Kategori
Kilas Sejarah

Indonesia dalam Benakku #3

Negeri Sesempit Media Massa

Berikutnya adalah dengan menjamurnya berbagai media massa. Kita hitung berapa banyak stasiun televisi yang ada sekarang baik dalam skala lokal dan nasional. Belum lagi surat kabar. Ditambah lagi dengan berbagai media online. Hari ini tiap saat kita dijejali informasi mulai dari yang penting hingga yang sangat tidak penting bahkan yang sampah sekalipun juga terkadang berhasil terakses di telinga dan mata kita. Terkadang membuat kita akhirnya terpengaruh juga dan terkadang juga percaya pada isinya tanpa klarifikasi lagi.

Pertanyaannya, apakah media-media itu sekarang benar-benar independen dan adil dalam memberitakan? Aku lebih percaya kata-kata Mathew Farel dalam film Die Hard IV yang mengatakan hampir semua media-media pulik itu sekarang sulit dipercaya karena semua telah dibajak untuk kepentingan. Yah, di negeri ini media tidak lagi idealis seperti dulu ketika mereka sepakat menentang kezaliman penguasa. Sekarang media adalah ladang bisnis yang mendukung demokrasi pencitraan. Siapa yang memiliki media, maka media itu akan menjadi jalan kampanye paling singkat dan murah di antara kampanye model yang lain untuk kebutuhan meraup simpati dan dukungan dalam waktu yang relatif singkat.

Hari ini, pemberitaan baik sulit sekali dijumpai di negeri ini. Di televisi, koran, dan media berita online hanya memberitakan seputar korupsi, anarkisme, tawuran, dan tindakan-tindakan amoral lainnya. Hari ini mereka seolah-olah bersatu untuk menakut-nakuti bangsa ini dengan sebuah kondisi yang teramat parah dan rusak. Generasi muda hanya dicekoki dengan sinetron-sinetron murahan dan roman picisan serta tayangan musik yang tidak ada habisnya. Masyarakat semakin jauh dari membaca buku dan berdiskusi dengan alam karena SMS dan chatting telah membelenggu hari-hari mereka untuk banyak berpikir dan bersyukur kepada Allah atas anugerah negeri yang teramat indah dengan kekayaan yang melimpah ruah.

Masyarakat dengan mudah dibalik opininya lewat strategi pemberitaan media yang intensif dan disajikan secara cantik memikat. Berbagai operasi intelejen dijalankan untuk merekayasa segala hal di negeri ini. Sebuah operasi mengerikan yang tidak akan pernah bisa terlacak antara ujung pangkalnya sehingga berbagai kekacauan yang telah didesain ini dapat berjalan seperti keinginan sang perancang tanpa ketemu benang merahnya. Semua terus berjalan hingga banyak korban berjatuhan atas nama politik yang diselubungkan dalam berbagai tuduhan mulai dari korupsi hingga tindakan lain yang membuat masyarakat luas marah akibat opini yang telah dibangun sebelumnya oleh media. Hari ini rasanya hampir mustahil mempercayai media sebagai dasar hukum untuk mengambil sebuah keputusan dan kebijakan. Hari ini itu semua terasa sekali menjadi sebuah omong kosong. Omong kosong yang membuat bangsa ini kacau dan terus mengalami kemunduran.

Jadilah negeri ini sesempit media. Negeri yang seakan-akan hanya berisi kerusakan. Padahal di luar sana kita masih melihat harapan berupa bentangan kekayaan alam yang hari ini harus kita selamatkan sebelum terus dicuri oleh orang-orang asing lewat para pengkhianat bangsa ini. Kita juga masih bisa melihat semangat anak-anak sekolah di pelosok-pelosok desa. Mereka ceria dan terus menerus berjalan tiap pagi menyusuri bukit dengan seragam merah putih. Masih ada mereka, bangsa ini masih punya harapan.

Aku sangat terharu ketika pernah mengikuti kuliah umumnya pak Anies Baswedan. Beliau berbicara tentang Indonesia Mengajar sebagai sebuah gerakan yang tidak akan dibesarkan seperti ormas. Biarlah tetap konsisten untuk mencetak para guru yang mendapatkan kehormatan bangsa untuk menunaikan janji kemerdekaan menebarkan inspirasi ke pelosok-pelosok negeri. Beliau berharap Indonesia Mengajar menginspirasi siapa pun untuk bangkit menunaikan salah satu janji kemerdekaan, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Baik bergabung secara resmi menjadi pengajar muda dan penyala Indonesia, atau membuat gerakan sendiri yang memiliki prinsip yang sama. Tidak masalah, semua berhak untuk mengambil pahala sebesar-besarnya dari Allah.

Mari kita jadikan kicauan-kicauan media itu sebagai kerikil-kerikil kecil hidup dan lebih banyak membangun kepercayaan dengan sesama saudara kita yang masih memiliki komitmen kejujuran untuk selalu siap berjuang dan memandang Indonesia ini dengan optimisme. Yang tidak hanya berpikir bagaimana hidup untuk dirinya sendiri tetapi terus berbagi dengan segala yang dimiliki. Mari kita hiasi telinga kita dengan berbagai optimisme. Dengan ayat-ayat Quran yang kita pahami maknanya, dengan senandung-senandung yang penuh makna dan optimisme, dengan kata-kata mutiara yang menyejukkan.

Indonesia ini luas, mari kita katakan pada Allah, “Ya Allah, izinkan hamba-Mu ini melihat negeri yang luas ini, izinka hamba ya Rabb untuk melihat indahnya negeri yang kau ciptakan seakan potongan tanah syurga ini“. Dan di sinilah aku menemukan benang merah mengapa Habibie begitu bersemangat membangun industri strategis pesawat di tanah air. Bangsa ini harus mengerti wawasan nusantara dengan mata kepala mereka sendiri, bukan hanya dari mulut para gurunya yang mengajar kewarganegaraan. Sudah bukan zamannya lagi di era yang modern ini. Mungkin lewat online saja sebenarnya bisa, tetapi ketika kita menatap langsung dan menjejakkan kaki di seluruh penjuru tanah air, maka kita akan tahu bahwa kita masih punya kekayaan yang tak ternilai harganya. Tanah air ini masih bisa menghidupi untuk seribu tahun lagi.

bersambung..

Kategori
Misi Perubahan

Reborn from the Darkness

Bangkitlah negeriku harapan itu masih ada

Berjuanglah bangsaku jalan itu masih terbentang … Shoutul Harakah

 

Hehe, lagu di awal bukan untuk mengajak pembaca ke tempat yang penuh banyak kerumunan orang, tetapi mengajak pembaca untuk bersemangat sebagaimana senangnya diriku waktu menulis tulisan ini. Ceritanya kemarin pagi salah satu adikku di kelompok studi riset dan teknologi SIM menautkan sebuah berita bagus di dinding grup FB. What? Silahkan baca saja ini http://jakartagreater.com/2012/08/pak-habibie-i-love-you-full/

Itulah yang membuatku sangat gembira dan berdoa kepada Allah semoga Dia menakdirkan usia Pak Habibie masih lama hingga akhirnya mimpi itu dapat terwujud kembali setelah tragedi yang menyakitkan belasan tahun silam terjadi. Bagi para sainstis dan insinyur, penutupan berbagai industri strategis secara beruntun pasca reformasi itu adalah hal yang sangat menyakitkan karena ibarat itu memutus ruang ekspresi mereka untuk mencintai tanah air.

Aku salut membaca berita itu terutama pada bagian

Ketika proyek pesawat N250 dihentikan oleh pemerintah, para insinyur IPTN berpencar ke seluruh dunia, termasuk bekerja di Boeing, Airbus, Embrair, CASA, Iran, dan lain sebagainya. Anggap saja para insinyur itu sedang beasiswa atau sekolah dibiayai pihak asing. Kini dengan ilmu tambahan yang diperoleh, Habibie mengajak mereka pulang kampung, untuk membangun industri dirgantara Indonesia yang membanggakan.

Habibie bosan berkarya dengan mengusung bendera negara lain. Tidak kurang 63 hak paten di bidang Aeronotika telah dibuat Habibie. Dia berharap para ahli penerbangan Indonesia lainnya, punya semangat yang sama, membuat pesawat dengan bendera merah-putih.

Itu artinya mereka adalah orang-orang yang tak kalah setianya untuk mencintai negeri ini. Jika ingat dengan buku The True Life of Habibie, kemudian menonton film Habibie dan Ainun, hingga menerawang lagi ingatan sewaktu berkunjung ke Aachen akhir tahun 2012 kemarin dan sempat bertemu dengan beberapa orang Indonesia yang ada di sana, serta pengalamanku menyanyikan lagu Tanah Airku Tidak Kulupakan waktu diperjalanan bersama Prof. Tausch di kota Wuppertal, lengkaplah sudah bagiku untuk menarik sedikit kesimpulan bahwa tidak semua orang ingin tinggal di luar negeri itu lantaran mencari kehidupan yang layak saja, tetapi sejatinya mereka menangis di sana karena kerinduan dan keinginan mereka yang besar untuk mengabdikan diri di tanah air. Hanya saja orang-orang pribumilah yang terkadang sering berpersepsi negatif dengan berbagai tuduhan-tuduhan yang seringnya lebih dilandasi karena iri dan dengki.

Kawan ada dua hal penting yang ingin kubagi, dirgantara dan mancanegara. Bagi yang pernah merasakan naik pesawat, maka di sanalah kita akan merasakan bagaimana tawakal itu satu-satunya pilihan. Tidak ada yang lain. Maka hakikatnya meraih teknologi dirgantara itu tidak semata-mata untuk meraih ambisi kecanggihan teknologi, tetapi sebenarnya akan membuat bangsa ini belajar untuk tidak korupsi apalagi melakukan manipulasi dalam aktivitas hidup. Bagaimana ceritanya kalau material pesawat bahan-bahannya dikorupsi? Rempong kan. Yang kedua, menjejakkan kaki di manca negara itu akan membuat kita bersiap diri untuk belajar banyak tentang negeri ini setiap waktu. Karena di luar sana orang akan banyak bertanya tentang Indonesia yang indah ini. Kalau kita tidak banyak mengerti tentang sisi-sisi baiknya negara ini (meskipun kita juga masih merasakan carut-marutnya negeri ini), kita akan kelihatan seperti orang bego’ yang memalukan sekaligus mempermalukan bangsa Indonesia.

Maka bermimpilah untuk dua hal itu bagi yang sampai sekarang belum pernah mengalaminya. Bagi yang berpunya dan telah menjadikannya hal biasa, renungilah kembali arti dari semua pencapaian itu. Karena setiap kesombongan itu akan membuat kita semakin hina. Kalau pun tidak hina di dunia, maka pasti akan Allah hinakan di akhirat nanti. Mari berdoa untuk kebaikan dan kemajuan Indonesia. Indonesia bangkit, reborn from the darkness!

Kategori
Cinta Resensi Film

Habibie dan Ainun, Menumpahkan Air Mataku untuk Kesekian Kalinya

Menangis itu wajar kok. Bahkan untuk seorang cowok seperti aku, yang penting tidak sampai mengalirkan air mata (#loh kok bisa). Apalagi kalo aku sampai melihat seorang wanita menangis dihadapanku. Apalagi kalo si wanita itu menangis karena ulahku.

Tapi hari ini, aku tak bisa membendung air mata ketika melihat pesawat N250 lepas landas dalam film Habibie dan Ainun yang kutonton bersama puluhan orang termasuk si Ranger Biru di Solo Grand Mall. Aku menangis lagi untuk kesekian kalinya melihat pesawat kebanggaan Indonesia itu harus terbang dalam film kenangan yang membuat hati ini terus sakit ketika mengingat bangkainya yang kini terkubur hidup-hidup dalam hanggar. Ada jutaan harapan di sana, ada tangis para ilmuwan terbaik negeri ini yang telah berjuang bertahun-tahun untuk mempersembahkan hadiah menjelang ulang tahun kemerdekaan RI ke-50.

Sejatinya film ini hanyalah sebuah film. Tetapi karena ini berangkat dari kisah nyata, maka aku sangat tertarik untuk menonton langsung di bioskop. Dan inilah kali pertamaku mengeluarkan kocek cukup besar demi sebuah kursi di ruangan gelap dan layar besar ini. Yah, biasanya melihat bajakannya lewat layar laptop rasanya sudah sangat puas. Dan memang benar, film ini sangat amazing bagiku, bahkan efeknya masih terasa hingga saat aku menulis ini.

Aku sebenarnya belum membaca buku Habibie dan Ainun, tetapi aku telah menamatkan The True Life of Habibie yang lebih tebal dan lebih komprehensif. Dari buku itu makanya sedikit banyak alur film itu kupahami. Selain itu, karena sebulan yang lalu aku juga sudah menjejakkan kaki di Aachen, sehingga lengkaplah efek film itu menghujam dalam di dadaku hingga tangisku keluar saat sesi paling amazing itu terjadi. Untung saja ruangannya gelap dan orang-orang juga sibuk dengan tangis mereka ataupun urusan mereka sendiri.

Film ini adalah pengingat untuk kita kesekian kalinya agar Indonesia kita hari ini segera diselamatkan dari ketergantungan. Stok SDA kita yang masih melimpah harus segera diselamatkan dalam sebuah budaya baru pembangunan bangsa yang bernama “kemandirian”. Kemandirian memiliki konsekuensi kesederhanaan hidup dan kerja keras. Kata bung Karno, biarlah kekayaan kita itu tersimpan pada tempatnya sampai putra-putra terbaik bangsa ini dapat mengolahnya sendiri. Itu artinya mengawali masa kemandirian bangsa itu harus prihatin dahulu dengan belajar keras dan mengembara mencari ilmu sebanyak-banyaknya untuk kemudian kita wujudkan mimpi pembangunan dari dan untuk bangsa Indonesia ini.

Aku ingat sekali setahun yang lalu waktu berkesempatan menyamar menjadi mahasiswa fakultas Geografi UGM sehingga berhasil mengikuti Presidential Lecture oleh Prof. Dr. Ing. B. J. Habibie di Grha Sabha Pramana, beliau menunjukkan kehebatan Indonesia di tahun 1995, sebuah realita yang membangkitkan rasa optimisme bangsa, karena tahun itu sebenarnya kita sudah memiliki teknologi yang sangat canggih dan mencengangkan dengan SDM pilihan yang telah berdatangan ke tanah air karena kecintaan mereka kepada bangsanya, dan sebenarnya akan segera menyusul pula gelombang SDM lainnya yang waktu itu telah belajar di negeri orang.

Di situ aku melihat dengan kualitas video yang lebih bagus dan lebih jelas dari yang di film tadi, tentang kecanggihan IPTN dan berbagai pabrik industri strategis yang telah dimiliki Indonesia yang siap untuk memproduksi pesawat terbang, kapal laut dan kereta api. Alangkah luar biasanya ketika itu berlanjut hingga hari ini, karena pasti kita memiliki alat transportasi buatan anak bangsa sendiri. Dan ini sudah 15 tahun dari peluncuran N250 yang menandai era kebangkitan Indonesia menuju negara maju, maka dalam hitungan Pak Habibie, hari ini bangsa Indonesia sudah panen kemajuan itu karena kemandirian bangsa semakin kokoh dengan jaringan antar pulau terhubung dengan kokoh dan kebanggaan anak bangsa atas karya sendiri.

Maka aku menangis tak terbendung ketika melihat N250 lepas landas lagi. Itu adalah kenangan terindah yang pernah dimiliki bangsa ini. Karya tercanggih yang pernah ada waktu itu dari seorang putra terbaik bangsa yang hari ini dihormati dunia (kecuali bangsa ini yang kebanyakan telah lupa siapa beliau). Aku masih ingat bagaimana Ammi Basem, salah satu pengajar di RWTH Aachen (tempat Pak Habibie belajar dahulu) begitu tertarik dengan sosok beliau dan ketika kutanyakan tentang beliau, beliau menjawab bahwa beliau adalah orang yang dihormati di sini dengan keilmuannya. Bagaimana kita selaku bangsa sendiri sampai lupa bahkan ada yang menghujat beliau? Inilah kejamnya politik dan sebuah persaingan kekuasaan yang tidak diiringi kedewasaan pola pikir.

Dalam Presidential Lecture itu juga, beliau berkata akan menulis kenangan indah beliau bersama mendiang istrinya (yang kini akhirnya menjadi buku dan film) hingga aku masih ingat dengan tekad beliau untuk mengembalikan semangat itu lagi di sisa-sisa usia beliau. Kata beliau, “Sekarang semua telah terjadi, namun tidak ada kata terlambat untuk kita memulai lagi menghidupkan industri strategis. Aku akan terus berjuang untuk membangkitkan semangat generasi muda Indonesia agar tetap serius belajar dan berkarya. Agar nanti ketika aku mati dan bertemu Ainun, dia tidak menyuruhku kembali pulang karena tugasku belum selesai”, yang akhirnya membuat semua hadirin tertawa.

Oh, Pak Habibie, inspirasimu sangat luar biasa, Muslim Negarawan yang tulus untuk mendedikasikan diri untuk bangsa. Presiden yang paling keren kujumpai setelah Bung Karno. Tentang Habibie dan Ainun, itu hanyalah sebuah film. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya itulah yang akan memberikan kontribusi bangsa ini nantinya.