Lalu bagaimana dengan negara berkembang, termasuk negeri kita tercinta Indonesia? Mari kita lihat bagaimana prakter korupsi begitu subur saat ini. Fakta bahwa para pengusaha berada dibalik suksesnya para anggota parlemen atau pejabat tentu bukan rahasia lagi bukan. Apa itu? Kerakusan, ketamakan dan tentu saja efek sebuah kapitalisme juga kan. Menurut salah satu dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS yang beraliran sosialis, beliau mendefinisikan sebab kapitalisme karena adanya kerakusan untuk menumpuk akumulasi modal dan menguasi berbagai kepemilikan sumber daya alam dan properti lainnya.

Maka tidak perlu heran jika masyarakat adalah korban pertama yang pasti akan menjadi garda terdepan penderitaan ini. Teori bahwa negara yang makmur adalah yang memiliki pengusaha minimal 4 % dari penduduknya itu jelas tidak berlaku di Indonesia. Wong belum ada 1 % saja sudah rusak parah seperti ini. Mengapa? Karena bangsa ini menelan mentah-mentah konsep bisnis kapitalisme Eropa. Tokoh yang mematahkan teori ini adalah pendiri Dompet Dhuafa, Erie Sudewo, dalam bukunya Best Practice Character Building, Menuju Indonesia Lebih Baik. Semakin kaya pengusaha di negeri ini itu tandanya aka nada sekian rakyat yang sangat menderita.

Logikanya sekilas rumit, tetapi sebenarnya mudah jika dilihat dari struktur masyarakat bekas penjajahan yang masih labil kebangsaannya ini. Pengusaha tulen itu orientasinya profit, maka hal itu mensyaratkan adanya kerakusan. Kerakusan itu salah satunya menghalalkan segala cara untuk mempengaruhi regulasi pemerintah. Itu artinya pengusaha harus berkolaborasi dengan politisi. Dan sudah pasti yang mau berkongsi bukan politisi baik bukan, pasti juga yang rakus dan berjiwa kapitalis. Jika kebijakannya sudah banyak yang dipesan maka berapa porsi untuk kebijakan asli yang berpihak kepada rakyat? Nah loh, silahkan dipertimbangkan sendiri.

Satu aja kasus yang baru terjadi kemarin dekat kosku di Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq. Tepat di samping masjid ada pembangunan kos-kosan. Di sini siapa yang punya tanah akan membangun bisnis ini sebagai income pasif yang sangat menjanjikan. Tapi lihatlah betapa rakusnya sang pemilik proyek ini. Lazimnya proyek adalah menggunakan anggaran untuk biaya air dan listrik bukan. Tapi karena sampingnya adalah masjid maka mereka langsung serobot mengambil dua fasilitas itu seenaknya saja.

Dalam sehari itu mereka mengalirkan air tanpa izin dan mengambil listrik dengan cara menginjeksi lampu jalan untuk disambung kabel ke stop kontak mereka. Alhasil sehari itu, mesin jetpam masjid mendadak mati dan listriknya terlalu terbebani sehingga tombol ON/OFF nya mati otomatis karena digunakan untuk menghidupkan jetpam yang lebih besar. Luar biasa bukan. Kami yang mengetahui hal itu, langsung melaporkan ke ketua takmir. Segeralah kasus itu diusut. Diketahui juga bahwa ternyata ada oknum yang bermain bahwa soal perizinan penggunaan fasilitas masjid dijanjikan oleh tokoh masyarakat yang tidak pernah ke masjid. Wow, ini lebih hot dari kapitalisme Eropa bukan. Coba jika kasus sejenis ini berkembang di banyak tempat. Kata bang Haji, sungguh TERLALU

Masih ingin koar-koar teriak soal kapitalisme? Mari kita cabuti dulu jamur-jamur kapitalisme yang mencengkeram diri dan sekitar kita. Karena penyakit yang menyentuh badan yang tidak sehat itu jauh lebih berbahaya ketimbang tubuh yang sehat. Bangsa ini baru sembuh dari penjajahan, merana dan menderita. Jika tidak ada pengendalian diri, siapa pun akan mengejar kekayaan itu dengan cara tercepat. Maka solusi terbaik adalah berjamaah, membangun semacam “kapitalisme kolektif“ yang didasari oleh syariat Islam. Kita harus bangkit menjadi bangsa mandiri karena sudah dianugerahi sumber daya alam yang sangat melimpah. Kita perlu merebutnya kembali, karena itu milik kita. Itu milik kita. Sekali lagi, itu milik kita. Mari hentikan berteori dan berlomba menyatakan diri siapa yang benar agar waktu kita lebih tercurah untuk bekerja mewujudkan kemenangan itu.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.