Kategori
Refleksi

Potret Kapitalisme (Keserakahan) Sebagian Orang Indonesia di Abad Modern #2

Lalu bagaimana dengan negara berkembang, termasuk negeri kita tercinta Indonesia? Mari kita lihat bagaimana prakter korupsi begitu subur saat ini. Fakta bahwa para pengusaha berada dibalik suksesnya para anggota parlemen atau pejabat tentu bukan rahasia lagi bukan. Apa itu? Kerakusan, ketamakan dan tentu saja efek sebuah kapitalisme juga kan. Menurut salah satu dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS yang beraliran sosialis, beliau mendefinisikan sebab kapitalisme karena adanya kerakusan untuk menumpuk akumulasi modal dan menguasi berbagai kepemilikan sumber daya alam dan properti lainnya.

Maka tidak perlu heran jika masyarakat adalah korban pertama yang pasti akan menjadi garda terdepan penderitaan ini. Teori bahwa negara yang makmur adalah yang memiliki pengusaha minimal 4 % dari penduduknya itu jelas tidak berlaku di Indonesia. Wong belum ada 1 % saja sudah rusak parah seperti ini. Mengapa? Karena bangsa ini menelan mentah-mentah konsep bisnis kapitalisme Eropa. Tokoh yang mematahkan teori ini adalah pendiri Dompet Dhuafa, Erie Sudewo, dalam bukunya Best Practice Character Building, Menuju Indonesia Lebih Baik. Semakin kaya pengusaha di negeri ini itu tandanya aka nada sekian rakyat yang sangat menderita.

Logikanya sekilas rumit, tetapi sebenarnya mudah jika dilihat dari struktur masyarakat bekas penjajahan yang masih labil kebangsaannya ini. Pengusaha tulen itu orientasinya profit, maka hal itu mensyaratkan adanya kerakusan. Kerakusan itu salah satunya menghalalkan segala cara untuk mempengaruhi regulasi pemerintah. Itu artinya pengusaha harus berkolaborasi dengan politisi. Dan sudah pasti yang mau berkongsi bukan politisi baik bukan, pasti juga yang rakus dan berjiwa kapitalis. Jika kebijakannya sudah banyak yang dipesan maka berapa porsi untuk kebijakan asli yang berpihak kepada rakyat? Nah loh, silahkan dipertimbangkan sendiri.

Satu aja kasus yang baru terjadi kemarin dekat kosku di Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq. Tepat di samping masjid ada pembangunan kos-kosan. Di sini siapa yang punya tanah akan membangun bisnis ini sebagai income pasif yang sangat menjanjikan. Tapi lihatlah betapa rakusnya sang pemilik proyek ini. Lazimnya proyek adalah menggunakan anggaran untuk biaya air dan listrik bukan. Tapi karena sampingnya adalah masjid maka mereka langsung serobot mengambil dua fasilitas itu seenaknya saja.

Dalam sehari itu mereka mengalirkan air tanpa izin dan mengambil listrik dengan cara menginjeksi lampu jalan untuk disambung kabel ke stop kontak mereka. Alhasil sehari itu, mesin jetpam masjid mendadak mati dan listriknya terlalu terbebani sehingga tombol ON/OFF nya mati otomatis karena digunakan untuk menghidupkan jetpam yang lebih besar. Luar biasa bukan. Kami yang mengetahui hal itu, langsung melaporkan ke ketua takmir. Segeralah kasus itu diusut. Diketahui juga bahwa ternyata ada oknum yang bermain bahwa soal perizinan penggunaan fasilitas masjid dijanjikan oleh tokoh masyarakat yang tidak pernah ke masjid. Wow, ini lebih hot dari kapitalisme Eropa bukan. Coba jika kasus sejenis ini berkembang di banyak tempat. Kata bang Haji, sungguh TERLALU

Masih ingin koar-koar teriak soal kapitalisme? Mari kita cabuti dulu jamur-jamur kapitalisme yang mencengkeram diri dan sekitar kita. Karena penyakit yang menyentuh badan yang tidak sehat itu jauh lebih berbahaya ketimbang tubuh yang sehat. Bangsa ini baru sembuh dari penjajahan, merana dan menderita. Jika tidak ada pengendalian diri, siapa pun akan mengejar kekayaan itu dengan cara tercepat. Maka solusi terbaik adalah berjamaah, membangun semacam “kapitalisme kolektif“ yang didasari oleh syariat Islam. Kita harus bangkit menjadi bangsa mandiri karena sudah dianugerahi sumber daya alam yang sangat melimpah. Kita perlu merebutnya kembali, karena itu milik kita. Itu milik kita. Sekali lagi, itu milik kita. Mari hentikan berteori dan berlomba menyatakan diri siapa yang benar agar waktu kita lebih tercurah untuk bekerja mewujudkan kemenangan itu.

Kategori
Refleksi

Potret Kapitalisme (Keserakahan) Sebagian Orang Indonesia di Abad Modern #1

Sejak aku melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kota-kota Eropa itu dibangun dan masyarakatnya hidup, pandanganku banyak mengalami koreksi, terutama untuk mendefinisikan kapitalisme. Kata-kata yang sering didengungkan dengan penuh kebencian oleh para guru ekonomi dan para orator secara berapi-api itu kini membuatku menggelitik tawa yang diakhiri tersenyum kecut. Iya memang itu hal yang harus kita benci, tetapi kalo kita teriak-teriak sementara realita masyarakat kita lebih kapitalis bukankah itu kecolongan namanya.

Bahwa Eropa itu adalah negara-negara kapitalis tentu hal ini tidak dapat dipungkiri. Tapi tiba-tiba muncul dibenakku sebuah terminologi yang unik untuk kumunculkan, yakni kapitalisme kolektif dan kapitalisme individualistik. Dalam definisi yang saya ajukan, kapitalisme kolektif adalah sebuah konsep kapitalisme dimana sesama kapitalis dilarang saling mendahului dan sepakat untuk menghancurkan bangsa lain dengan kekuatan kapitalisme itu. Sedangkan kapitalisme individualistik saya definisikan sebagai kapitalisme yang berkembang di tingkat lokal untuk tumbuh menjadi kekuatan tunggal dengan menghabisi elemen masyarakatnya sendiri.

Sebulan di Eropa aku justru mendapati bahwa orang-orang Eropa lebih menonjolkan sisi kapitalisme kolektifnya. Bagaimana tidak? Transportasi maju mulai dari kereta dan bus umum. Bahkan di Jerman, tidak ada pengawasan tiket kereta secara ketat, petugas hanya sesekali sidak di gerbong. Tetapi semua penumpang sadar untuk membeli tiketnya sendiri di mesin otomatis yang tersebar di sepanjang koridor stasiun. Jika potret elemen masyarakatnya peduli seperti ini, pasti yang lebih tinggi dari itu juga mengerti bahwa korupsi akan merugikan bangsanya sendiri. Maka dapat dipastikan, angka korupsi di negara maju sangat kecil.

Jadi secara prematur, kesimpulan saya negara-negara Eropa yang terkenal imperialis dan kapitalis itu sejatinya kejam kepada negara-negara berkembang yang punya kekayaan alam tapi masyarakatnya bodoh. Mereka justru sangat perhatian kepada rakyat mereka dan berusaha menyejahterakan dengan cara apapun. Sementara itu media-media mulai televisi dan berbagai channelnya jarang memberitakan secara adil fakta bagaimana negara dan perusahaan di negerinya itu menindas negara-negara berkembang untuk dikeruk menghidupi mereka. Seandainya mereka sadar, saya masih yakin bahwa masyarakat Eropa juga masih punya rasa kemanusiaan seperti kita.

bersambung …

Kategori
Misi Perubahan

Akhirnya Simpul Gerakan Sosial itu Muncul

Sudah berbulan-bulan lalu kami menjadi bagian dari salah satu proyek perbaikan generasi bangsa, sejak Beastudi Indonesia memanggil kami dalam barisan aktivis. Sebuah julukan mentereng yang kadang menjadikan banyak orang lebay dengan status kemahasiswaan mereka hari ini. Namun kami justru dididik untuk tidak lebay dengan semua itu, bahkan kami harus terus berpikir keras hingga menemukan sebuah simpul “gerakan sosial“.

Setahun yang lalu, kami terus memulai diskusi untuk membuat konsep gerakan sosial yang tepat. Berbagai ide terus digelontorkan, diajukan, ditolak dan fase terus berulang. Hingga tak terasa masa kami setahun telah berlalu kemudian adik-adik angkatan penerima beasiswa aktivis setelah kami pun hadir dalam keluarga ini. Gagasan itu terus berlanjut dengan arahan gerakan Aksi Cinta Budaya Indonesia.

Awalnya memang abstrak menerjemahkan sebuah rangkaian kata indah itu. Budaya apa yang harus kita cintai? Bagaimana cara mencintainya? Dan sesungguhnya apa langkah konkritnya. Perlahan namun pasti, buah dari setiap diskusi diiringi dengan ketajaman analisis yang diikuti nasihat-nasihat bijak dari manajemen, akhirnya ketemulah sebuah konsep ACBI yang paling pas untuk kami deklarasikan. Yakni MARI KEMBALI BERBELANJA KE PASAR TRADISIONAL.

Pasar tradisional adalah budaya kita. Warisan interaksi dari nenek moyang kita tentang jual beli yang lebih manusiawi dengan adat ketimuran kita. Ada keakraban, ada tawar-menawar, bahkan di tempat ini pula perjodohan pun bisa saja terjadi. Ah, itu mungkin budaya basi hari ini karena mall sudah berdiri megah, lebih wangi dan tidak bau seperti jalan-jalan becek dan ruangan kumuh seperti toilet. Yang muda pun enggan untuk melangkah ke tempat-tempat bersejarah sekaligus cagar budaya yang tanpa status itu lantaran pakaian mereka kadung terbalut corak Eropa (yang sebenarnya imitasi murahan) atau mode Korea (yang jelas ga nyambung sama kulit sawo matangnya).

KEMBALI KE PASAR TRADISIONAL, itulah rumusan umum gerakan Aksi Cinta Budaya Indonesia yang diusung oleh para penerima Beasiswa Aktivis Nusantara (Bakti Nusa) Beastudi Indonesia Dompet Dhuafa untuk dikampanyekan kepada seluruh masyarakat di tanah air ini. Sebuah gerakan yang diharapkan dapat menggugah kesadaran bersama bahwa pasar tradisional itulah milik kita yang sesungguhnya. Ladang kehidupan jutaan rakyat kita yang hari ini terus dilindas oleh kapitalisme dan buruknya kebijakan pemerintah. Sebuah potret salah urusanya lembaga nirlaba raksasa bernama Indonesia.

Dan sore ini, kami melewati serangkaian “pembantaian” bermanfaat agar rumusan besar kami terus diperbaiki sehingga kelak menjadi pecut yang mengembalikan masyarakat kita yang terkena “amnesia” ekonomi. Jika kita masih ingin menyelamatkan Indonesia, mari kurangi rasa sombong kita dengan tidak perlu menjamah tempat-tempat yang hanya akan menghabiskan uang dan harga diri kita. Mari kita hargai warisan budaya kita, cagar budaya yang tidak pernah mendapat status dari pemerintah, PASAR TRADISIONAL.

Terima kasih Bu Sri Nurhidayah atas wejangannya malam ini. Hanya itu yang dapat kami ucapkan atas inspirasi luar biasanya. Kami tahu Bu, kemarahan ibu pada kami adalah cinta ibu yang besar untuk melihat kami tumbuh menjadi negarawan yang tidak hanya bicara soal kantong pribadi, tetapi kantong Bangsa Indonesia. Terima kasih.

Kategori
Misi Perubahan

Kembali ke Pasar Tradisional

Pernahkah kalian berbelanja di pasar-pasar tradisional di daerahmu? Masa kecil kita mungkin akan mengingatkan hal itu. Aku pun selalu ingat bagaimana setiap pasaran Legi, ayah atau almarhum kakek mengajakku berjalan-jalan ke pasar kecamatan dan membelikan aku makanan yang enak-enak. Nostalgia masa lalu masih kadang terulang ketika aku diminta mengantar ibu ke pasar atau ketika kakek sebelum meninggal sesekali memintaku mengantarnya di kedai yang sering kami kunjungi ketika aku masih kecil.

Kini riwayat pasar-pasar itu tinggal menunggu waktu kapan mereka mampu bertahan di saat para kepala daerah yang gila kekuasaan terus memberikan izin berdirinya pasar-pasar modern yang megah dengan dalih modernisasi. Apakah kita akan membiarkannya begitu saja? Kita kaum pribumi yang tentu lebih berhak atas khazanah yang diwariskan oleh para pendahulu kita. Sedangkan pusat perbelanjaan modern yang dibangun membabi buta saat ini tak lebih sebagai pengisi kantong orang-orang kaya yang tak berbelas kasih kepada rakyat kecil.

Maka dari itu, kami para mahasiswa yang tergabung dalam Beasiswa Aktivis Nusantara (Bakti Nusa) Beastudi Indonesia Dompet Dhuafa menggelar aksi galang dukungan di kawasan Car Free Day hari ini. Kami membagi-bagikan selebaran kepada para pengunjung CFD dan mereka pun dengan suka cita menuliskan dukungannya di atas MMT yang telah kami siapkan.

Aku menikmati suasana yang berbeda hari ini. Dengan dukungan dari Presiden Republik Aeng-Aeng kami juga mendapatkan space untuk turut berkreasi bersama komunitas yang lain. Aku sempat melihat parodi para capres yang ikut konvensi Partai Demokrat. Wajah-wajah mereka disematkan pada beberapa orang dengan pakaian yang disesuaikan kemudian saling berlomba balap karung. Lucu dan mengelitik sekali.

Suara kami hari ini hanya satu, mengajak masyarakat kembali ke pasar tradisional. Bagaimana pun, itu adalah milik kita, tradisi yang selama ini telah menjadi warisan para pendahulu kita. Kalau saat ini jelek, kotor, dan kumuh bukan kemudian ditinggalkan, melainkan direvitalisasi dan diajari pedagannya agar menjadi lebih rapi. Semua butuh proses untuk kita berkembang bersama. Atau di kemudian hari kita tak akan pernah memiliki apa-apa di negeri sendiri, karena semua kita berikan cuma-cuma untuk kaum kapitalis.

Kategori
Misi Perubahan

Belajar Kapitalisme dan Feodalisme dari Lagu-Lagunya Iwan Fals #1

Beberapa waktu lalu, teman-teman Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNS memintaku untuk berbagi inspirasi kepada adik-adik angkatan muda mereka yang sedang menjalani pembinaan di Sekolah Penerus Bangsa. Materinya cukup berat, layaknya seorang pakar aku diminta bercerita tentang problematika bangsa dan solusinya. Waduh, berat nih, tapi cobalah tetap maju. Bismillah.

Berhari-hari aku mencari inspirasi untuk materi yang paling tepat bagi adik-adik. Sampai akhirnya pagi tadi aku baru mendapatkan sebuah inspirasi. Yah, dengan lagu. Lagunya Iwan Fals. Bukan karena aku terikat kontrak dengan beliau untuk mempromosikan lagu-lagunya lagi yang pernah ngetop di tahun 1990-an itu. Tapi bagiku mayoritas lagunya di masa itu adalah potret yang kasat mata. Dan realita itu terulang lagi di masa yang katanya masa perbaikan bangsa.

Akar Masalah

Apa pun itu, bagiku problematika bangsa hari ini sesungguhnya tetap sama dan akarnya pun itu-itu saja. Sebesar apa pun upaya pemerintah dalam membasminya akan sia-sia saja karena akarnya tak pernah dicabut. Akarnya jelas terlihat mata, namun barangkali hingga kini kita belum ada keinginan untuk mencabutnya. Satu saja memicingkan mata untuk mencabutnya, buru ditendang atau dikubur dalam-dalam dari jagad kekuasaan.

Apa itu? Itulah kapitalisme. Ia kembali eksis di negeri ini dengan sedikit corak feodalisme. Kultur masyarakat kita yang merasa sungkan dan sering memilih menjadi penjilat adalah modal untuk menyuburkan praktek feodalisme yang efektif untuk menghabisi siapa pun yang berjuang untuk menegakkan keadilan.

Wah ngeri banget ya! Yah, ngeri tapi hampir hal itu tidak dapat dimengerti oleh masyarakat kita yang terlanjur berada dalam lingkaran uang, kemewahan, dan tentunya penyakit lupa. Lupa dengan karunia negeri terindah dari semua negeri yang ada di dunia. Yang tidak pernah dingin seperti dinginnya musim dingin di Eropa. Yang tidak pernah sepanas gurun yang gersang. Atau yang membunuh rakyatnya dengan kelaparan, karena setiap jengkal tanah kita hampir-hampir menyediakan makanan.

Adapun tentang kapitalisme, ah itu sangat jelas terlihat. Asal kita tidak terlalu percaya saja dengan berbagai buku teks yang mendoktrin seputar kapitalisme, baik yang ada di pelajaran ekonomi ketika sekolah atau diktat-diktat di kampus. Kita akan masih tetap sadar bagaimana sistem itu seperti gurita yang membuat sebuah negara kaya bisa miskin seketika karena sebuah hukum rimba yang lebih kejam dari hukum rimba yang sesungguhnya.

Negeri kita terlalu kaya, bahkan paling kaya di dunia ini. Coba kita pikirkan, apa yang tidak menghasilkan uang dari negeri ktia? Mulai dari tanah, lautan, mineral, dan keindahan panorama alam, hingga potensi penduduk yang ada di sana. Semua adalah sumber daya yang besar. Bahkan bisa jadi hanya Indonesia-lah yang memiliki sumber daya tak terbatas paling besar di bandingkan dengan negara-negara lainnya. Maka wajar jika negeri ini tetap diincar para kaum kapitalis.

bersambung…

Kategori
Catatan Perjalanan

Jalan-Jalan ke Situs Kiyai Ageng Gribig #1

Hari ini alhamdulillah bisa silaturahim ke Klaten. Undangan untuk berbagi kepada adik-adik Rohis SMA 1 Wonosari …… Klaten (kok sama ya dengan SMA ku dulu, SMA 1 Wonosari …. Gunungkidul). Karena BBM naik, aku memilih naik angkutan umum saja. Meskipun lama, ternyata sensasinya kembali terasa setelah beberapa waktu tidak menikmatinya.

Demi kenyamanan, kupilih Damri yang seperti Transjakarta. Karena di Solo relatif sepi aku bisa duduk sambil membaca buku. Eh, ketika pindah ke bus Jogja-Solo ternyata harus berdiri sampai Terminal Penggung Klaten. Sepertinya sekarang angkutan antar kota mulai terbatas sehingga terjadi penumpukan penumpang pada jam-jam normal. Kadang kasihan juga lihat ibu-ibu yang dipaksa berdiri, lha gimana mau ngasih tempat, wong saya juga berdiri.

Sambil mendengarkan alunan lagu-lagu berbahasa Mandarin yang dinyanyikan Alan Dawa Dolma dan lagu-lagunya Maher Zain perjalanan ini menjadi tidak begitu sesak meskipun terkadang muncul rasa kesal juga dengan ketidaktersediaan transportasi publik yang representatif. Hal yang sangat berbeda dengan di Jerman ketika pemerintah berhasil membangun kolaborasi dengan perusahaan yang ada sehingga sarana transportasi publi terpenuhi dengan baik.

Kalo sudah begini aku geram dengan guru-guru yang hanya bisa mengajar teori tentang kapitalisme dan komunisme berdasarkan buku paket yang mereka baca tanpa melihat realita. Hari ini justru kudapati negeri-negeri yang dicap kapitalis oleh sebagian guru-guru Indonesia justru tidak benar-benar kapitalis, karena mereka meskipun membiarkan berlakukan sistem pasar, tapi pemerintah tidak berkompromi jika sudah menyangkut tanggung jawab sosial perusahaan dan layanan publik. Hari ini pula, negara-negara yang mengaku komunis dan sosialis tidak benar-benar tertutup dari sistem pasar karena mereka juga terus mendorong pertumbuhan industri dan investasi dalam negeri mereka.

Yang kin harus kita sadari justru masalah kacaunya negeri ini karena menjadi pengamal teori paling mentah sejagad. Barangkali kita lebih kapitalis dari negara-negara kapitalis karena abai terhadap tanggung jawab mengurusi rakyat. Bukankah negara itu lembaga nirlaba yang sudah seharunya tidak berpikir untung rugi dalam mensejahterakan rakyat. Jika alasan ketakutan mengusir penjajah dalam bentuk imperium ekonomi asing menjadikan kita berutang bukankah negara ini sedang membangun usaha dengan utang yang jelas-jelas merugikan, sementara kita telah memiliki SDM yang hebat dan kekayaan alam yang tak terkira.

Maka sudah seharusnya kita bersyukur menjadi orang Indonesia. Saat aku akan menaiki bus, aku membeli es jeruk yang harganya cuma dua ribu rupiah saja. Harga yang jauh sangat murah karena kurang dari 20 cent Euro. Ketika aku di Jerman, untuk satu gelas kecil coklat saja harus mengeluarkan kencleng 50 cent Euro yang senilai hampir 6.500 rupiah. Bahkan ketika di Paris, 1 Euro. Masih lebih murah di tanah air kita. Bahkan jika belum puas, kita bisa memanjat kelapa orang (tapi itu mencuri namanya) dan menikmati minuman alami paling segar secara gratis.

Ketika makan, kita ambil lauk macam-macam ketika di Solo hanya habis 10-15 ribu saja. Itu hanya berkisar 1 Euro saja, sementara di Jerman sana kita mungkin harus merogoh kocek sampai 5 Euro. Bahkan di Amsterdam harus mengeluarkan uang 12 Euro. Sungguh, jika hanya kenaikan BBM 2 ribu terus membuat kita banyak beralasan macam-macam, barangkali kita akan banyak dapat laknat dari Allah lantaran kita yang tidak pernah bersyukur tinggal di negeri yang semuanya serba gratis SDA-nya. Sampai-sampai pemerintah kita bersedekah kepada Freeport, Chevron, Newmont, Exon dll. Aku tidak bisa mengakui itu kontrak kerja sama karena kita tidak mendapatkan bagian yang semestinya. Itu sedekah namanya untuk mereka. Sedekah yang keterlaluan ditengah rakyat dan para pegawai negerinya masih mengidap penyakit mental miskin kelas akut.

bersambung …….

Kategori
Pendidikan

LKMM Jurusan Ilmu Pendidikan: Guru Seperti Apakah Kita?

Catatan tambahan atas yang terlewat

Berbicara tentang pendidikan hari ini sepertinya terlalu berwacana dan beretorika saja. Hari ini kita harus berlapang dada melihat kenyataan bahwa madrasah baru masyarakat Indonesia adalah media massa, baik itu televisi, radio, koran, dan portal online. Semua telah berhasil mengajarkan pendidikan ala mereka kepada masyarakat Indonesia yang lagi keranjingan perangkat teknologi dari smartphone sampai smartcomp.

Hari ini pula, kita menyaksikan bagaimana masyarakat dikuasai oleh definisi media. Istilah-istilah terus muncul dalam perspektif media dan semua menjadi tertanam kuat di masyarakat melebihi kekuatan kamus bahasa Indonesia yang menangis di tengah kesendiriannya di perpustakaan atau pun balai bahasa yang terus berjuang dan berbuat meskipun tidak lagi di pedulikan oleh orang-orang yang ngakunya pewaris bahasa Indonesia.

Istilah-istilah publik hari ini adalah milik media massa, buku dan kepentingan kapitalisme. Siswa sekolah untuk menghafal buku, pemahaman mereka dikuasai buku, bukan siswa menguasai isi buku. Mahasiswa sibuk dalam definisi-definisi menurut tokoh-tokoh barat kapitalis, terlebih jika berbicara masalah ekonomi, politik dan sosial, karena asumsi kuat yang tertanam pada mereka bahwa peradaban barat lebih maju dan modern maka penting untuk berguru pada para cendikiawan mereka. Oke, berguru penting, tetapi sayangnya hari ini cara berguru kita menggunakan gaya orang timur dan bergurunya pada orang barat. Yang adil, bergurulah kepada orang barat dengan cara orang barat.

Apa bedanya, orang timur menggunakan hikmah dalam mendidik, dan murid-muridnya sangat hormat kepada para gurunya. Garansinya adalah para gurunya memang betul-betul memegang etika tertinggi seorang guru, karena dia adalah ilmuwan sekaligus tokoh spiritual. Tapi hal itu berbeda dengan pola pendidikan barat yang mengajarkan sekulerisme, dimana ilmu itu berpisah dengan agama (gereja). Orang belajar di sana bisa bebas berargumentasi dan mendebat sang guru tanpa etika yang memadai. Asal rasional semua sama-sama ngerti. Berbeda, tapi kacaunya hari ini dua hal itu justru dikawinkan untuk mengkaji semua hal.

Bisa Anda bayangkan bagaimana siswa hari ini menjadi kurang ajar kepada para gurunya, karena mereka kehilangan adab mereka sebagai orang timur. Kita temukan pula seorang yang begitu bebasnya berekspresi atas nama kemerdekaan di tengah pusaran budaya timur yang luhur. Dan paling parah kita lihat mental-mental inlader yang minder dengan jati dirinya sendiri dan cenderung kebarat-baratan dengan segala kemewahan dan kejeniusan yang dipaksakan.

Mari kita bertanya pada diri kita? Apakah hari ini definisi dikepala kita telah kacau? Apakah kita tidak bisa lagi kritis terhadap dominasi media dan kapitalisme global yang telah membuat masyarakat homogen dalam definisi mereka hingga akhirnya lama-lama kita tercerabut dari akar budaya ketimuran kita. Dan kita (yang saat ini tengah kuliah di kampus pendidikan) jangan-jangan menjadi bagian orang yang pikirannya telah terjajah dengan definisi ala barat itu.

Ketika kita mengajar ilmu, kita menggunakan pendekatan sekuler. Ketika kita berinteraksi dengan siswa, kita mengabaikan pengajaran adab dan akhlak (lantaran kita juga mulai kehilangan jati diri dan kewibawaan seorang guru). Ketika kita berbagi, kita lupa berkisah tentang sejarah dan kejayaan bangsa kita. Ketika kita mengevaluasi, kita lupa bahwa nilai adalah doa dan harapan kita untuk mereka, bukan kalkulasi untung rugi yang membuat siswa memilih berspekulasi melakukan serangkaian kejahatan besar (menyontek, kerja sama, dan berbuat curang lainnya).

Cukuplah kita banyak beristighfar melihat pendidikan di negeri ini yang sudah jauh dari apa yang ditanamkan Ki Hajar Dewantara tentangnya indahnya budi pekerti. Pendidikan kita juga telah menjauhkan dari cinta tanah air yang sesungguhnya untuk membela kekayaan alam kita yang dicuri seperti pesan Presiden Soekarno. Pendidikan kita juga telah membuat kita lupa untuk bekerja sama dan sukses bersama seperti pesan Bung Hatta dalam ekonomi kerakyatannya, karena kita sekarang diajari berpikir bagaimana sejahtera dengan ukuran materi dan gaya hidup yang mewah.

Pendidikan tinggi hari ini menjadi pertaruhan terakhir. Kita yang dapat kesempatan kuliah dengan sandangan gelar paling lebay di dunia, MAHASISWA ditantang apakah masih menjadi orang yang terpenjara dalam definisi dan menjadi bulan-bulanan kepentingan politik yang semakin tidak bermutu hari ini. Jika memang masih, sudahlah mari kita kubur dulu tulisan bahwa pemuda adalah agent of change, kita ganti dengan pemuda AGENT OF AWARE. Sadar diri dengan kelemahan kita dan kita bereskan pemahaman kita yang memang masih labil dan kurang asupan ilmu lantaran malasnya kita mengambil ilmu dari guru-guru kita yang idealis dan istiqomah. Kini mereka telah banyak yang wafat.

Akhirnya, tidak usahlah kita bicara ruwet-ruwet dalam analisis mengenai problematika bangsa kita, apalagi referensinya media massa yang sudah bukan rahasia umum lagi bahwa berita adalah uang. Dan berita yang buruk adalah trending topik terbaik yang menjadi perhatian publik. Mari kita lakukan dua hal ini secara konsisten, BERHENTI SAAT LAMPU MERAH jam berapa pun itu, ramai atau pun sepi dan TIDAK MENYONTEK saat ujian, baik soalnya sulit atau mudah, sudah belajar atau belum. Lampu merah adalah pelajaran penting tentang bagaimana kita sudah tahu aturan dan menaatinya. Tidak menyontek adalah kesadaran bahwa kita punya kemampuan sendiri dan menggunakannya sebagaimana mestinya. Jika itu sudah konsisten, insya Allah yang lain-lain akan segera tumbuh.

Mendidik adalah panggilan jiwa. Itu adalah kewajiban yang melekat kepada setiap insan terdidik dan kaum intelektual. Maka mendidik adalah tugas yang sudah semestinya ditunaikan setiap mereka baik dibayar atau pun tidak, baik susah atau pun senang.

Pertanyaan untuk kita nanti, Guru seperti apakah kita?

Kategori
Misi Perubahan

Bersinergi untuk Kedaulatan Pangan Indonesia

Tadi baru saja menyaksikan diskusi para tokoh nasional dari berbagai kalangan yang ditayangkan live oleh Metro TV. Tampak juga teman-teman dari IPB turut hadir menjadi saksi atas pembicaraan yang krusial itu. Intinya para tokoh tersebut berdiskusi tentang “Menggugat Kedaulatan Pangan”. Meski tidak dapat menyimak semuanya, tetapi setidaknya ada beberapa hal yang bisa kuungkapkan dengan banyak tambahan dari keanehan pemikiranku.

Pangan : Kebutuhan Primer

Bukan hal yang perlu diperdebatkan lagi jika disebutkan masalah pangan sebagai kebutuhan primer. Sejak SD para siswa juga sudah tahu kalo tanpa makanan manusia tidak dapat hidup. Meningkat sedikit waktu SMP, tanpa makanan yang cukup manusia akan mengalami kekurangan gizi. Meningkat lagi waktu SMA, tanpa makanan yang layak manusia akan bermasalah di banyak hal. Namun ketika kuliah, tanpa makanan, semua bisa diatur, mau tetap makan atau dibuat tidak perlu makan layak bangsa Indonesia ini, tergantung dosennya yang mengajar. Apalagi setelah menjadi pejabat, entahlah yang penting diri sendiri makan kenyang meskipun dipinggir jalan banyak orang yang mengais makanan di tempat sampah.

Cukup pedas pengantar di atas, namun itulah kenyataan hari ini. Berbagai keruwetan di ranah politik dan birokrasi pemerintahan membuat bangsa ini sulit untuk makan dengan tenang dan kenyang. Bagaimana tidak, petani makin ditindas karena harga beras mereka dibeli dengan harga yang tidak mengganti kerja keras mereka. Sebenarnya mahal lho harga yang ditawarkan pemerintah, namun bukankah biaya mereka juga tinggi. Alibi pemerintah adalah menyesuaikan harga pasar dunia. Wah, kapitalisme nih.

Salah siapa? Petani, mereka adalah orang yang sebenarnya paling setia mengolah bumi Indonesia. Mengapa tidak didekati dan ditransformasikan untuk menjadi komunitas pengguna teknologi pertanian. Bukankah lembaga-lembaga riset nasional kita sudah menghasilkan bibit-bibit yang unggul hasil karya anak bangsa sendiri? Bukankah tanah kita suburnya tiada tara? Bukankah banyak mahasiswa yang bisa diarahkan untuk proyek sosial kemasyarakatan sekaligus sebagai pembelajaran mereka yang riil untuk bekerja secara tim dan bersinergi dengan masyarakat?  Bukankah tanah kita masih luas?

Ketika Politik dan Kapitalisme Berkata Tidak

Lagi-lagi semua itu patah ketika logika politik dan ambisi mengeruk kekayaan berkata. Para dewan yang duduk di Senayan yang seharusnya membuat kebijakan yang membela petani, lebih memilih untuk menunda-nunda pengesahan undang-undang yang berkaitan dengan ketahanan pangan. APBN untuk kementerian pertanian hanya seper seratus dari total APBN yang notabene indonesia adalah negara agraris dan kelautan. Belum lagi ditambah berbagai penyelewengan dan penyunatan anggaran yang sudah bukan rahasia lagi hari ini. Baik oleh partai yang berkuasa maupun para pelaku dan rekanan.

Tanah yang dulu produktif sebagai lahan pertanian sekarang semakin berkurang lantaran alih fungsi lahan untuk industri dan pemukiman. Akibatnya banyak alasan dimunculkan untuk merusak fungsi hutan, padahal hanya untuk dicuri dan dikeruk kekayaannya. Alih-alih meningkatkan kesejahteraan, masyarakat pun semakin tidak ingin bertani dan memilih menjual tanah pertaniannya demi mengejar profesi lain yang lebih baik. Dan semuanya menjadi semakin kacau. Beginilah ketika kekuatan politik dan kapitalisme menikah dan bertaut mesra. Harmoni dalam merusak dan menghancurkan rakyat yang nenek moyang mereka telah berjuang demi sebuah kemerdekaan.

Dan yang paling berkesan dari sekian kekacuan ini adalah rasa jatuh cinta. Jatuh cinta kepada siapa? Kepada kekuatan asing. Yah, kita lebih suka (lebih tepatnya cinta) impor sekarang. Beras impor, gula impor, kedelai impor bahkan minuman pun akhirnya impor juga. Bukan main prestisnya ketika kita bisa membeli kedelai impor untuk membuat tahu-tempe. Alasannya karena murah, tidak salah jika ini menurut logika bisnis, tetapi salah besar jika ini menjadi logika semua pengusaha tempe di Indonesia, dan semakin dosa besar jika kita semua membiarkan pengusaha tempe terpaksa berkata demikian. Bahkan makin miris adalah trend anak muda sekarang yang hobi ke kafe dan makan-makanan yang serba asing. Tanpa peduli lagi dengan para kaum pribumi yang membuat warung sejak dahulu yang lebih berhak untuk dibayar sebagai kesetiaan mereka menyediakan makanan untuk negeri ini. Asing menjadi favorit sebagaian besar orang Indonesia hari ini? Lupa, terlupa atau memang sudah hilang ingatan. Tidak tahu lah.

Kedaulatan Pangan: Harga Mati

Kata bung Karno, jika suatu negara tidak dapat menegakkan kedaulatan pangannya, maka itu akan berbahaya. Logikanya mudah, setiap bangsa sekarang bersaing untuk menjadi makmur. Tidak jarang mereka berusaha menghancurkan bangsa yang lain, karena sekarang kapitalisme sedang berkuasa. Dan jika bangsa kita masih suka impor dalam makanan, tidakkah kita khawatir bahwa mereka yang berpura-pura baik menjadi penyedia makanan bagi kita tidak melakukan trik untuk merusak bangsa ini agar tunduk menjadi anak buah mereka?

Impor kedelai transgenik, bukankah itu tidak baik untuk dikonsumsi. Bahkan tidak jarang sering muncul isu tentang adanya penyusupan materi genetika pada bahan-bahan makanan yang ditujukan untuk menghancurkan sistem kemanusiaan orang yang mengkonsumsinya, entah membuat mereka bodoh, meningkatkan kecenderungan tabiatnya dan sebagainya. Terlepas benar atau tidak isu itu, tapi tetap berbahaya jika Indonesia masih menjadi penyuka impor dan segala yang berbau asing. Tidak pejabatnya, tidak masyarakatnya kalo hari ini masih hobi yang serba luar negeri, apa lagi untuk gaya-gayaan, wah kaum kapitalis pasti udah senyum-senyum dan siap untuk menyedot kekayaan kita sepuasnya. Mulai dari SDA yang murah bahkan gratis, atau tenaga-tenaga ahli yang mudah disuap lantaran kebanyakan pejabatnya juga mata duitan.

Kedaulatan pangan, itu harga mati untuk Indonesia. Kita masih punya waktu untuk berusaha. Kita bisa mandiri, kita bisa berswasembada untuk pangan dan segala hal yang berkaitan dengan SDA kita asal ada keberanian bersama dan tidak saling mengkhianati satu sama lain. Dan tidak memperkaya diri sendiri.

Bersinergi untuk Membangun Indonesia

Sekarang apa yang masih bisa dilakukan? Sedikit share dari pernyataan para tokoh tadi malam. Pak SBY, tegaslah untuk membuat keputusan dan menginstruksikan kedaulatan pangan. Kalau dalam bahasa bodohku, kerahkan aja angkatan bersenjatanya untuk mengawal inspresnya dari pada mereka nganggur di barak masing-masing. Kementerian pertanian terus bekerja keras dan bersinergi dengan kementerian lainnya. Para peneliti diberi kesempatan untuk menyosialisasikan hasil riset mereka dan dipacu terus untuk mengembangkan riset mereka. Perguruan tinggi mengadakan program yang sinergi untuk memberdayakan masyarakat lewat kurikulum yang integral.

Bela petani, bela para pengusaha lokal yang mengolah produk pertanian. Fasilitasi dan besarkan mereka. Para anggota dewan, ayo buat kebijakan yang berpihak kepada masyarakat petani dan semua sistem yang terkait dengannya. Hidupkan pasar domestik dan lakukan efisiensi produksi dalam industri-industri pangan primer seperti di pabrik-pabrik gula. Dan semuanya tidak perlu saling menyalahkan satu sama lain. Yang ada kita bergerak bersama untuk membuktikan cinta bagi Indonesia, bahu membahu membangun kedaulatan pangan untuk bangsa ini. Semoga bisa.

Kategori
Tokoh

Konsep Ekonomi Spesial untuk Indonesia (Obrolan Santai bareng Pak Baros)

Wuih, bener-bener bulan yang padat agenda. Ga sadar ternyata postinganku bulan ini begitu banyak. Berkali-kali lipat dari tulisanku di bulan-bulan yang lain. Atau sebenarnya aku sekarang sedang bersemangat untuk nulis. Ya nulis apa aj, mulai dari yang tidak penting sampai yang bikin pusing. Whatever lah, yang penting puas.

Kali ini aku mau bercerita tentang hasil silaturahim tokoh oleh tim Bakti Nusa Dompet Dhuafa UNS (termasuk aku dong) ke salah satu dosen Fakultas Ekonomi UNS kemarin sore. Agendanya spesial karena ada buka bersama, lah jelas suka dong aku. Asli mahasiswa nih. Hemm, sejak menunggu beliau datang, kawanku dah ngasih gambaran bahwa orang yang akan datang sore ini nyentrik dan penuh kejutan. Benar saja, seorang laki-laki paruh baya, tapi kayaknya lebih tepat disebut tua, memarkirkan motor Fixionnya di depan warung makan tempat kami menunggu. Dan tahukah, ini warung makan kepunyaannya (sambil berharap nanti bukanya digratisi). Dan inilah cerita selengkapnya. Simak ya!

Dosen Super Idealis

Aku sering sih ketemu beberapa dosen yang dikatakan idealis. Memegang prinsip-prinsip dasar sebagai orang yang dikatakan berilmu. Tapi kali ini, udah aneh, nyentrik dan benar ternyata penuh kejutan. Mulai dari perkenalan aku udah disemprot habis-habisan gara-gara ku kuliah di FKIP. Katanya, pendidikan Indonesia di bawah bayang-bayang konspirasi kekuatan asing, dan aku barangkali kedepan akan jadi calon-calon generasi pendukung yang akan merusak bangsa. Ngeri kan! Aku udah ditantang, padahal baru kenalan aja.

Konon katanya, dosen ini memiliki beberapa program pemberdayaan masyarakat dan udah sekian tahun malang melintang di dunia sosial yang berbasis pemberdayaan ekonomi masyarakat. Sebagai seorang dosen ekonomi lulusan negeri kanguru, ternyata perilaku dan ajarannya justru inkonvensional. Makanya itu menjadi lebih menarik dan penuh dengan kejutan. Mau tahu apa aj? Sabar, satu-satu ya

Barat Vs Timur

Pertama, beliau itu adalah dosen ekonomi yang justru menjauhkan mahasiswanya dari berbagai teori modern. Bayangkan, masak justru beliau menentang habis-habisan berbagai kebijakan pendidikan saat ini. Kata beliau, konsep ijazah dalam pendidikan adalah sistem yang merusak tatanan masyarakat timur. Hemm, mudahnya begini

Sistem kapitalis barat kan membentuk karakter individualisme yang tinggi. Orang barat kalau kerja untuk menghidupi siapa? Dirinya sendiri kan. Jadi mereka berbuat dan belajar karena memang tantangan hidup mengharuskan begitu. Ga usaha, ga kerja, ga dapat uang, akhirnya ga makan dan ga bisa senang-senang, Begitulah kira-kira.

Sedangkan sistem budaya ketimuran kita, khususnya Indonesia aslinya adalah membentuk karakter komunal. Gotong royong dan saling menanggung hidup satu sama lain adalah bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Indonesia. Contoh nyata mari kita lirik masyarakat Badui yang di Banten. Mereka representasi manusia sosial yang masih murni dan ada di negeri ini. Mereka bahkan bisa memberi sedekah bumi kepada pemprov Banten setiap tahun. Padahal mereka menolak menerima berbagai pengaruh modernisasi dan bantuan aneh-aneh dari pemerintah. Ternyata bersama alam mereka hidup begitu damai. Sederhana dan saling memberi.

Nah, kekacauan yang sesungguhnya adalah perkawinan dua sistem tersebut terlebih yang mempraktekan adalah orang-orang kita yang baru saja mengalami derita panjang akibat penjajahan. Apa hasil perkawinannya? Itulah yang sekarang dinamakan sebagai sistem carut marut. Menurut beliau, dua kata dari barat yang dikawinkan dengan tradisi kita sehingga jauh lebih merusak dari kapitalis barat, yaitu akumulasi dan kepemilikan.

Akumulasi adalah tambahan secara berkala atas suatu jumlah pokok, misalnya laba atas modal atau cadangan, bunga atas simpanan atau utang pokok (accumulation) akun rekening (account) (http://bisnis.deskripsi.com/akumulasi). Sedangkan kepemilikan diartikan sebagai tindakan memiliki dan mengendalikan property atau yang lainnya.

Nah, analisisnya begini. Karena sistem lokal kita yang sosialis dan komunal, ketika dikotori oleh dua istilah diatas maka hasilnya adalah lahirnya manusia-manusia serakah. Bagaimana tidak? Ketika dia berkuasa, maka dia akan meraih akumulasi dan kepemilikan sebanyak-banyaknya dengan dalih sosialmya untuk dibagi-bagikan kepada orang yang terdekat atau yang punya relasi dengannya, atau bahkan untuk rakyat yang membutuhkan. Rakyat yang mana? Logis memang, tapi ini ternyata memang benar-benar mengerikan. Formula barat yang kapitalis ini ketika diujicobakan pada bangsa Indonesia yang baru saja sembuh dari sakit kesengsaraan justru menimbulkan keberingasan dan keserakahan yang hebat. Maka tak heran bagaimana rakusnya para pejabat dan “wakil rakyat” dalam mengambil apa pun yang ada di negara ini untuk diakumulasi dan dimiliki sendiri. Ini lebih berbahaya dari ajaran asli kapitalisme itu sendiri. Subhanallah! Alangkah rusaknya.

Dan celakanya, sistem pengawinan dua sistem ekonomi itu dibentuk di sistem pendidikan kita. Sadar atau tidak, saat ini keberadaan ijazah itu telah membuat kacau pemahaman orang tua dan siswa itu sendiri. Jika kita telah berijazah SMA atau sarjana, masih maukah kita mencangkul ke sawah, masih maukah kita jualan angkringan, masih maukah kita jadi tukang sapu? Kebanyakan akan menjawab tidak. Apalagi orang tua yang telah menyekolahkan anaknya mahal-mahal. Tahu anaknya sarjana ternyata hanya kerja sebagai penjual angkringan tentu mereka akan malu dan marah-marah. Begitupun yang akan jadi calon mertua pasti segera menolak mentah-mentah. Itulah.

Pertanyaannya, apakah pekerjaan-pekerjaan itu hina? Jawabannya tentu tidak. Tapi inilah sistem pendidikan kita yang ada saat ini yang mampu membuat pola pikir orang berubah drastic tentang definisi hidup dan mencari kehidupan. Bukankah semakin banyak sarjana berarti angka pengangguran akan meningkat. Akibatnya orang-orang asing dengan mudahnya mempekerjakan para pemuda kita yang terlanjur malu kerja sebagai petani. Alhasil, perusahaan-perusahaan asing di Indonesia panen pekerja bagus dan murah. Bagus, karena memang SDM Indonesia itu sebenarnya bagus-bagus. Murah, karena semahal apa pun menggaji karyawan, masih tetap lebih mahal membentuk mereka jadi seperti itu. Nah logika yang cerdas, lebih baik memakai dengan ongkos sedikit mahal dari pada membuat. Sayangnya kita hanya kebagian konsep itu dalam ilmu konsumsi.

Lokalisasi vs Internasionalisasi

Sebagai seorang dosen yang sangat idealis. Beliau kemudian bertekad mengajak siapapun yang mau untuk melawan sistem barat yang parah itu. Jika sekarang pemerintah sedang menggalakkan ISO, R-SBI, dan berbagai branding internasionalisasi, beliau justru menggalakkan “lokalisasi”, maksudnya bagaimana revitalisasi segala hal yang berbau lokal untuk mengganti sistem yang ada. Yah ini adalah peperangan idealisme yang sesungguhya. Menuntut komitmen dari pengusungnya. Maka tantangan yang terberat adalah bagaimana kita bisa menciptakan sistem sendiri yang tidak lagi mengekor pada sistem asing. Kita harus mampu menghidupkan kembali sistem lokal. Bagaimana membangun ekonomi riil masyarakat sebagai kekuatan ekonomi bangsa.

Tantanganya tidak hanya disektor ekonomi. Ternyata sistem politik kita pun justru mengalami ketidakjelasan. Sistem demokrasi yang digadang-gadang menjadi solusi justru sekarang semakin merusak, karena jiwanya diisi dengan hasil perkawinan sistem ekonomi kapitalis dan sosialis yang telah berpadu harmoni tadi. Hingga akhirnya, hanya ada satu kesimpulan yang beliau katakana dengan lantang

“Bangsa ini butuh orang-orang yang mau berkorban”

Ya, pengorbanan. Hanya itu yang akan mampu menjebol paradigma akumulasi dan kepemilikan tadi. Saat kita memiliki kepuasan untuk segera mencukupkan diri dari materi dan banyak memberi maka saat itulah sebenarnya kita merealisasikan arti pengorbanan.

Teladan dalam Berkorban

Dan sudah pasti kita punya seorang panutan yang super dalam hal keteladanan. Dialah uswah hasanah kita, Rasulullah Muhammad shallallhu alayhi wa sallam. Bagaimana hidup beliau yang benar-benar menjadi teladan untuk mengajarkan umat Islam bagaimana hidup layaknya seperti burung yang terbang di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang. Alangkah luar biasanya.

Beliau adalah orang yang berhak atas seperlima harta rampasan perang, tapi apakah rumah beliau kemudian mewah. Bahkan jika beliau masih memegang emas di tangan, tentu orang yang meminta akan segera beliau beri. Kepemilikankah itu? Aku rasa tidak. Apalagi sebuah akumulasi. Beliau yakin jika esok hari bekerja, maka rezeki Allah akan datang lagi.

Kiranya ini penting untuk menjadi perenungan kita sebagai umat Islam agar tidak terjebak dengan berbagai modernisasi yang ada. Pak Baros, beliau bukan ulama ahli fiqh, tapi dari penjelasannya nyata sekali bagaimana gagasan beliau jauh lebih berpihak kepada rakyat kecil. Bukankah itu juga yang diteladankan oleh para nabi dan rasul. Lalu kita (atau lebih tepatnya aku) yang masih jadi mahasiswa, apakah kita sudah malu untuk sekedar mencangkul di ladang atau bertanam padi di sawah. Atau kita terobsesi kerja di kota dengan fasilitas mewah, dan kita terlena bahwa barangkali di bawah tanah kelahiran kita masih ada timbunan emas yang tersimpan. Maukah emas itu diambil cuma-cuma melalui sebuah transaksi yang terlalu murah.

Dan yang pasti, mari lakukan apa yang riil dapat kita lakukan. Usahlah berdiskusi dan rapat melulu. Boleh-boleh saja, tapi jika bisa segera bertindak, mengapa masih betah di ruang-ruang ga jelas seperti itu. Semoga dengan kesadaran bersama ini akan melahirkan sebuah sistem baru ekonomi Indonesia yang asli.