Beberapa waktu lalu, teman-teman Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNS memintaku untuk berbagi inspirasi kepada adik-adik angkatan muda mereka yang sedang menjalani pembinaan di Sekolah Penerus Bangsa. Materinya cukup berat, layaknya seorang pakar aku diminta bercerita tentang problematika bangsa dan solusinya. Waduh, berat nih, tapi cobalah tetap maju. Bismillah.

Berhari-hari aku mencari inspirasi untuk materi yang paling tepat bagi adik-adik. Sampai akhirnya pagi tadi aku baru mendapatkan sebuah inspirasi. Yah, dengan lagu. Lagunya Iwan Fals. Bukan karena aku terikat kontrak dengan beliau untuk mempromosikan lagu-lagunya lagi yang pernah ngetop di tahun 1990-an itu. Tapi bagiku mayoritas lagunya di masa itu adalah potret yang kasat mata. Dan realita itu terulang lagi di masa yang katanya masa perbaikan bangsa.

Akar Masalah

Apa pun itu, bagiku problematika bangsa hari ini sesungguhnya tetap sama dan akarnya pun itu-itu saja. Sebesar apa pun upaya pemerintah dalam membasminya akan sia-sia saja karena akarnya tak pernah dicabut. Akarnya jelas terlihat mata, namun barangkali hingga kini kita belum ada keinginan untuk mencabutnya. Satu saja memicingkan mata untuk mencabutnya, buru ditendang atau dikubur dalam-dalam dari jagad kekuasaan.

Apa itu? Itulah kapitalisme. Ia kembali eksis di negeri ini dengan sedikit corak feodalisme. Kultur masyarakat kita yang merasa sungkan dan sering memilih menjadi penjilat adalah modal untuk menyuburkan praktek feodalisme yang efektif untuk menghabisi siapa pun yang berjuang untuk menegakkan keadilan.

Wah ngeri banget ya! Yah, ngeri tapi hampir hal itu tidak dapat dimengerti oleh masyarakat kita yang terlanjur berada dalam lingkaran uang, kemewahan, dan tentunya penyakit lupa. Lupa dengan karunia negeri terindah dari semua negeri yang ada di dunia. Yang tidak pernah dingin seperti dinginnya musim dingin di Eropa. Yang tidak pernah sepanas gurun yang gersang. Atau yang membunuh rakyatnya dengan kelaparan, karena setiap jengkal tanah kita hampir-hampir menyediakan makanan.

Adapun tentang kapitalisme, ah itu sangat jelas terlihat. Asal kita tidak terlalu percaya saja dengan berbagai buku teks yang mendoktrin seputar kapitalisme, baik yang ada di pelajaran ekonomi ketika sekolah atau diktat-diktat di kampus. Kita akan masih tetap sadar bagaimana sistem itu seperti gurita yang membuat sebuah negara kaya bisa miskin seketika karena sebuah hukum rimba yang lebih kejam dari hukum rimba yang sesungguhnya.

Negeri kita terlalu kaya, bahkan paling kaya di dunia ini. Coba kita pikirkan, apa yang tidak menghasilkan uang dari negeri ktia? Mulai dari tanah, lautan, mineral, dan keindahan panorama alam, hingga potensi penduduk yang ada di sana. Semua adalah sumber daya yang besar. Bahkan bisa jadi hanya Indonesia-lah yang memiliki sumber daya tak terbatas paling besar di bandingkan dengan negara-negara lainnya. Maka wajar jika negeri ini tetap diincar para kaum kapitalis.

bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.