Mahasiswa GJ Indonesia

Jika di taraf kaderisasi mahasiswa saja loyo, ada pengikut tapi nutrisi otaknya kurang kuat. Efeknya jelas terlihat di kemudian hari. Kampus menelurkan banyak sarjana yang low vision terhadap kepemimpinan masa depan. Jadi gimana akan mengedukasi masyarakat dan adik-adiknya di rumah yang kini tengah dididik dengan keras oleh Televisi, Koran, dan Radio yang kebanyakan isinya berbau musik hura-hura, kriminalitas, dan sisi buruk politik bangsa kita. Tidak usah heran masyarakat misuh-misuh terkait politik, wong mahasiswanya juga apatis, bahkan juga lebih parah misuh-misuhnya terhadap politik. Padahal politik hanya kata yang netral, baik buruk maknanya tergantung yang sedang menyandang istilah itu saat ini.

Tanpa menyalahkan pihak asing yang dicurigai selalu menyetir upaya pembodohan bangsa ini. Dengan kekacauan sistem pendidikan dan kaderisasi pemimpin bangsa ini. Setidaknya hal yang membuat mereka berhasil sementara ini adalah keberhasilan membangun opini publik di masyarakat termasuk mensetting pemikiran masyarakat untuk memandang figur dan gerakan itu sebagai satu kesatuan untuk digebyah uyah tanpa melakukan klarifikasi secara menyeluruh terhadap keduanya. Dan ini cara yang paling efisien untuk menghantam berbagai gerakan kebangsaan yang tengah memperjuangkan kemerdekaan bangsa edisi II dari cengkeraman asing. Sehingga mimpi terwujudnya kepemimpinan yang baik itu pupus dan sulit diwujudkan.

Sadari Pergerakan

Karena pergerakan itu adalah kumpulannya manusia, lagi-lagi wajar jika kemudian muncul realita ada orang-orang yang hebat terlahir dari sebuah gerakan yang dipersepsikan buram oleh masyarakat. Ada pula gerakan yang secara fondasi sangat baik namun suatu ketika melahirkan pemimpin-pemimpin yang dipandang buruk dalam persepsi masyarakat. Yang ngacau di sini adalah gara-gara pemimpin yang berkinerja buruk, organisasi yang baik terkadang tercoreng dan mati. Di sisi lain, pemimpin yang baik-baik tadi juga terkadang ternodai karena potret buram organisasi yang menjadi tempatnya belajar. Jadi memang persepsi jamaknya, ga ada baiknya orang itu bersinggungan dengan politik. Apalagi persepsi masyarakat yang sudah sempurna POLITIK ITU KOTOR. Kalo yang bilang itu masyarakat umum, ya jangan disalahkan. Tapi kalau yang bilang itu mahasiswa, tunggu dulu, jangan-jangan yang bilang begini ini memang tidak lulus bahasa Indonesia.

Politik, ya begitu adanya. Dia hanya sekedar kata yang maknanya terus berubah seiring pemegangnya. Ketika politik itu diaplikasikan oleh orang-orang yang baik jadilah politik itu baik. Namun ketika politik itu di tangan orang-orang yang buruk ya jadilah politik itu kotor. Jika sekarang politik dipersepsikan jelek ya karena memang bertahun-tahun ini kesannya memang jelek gara-gara orang-orang yang buruk itu. Apakah tidak ada politik yang baik? Ada. Ada banget. Baca deh sejarah kita. Sejarah telah memberi banyak kisah bagaimana kekaisaran Mesir pernah dipimpin Firaun yang baik, bagaimana Hammurabi memimpin Babylonia dengan Keadilan, bagaimana Shih Huang Ti menyelamatkan peradaban Hwang Ho dari serangan kaum barbar. Lebih dekat lagi, bagaimana Kekhalifahan Islam berhasil mencipta kemajuan ilmu pengetahuan dan memberikan payung perdamaian selama berabad-abad. Mereka adalah pemimpin-pemimpin dari manusia biasa, terkadang salah juga dan mungkin setiap mereka memiliki catatan kesalahan. Tapi ketika mereka berhasil mencipta kebaikan yang menyejarah, masihkah noda kesalahan itu menghentikannya untuk dikenang sejarah? Tidak. Kebaikan mereka yang banyak akan menghapuskan kesalahan mereka.

bersambung ….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.