Kategori
Dakwah Islam

Inspirasi Sang Murabbi : Realita Hidup #2

Tentang maisyah, hari ini kita tidak perlu tertipu dengan banyak orang yang telah kaya dan berkarier sukses. Tak semua dari mereka sehebat yang terlihat oleh mata. Kata orang Jawa, semua itu hanya wang sinawang. Hanya tipuan mata, seolah-olah luar biasa. Beliau memberikan banyak kisah tentang orang-orang yang selama ini di mata kami sukses luar biasa, ternyata mereka memiliki banyak masalah yang mungkin lebih bermasalah dari pada masalah yang kami rasakan (karena jomblo sejati).

Lagi-lagi aku menggarisbawahi hidup itu yang penting jujur dalam menjalani, jika memang jatahnya sedikit tak usah sok berlebihan, jika berlebih tak usah kelewatan. Wara’ dan tetap mencontoh akhlak Rasulullah dalam membelanjakan hartanya untuk kebaikan. Meskipun tak pernah bisa menyaingi beliau (yang memang tak membutuhkan dunia lagi), karena bayangkan saja seperlima harta rampasan perang yang memang menjadi hak beliau (berarti gedhe banget kan) terkadang habis dalam hitungan sekejap karena pengasihnya beliau pada orang-orang yang membutuhkan.

Yang terakhir adalah tentang amanah, baik amanah dakwah maupun amanah yang lain-lainnya. Aku dulu pernah berpikir bahwa melepas semua amanah dan jadi orang yang free akan seperti burung yang lepas dari sangkarnya. But, ternyata tidak. Aku membuktikan bahwa ketika aku mau “bertahan” seperti yang telah kulakukan sejak Dakwah Sekolah menyapaku dahulu, maka aku mendapatkan balasan yang lebih besar dari sekedar apa yang kulakukan ini. Allah maha indah dan maha cerdas karena selalu mempertemukanku dengan lautan-lautan ilmu sehingga semakin mendekatkanku pada-Nya meskipun diri ini belepotan dengan kemaksiatan dan dosa. Masih bisa istighfar, masih bisa berdoa dan selalu dapat menikmati ibadah yang Dia titahkan padaku.

Di kehidupan masyarakat nanti, tantangan amal dakwah itu semakin nyata. Kita tidak sedang berbicara ideology-ideologi tingkat teoritis seperti di kampus-kampus saat ini. Kita sedang berpikir bagaimana mengembalikan kejayaan umat ini dengan perbaikan moral dan akhlak. Bukan perang, bukan pula kebencian. Maka adalah sangat indah ungkapan syair yang pernah disenandungkan oleh the Brothers .…..“mula diri keluarga sahabat masyarakat dan negara“. Ini kalimat lagu perjuangan mereka dan kami.

Membina diri agar semakin berperilaku positif, diikuti dengan pernikahan dengan pasangan yang memang siap menjadi seperti Ainun (bahasa nge-trend-nya sekarang), tapi lebih tepatnya seakan-akan Khadijahnya kita, kemudian dimulai dengan membangun komunitas yang sadar belajar dan membangun kesatuan ukhuwah, menghidupkan masjid dengan shalat berjamaah dan selalu bertutur sopan pada tetangga-tetangga yang non-muslim, kemudian diikuti dengan perbaikan sendi-sendi kenegaraan dengan perbaikan pemimpin dan perbaikan konstitusinya. Dan semua itu butuh para mujahid-mujahid modern di abad ini, yang dapat memainkan peran strategis. Semua itu dimulai dari diri yang beres ruhyah, fikriyah, dan jasadiyahnya, kemudian pasangan yang selalu setia dan mengerti visi besar dakwah ini.

Dan ini sangat membuatku terlena dalam ekstase halaqah. Tak kuasa aku sebenarnya ingin menangis di akhir halaqah tadi malam. Tapi karena malu pada semua yang hadir (lha cowok semua) tak jadi dan terlupakan untuk menangis. Ya Allah, siapa pun yang akan menemaniku di sisi nanti, semoga dia menjadi orang yang membuatku semakin kuat, yang siap mengusirku dari rumah ketika “enggan” tengah menyelimutiku saat akan melakukan tugas, yang memotivasiku ketika aku merasa tak kuat memikul amanah, yang mendampingiku ketika aku rihlah mujahadah, dan yang akan mendidik anak-anakku agar menjadi investasi akhirat terbesar kami.

Dan liqo berakhir bersama hujan yang mereda. Kami semua berpisah dalam kehangatan ukhuwah.

Kategori
Memori

Dengarkan Cerita Habibie #6

Dan ini pandanganku atas rangkaian kisah panjang tadi.

Tadi pagi beliau katanya mengisi di SMA Insan Cendikia, awalnya aku mau datang ke sana. Tapi karena sempat bingung dengan rute yang ditunjukkan oleh temanku (padahal seandainya diberi tahu tempatnya aku langsung meluncur ke sana), karena sudah terlalu siang ditambah salah kostum dan panggilan pulang dari ortu akhirnya aku urungkan niat untuk bertemu sang Inovator idolaku yang selalu kukagumi itu.

Setidaknya Allah telah memberiku kesempatan untuk menjejakkan kaki di kota Aachen, tempat bersejarah bagi Habibie yang menempa kecintaannya kepada Indonesia. Aku menangis waktu melihat film Habibie-Ainun saat kedua tokoh yang diperankan Reza-BCL itu sedang berlibur di kota Aachen, aku masih mengingat betul detail kota yang sangat berkesan itu.

Kemudian ketika aku membaca tulisan beliau yang berisi tentang visi besar sang Proklamator tentang pentingnya bangsa ini mengenal dan menguasai teknologi kedirgantaraan dan maritim, aku sangat memuncak dan emosional. Yah, hari ini aku menjadi mahasiswa di pendidikan fisika juga merasakan ada hal-hal konyol yang kupelajari selama di kampus. Entahlah, ini bukan masalah perkuliahan dan dosennya, atau tentang kemalasanku mengerjakan tugas akhir. Tetapi tentang perkawinan ilmu yang tidak pernah terjadi di dunia intelektual Indonesia hari ini.

Aku tersinggung bagaimana ilmu fisika teknik yang telah mengorbankan hari-hari mahasiswa di fakultas teknik dan eksak lainnya untuk mengerjakan laporan dan tugas yang begitu berat harus dikebiri dengan hitung-hitungan akuntansi versi iblis. Entah bagaimana ceritanya dunia kontraktor hari ini yang selalu berselingkuh dengan kebanyakan wakil rakyat dan pucuk pimpinan negeri ini. Sehingga sebanyak apa pun anggaran yang diberikan maka pembangunan fisik kita cacat, apalagi pembangunan non fisiknya, bukan saja cacat, banyak yang nihil.

Aku juga resah dengan banyaknya pemborosan kertas di universitas dan institusi keilmuwan yang katanya jadi representasi kualitas SDM suatu bangsa, yang katanya menuju internasionalisasi. Baik untuk laporan atau berbagai keperluan yang lain. Setiap ratusan rim kertas, maka akan ada alih fungsi hutan dari hutan tropis menjadi hutan produksi. Dan itu artinya perguruan tinggi termasuk salah satu institusi yang menyumbang proses alih fungsi hingga penggundulan hutan akibat sistem digitalisasi yang tidak diinisiasi dan dijalankan.

Aku kian jengah dengan politisasi yang memasuki kampus. Bukannya aku menolak politik, apalagi anti-politik. Bahkan aku berkata politik itu indah bagi yang bisa memainkannya. Tetapi ia akan kotor dan menjijikkan di tangan orang-orang bodoh. Kini dalam pengisian jabatan dan berbagai hierarki kentara sekali nuansa politisasinya dari pada nuansa sinerginya. Entah mengapa dan apa sebenarnya isi kepala orang-orang itu sehingga berani melanggar nasihat Rasulullah untuk mendengarkan isi pembicaraan dan tidak melihat siapa yang berbicara, tapi kini hal itu terbalik sudah.

Dan kini aku memilih menjadi orang yang sepi dari sentuhan dunia politik yang melenakan itu. Berurusan dengan uang negara itu teramat berat. Setidaknya cukuplah aku menikmati subsidi uang rakyat dari biaya kuliah yang murah. Tapi tidak untuk beasiswa. Selagi aku bisa meraih beasiswa dari swasta dan CSR perusahaan itu lebih menentramkanku dari pada berdiri di atas penderitaan rakyat Indonesia. Kalau pun kelak harus mengenyam beasiswa itu, maka sudah pasti aku harus bersumpah setia untuk meneruskan perjuangan para founding fathers bangsa ini.

Di waktu-waktu ini, aku pegang nasihat Pak Romi dan tim Beastudi Indonesia, mari kita berjuang di kesunyian. Di kesunyian itu akan memungkinkan kita untuk lebih banyak berbuat dari pada berkata. Di kesunyian itu aku melihat bukti dari murabbiku yang membimbingku hari ini, dari para inspiratorku hari ini, dari guru jurnalistikku, dari para seniorku yang kini masih teguh di atas idealismenya, bahkan dari Allahyarham Kyai Haji Muhammad Hussein yang selalu berkata, “Aku tetap akan mengajar sampai kelak aku mati, karena tidak ada istilah pensiun bagiku“. Dan Allah melunasi janjinya di usia 80 tahun dengan ingatan yang masih tajam berkilat, lisan yang fasih untuk bertilawah dengan merdu dan berbahasa Arab, dan shalat malam yang tak pernah berhenti kecuali 7 hari sakit menjelang kematiannya.

Saatnya untuk bersembunyi. Semoga Allah sembunyikan aku dari keramaian yang tidak berguna ini. Aku memilih berada di dalam alam yang damai ini. Karena ini pun tak berarti zona nyaman, tapi setidaknya ia lebih nyaman karena setiap kesalahan akan terdengar nyaring, setiap kegundahan hati akan segera mudah diistighfari, setiap kelalaian akan segera diganti dengan keinsyafan. Di kesunyian, maka aku akan menemui alam indah seperti Pak Kliwon yang kisahnya kini diabadikan dalam buku kami yang pertama.

Kategori
Memori

Dengarkan Cerita Habibie #5

Akhirnya sang ilmuwan muslimah yang notenya dicopas oleh penulis blog tadi menambahkan refleksi atas apa yang telah ditulis sang kapten

***

Cerita itu saya kutip dari notes facebook disini, sebuah renungan yang seharusnya menjadi perhatian bagi kita. Betapa menyedihkan sebuah bangsa yang tak pernah menghargai orang berilmu! Tak pernah memberi kesempatan kepada anak bangsa untuk menjadikan bangsanya mandiri! Entah ada apa dengan negara ini…! Entah dimana mata dan telinga para penguasa diletakkan!

Saya seorang peneliti, yang tahu betul bagaimana kami dilatih untuk bertindak. Bahwa kami harus melakukan segala macam upaya agar output yang dihasilkan adalah output yang QCD!

Tak sekali dua kali proposal yang sudah kami susun berhari-hari bahkan berminggu-minggu mengalami pernyempurnaan di segala sisi? Tak sekali dua kali para evaluator selalu menjadi pendamping kami dalam melaksanakan serangkaian percobaan.

Tak sedikit pikiran dan tenaga kami habis untuk bagaimana selalu menyempurnakan metode hingga output tercapai. Kami juga kadang tak berontak saat kerja bertahun-tahun tapi gaji yang kami dapat hanya setara dengan goyangan ngebor Inul satu jam! dan yang lebih menyedihkan, karya kami hanya mendapat cibiran, jika tidak akhirnya dipinggirkan!

Entah apa yang ada di benak para penguasa negeri ini! sepertinya posisi orang berilmu memang sudah tak lagi mendapat tempat, jadi siapa yang salah jika akhirnya mereka mencari tempat lain?

Dan saya perempuan, dan seorang muslimah. Maka apapun profesi saya, saya tetaplah muslimah dan perempuan. Seseorang yang mendapat kehormatan dan kemuliaan menjadi seorang Ummu warobatul bait, Istri sekaligus Ibu dan pengatur rumah tangga.

Maka jika aktivitas dan profesi yang kutekuni menjadikanku abai terhadap peranku, aku akan meninggalkannya dan memilih tempat yang lebih memuliakanku, yaitu menjadi Ibu dan pengatur rumah tangga. Bukan seorang Ibu semu, yang hanya berperan melahirkan dan memberi makan, tanpa pernah menjadi teladan, pengajar, pendengar dan teman untuk anak-anaknya…

Dan entah apa yang ada di benak para penguasa negeri ini, jika RUU Kesetaraan Gender lalu diketok palu menjadi UU!… bersiaplah menjadi orang-orang yang menggoreskan catatan sedih, dengan kebijakan negeri ini…

***
…. Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmat-Nya sempurnalah semua kebaikan ….

Bagikan tausiyah ini kepada teman-temanmu dengan meng-klik ‘bagikan’/’share’ dan undang temen2mu gabung dg klik ‘Invite Your Friends’

Bersambung ………

Kategori
Memori

Dengarkan Cerita Habibie #4

Suasana semakin haru, dan inilah lanjutannya

Dengan suara bergetar dan setengah terisak pak Habibie melanjutkan……………………

“Dik, kalian tau……………..2 minggu setelah ditinggalkan ibu…………suatu hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sendirian sambil memanggil-manggil nama ibu……… Ainun……… Ainun …………….. Ainun …………..saya mencari ibu di semua sudut rumah.

Para dokter yang melihat perkembangan saya sepeninggal ibu berpendapat ‘Habibie bisa mati dalam waktu 3 bulan jika terus begini…………..’ mereka bilang ‘Kita (para dokter) harus tolong Habibie’.

Para Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan;

1. Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa!

2. Opsi kedua, para dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terus-menerus dengan mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya sudah gila dan harus diawasi terus……………

3. Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih hidup.

Saya pilih opsi yang ketiga……………………….”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat sesuatu (kita yang biasa mendengarkan beliau juga pasti maklum bahwa gaya bicara pak Habibie seperti meloncat kesana-kemari dan kadang terputus karena proses berpikir beliau sepertinya lebih cepat dibandingkan kecepatan berbicara dalam menyampaikan sesuatu) …………………. ia melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun…………..dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air Indonesia…….

Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat…………. saya menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen yang tepat guna menyampaikan isi hati saya. Hari ini didampingi anak saya Ilham dan keponakan saya, Adri maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan memulangkan ibu Ainun ke tanah air bahkan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia”

Seluruh hadirin terhenyak dan saya tak kuasa lagi membendung air mata…………………………

Setelah jeda beberapa waktu, pak Habibie melanjutkan pembicaraannya;

“Dik, sebegitu banyak ungkapan isi hati kepada Ainun, lalu beberapa kerabat menyarankan agar semua tulisan saya dibukukan saja, dan saya menyetujui…………………

Buku itu sebenarnya bercerita tentang jalinan kasih antara dua anak manusia. Tak ada unsur kesukuan, agama, atau ras tertentu. Isi buku ini sangat universal, dengan muatan budaya nasional Indonesia. Sekarang buku ini atas permintaan banyak orang telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain Inggris, Arab, Jepang….. (saya lupa persisnya, namun pak Habibie menyebut 4 atau 5 bahasa asing).

Sayangnya buku ini hanya dijual di satu toko buku (pak Habibie menyebut nama satu toko buku besar), sudah dicetak 75.000 eksemplar dan langsung habis. Banyak orang yang ingin membaca buku ini tapi tak tahu dimana belinya. Beberapa orang di daerah di luar kota besar di Indonesia juga mengeluhkan dimana bisa beli buku ini di kota mereka.

Dik, asal you tahu…………semua uang hasil penjualan buku ini tak satu rupiahpun untuk memperkaya Habibie atau keluarga Habibie. Semua uang hasil penjualan buku ini dimasukkan ke rekening Yayasan yang dibentuk oleh saya dan ibu Ainun untuk menyantuni orang cacat, salah satunya adalah para penyandang tuna netra. Kasihan mereka ini sesungguhnya bisa bekerja dengan nyaman jika bisa melihat.

Saya berikan diskon 30% bagi pembeli buku yang jumlah besar bahkan saya tambahkan lagi diskon 10% bagi mereka karena saya tahu, mereka membeli banyak buku pasti untuk dijual kembali ke yang lain.

Sekali lagi, buku ini kisah kasih universal anak manusia dari sejak tidak punya apa-apa sampai menjadi Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara. Isinya sangat inspiratif……………….”

Di akhir catatan itu, sang Kapten menambahi

Saya menuliskan kembali pertemuan pak BJ Habibie dengan jajaran Garuda Indonesia karena banyak kisah inspiratif dari obrolan tersebut yang barangkali berguna bagi siapapun yang tidak sempat menghadiri pertemuan tsb. Sekaligus mohon maaf jika ada kekurangan penulisan disana-sini karena tulisan ini disusun berdasarkan ingatan tanpa catatan maupun rekaman apapun.

Jakarta, 12 Januari 2012

Salam,
Capt. Novianto Herupratomo

Bersambung ……..

Kategori
Memori

Dengarkan Cerita Habibie #3

Kemudian Capt. Novianto Herupratomo berkomentar dengan argumentasinya

Ini pandangan saya mengenai cerita pak Habibie di atas;

Sekitar tahun 1995, saya ditugaskan oleh Manager Operasi (JKTOF) kala itu, Capt. Susatyawanto untuk masuk sebagai salah satu anggota tim Airline Working Group di IPTN dalam kaitan produksi pesawat jet sekelas B737 yang dikenal sebagai N2130 (kapasitas 130 penumpang).

Saya bersyukur, akhirnya ditunjuk sebagai Co-Chairman Preliminary Flight Deck Design N2130 yang langsung bekerja dibawah kepala proyek N2130 adalah Ilham Habibie. Kala itu N250 sedang uji coba terus-menerus oleh penerbang test pilot (almarhum) Erwin.

Saya turut mendesain rancang-bangun kokpit N2130 yang serba canggih berdasarkan pengetahuan teknis saat menerbangkan McDonnel Douglas MD11. Kokpit N2130 akan menjadi mirip MD11 dan merupakan kokpit pesawat pertama di dunia yang mempergunakan LCD pada panel instrumen (bukan CRT sebagaimana kita lihat sekarang yang ada di pesawat B737NG).

Sebagian besar fungsi tampilan layar di kokpit juga mempergunakan “track ball atau touch pad” sebagaimana kita lihat di laptop.

N2130 juga merupakan pesawat jet single aisle dengan head room yang sangat besar yang memungkinkan penumpang memasuki tempat duduk tanpa perlu membungkukkan badan. Selain high speed sub-sonic, N2130 juga sangat efisien bahan bakar karena mempergunakan winglet, jauh sebelum winglet dipergunakan di beberapa pesawat generasi masa kini.

Saya juga pernah menguji coba simulator N250 yang masih prototipe pertama……………..

N2130 narrow body jet engine dan N250 twin turboprop, keduanya sangat handal dan canggih kala itu………bahkan hingga kini.

Lamunan saya ini, berkecamuk di dalam kepala manakala pak Habibie bercerita soal N250, saya memiliki kekecewaan yang yang sama dengan beliau, seandainya N2130 benar-benar lahir………….kita tak perlu susah-susah membeli B737 atau Airbus 320.

***

Lantas beliau melanjutkan tulisannya

Pak Habibie melanjutkan pembicaraannya………………..

“Hal yang sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin engines narrow body, itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai manufakturing pesawat terbang, kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N2130 diteruskan, kita semua tak perlu tergantung dari Boeing dan Airbus untuk membangun jembatan udara di Indonesia”.

“Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD,

Q itu Quality, Dik, anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan konsisten? C itu Cost, Dik, tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing dengan produsen sejenis? D itu Delivery, biasakan semua produksi dan outcome berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu!Itu saja!”

Pak Habibie melanjutkan penjelasan tentang QCD sbb:

“Kalau saya upamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya 1 pula, jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik………….organisasi itu bekerja saling sinergi sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau 3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya, bekerjanya harus pakai hati Dik………………”

Tiba-tiba, pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu ………………………

“Dik, ……….saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ………..ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar.

Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya…………saya mau kasih informasi……….. Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu……………………”

Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam…………… seisi ruangan hening dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie, apalagi aku tanpa terasa air mata mulai menggenang.

 

Bersambung …….

Kategori
Memori

Dengarkan Cerita Habibie #2

Ini lanjutan kisah yang pertama tadi

“Dik, anda tahu…………..saya ini lulus SMA tahun 1954!” beliau membuka pembicaraan dengan gayanya yang khas penuh semangat dan memanggil semua hadirin dengan kata “Dik” kemudian secara lancar beliau melanjutkan……………..

“Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, …….itu sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang! Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat! Ia tahu persis sebagai Insinyur………Indonesia dengan geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara.

Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI. Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi Maritim dan teknologi dirgantara.

Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara. Pendidikan kami di luar negeri itu bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek. Sejak awal saya hanya tertarik dengan ‘how to build commercial aircraft’ bagi Indonesia.

Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu, beliau juga bukan pencetus ide penerapan ‘teknologi’ berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya adalah IPTN”.

“Sekarang Dik,…………anda semua lihat sendiri…………..N250 itu bukan pesawat asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’) berlebihan, tenologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun kedepan, diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal, satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini.

Rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900 jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu.Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?”

Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya.

“Dik tahu…………….di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina (?) dan Indonesia………….”

“Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Bazil, Canada, Amerika dan Eropa…………….”

“Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua…………………?”

“Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun”.

“Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!”

Pak Habibie menghela nafas…………………..

***

Bersambung ……..

Kategori
Memori

Dengarkan Cerita Habibie #1

Beberapa waktu lalu aku membaca tautan yang dikirim oleh Pak Yepe, inspiratorku di dinding FB-ku. Postingan itu berjudul Catatan Sedih Seorang B.J Habibie yang ditulis oleh salah satu blogger dengan alamat yusupesuy.wordpress.com. Ternyata tulisan itu pun ia copas dan ia kembangkan dari sebuah note di facebook yang telah hilang waktu ku lacak. Kalau dilihat dari bagian akhir note yang dicopas tertanda seorang kapten penerbangan yang ikut dalam forum di mana Pak Habibie menjadi pembicaranya, namanya Capt. Novianto Herupratomo. Note itu dicopas lagi oleh seorang ilmuwan muslimah hingga jadi note facebook yang baru. Dan inilah yang dicopas oleh pemilik blok tadi. Jadinya ya sudah, aku copas saja punyanya, sambil aku tambahin lagi nanti.

Simak dengan cermat ya

Catatan Sedih Seorang B.J Habibie

Hari ini saya berlesempatan membaca salah satu tulisan menarik dan insfiratif dari salah satu fan page di facebook. Ini sekedar share, semoga bermanfaat. (baca sampai akhir ya). Mengisahkan bagaimana nasib orang-orang Indonesia yang berilmu.

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim …

Pada usianya 74 tahun, mantan Presiden RI, BJ Habibie secara mendadak  mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia didampingi oleh putra sulung, Ilham Habibie dan keponakannya, Adri Subono, juragan Java Musikindo.

Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President & CEO, Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan para VP serta Area Manager yang sedang berada di Jakarta.

Dalam kunjungan ini, diputar video mengenai Garuda Indonesia Experience dan presentasi perjalanan kinerja Garuda Indonesia sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 menuju Quantum Leap.

Sebagai “balasan” pak Habibie memutarkan video tentang penerbangan perdana N250 di landasan bandara Husein Sastranegara, IPTN Bandung tahun 1995 (tujuh belas tahun yang lalu!).

Entah, apa pasalnya dengan memutar video ini?

Video N250 bernama Gatotkaca terlihat roll-out kemudian tinggal landas secara mulus di-escort oleh satu pesawat latih dan sebuah pesawat N235. Pesawat N250 jenis Turboprop dan teknologi glass cockpit dengan kapasitas 50 penumpang terus mengudara di angkasa Bandung.

Dalam video tsb, tampak hadirin yang menyaksikan di pelataran parkir, antara lain Presiden RI Bapak Soeharto dan ibu, Wapres RI bapak Soedarmono, para Menteri dan para pejabat teras Indonesia serta para teknisi IPTN.

Semua bertepuk tangan dan mengumbar senyum kebanggaan atas keberhasilan kinerja N250. Bapak Presiden kemudian berbincang melalui radio komunikasi dengan pilot N250 yang di udara, terlihat pak Habibie mencoba mendekatkan telinganya di headset yang dipergunakan oleh Presiden Soeharto karena ingin ikut mendengar dengan pilot N250.

N250 sang Gatotkaca kembali pangkalan setelah melakukan pendaratan mulus di landasan………………

Bersambung ………………

Kategori
Cinta Resensi Film

Habibie dan Ainun, Menumpahkan Air Mataku untuk Kesekian Kalinya

Menangis itu wajar kok. Bahkan untuk seorang cowok seperti aku, yang penting tidak sampai mengalirkan air mata (#loh kok bisa). Apalagi kalo aku sampai melihat seorang wanita menangis dihadapanku. Apalagi kalo si wanita itu menangis karena ulahku.

Tapi hari ini, aku tak bisa membendung air mata ketika melihat pesawat N250 lepas landas dalam film Habibie dan Ainun yang kutonton bersama puluhan orang termasuk si Ranger Biru di Solo Grand Mall. Aku menangis lagi untuk kesekian kalinya melihat pesawat kebanggaan Indonesia itu harus terbang dalam film kenangan yang membuat hati ini terus sakit ketika mengingat bangkainya yang kini terkubur hidup-hidup dalam hanggar. Ada jutaan harapan di sana, ada tangis para ilmuwan terbaik negeri ini yang telah berjuang bertahun-tahun untuk mempersembahkan hadiah menjelang ulang tahun kemerdekaan RI ke-50.

Sejatinya film ini hanyalah sebuah film. Tetapi karena ini berangkat dari kisah nyata, maka aku sangat tertarik untuk menonton langsung di bioskop. Dan inilah kali pertamaku mengeluarkan kocek cukup besar demi sebuah kursi di ruangan gelap dan layar besar ini. Yah, biasanya melihat bajakannya lewat layar laptop rasanya sudah sangat puas. Dan memang benar, film ini sangat amazing bagiku, bahkan efeknya masih terasa hingga saat aku menulis ini.

Aku sebenarnya belum membaca buku Habibie dan Ainun, tetapi aku telah menamatkan The True Life of Habibie yang lebih tebal dan lebih komprehensif. Dari buku itu makanya sedikit banyak alur film itu kupahami. Selain itu, karena sebulan yang lalu aku juga sudah menjejakkan kaki di Aachen, sehingga lengkaplah efek film itu menghujam dalam di dadaku hingga tangisku keluar saat sesi paling amazing itu terjadi. Untung saja ruangannya gelap dan orang-orang juga sibuk dengan tangis mereka ataupun urusan mereka sendiri.

Film ini adalah pengingat untuk kita kesekian kalinya agar Indonesia kita hari ini segera diselamatkan dari ketergantungan. Stok SDA kita yang masih melimpah harus segera diselamatkan dalam sebuah budaya baru pembangunan bangsa yang bernama “kemandirian”. Kemandirian memiliki konsekuensi kesederhanaan hidup dan kerja keras. Kata bung Karno, biarlah kekayaan kita itu tersimpan pada tempatnya sampai putra-putra terbaik bangsa ini dapat mengolahnya sendiri. Itu artinya mengawali masa kemandirian bangsa itu harus prihatin dahulu dengan belajar keras dan mengembara mencari ilmu sebanyak-banyaknya untuk kemudian kita wujudkan mimpi pembangunan dari dan untuk bangsa Indonesia ini.

Aku ingat sekali setahun yang lalu waktu berkesempatan menyamar menjadi mahasiswa fakultas Geografi UGM sehingga berhasil mengikuti Presidential Lecture oleh Prof. Dr. Ing. B. J. Habibie di Grha Sabha Pramana, beliau menunjukkan kehebatan Indonesia di tahun 1995, sebuah realita yang membangkitkan rasa optimisme bangsa, karena tahun itu sebenarnya kita sudah memiliki teknologi yang sangat canggih dan mencengangkan dengan SDM pilihan yang telah berdatangan ke tanah air karena kecintaan mereka kepada bangsanya, dan sebenarnya akan segera menyusul pula gelombang SDM lainnya yang waktu itu telah belajar di negeri orang.

Di situ aku melihat dengan kualitas video yang lebih bagus dan lebih jelas dari yang di film tadi, tentang kecanggihan IPTN dan berbagai pabrik industri strategis yang telah dimiliki Indonesia yang siap untuk memproduksi pesawat terbang, kapal laut dan kereta api. Alangkah luar biasanya ketika itu berlanjut hingga hari ini, karena pasti kita memiliki alat transportasi buatan anak bangsa sendiri. Dan ini sudah 15 tahun dari peluncuran N250 yang menandai era kebangkitan Indonesia menuju negara maju, maka dalam hitungan Pak Habibie, hari ini bangsa Indonesia sudah panen kemajuan itu karena kemandirian bangsa semakin kokoh dengan jaringan antar pulau terhubung dengan kokoh dan kebanggaan anak bangsa atas karya sendiri.

Maka aku menangis tak terbendung ketika melihat N250 lepas landas lagi. Itu adalah kenangan terindah yang pernah dimiliki bangsa ini. Karya tercanggih yang pernah ada waktu itu dari seorang putra terbaik bangsa yang hari ini dihormati dunia (kecuali bangsa ini yang kebanyakan telah lupa siapa beliau). Aku masih ingat bagaimana Ammi Basem, salah satu pengajar di RWTH Aachen (tempat Pak Habibie belajar dahulu) begitu tertarik dengan sosok beliau dan ketika kutanyakan tentang beliau, beliau menjawab bahwa beliau adalah orang yang dihormati di sini dengan keilmuannya. Bagaimana kita selaku bangsa sendiri sampai lupa bahkan ada yang menghujat beliau? Inilah kejamnya politik dan sebuah persaingan kekuasaan yang tidak diiringi kedewasaan pola pikir.

Dalam Presidential Lecture itu juga, beliau berkata akan menulis kenangan indah beliau bersama mendiang istrinya (yang kini akhirnya menjadi buku dan film) hingga aku masih ingat dengan tekad beliau untuk mengembalikan semangat itu lagi di sisa-sisa usia beliau. Kata beliau, “Sekarang semua telah terjadi, namun tidak ada kata terlambat untuk kita memulai lagi menghidupkan industri strategis. Aku akan terus berjuang untuk membangkitkan semangat generasi muda Indonesia agar tetap serius belajar dan berkarya. Agar nanti ketika aku mati dan bertemu Ainun, dia tidak menyuruhku kembali pulang karena tugasku belum selesai”, yang akhirnya membuat semua hadirin tertawa.

Oh, Pak Habibie, inspirasimu sangat luar biasa, Muslim Negarawan yang tulus untuk mendedikasikan diri untuk bangsa. Presiden yang paling keren kujumpai setelah Bung Karno. Tentang Habibie dan Ainun, itu hanyalah sebuah film. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya itulah yang akan memberikan kontribusi bangsa ini nantinya.