para sukarelawan yang berada di bawah naungannya. Dengan demikian BNPB dapat bekerja lebih intensif untuk daerah-daerah ekstrim yang paling berpotensi terjadi bencana alam, baik gempa maupun yang lainnya.

Keuntungan dari pelaksanaan program ini antara lain: pertama, adanya optimalisasi peran mahasiswa dalam pengabdian masyarakat sesuai dengan tri dharma perguruan tinggi. Hal ini akan mendorong mahasiswa lebih dekat dengan masyarakat. Kedua, BNPB akan mendapat akses yang lebih luas terhadap masyarakat yang menjadi mitra KKN PPM mahasiswa di perguruan tinggi. Jaringan yang dibangun oleh mahasiswa akan lebih efektif karena jika suatu saat gempa terjadi, jalur koordinasi penyaluran sukarelawan dan bantuan akan lebih cepat karena di samping dari BNPB sendiri, mahasiswa yang pernah melakukan KKN akan punya akses yang lebih tepat sasaran untuk memberikan bantuan juga.  Ketiga, masyarakat akan menjadi terbiasa dengan wacana gempa karena mereka selalu mendapat pembelajaran secara periodik. Secara psikologi, hal ini akan membiasakan mereka untuk selalu waspada bahwa daerah mereka adalah daerah yang berpotensi terjadi gempa. Hal ini akan menjadi suatu bentuk Early Warning System yang alami karena masyarakat akan dibiasakan melalui suatu proses pembelajaran yang berulang-ulang dan berkelanjutan. Maka suatu saat masyarakat tersebut akan mengalami transisi kebiasaan ke arah positif dalam merespon gempa yang akan terjadi di kemudian hari. Keempat, pemerintah dapat menjadi mitra dalam proses ini. Bagi mahasiswa yang kreatif dan persuatif mereka dalam melakukan program ini secara lebih intensif dengan meminta dukungan kepada pemerintah setempat dalam hal dana dan pendekatan kepada masyarakat. Biasanya pemerintah juga akan merespon positif terutama dalam hal dukungan personal untuk menyukseskan program-program semacam ini mengingat saat ini diperlukan sekali kinerja kolaboratif antara institusi pemerintah, perguruan tinggi, dan swasta.

Demikianlah sebuah tulisan singkat tentang gagasan peran pemuda di negeri ini dalam mengedukasi masyarakat agar menjadi waspada dan mampu bertahan terhadap berbagai bencana yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Semoga bermanfaat.

* Rencananya artikel ini mau diikutkan dalam Kompetisi Esai dalam FSLDK Peduli, hasil rivalitas semalam bersama Krisna D’ Biker. Eh, ternyata karena sesuatu hal yang ga penting ga jadi diikutkan deh. Dan belum sampai selesai, akhirnya kupaksakan selesai

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.