Negeri Sesempit Media Massa

Berikutnya adalah dengan menjamurnya berbagai media massa. Kita hitung berapa banyak stasiun televisi yang ada sekarang baik dalam skala lokal dan nasional. Belum lagi surat kabar. Ditambah lagi dengan berbagai media online. Hari ini tiap saat kita dijejali informasi mulai dari yang penting hingga yang sangat tidak penting bahkan yang sampah sekalipun juga terkadang berhasil terakses di telinga dan mata kita. Terkadang membuat kita akhirnya terpengaruh juga dan terkadang juga percaya pada isinya tanpa klarifikasi lagi.

Pertanyaannya, apakah media-media itu sekarang benar-benar independen dan adil dalam memberitakan? Aku lebih percaya kata-kata Mathew Farel dalam film Die Hard IV yang mengatakan hampir semua media-media pulik itu sekarang sulit dipercaya karena semua telah dibajak untuk kepentingan. Yah, di negeri ini media tidak lagi idealis seperti dulu ketika mereka sepakat menentang kezaliman penguasa. Sekarang media adalah ladang bisnis yang mendukung demokrasi pencitraan. Siapa yang memiliki media, maka media itu akan menjadi jalan kampanye paling singkat dan murah di antara kampanye model yang lain untuk kebutuhan meraup simpati dan dukungan dalam waktu yang relatif singkat.

Hari ini, pemberitaan baik sulit sekali dijumpai di negeri ini. Di televisi, koran, dan media berita online hanya memberitakan seputar korupsi, anarkisme, tawuran, dan tindakan-tindakan amoral lainnya. Hari ini mereka seolah-olah bersatu untuk menakut-nakuti bangsa ini dengan sebuah kondisi yang teramat parah dan rusak. Generasi muda hanya dicekoki dengan sinetron-sinetron murahan dan roman picisan serta tayangan musik yang tidak ada habisnya. Masyarakat semakin jauh dari membaca buku dan berdiskusi dengan alam karena SMS dan chatting telah membelenggu hari-hari mereka untuk banyak berpikir dan bersyukur kepada Allah atas anugerah negeri yang teramat indah dengan kekayaan yang melimpah ruah.

Masyarakat dengan mudah dibalik opininya lewat strategi pemberitaan media yang intensif dan disajikan secara cantik memikat. Berbagai operasi intelejen dijalankan untuk merekayasa segala hal di negeri ini. Sebuah operasi mengerikan yang tidak akan pernah bisa terlacak antara ujung pangkalnya sehingga berbagai kekacauan yang telah didesain ini dapat berjalan seperti keinginan sang perancang tanpa ketemu benang merahnya. Semua terus berjalan hingga banyak korban berjatuhan atas nama politik yang diselubungkan dalam berbagai tuduhan mulai dari korupsi hingga tindakan lain yang membuat masyarakat luas marah akibat opini yang telah dibangun sebelumnya oleh media. Hari ini rasanya hampir mustahil mempercayai media sebagai dasar hukum untuk mengambil sebuah keputusan dan kebijakan. Hari ini itu semua terasa sekali menjadi sebuah omong kosong. Omong kosong yang membuat bangsa ini kacau dan terus mengalami kemunduran.

Jadilah negeri ini sesempit media. Negeri yang seakan-akan hanya berisi kerusakan. Padahal di luar sana kita masih melihat harapan berupa bentangan kekayaan alam yang hari ini harus kita selamatkan sebelum terus dicuri oleh orang-orang asing lewat para pengkhianat bangsa ini. Kita juga masih bisa melihat semangat anak-anak sekolah di pelosok-pelosok desa. Mereka ceria dan terus menerus berjalan tiap pagi menyusuri bukit dengan seragam merah putih. Masih ada mereka, bangsa ini masih punya harapan.

Aku sangat terharu ketika pernah mengikuti kuliah umumnya pak Anies Baswedan. Beliau berbicara tentang Indonesia Mengajar sebagai sebuah gerakan yang tidak akan dibesarkan seperti ormas. Biarlah tetap konsisten untuk mencetak para guru yang mendapatkan kehormatan bangsa untuk menunaikan janji kemerdekaan menebarkan inspirasi ke pelosok-pelosok negeri. Beliau berharap Indonesia Mengajar menginspirasi siapa pun untuk bangkit menunaikan salah satu janji kemerdekaan, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Baik bergabung secara resmi menjadi pengajar muda dan penyala Indonesia, atau membuat gerakan sendiri yang memiliki prinsip yang sama. Tidak masalah, semua berhak untuk mengambil pahala sebesar-besarnya dari Allah.

Mari kita jadikan kicauan-kicauan media itu sebagai kerikil-kerikil kecil hidup dan lebih banyak membangun kepercayaan dengan sesama saudara kita yang masih memiliki komitmen kejujuran untuk selalu siap berjuang dan memandang Indonesia ini dengan optimisme. Yang tidak hanya berpikir bagaimana hidup untuk dirinya sendiri tetapi terus berbagi dengan segala yang dimiliki. Mari kita hiasi telinga kita dengan berbagai optimisme. Dengan ayat-ayat Quran yang kita pahami maknanya, dengan senandung-senandung yang penuh makna dan optimisme, dengan kata-kata mutiara yang menyejukkan.

Indonesia ini luas, mari kita katakan pada Allah, “Ya Allah, izinkan hamba-Mu ini melihat negeri yang luas ini, izinka hamba ya Rabb untuk melihat indahnya negeri yang kau ciptakan seakan potongan tanah syurga ini“. Dan di sinilah aku menemukan benang merah mengapa Habibie begitu bersemangat membangun industri strategis pesawat di tanah air. Bangsa ini harus mengerti wawasan nusantara dengan mata kepala mereka sendiri, bukan hanya dari mulut para gurunya yang mengajar kewarganegaraan. Sudah bukan zamannya lagi di era yang modern ini. Mungkin lewat online saja sebenarnya bisa, tetapi ketika kita menatap langsung dan menjejakkan kaki di seluruh penjuru tanah air, maka kita akan tahu bahwa kita masih punya kekayaan yang tak ternilai harganya. Tanah air ini masih bisa menghidupi untuk seribu tahun lagi.

bersambung..

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.