Catatan tambahan atas yang terlewat

Berbicara tentang pendidikan hari ini sepertinya terlalu berwacana dan beretorika saja. Hari ini kita harus berlapang dada melihat kenyataan bahwa madrasah baru masyarakat Indonesia adalah media massa, baik itu televisi, radio, koran, dan portal online. Semua telah berhasil mengajarkan pendidikan ala mereka kepada masyarakat Indonesia yang lagi keranjingan perangkat teknologi dari smartphone sampai smartcomp.

Hari ini pula, kita menyaksikan bagaimana masyarakat dikuasai oleh definisi media. Istilah-istilah terus muncul dalam perspektif media dan semua menjadi tertanam kuat di masyarakat melebihi kekuatan kamus bahasa Indonesia yang menangis di tengah kesendiriannya di perpustakaan atau pun balai bahasa yang terus berjuang dan berbuat meskipun tidak lagi di pedulikan oleh orang-orang yang ngakunya pewaris bahasa Indonesia.

Istilah-istilah publik hari ini adalah milik media massa, buku dan kepentingan kapitalisme. Siswa sekolah untuk menghafal buku, pemahaman mereka dikuasai buku, bukan siswa menguasai isi buku. Mahasiswa sibuk dalam definisi-definisi menurut tokoh-tokoh barat kapitalis, terlebih jika berbicara masalah ekonomi, politik dan sosial, karena asumsi kuat yang tertanam pada mereka bahwa peradaban barat lebih maju dan modern maka penting untuk berguru pada para cendikiawan mereka. Oke, berguru penting, tetapi sayangnya hari ini cara berguru kita menggunakan gaya orang timur dan bergurunya pada orang barat. Yang adil, bergurulah kepada orang barat dengan cara orang barat.

Apa bedanya, orang timur menggunakan hikmah dalam mendidik, dan murid-muridnya sangat hormat kepada para gurunya. Garansinya adalah para gurunya memang betul-betul memegang etika tertinggi seorang guru, karena dia adalah ilmuwan sekaligus tokoh spiritual. Tapi hal itu berbeda dengan pola pendidikan barat yang mengajarkan sekulerisme, dimana ilmu itu berpisah dengan agama (gereja). Orang belajar di sana bisa bebas berargumentasi dan mendebat sang guru tanpa etika yang memadai. Asal rasional semua sama-sama ngerti. Berbeda, tapi kacaunya hari ini dua hal itu justru dikawinkan untuk mengkaji semua hal.

Bisa Anda bayangkan bagaimana siswa hari ini menjadi kurang ajar kepada para gurunya, karena mereka kehilangan adab mereka sebagai orang timur. Kita temukan pula seorang yang begitu bebasnya berekspresi atas nama kemerdekaan di tengah pusaran budaya timur yang luhur. Dan paling parah kita lihat mental-mental inlader yang minder dengan jati dirinya sendiri dan cenderung kebarat-baratan dengan segala kemewahan dan kejeniusan yang dipaksakan.

Mari kita bertanya pada diri kita? Apakah hari ini definisi dikepala kita telah kacau? Apakah kita tidak bisa lagi kritis terhadap dominasi media dan kapitalisme global yang telah membuat masyarakat homogen dalam definisi mereka hingga akhirnya lama-lama kita tercerabut dari akar budaya ketimuran kita. Dan kita (yang saat ini tengah kuliah di kampus pendidikan) jangan-jangan menjadi bagian orang yang pikirannya telah terjajah dengan definisi ala barat itu.

Ketika kita mengajar ilmu, kita menggunakan pendekatan sekuler. Ketika kita berinteraksi dengan siswa, kita mengabaikan pengajaran adab dan akhlak (lantaran kita juga mulai kehilangan jati diri dan kewibawaan seorang guru). Ketika kita berbagi, kita lupa berkisah tentang sejarah dan kejayaan bangsa kita. Ketika kita mengevaluasi, kita lupa bahwa nilai adalah doa dan harapan kita untuk mereka, bukan kalkulasi untung rugi yang membuat siswa memilih berspekulasi melakukan serangkaian kejahatan besar (menyontek, kerja sama, dan berbuat curang lainnya).

Cukuplah kita banyak beristighfar melihat pendidikan di negeri ini yang sudah jauh dari apa yang ditanamkan Ki Hajar Dewantara tentangnya indahnya budi pekerti. Pendidikan kita juga telah menjauhkan dari cinta tanah air yang sesungguhnya untuk membela kekayaan alam kita yang dicuri seperti pesan Presiden Soekarno. Pendidikan kita juga telah membuat kita lupa untuk bekerja sama dan sukses bersama seperti pesan Bung Hatta dalam ekonomi kerakyatannya, karena kita sekarang diajari berpikir bagaimana sejahtera dengan ukuran materi dan gaya hidup yang mewah.

Pendidikan tinggi hari ini menjadi pertaruhan terakhir. Kita yang dapat kesempatan kuliah dengan sandangan gelar paling lebay di dunia, MAHASISWA ditantang apakah masih menjadi orang yang terpenjara dalam definisi dan menjadi bulan-bulanan kepentingan politik yang semakin tidak bermutu hari ini. Jika memang masih, sudahlah mari kita kubur dulu tulisan bahwa pemuda adalah agent of change, kita ganti dengan pemuda AGENT OF AWARE. Sadar diri dengan kelemahan kita dan kita bereskan pemahaman kita yang memang masih labil dan kurang asupan ilmu lantaran malasnya kita mengambil ilmu dari guru-guru kita yang idealis dan istiqomah. Kini mereka telah banyak yang wafat.

Akhirnya, tidak usahlah kita bicara ruwet-ruwet dalam analisis mengenai problematika bangsa kita, apalagi referensinya media massa yang sudah bukan rahasia umum lagi bahwa berita adalah uang. Dan berita yang buruk adalah trending topik terbaik yang menjadi perhatian publik. Mari kita lakukan dua hal ini secara konsisten, BERHENTI SAAT LAMPU MERAH jam berapa pun itu, ramai atau pun sepi dan TIDAK MENYONTEK saat ujian, baik soalnya sulit atau mudah, sudah belajar atau belum. Lampu merah adalah pelajaran penting tentang bagaimana kita sudah tahu aturan dan menaatinya. Tidak menyontek adalah kesadaran bahwa kita punya kemampuan sendiri dan menggunakannya sebagaimana mestinya. Jika itu sudah konsisten, insya Allah yang lain-lain akan segera tumbuh.

Mendidik adalah panggilan jiwa. Itu adalah kewajiban yang melekat kepada setiap insan terdidik dan kaum intelektual. Maka mendidik adalah tugas yang sudah semestinya ditunaikan setiap mereka baik dibayar atau pun tidak, baik susah atau pun senang.

Pertanyaan untuk kita nanti, Guru seperti apakah kita?

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.