Kategori
Pendidikan

Diferensiasi Figur dan Gerakan #3

Figur atau Gerakan

Jadi, mari kita tidak gebyah uyah memandang realita yang semakin membingungkan di tengah-tengah kita saat ini. Jika kita berbicara figur, maka kita harus benar-benar mengenal siapa dia tanpa harus memandang latar belakangnya. Jika kita tidak benar-benar mengerti siapa beliau, sebaiknya tidak usah banyak komentar terkait apa pun yang menimpa beliau. Bukankah setiap orang berhak menjalani hidupnya masing-masing? Lalu apa masalahnya buat kita. Maka ketika ada pemimpin yang reputasi kebaikannya banyak meskipun secara pergerakan berbeda dengan kita ya harus kita akui dong dia hebat dan baik.

Jika kita berbicara gerakan atau organisasi, maka runut sejarahnya, lihat nilai-nilai dasarnya, bukan dari representasi orang-orangnya. Karena bisa jadi organisasi itu terlihat baik padahal catatan sejarahnya buram dan menyisakan luka bagi kita. Jika demikian kita tertipu oleh orang-orang di atasnya. Bisa jadi pula hari ini kita mendapati pergerakan dan organisasi itu buruk di mata kita gara-gara orang-orang yang bercokol di atasnya sering membuat masalah, padahal sebenarnya itu adalah organisasi yang sangat ideal dan penuh dengan kebaikan.

Maka jangan pernah berhenti untuk belajar dan mendengarkan banyak masukan dan cerita dari orang-orang yang tepat. Kita harusnya bersyukur diberi akal untuk berpikir dan berbagai input dari panca indera kita yang sempurna sehingga dapat menyerap banyak informasi dan mengolahnya. Kita bukan robot yang bisa hidup dalam programing dan indoktrinasi. Kita bukan pula tong sampah yang boleh kebanjiran informasi. Kita manusia, yang memiliki keunikan hidup masing-masing.

Jadi, mari kita bangun diferensiasi berpikir tentang figure dan gerakan. Dari situ kita mulai berpikir untuk berkiprah di mana mulai dari sekarang. Mungkin suatu saat kita akan berpindah haluan, itu sah-sah saja karena kita hakikatnya tak henti belajar. Berpindah haluan itu adalah untuk mencari keselamatan hidup ketika kita tahu dan menyadari kesalahan kita. Namun jika berpindahnya haluan itu karena selainnya, bisa dipastikan kita adalah golongan salah satu pengacau yang sudah Allah catat sebagai penghuni neraka-Nya nanti.

Kategori
Misi Perubahan

Diferensiasi Figur dan Gerakan #2

Mahasiswa GJ Indonesia

Jika di taraf kaderisasi mahasiswa saja loyo, ada pengikut tapi nutrisi otaknya kurang kuat. Efeknya jelas terlihat di kemudian hari. Kampus menelurkan banyak sarjana yang low vision terhadap kepemimpinan masa depan. Jadi gimana akan mengedukasi masyarakat dan adik-adiknya di rumah yang kini tengah dididik dengan keras oleh Televisi, Koran, dan Radio yang kebanyakan isinya berbau musik hura-hura, kriminalitas, dan sisi buruk politik bangsa kita. Tidak usah heran masyarakat misuh-misuh terkait politik, wong mahasiswanya juga apatis, bahkan juga lebih parah misuh-misuhnya terhadap politik. Padahal politik hanya kata yang netral, baik buruk maknanya tergantung yang sedang menyandang istilah itu saat ini.

Tanpa menyalahkan pihak asing yang dicurigai selalu menyetir upaya pembodohan bangsa ini. Dengan kekacauan sistem pendidikan dan kaderisasi pemimpin bangsa ini. Setidaknya hal yang membuat mereka berhasil sementara ini adalah keberhasilan membangun opini publik di masyarakat termasuk mensetting pemikiran masyarakat untuk memandang figur dan gerakan itu sebagai satu kesatuan untuk digebyah uyah tanpa melakukan klarifikasi secara menyeluruh terhadap keduanya. Dan ini cara yang paling efisien untuk menghantam berbagai gerakan kebangsaan yang tengah memperjuangkan kemerdekaan bangsa edisi II dari cengkeraman asing. Sehingga mimpi terwujudnya kepemimpinan yang baik itu pupus dan sulit diwujudkan.

Sadari Pergerakan

Karena pergerakan itu adalah kumpulannya manusia, lagi-lagi wajar jika kemudian muncul realita ada orang-orang yang hebat terlahir dari sebuah gerakan yang dipersepsikan buram oleh masyarakat. Ada pula gerakan yang secara fondasi sangat baik namun suatu ketika melahirkan pemimpin-pemimpin yang dipandang buruk dalam persepsi masyarakat. Yang ngacau di sini adalah gara-gara pemimpin yang berkinerja buruk, organisasi yang baik terkadang tercoreng dan mati. Di sisi lain, pemimpin yang baik-baik tadi juga terkadang ternodai karena potret buram organisasi yang menjadi tempatnya belajar. Jadi memang persepsi jamaknya, ga ada baiknya orang itu bersinggungan dengan politik. Apalagi persepsi masyarakat yang sudah sempurna POLITIK ITU KOTOR. Kalo yang bilang itu masyarakat umum, ya jangan disalahkan. Tapi kalau yang bilang itu mahasiswa, tunggu dulu, jangan-jangan yang bilang begini ini memang tidak lulus bahasa Indonesia.

Politik, ya begitu adanya. Dia hanya sekedar kata yang maknanya terus berubah seiring pemegangnya. Ketika politik itu diaplikasikan oleh orang-orang yang baik jadilah politik itu baik. Namun ketika politik itu di tangan orang-orang yang buruk ya jadilah politik itu kotor. Jika sekarang politik dipersepsikan jelek ya karena memang bertahun-tahun ini kesannya memang jelek gara-gara orang-orang yang buruk itu. Apakah tidak ada politik yang baik? Ada. Ada banget. Baca deh sejarah kita. Sejarah telah memberi banyak kisah bagaimana kekaisaran Mesir pernah dipimpin Firaun yang baik, bagaimana Hammurabi memimpin Babylonia dengan Keadilan, bagaimana Shih Huang Ti menyelamatkan peradaban Hwang Ho dari serangan kaum barbar. Lebih dekat lagi, bagaimana Kekhalifahan Islam berhasil mencipta kemajuan ilmu pengetahuan dan memberikan payung perdamaian selama berabad-abad. Mereka adalah pemimpin-pemimpin dari manusia biasa, terkadang salah juga dan mungkin setiap mereka memiliki catatan kesalahan. Tapi ketika mereka berhasil mencipta kebaikan yang menyejarah, masihkah noda kesalahan itu menghentikannya untuk dikenang sejarah? Tidak. Kebaikan mereka yang banyak akan menghapuskan kesalahan mereka.

bersambung ….

Kategori
Misi Perubahan

Diferensiasi Figur dan Gerakan #1

Tulisan ini berawal dari kegelisahanku melihat kenyataan aktivitas mahasiswa di kampus yang kian lucu dan aneh. Dalam pengamatanku sejauh ini, kesenjangan pola pikir mahasiswa di kampus kian mencolok. Setidaknya mereka dapat aku klasifikasikan dalam beberapa golongan. Ini hanyalah sudut pandangku, boleh setuju, boleh nggak. Bebas kok.

Warna-Warni Mahasiwa Kita

Ada golongan mahasiswa yang memang berideologi kuat. Ada golongan mahasiswa pendukung mahasiswa yang berideologi kuat tapi kepemimpinannya tergantung pada bosnya (nek bosnya pergi, bubar). Ada golongan mahasiswa netral yang kadang cari amannya saja (terkadang memang karena prinsip pribadi, tapi lebih banyak yang dari pada ikut berlarut dalam masalah yang rumit). Ada golongan mahasiswa yang apatis dan sama sekali tidak peduli dengan urusan kemahasiswaan, apalagi masalah kampusnya, tahunya kuliah saja, datang, duduk, diam, dengar, dan kadang tidur, habis itu pulang dan ngegame atau ngedate saja.

Semua itu pilihan. Sah? Ya sah saja, wong namanya pilihan. Tapi kemudian efek dari perpecahan alami di kalangan mahasiswa itu berdampak pada kesenjangan pola pikirnya. Yang berideologi kuat, pembahasan mereka yang dominan ya benar-benar serius membahas kepemimpinan, tak jarang adu mulut bahkan sampai bermusuhan. Bagiku wajar kok berbeda, adu mulut bahkan debat sengit. Yang ga wajar itu lantas gara-gara beda visi, terus kecewa, salam aja dijawab pake muka setan, sms-nya lantas tidak menyapa lembut lagi. Itulah realita pertarungan orang-orang di level ideologis (bahkan ini masih mahasiswa loh, dan ternyata ada kok). Insya Allah potensi lahirnya Soekarno muda, Hatta muda, Natsir muda masih terbuka kok peluangnya.

Yang dilevel mahasiswa pendukung kaum ideologis tadi terkadang lebih tidak bermutu lagi. Pola pikir mahasiswa-mahasiswa di sini terkadang lebih dominan karena pengaruh orang-orang yang kuat ideologinya tadi. Dia mau-maunya berkata A, B, dan C seperti keinginan sang pemimpin. Aku tidak seluruhnya percaya bahwa mereka melakukannya karena paham, mereka hanya melakukan karena kepercayaan mereka yang tinggi pada pemimpinnya. Ini peluang yang besar bagi yang hobi dalam marketisasi ideologi. Itulah mengapa dakwah Rasulullah akhirnya berkembang pesat, karena beliau tahu siapa yang pertama kali harus disentuh dengan Islam. Jika konteksnya disempitkan pada parpol yang sedang cari massa untuk nyoblos, yang paham sistem ini akan sangat mudah membangun opini.

Nah, pertarungan di level mahasiswa pendukung kaum ideologis ini cenderung tidak bermutu. Sebenarnya pertarungannya akan baik sekiranya masing-masing belajar tentang etika perbedaan dan bagaimana saling beradu argumentasi secara intelek. Tapi lagi-lagi ini bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Seperti halnya pertarungan politik di negeri ini kebanyakan yang sering musuhan itu ya para pendukungnya saja. Kalo para elitnya paling banter ngrasani di belakang, ngumpat di belakang. Tapi kalau ketemu bareng, kebanyakan menjilat.

Lebih aneh lagi di kalangan mahasiswa yang netral. Yang bahaya itu, sebagian golongan ini cenderung sekuler. Kalau diajak berdiskusi yang sifatnya komprehensif menolak. Kalau diajak diskusi kepemimpinan jangan bawa-bawa agama. Diajak diskusi pendidikan, jangan bawa masalah kepemimpinan. Emang orang kuliah itu cuma makan ilmu yang dipelajari dari bukunya doang apa? Dan sebenarnya pilihan netral itu juga membingungkan.

Padahal orang yang beragama itu jelas bahwa dia harus selalu memilih kebaikan dan meninggalkan kejahatan. Dalam konteks Islam setiap detik itu hidup itu adalah ibadah. Adakah ibadah yang tidak mengandung unsur pilihan di dalamnya (bahasa kerennya netral). Ya jelas tidak lah, makan pasti biar bernilai ibadah kita mulai dengan doa dan milih menu yang halal-halal saja. Kalau masalah kepemimpinan? Bisakah kita bilang ga ikut-ikutan ah. Ha ha ha, pikirkan sendiri.

Namun demikian, ada beberapa nilai positif sebagian mahasiswa yang ada di golongan ini. Karena banyak juga kalangan profesional terlahir dari golongan ini. Dalam konteks kelembagaan orang-orang ini juga masih dibutuhkan agar organisasi stabil. Ketika beberapa kubu asyik berduel dengan ideologinya, orang-orang ini bisa menjadi penengah yang benar-benar memilih mana yang saat itu bermanfaat. Pragmatis memang, tapi terkadang perlu dari pada debat-debat ideologi kelamaan dan ga jalan-jalan programnya.

Yang golongan terakhir, ini mahasiswa yang apatis. Udah tidak jelas targetnya kecuali hanya kuliah, kerja, dapat duit, pacaran, nikah, beranak, pulang-pergi kerja, begitu terus sampai nanti tamat riwayatnya. Selama kuliah ya paling-paling hanya kongkoi-kongkoi saja. Temannya ngrokok ikut ngrokok. Temannya nongkrong ikut nongkrong. Temannya nonton ikut nonton. Udah seperti itu saja. Boro-boro mikir negara, sekedar peduli masalah jurusannya saja enggak. Apalagi tentang visi membangun masyarakatnya.

Sayangnya golongan ini pengikutnya mulai mengalami peningkatan drastis. Tanpa mereka kampanye sampai kenceng, pengikutnya terus bertambah dari tahun ke tahun. Akibatnya visi besar kepemimpinan muda semakin jauh dari tujuannya, karena di tengah para kaum ideologis yang butuh didengarkan gagasannya, di tempat yang lain berkumpul banyak mahasiswa yang memilih ga mau tahu urusan yang begituan. Rempong lah jadinya.

bersambung ….

Kategori
Refleksi

Koreksi Untuk Diri

Aku sering berkata ini itu kepada adik-adikku. Harus komitmen lah, harus jujurlah, harus tegaslah bla bla bla. Di saat-saat kesendirian saat ini semua itu kembali kurenungkan. Karena aku pun sebenarnya juga akan termakan dengan apa yang aku katakan sendiri ketika setiap kata yang terucap itu dikhianati oleh ketidakjujuran meskipun itu kecil dan tidak pernah diketahui orang lain.

Aktivis, itulah sebutan nge-trend yang sering melekat pada mahasiswa di kampus yang mau menambah kerjaan ditengah sulitnya kuliah dan mencari pekerjaan. Itulah sebuah label untuk orang-orang dulu yang kuliahnya kelamaan, atau orang-orang sekarang yang lebih sering mangkal di kantor kecil (alias sekre) dari pada kumpul dengan teman-teman seangkatannya untuk nge-game atau kongkow-kongkow. Itulah mungkin beberapa pandangan riil publik atas kata aktivis dan para penyandangnya.

Kemudian aktivis dakwah, apa pula itu? Ketika kata dakwah melekat menambahi kata aktivis maka layangan imajinasi pembaca langsung menuju masjid-masjid kampus dan menemukan sosok-sosok alim yang sedang melingkar dengan mushaf yang dipegang untuk dibaca dan ditadabburi atau sekumpulan wanita-wanita berjilbab lebar di serambi masjid yang juga melakukan hal yang serupa. Memang demikian adanya, definisi itu didahului oleh layangan imajinasi yang kadang-kadang imajinasi itulah yang kemudian mendefisinisikan setiap hal yang terekam oleh matanya, hingga terlupa pikirnya untuk mencerna dan menera.

Memanglah sebuah kenikmatan ketika diri ini bisa mendapatkan kesempatan belajar dan bergabung bersama barisan orang-orang yang berdaya juang tinggi. Salah satu keuntungan yang terasa adalah energy berlipat-lipat untuk terus melakukan perjuangan dan memberikan kemanfaatan, baik untuk diri sendiri dan orang lain. Singkat cerita, ketika bisa bergabung menjadi bagian dari bagian para aktivis kampus, maka sebenarnya saat itulah ruang terbuka untuk belajar banyak hal. Apa yang akan kita pelajari tidak tersedia layaknya toko swalayan di negara maju, tetapi seperti belantara tropis. Siapa pandai merasa dan mencobai mereka yang kemudian tumbuh besar dengan kekuatan luar biasa. Mereka yang mengeluh dan mencela segera tumbang oleh akar-akar pepohonan masalah atau dicincang harimau ambisi atau babi kedengkian.

Aku fasih berkata demikian kepada adik-adikku. Tapi benarkah aku telah berkata itu semua kepada diriku sefasih yang kukatakan kepada mereka. Beruntung aku tidak terlalu suka dengan buku teori-teori kepemimpinan dan motivasi kosong. Aku lebih suka membaca jejak sejarah dan kisah para tokoh atau mendengarkan pengisahan hidup para senior dan pendahulu. Karena kepemimpinan dan nilai itu lebih terhimpun dalan sebuah mozaik perjalanan yang sangat panjang dan kompleks itu. Maka setidaknya karakter itu lebih bisa mengerem mulutku agar tidak berbicara banyak hal yang tinggi padahal api jauh dari panggang pada kenyataaannya.

Ketika masa-masa kepemimpinan itu berakhir, mungkin ini hari-hari yang dipenuhi istighfar sekaligus pembuktian yang sesungguhnya. Karena sesungguhnya sebaik-baik bukti itu adalah laku dimana ia ada atau pun tidak ada dalam sistem yang pernah ia ciptakan. Aku kini hanya memandangi mereka dari jauh bersama rekan-rekan seperjuangan sambil terus berdoa dan memberikan senyum harapan untuk mereka.

Kini aku sadar, selama ini ada banyak yang terlenakan dan terlupakan dari diriku untuk lebih banyak beristighfar. Aku harus memperbaiki apa yang terlupa dari diriku sepanjang perjalanan kemarin. Karena apa yang telah aku katakan, semua akan dipertanggungjawabkan. Bukti tak berhenti atas apa yang telah kulakukan di masa aku mengatakan, tetapi bukti yang sebenarnya adalah aku tetap melakukan baik ketika aku dapat mengatakan atau pun tidak.

Meninggalkan kebiasaan buruk dan terus meningkatkan produktivitas hari ini akan menjadi bukti, bahwa di fase yang hari ini ku jalani aku masih seperti yang dulu. Aku masih seperti yang dulu. Tidak berubah, tetap tegas dan idealis.