Fenomena kelangkaan air di Gunungkidul sejak beberapa tahun silam sudah bukan rahasia lagi. Setiap musim kemarau, kekeringan selalu melanda kawasan karst yang ada di sebelah timur kota Yogyakarta ini. Meskipun beberapa bulan lalu sumur Bribin II telah diresmikan sebagai sumber pemenuhan kebutuhan air masyarakat Gunungkidul di kawasan timur dan selatan, ancaman kekeringan masih tetap membayangi pikiran setiap warga di sana.

Kenyataan tersebut merupakan konsekuensi yang harus dirasakan oleh masyarakat kawasan karst. Tanah di kawasan karst tidak memiliki kemampuan menahan air hujan yang meresap sehingga cadangan air permukaan kawasan ini tidak mencukupi kebutuhan masyarakat yang tinggal di atasnya.

Sebenarnya ada satu solusi utama yang seandainya terealisasi dengan baik fenomena kelangkaan air ini tidak akan terjadi lagi, yaitu pengangkatan air dari lapisan bawah. Di Gunungkidul, air permukaan bawah atau lebih sering dikenal sebagai sungai bawah tanah sangat banyak jumlahnya. Debit air yang mengalir  juga relatif besar. Hanya saja, karena terlalu dalam maka timbul masalah  baru terkait teknologi yang akan digunakan dalam usaha pengangkatan air sampai permukaan bumi. Permasalahan tersebut adalah rendahnya tingkat pengetahuan dan penguasaan masyarakat terhadap Iptek khususnya bidang hidrologi dan mekanik. Disamping rendahnya Iptek yang dikuasai oleh masyarakat, biaya yang diperlukan pun sangat mahal jika harus mendatangkan alat dari luar negeri.

Maka dari itu, sambil terus mengusahakan berbagai kerja sama dan kemitraan dengan negara-negara yang memiliki teknologi tersebut, perlu adanya usaha sadar dari masyarakat untuk meminimalisir terulangnya kelangkaan air pada musim kemarau. Usaha yang dilakukan dapat berupa usaha intensifikasi dan usaha ekstensifikasi. Usaha intensifikasi dapat dilakukan dengan penghematan  penggunaan air. Penghematan dapat dilakukan dengan cara peningkatan efisiensi dan efektivitas penggunaan air. Sedangkan usaha ekstensifikasi dapat dilakukan dengan cara meningkatkan jumlah cadangan penyimpanan air pada musim penghujan untuk digunakan pada musim kemarau.

Beberapa usaha nyata yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas penggunaan air dapat dilakukan mulai dari lingkup rumah tangga sampai masyarakat. Pada lingkup rumah tangga, penghematan air dapat dilakukan pada kebutuhan dapur, MCK, dan aktivitas lain termasuk ibadah. Ibu yang cerdas akan mencuci perangkat dapur secara berkala dan dalam jumlah yang banyak sekaligus agar air yang digunakan lebih efisien. Untuk keperluan mandi, air yang digunakan secukupnya saja, misalnya dengan menggunakan ember sebagai takaran air setiap kali mandi. Sehingga meskipun air di bak mandi penuh, kita tetap disiplin dengan menggunakan air sehemat-hematnya. Bahkan dalam berwudhu pun bagi masyarakat muslim sebaiknya tetap berhemat dengan cara menggunakan ember kecil yang diberi lubang kecil sehingga jumlah air yang digunakan lebih efisien seperti yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Kebiasaan berwudhu dengan menggunakan kran tidak bagus untuk masyarakat Gunungkidul.

Pada tingkat masyarakat, usaha intensifikasi untuk penghematan air dapat dilakukan di berbagai aspek, misalnya pada bidang pertanian. Sistem penyiraman yang tepat sasaran pada waktu bertani tembakau di musim kemarau sangat penting agar sumber cadangan air dapat mencukupi hingga sampai datangnya musim penghujan berikutnya. Selain itu, masih banyak aktivitas lain yang dapat dilakukan dalam rangka penghematan air.

Sedangkan kegiatan ekstensifikasi untuk mengatasi kelangkaan air dapat dilakukan dengan meningkatkan jumlah tangkapan air pada musim penghujan untuk ditampung dan digunakan pada musim kemarau. Usaha nyata yang dapat dilakukan adalah dengan membuat bak-bak penampungan pada setiap rumah dan penampungan umum di masyarakat. Pengisian bak-bak penampungan dapat dilakukan dengan mengarahkan aliran air hujan dari atap rumah menggunakan talang. Air yang mengalir dari talang diberikan penyaring kasar sebelum masuk ke dalam bak. Air ditampung ke dalam bak yang telah diberi zeolit alam untuk menetralkan keasamannya. Di Gunungkidul, zeolit bukanlah barang yang sulit untuk ditemukan, bahkan kualitas zeolit alami dari Gunungkidul tergolong sangat baik.

Untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat agar dapat mengantisipasi kelangkaan air pada musim kemarau perlu adanya upaya berkesinambungan dari berbagai pihak mulai dari pemerintah, tokoh masyarakat, LSM dan organisasi pemuda. Kegiatan penyuluhan dan sosialisasi dari pemerintah, pendampingan oleh LSM dan organisasi pemuda, serta pemantauan oleh publik dan para tokoh masyarakat sangat penting guna menyukseskan upaya penghematan air dan peningkatan efektivitas dan efisiensi penggunaan air di kabupaten Gunungkidul dan daerah-daerah lain yang permasalahan serupa.

(Artikel ini mendapatkan 5 besar terbaik Artikel MAPIPTEK)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.