Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung

Mungkin itulah peribahasa yang paling tepat untuk menasihati kami saat ini. Di tempat yang baru, di keluarga yang baru semua menjadi serba baru. Mulai dari kebiasaan, tata krama hingga tulisan-tulisan yang akan kubaca.

Yah, di Jerman ini seperti di Jepang, kata kakak keponakanku. Orang jerman sangat cinta kepada negaranya seperti Jepang. Maka di mana-mana akan sangat sulit sekali dijumpai kata-kata dalam bahasa Inggris, semuanya dalam bahasa Jerman. Bahkan masyarakat pada umumnya juga tidak suka menggunakan bahasa Inggris. Mereka menggunakan bahasa Jerman sebagai percakapan sehari-harinya.

Kami harus banyak belajar untuk mengenal kebiasaan dan adat masyarakat di sini. Di sini semua hal dilakukan dengan detil dan teratur. Bahkan di wohnung tempat kami tinggal, banyak hal yang harus kami ingat mulai dari jadwal-jadwal laundry, pemeriksaan hingga bak sampahnya. Di sini, sampah dibedakan menjadi 5 tempat, sampah yang mudah terbakar, sampah yang dapat didaur ulang, sampah kotoran dan sisa, sampah kaleng dan sampah yang lainnya (aku lupa). Intinya tidak seperti di tempat kita di mana orang gampang buang sampah sembarangan.

Dalam menyeberang jalan dan menaiki kendaraan, kami harus belajar. Siapa yang menyeberang jalan tanpa melalui zebra cross jika ketahuan akan didenda 40 Euro, dan ternyata masyarakat di sini begitu mematuhinya. Kemudian dalam menaiki kendaraan, berlaku tata krama dahulukan yang turun semuanya barulah naik. Kebiasaan ngusruk dan nyerobot harus dihilangkan jika tak ingin menanggung malu disini.

Dalam merawat ruangan dan mengelola perabotan, semuanya tersedia dengan lengkap. Semua harus digunakan dengan hati-hati dan dirawat dengan baik. Aku merasa malu ketika tidak dapat menutup jendela dan harus menaiki kursi untuk menutupnya. Hampir saja aku merusak jendela yang sebenarnya cara menutupnya tinggal menarik picu di dekat kusennya. Mengapa aku harus naik kursi untuk memaksa jendela menutup. Aduh, malu rasanya, katrok banget.

Dalam berbelanja, semua harus mempertimbangkan banyak hal. Ah, rasanya Allah memang ingin membuka mataku dan mengharuskanku belajar tentang tatanan hidup yang baik yang seharusnya dimiliki setiap muslim di Indonesia. Di negeri yang tidak banyak mengenal agama, tata cara hidup mereka bahkan jauh lebih Islami dari pada umat Islam sendiri kecuali dalam hal peribadatannya. Semoga nanti bisa tetap kupertahankan saat telah kembali ke tanah Air. Ah, malu rasanya jadi seorang muslim yang banyak kekurangan seperti hari ini. Aku harus lebih baik ke depannya.

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.