Menangis itu wajar kok. Bahkan untuk seorang cowok seperti aku, yang penting tidak sampai mengalirkan air mata (#loh kok bisa). Apalagi kalo aku sampai melihat seorang wanita menangis dihadapanku. Apalagi kalo si wanita itu menangis karena ulahku.

Tapi hari ini, aku tak bisa membendung air mata ketika melihat pesawat N250 lepas landas dalam film Habibie dan Ainun yang kutonton bersama puluhan orang termasuk si Ranger Biru di Solo Grand Mall. Aku menangis lagi untuk kesekian kalinya melihat pesawat kebanggaan Indonesia itu harus terbang dalam film kenangan yang membuat hati ini terus sakit ketika mengingat bangkainya yang kini terkubur hidup-hidup dalam hanggar. Ada jutaan harapan di sana, ada tangis para ilmuwan terbaik negeri ini yang telah berjuang bertahun-tahun untuk mempersembahkan hadiah menjelang ulang tahun kemerdekaan RI ke-50.

Sejatinya film ini hanyalah sebuah film. Tetapi karena ini berangkat dari kisah nyata, maka aku sangat tertarik untuk menonton langsung di bioskop. Dan inilah kali pertamaku mengeluarkan kocek cukup besar demi sebuah kursi di ruangan gelap dan layar besar ini. Yah, biasanya melihat bajakannya lewat layar laptop rasanya sudah sangat puas. Dan memang benar, film ini sangat amazing bagiku, bahkan efeknya masih terasa hingga saat aku menulis ini.

Aku sebenarnya belum membaca buku Habibie dan Ainun, tetapi aku telah menamatkan The True Life of Habibie yang lebih tebal dan lebih komprehensif. Dari buku itu makanya sedikit banyak alur film itu kupahami. Selain itu, karena sebulan yang lalu aku juga sudah menjejakkan kaki di Aachen, sehingga lengkaplah efek film itu menghujam dalam di dadaku hingga tangisku keluar saat sesi paling amazing itu terjadi. Untung saja ruangannya gelap dan orang-orang juga sibuk dengan tangis mereka ataupun urusan mereka sendiri.

Film ini adalah pengingat untuk kita kesekian kalinya agar Indonesia kita hari ini segera diselamatkan dari ketergantungan. Stok SDA kita yang masih melimpah harus segera diselamatkan dalam sebuah budaya baru pembangunan bangsa yang bernama “kemandirian”. Kemandirian memiliki konsekuensi kesederhanaan hidup dan kerja keras. Kata bung Karno, biarlah kekayaan kita itu tersimpan pada tempatnya sampai putra-putra terbaik bangsa ini dapat mengolahnya sendiri. Itu artinya mengawali masa kemandirian bangsa itu harus prihatin dahulu dengan belajar keras dan mengembara mencari ilmu sebanyak-banyaknya untuk kemudian kita wujudkan mimpi pembangunan dari dan untuk bangsa Indonesia ini.

Aku ingat sekali setahun yang lalu waktu berkesempatan menyamar menjadi mahasiswa fakultas Geografi UGM sehingga berhasil mengikuti Presidential Lecture oleh Prof. Dr. Ing. B. J. Habibie di Grha Sabha Pramana, beliau menunjukkan kehebatan Indonesia di tahun 1995, sebuah realita yang membangkitkan rasa optimisme bangsa, karena tahun itu sebenarnya kita sudah memiliki teknologi yang sangat canggih dan mencengangkan dengan SDM pilihan yang telah berdatangan ke tanah air karena kecintaan mereka kepada bangsanya, dan sebenarnya akan segera menyusul pula gelombang SDM lainnya yang waktu itu telah belajar di negeri orang.

Di situ aku melihat dengan kualitas video yang lebih bagus dan lebih jelas dari yang di film tadi, tentang kecanggihan IPTN dan berbagai pabrik industri strategis yang telah dimiliki Indonesia yang siap untuk memproduksi pesawat terbang, kapal laut dan kereta api. Alangkah luar biasanya ketika itu berlanjut hingga hari ini, karena pasti kita memiliki alat transportasi buatan anak bangsa sendiri. Dan ini sudah 15 tahun dari peluncuran N250 yang menandai era kebangkitan Indonesia menuju negara maju, maka dalam hitungan Pak Habibie, hari ini bangsa Indonesia sudah panen kemajuan itu karena kemandirian bangsa semakin kokoh dengan jaringan antar pulau terhubung dengan kokoh dan kebanggaan anak bangsa atas karya sendiri.

Maka aku menangis tak terbendung ketika melihat N250 lepas landas lagi. Itu adalah kenangan terindah yang pernah dimiliki bangsa ini. Karya tercanggih yang pernah ada waktu itu dari seorang putra terbaik bangsa yang hari ini dihormati dunia (kecuali bangsa ini yang kebanyakan telah lupa siapa beliau). Aku masih ingat bagaimana Ammi Basem, salah satu pengajar di RWTH Aachen (tempat Pak Habibie belajar dahulu) begitu tertarik dengan sosok beliau dan ketika kutanyakan tentang beliau, beliau menjawab bahwa beliau adalah orang yang dihormati di sini dengan keilmuannya. Bagaimana kita selaku bangsa sendiri sampai lupa bahkan ada yang menghujat beliau? Inilah kejamnya politik dan sebuah persaingan kekuasaan yang tidak diiringi kedewasaan pola pikir.

Dalam Presidential Lecture itu juga, beliau berkata akan menulis kenangan indah beliau bersama mendiang istrinya (yang kini akhirnya menjadi buku dan film) hingga aku masih ingat dengan tekad beliau untuk mengembalikan semangat itu lagi di sisa-sisa usia beliau. Kata beliau, “Sekarang semua telah terjadi, namun tidak ada kata terlambat untuk kita memulai lagi menghidupkan industri strategis. Aku akan terus berjuang untuk membangkitkan semangat generasi muda Indonesia agar tetap serius belajar dan berkarya. Agar nanti ketika aku mati dan bertemu Ainun, dia tidak menyuruhku kembali pulang karena tugasku belum selesai”, yang akhirnya membuat semua hadirin tertawa.

Oh, Pak Habibie, inspirasimu sangat luar biasa, Muslim Negarawan yang tulus untuk mendedikasikan diri untuk bangsa. Presiden yang paling keren kujumpai setelah Bung Karno. Tentang Habibie dan Ainun, itu hanyalah sebuah film. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya itulah yang akan memberikan kontribusi bangsa ini nantinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.