Kategori
Misi Perubahan

Benarkah Jalan yang Kulalui ini?

Sebuah pesan cinta untuk saudara-saudari kader dakwah di bumi Allah.

Sebuah pertanyaan selalu muncul sesekali di benak para kader dakwah. Apakah jalan dakwah yang kulalui ini benar? Terkadang itu kemudian berujung pada kebimbangan yang membuat seseorang justru mengalami masa kekacauan dan kefuturan, tetapi terkadang justru itu adalah fase untuk menuju tingkatan kualitas kader dakwah yang lebih tinggi. Tinggal proses yang sanggup dia jalani saja.

Terkadang ada pertanyaan, kenapa ketika aku aktif seperti sekarang kondisi ekonomiku sulit, banyak amanah, banyak yang harus kukerjakan sampai-sampai waktuku tersita. Sedangkan kawan-kawanku sudah menikmati jalan hidupnya. Makmur, berkecukupan dan penuh dengan fasilitas. Katanya kalau kita berada di jalan ini maka banyak kemudahan yang akan didapatkan nyatanya sampai hari ini justru kondisiku malah mengkhawatirkan.

Itulah pertanyaan-pertanyaan yang seringkali datang dalam berbagai bentuk dan bahasanya. Menyeruak di setiap benak kader dakwah. Menciutkan nyali untuk melanjutkan hingga tamat. Hingga terkadang ada yang kemudian berpikir untuk mundur secara teratur. Ada yang mundur tanpa berita. Tetapi ada juga yang justru dengan pertanyaan-pertanyaan itu Allah berkehendak untuk meneguhkan langkahnya. Semakin mantap dan justru semakin menemukan apa yang selama ini di cari.

Belajar dari Para Rasul

Ketika pertanyaan itu dilayangkan ke seseorang yang bijaksana. Ada sebuah hikmah yang mengalir dari lisannya. Terkadang kita jumpai orang yang shalat tapi dia tetap melarat. Ada orang yang shalat dan kaya. Ada orang yang shalat tetapi hidupnya selalu menderita. Ada orang yang shalat tetapi hidupnya penuh kenyamanan. Apa yang sama dari mereka. Yang lain menjawab, sama-sama baca al-Fatihah. Nah, apa ayat keenam al-Fatihah? Ihdinash shirothol mustaqim. (Tunjukilah kami jalan yang lurus).

Dan tahukah jalan yang lurus itu? Itulah jalan para Nabi dan Rasul. Dan simaklah kisah mereka dalam al-Quran. Kita tahu bahwa ada Rasul yang bangkrut (nabi Ayyub), melarat (nabi Isa), kaya raya tak tertandingi (nabi Sulaiman), tampan tak terperi (nabi Yusuf), cerdas luar biasa (nabi Ibrahim), dan masih banyak yang lainnya. Mereka ditakdirkan oleh Allah dalam kondisi berbeda-beda tapi bagi mereka ada yang sama yaitu dakwah. Ya, dakwah yang membuat semua kondisi mereka itu mulia. Luar biasa! Cukuplah jawaban itu membuat kita diam untuk tidak banyak mengeluh dan protes. Apalagi mengatakan “Allah tidak adil”. Naudzubillahi min dzalik.

Mungkin hari ini kita tersiksa, karena tidak bisa menikmati masa muda seperti kebanyakan pemuda. Bersenang-senang dan larut dalam senda gurau. Tapi bukankah itu adalah kondisi terbaik yang seharusnya kita syukuri karena jika kita terjerumus dalam keduniaan nasib akhirat kita jadi tak karuan. Mungkin hari ini kita merasa pas-pasan dalam kondisi ekonomi, karena waktu-waktu yang harusnya kita kerja dan dapat uang kita habiskan untuk berpikir, beraktivitas dan mendarmabaktikan diri kita untuk kepentingan umat. Tapi bukankah itu adalah alasan terbaik yang akan dapat kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak. Yah, semua itu adalah alasan terbaik mengapa kita hari ini masih bertahan di atas jalan ini.

Namun demikian, bukanlah sebuah pembenaran jika itu semua menjadikan kita tidak maksimal dalam menunaikan amanah yang sifatnya duniawi yang seharusnya juga penting untuk kita tuntaskan. Bagaimanapun ketika kita memiliki berbagai pilihan hidup, maka pilihlah sebanyak mungkin yang terbaik yang sanggup kita pilih. Karena tidak ada istilah qanaah dalam usaha. Qanaah hanya ada dalam hati ketika merasakan nikmat. Adapun usaha haruslah selalu diluapi semangat tak kenal lelah dan optimisme. Para rasul tak dapat dikatakan gagal meskipun kelak di akhirat datang dengan pengikut yang sedikit atau bahkan seorang diri, sebab mereka telah mengupayakan segala usahanya di dunia ini. Begitulah kita, dakwah ini akan membuat kita berbuat banyak, baik itu dalam doa, pikiran, usaha dan ekspektasi kita.

Jalanku yang Terbaik

Ketika ditanya, apakah jalanmu itu jalan terbaik? Bingung lagi menjawabnya. Pertanyaan yang sangat menyesakkan untuk di jawab. Tetapi keputusan harus segera kita tentukan selagi panggilan dakwah ini telah datang. Atau kita hanya menjadi orang-orang yang bimbang dalam pertanyaan yang sebenarnya tidak butuh dijawab, tetapi dijalani dan dibuktikan. Yah, lakukan saja. Jalani sampai tuntas, tanpa harus menjawab dengan panjang lebar.

Apakah manhaj ini yang terbaik? Ini juga pertanyaan sulit. Tetapi aku memilih berpegang pada apa yang telah dipegang para ulama. Ini hanya sebuah sarana, bagaimana pun, ada pilihan bagi kita selagi kita mengerti dan memahami ilmunya. Selagi kita selalu berbaik sangka kepada Allah, maka Dia akan bukakan petunjuk di saat keraguan datang kepada kita untuk mengambil keputusan akibat banyaknya fitnah di zaman yang semakin tua ini. Kemudian, ada kata kunci bahwa kita harus senantiasa berpegang teguh di atas jalan ini dengan berjamaah. Itulah kunci persatuan umat yang akan mengantarkannya pada kemenangan.

Futuh adalah sebuah impian, dia bukan domain logika manusia. Tetapi Allah sudah menjaminnya bahwa suatu saat akan terwujud. Semua akan terjadi seiring dengan kesungguhan usaha dan keikhlasan para pengusung-pengusung dakwah ini. Kita yakini benar jalan ini, dan suatu saat pasti Allah akan mempersatukan saudara kita yang terikat dalam akidah yang lurus ini ke dalam barisan kaum mukminin untuk mentadbir kembali dan berjuang mengalahkan orang-orang kafir. Dan saat itulah daulah Islam akan kembali berkuasa di atas dunia. Semua dengan proses. Dan kitalah bagian dari proses itu. Dan kitalah yang harus berkontribusi memberi jawaban itu.

Realitas Kader Hari ini

Dan jika ditanyakan bagaimana kabar kader dakwah hari ini? Terkadang muncul pesimisme, tak terkecuali orang yang menulis risalah ini. Tetapi setelah mengingat bagaimana para Rasul itu telah berbuat, maka kita harus segera memupus rasa pesimisme hari ini. Saat ini, dakwah telah bergerak naik hingga nanti suatu saat berada di puncaknya.

Mungkin hari ini kita melihat banyak kekurangan di sana-sini dari diri kita, kawan-kawan kita. Hingga muncul pertanyaan apakah kita sudah siap untuk menyongsong mihwar dauly? Sebuah fase yang akan menguji nyali dan pengorbanan setiap kader dakwah. Mari pandang diri kita masing-masing. Seberapa serius kita mengejar kualitas diri baik dalam ibadah maupun kompetensi. Ingat, kualitas diri bukan pada kuantitasnya saja. Karena kualitas itulah yang akan menentukan seberapa besarnya pertolongan Allah pada kaum muslimin. Kualitas ibadah dan kekuatan doa akan mampu mengguncang pintu langit. Kualitas kompetensi akan menjadikan kita hadir sebagai solusi di tengah manusia.

Siapkah kita dengan tantangan dakwah hari ini? Mau tidak mau kita harus menjawab “SIAP”. Nahnu duat qobla kulli syai’ (kita adalah dai sebelum menjadi segala sesuatu). Semoga Allah memudahkan langkah kita semua!

Kategori
Dakwah Islam

Ujian Tauhid untuk Masyarakat Desa

Jalan aspal yang melintasi dusunku sepanjang 1 km beberapa bulan terakhir ini sering menjadi tempat kecelakaan yang menimbulkan korban jiwa, mulai dari luka ringan hingga luka parah dan bahkan kabarnya ada yang meninggal di perjalanan. Tapi Alhamdulillah belum ada yang meninggal di tempat kejadian. Korbannya pun mulai dari warga dusunku hingga orang luar yang memang melintasi jalan tersebut.

Alhasil, muncullah inisiatif dari warga untuk mengadakan Yasinan di pinggiran jalan itu setiap malam jumat. Ini sudah berjalan 4 kali. Kalo aku dan keluarga sih sudah tidak mengikuti agenda-agenda Yasinan dan turunannya sesuai dengan keyakinan kami terhadap syariat. Adanya amalan yang menurutku unik ini akhirnya menyita perhatianku untuk menulis, karena malam ini sebelum aku menulis pun baru saja terjadi kecelakaan yang mengakibatkan orang tetangga dusun mengalami pendarahan hebat di kaki. Lokasinya tepat di depan rumah kakekku. Nah, pasti ini jadi warga makin berpikir macam-macam.

Musibah itu Kehendak Allah

Padahal, bukankah sebenarnya musibah itu adalah semata-mata karena takdir Allah? Datangya berbagai bencana dan ujian itu adalah hak prerogatif Allah yang independen terhadap perbuatan makhluknya. Inilah kehendak transeden Allah yang tidak dapat dikait-kaitkan dengan apa pun. Allah telah berfirman

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (At-Taghabun : 11)

Jadi apa hubungannya Yasinan dengan musibah itu nantinya? Sulit didefinisikan kan.

Yasiinan itu sendiri adalah ibadah yang tidak disyariatkan. Karena men-spesial-kan surat Yasiin di atas surat lainnya dalam al-Quran bukanlah suatu kebaikan. Bukankan semua kalam Allah dalam al-Quran itu mulia? Apa lagi jika meyakini bahwa dengan dibacakannya surat Yasiin itu kemudian menjadi sebab dihindarkannya musibah kecelakaan yang ada di sepanjang jalan itu. Di mana dalilnya dan apa dasar hukum yang sah untuk melakukan sebuah ibadah dengan tujuan seperti ini? Ini menunjukkan bagaimana pemahaman masyarakat tentang ibadah itu sendiri masih jauh dari kebenaran.

Mitos yang Tidak Beralasan

Setelah kejadian malam ini, bisa jadi masyarakat akan beranggapan bahwa jalanan aspal yang melintas di dusun kami adalah jalanan yang wingit (angker) karena selalu meminta korban. Hah, ini adalah penyimpangan aqidah yang tidak seharusnya terjadi. Berbagai perbincangan yang dibesar-besarkan khususnya tokoh-tokoh tua masyarakat yang aqidahnya masih bercampur baur dengan klenik hingga gossip ibu-ibu yang rendah pemahaman agamanya menjadikan masyarakat seolah-olah membenarkan anggapan di atas. Padahal, bukankah itu sebenarnya hal biasa saja. Suka-suka Allah dong memberikan musibah kepada hamba-Nya. Mengapa harus dikait-kaitkan dengan berbagai hal yang tidak beralasan.

Bagaimanapun, ini menjadi tantangan tersendiri bagiku untuk meluruskan pemahaman masyarakat tentang takdir dan musibah. Namun, ini bukan perkara mudah mengingat ego masyarakat dan kecenderungan untuk mengagungkan pemahaman orang yang dianggap lebih tua masih tinggi. Ditambah lagi kedekatan masyarakat pada Islam masih jauh, mengingat background masyarakat di masa lalu adalah kaum nasionalis tulen dan komunis. Benar atau tidaknya sejarah itu, yang pasti fakta hari ini menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat terhadap Islam masih sebatas kulitnya saja.

Akhirnya, kisah kecelakaan beruntun yang menghiasi jalan yang melintas dusunku adalah sebuah ujian untuk menguji tauhid masyarakat. Tetapi itu adalah ladang amal bagi siapa pun yang ingin menegakkan agama ini. Dengan cara terbaik dan perkataan yang mulia. Meluruskan pemahaman sesuai dengan bahasa masyarakat sehingga tidak menghakimi dan justru menjadi inspirasi. Itulah tantangan untuk generasi muda yang telah memahami Islam ini, dan terkhusus untukku yang mungkin saat ini menjadi orang yang paling dekat untuk mewujudkan hal ini. Akan kucoba, perlahan-lahan sesuai dengan kapasitasku.

Kategori
Dakwah Islam

Bagaimana Berdakwah?

Mengawali sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan ini, aku sempatkan untuk pulang ke rumah. Di rumah lebih menenangkanku dan lebih memudahkanku untuk bermuhasabah. Kebetulan juga tidak ada amanah penting di kampus, selain hanya undangan buber yang begitu ramai di sana sini. Biar saja lah, semoga ada kesempatan lain untuk makan bareng. Usai shalat tarawih, kudengarkan siaran kajian Radio Dakwah dan Syariah (101,4 FM).

Wuih, ada kajian menarik tentang hadits-hadits kesabaran dalam berdakwah. Karena tadi aku tidak mengikuti dari awal, jadinya tidak tahu kitab apa yang digunakan dan siapa ustadz yang mengisi. Hanya sepertinya aku familiar dengan ustadz ini yang begitu faqih dan open mind dalam menyampaikan, yaitu ustadz Eman Badrutaman, Lc. Whatever-lah, yang penting isinya bagus. Nah, kurang lebih seperti ini nih yang aku dapat.

Kesabaran dalam Dakwah : Asas Perbaikan Umat

Begitu radio kuhidupkan, langsung masuk pada hadits yang disyarah oleh Syaikh Utsaimin. Diceritakan ada dialog antara Khalifah Ali rodhiyallohu ‘anhu dengan seseorang yang menjadi khawarij gara-gara fitnah yang luar biasa hebat di masa-masa akhir kekhalifahan Utsman rodhiyallohu ‘anhu. Orang tersebut memprotes kepemimpinan khalifah.

Pasalnya orang khawarij itu menganggap pemerintahan Ali dianggap tidak mau menumpas kelompok Muawiyah yang mereka anggap sebagai pemberontak dan justru khalifah dianggap berhukum dengan manusia saat gencatan senjata di Perang Siffin. Jadi di mata khawarij, baik Ali maupun Muawiyah semua buruk dan sama saja. Betapa buruknya mereka, menganggap buruk bahkan mengkafirkan 2 sahabat Rasulullah yang mulia, yang satu adalah Bahrul Ulum (lautan ilmu) dan yang lain adalah Khoirul Malik (Sebaik-baik Raja setelah Khalifah Rasyidah) yang keduanya juga sama-sama penulis wahyu di masa Rasulullah.

Akhirnya terjadi percakapan yang kurang lebih begini

Khawarij : “Hai khalifah, pemerintahan Anda tak sebaik pemerintahan Abu Bakar”

Ali : “Tahukah kamu, ketika khalifahnya Abu Bakar, rakyatnya adalah kami. Sedangkan ketika aku sekarang menjadi khalifahnya, rakyatnya macam kalian ini.”

Ini adalah jawaban yang sangat bagus dan diplomatis. Pukulan telak untuk membungkam mulut-mulut lancing orang khawarij.

Intinya, kisah tersebut memberikan ibrah bahwa dalam sebuah masyarakat atau bangsa maka keberadaan pemimpin dan rakyat adalah suatu perpaduan yang akan menentukan kualitas masyarakat itu sendiri. Jika di masa Abu Bakar, atau bahkan Rasulullah masyarakat begitu damai dan dipenuhi keadilan karena pemimpinnya sangat adil dan rakyatnya sangat taat kepada pemimpinnya. Hal ini kemudian berbeda keadannya ketika zaman fitnah terjadi, di mana pemimpinnya sebenarnya adalah orang yang adil (yaitu sahabat utama Rasulullah) tetapi rakyatnya adalah pemberontak yang lebih suka membuat kekacauan. Jadinya tatanan masyarakat pun menjadi kacau. Maka jawaban khalifah Ali itu sebenarnya akan membuat orang tersebut bersimpuh dan menyadari kesalahannya. Tapi, dasar khawarij, masih saja mencari pembenaran pribadi.

Jika itu direfleksikan kepada negeri kita saat ini. Hemm, luar biasa kacaunya. Karena jika diakumulasi, baik pemimpin maupun rakyatnya kondisinya sama-sama rusak. Jangankan berbicara penegakan syariat Islam, berbicara masalah kebaikan Islam saja sudah buru-buru menyumbat telinga, padahal mayoritas adalah kaum muslimin itu sendiri. Berapa orang baik yang mendapat kedudukan di parlemen, eksekutif, peradilan dan posisi-posisi strategis lainnya? Masih sangat sedikit, padahal banyak penjahat dan perusak yang sudah bercokol, tidak hanya secara individu tetapi sudah menjadi klan kejahatan yang siap menjarah dan merusak negeri. Tetapi, yakinlah bahwa Harapan itu Masih Ada.

Lalu bagaimana solusinya? Jika dikembalikan ke pemahaman yang benar, maka perbaikan itu berawal dari pemimpinnya. Tetapi bukan berarti rakyat tidak memiliki tanggung jawab untuk menjadi baik. Semua harus beriringan. Apakah masuk akal jika tiba-tiba ada orang shalih tiba-tiba menjadi presiden di tengah masyarakat yang begitu cinta dan berbudaya korupsi, mulai dari waktu, kepercayaan hingga uang yang jumlahnya tak terperi? Maka baik penguasa maupun rakyat semua harus berubah menjadi lebih baik jika ingin masyarakat ini menjadi baik kembali. Pemimpin menjadi teladan dalam kebaikan dan menjadi pejuang keadilan. Rakyat menjadi teladan dalam ketaatan. Alangkah indahnya.

Nah, di sinilah kemudian kesabaran berdakwah itu diperlukan. Bagaimana mengubah masyarakat yang sudah mengalami masalah super ruwet in? Pertama, perbaiki diri (islahun-nafs) dan kemudian mengajak orang-orang terdekat kita untuk mengenal dan mencintai Islam. Maka kemudian ta’lim dan tarbiyah Islamiyah itu menjadi asas perubahan masyarakat. Berbicara tarbiyah Islam itu bukan bicara target bahwa tahun sekian harus begini dan begitu, tetapi berbicara bagaimana kita melakukan dan seberapa besar passion kita dalam menjalankan proses itu. Hanyalah omong kosong jika kita bicara dakwah ini itu dengan targetan ini itu sampai detil tetapi implementasinya nihil. Maka proses yang optimal dan kesungguhan dalam berdakwah itulah kunci suksesnya dakwah dan kaderisasi umat ke depan.

Mengambil ibrah dari Rasulullah yang telah menghabiskan 23 tahun membina umat dan akhirnya menjadi peletak dasar daulah Islam maka itu seharusnya menjadikan kita untuk muhasabah dengan berbagai upaya dakwah yang seringkali tergesa-gesa. Ingin segera memetik hasil. Padahal, bahkan kejayaan Islam menjadi payung dunia itu baru terwujud selama beberapa abad kemudian setelah wafatnya Rasulullah. Tetapi mari kita lihat bagaimana Rasulullah totalitas menjalankan dakwah, dan kemudian dilanjutkan para sahabat yang mulia hingga para ulama. Rasulullah konsisten menjadi public figure yang pantas diteladani. Itulah contoh bagaimana seharusnya menjadi pemimpin. Para sahabat menjadi teladan dalam ketaatan, bagaimanapun sering kali pendapatnya berbeda, tetapi mereka percaya bahwa yang menjadi pemimpinnya adalah seorang utusan Allah.

Hal itu masih bertahan hingga masa pertengahan kekhalifahan Utsman sampai akhirnya badai fitnah berkecamuk gara-gara pengkhianat Ibnu Saba’, sang provokator ulung dari Yahudi. Dan inilah ujian bagi umat bagiaman mereka seharusnya taat kepada pemimpin dan menyikapi secara arif terhadap perbedaan yang terjadi serta mampu membedakan mana yang itu merupakan perbedaan dan mana yang itu hanyalah sebuah provokasi. Karena bagaimanapun, di masa fitnah itu rakyat kehilangan kepercayaan terhadap pemimpin, bahkan kepada pemimpin yang sudah kita kenal keadilannya itu.

Maka sekali lagi, dakwah adalah asas perbaikan umat jika ingin masyarakat kita mengamalkan Quran dan Sunnah. Dan kesabaran itu adalah senjata utama untuk melakukannya. Karena tidak akan ada dakwah yang bertahan kecuali dengan kesabaran yang membuahkan keistiqomahan. Menjalani proses dan bertahap hingga suatu saat terwujud tatanan masyarakat yang Islami dengan pemimpin yang menegakkan syariat Islam.

Sabar dalam Berjihad

Ini berkaitan tentang hadits yang menyatakan bahwa janganlah kita mencari-cari musuh, tetapi jika suatu saat musuh datang maka tetaplah ditempat dan bersabarlah untuk menghadapinya. Di akhir hadits ini dikatakan bahwa Syurga itu di bawah kilatan pedang. Hemm, yang hobi pukul-pukulan ini dianggap sebagai ayat yang melegalisasi aksi brutal untuk menghancurkan.

Padahal, kata kunci tentang jihad adalah bahwa jihad itu bagian dari proses dakwah, bukan dakwah itu untuk menuju jihad. Makanya hendaknya kita arif dalam menyikapi berbagai kemaksiatan di negeri ini agar jangan sampai kita berlaku brutal dan akhirnya menurunkan izzah Islam di mata orang-orang kafir. Jangan sampai kita membenarkan berbagai tindakan kekerasan atau terorisme. Sebelum ada perintah dari pemerintah (dalam hal ini pimpinan negara) untuk berperang dan menegakkan syariat Islam dengan jihad maka kita tidak boleh bertindak gegabah. Mungkin kekuatan hasil bela diri kita atau berbagai kekuatan perang kita untuk melawan orang-orang kafir tidak digunakan semasa kita hidup, tapi alangkah lebih indah jika ternyata Indonesia bisa menjadi lebih baik tanpa adanya perang.

Jangan sampai kita mencari-cari musuh, atau menebarkan kekacauan agar memunculkan musuh. Itu bukan tindakan yang dicontohkan Rasulullah, karena sejak jihad diserukan oleh Rasullah itu terjadi karena orang-orang kafir lah yang membuat sebab. Dan kaum muslimin menuntut bela atas kerusakan yang mereka lakukan.

Tetapi adalah sunnatullah, bahwa peperangan itu pasti akan selalu terjadi antara kaum muslimin dengan kafirin. Itu adalah sebuah keniscayaan, di mana keduanya punya tujuan untuk menebarkan pengaruhnya. Yang iman ingin menebarkan keimanannya, yang kafir ingin menebarkan kekafirannya, maka pastilah diantara keduanya akan terjadi perang. Jadi jika suatu saat hal ini telah terjadi, maka berlakulah bagian akhir dari hadits tentang bersabar dalam jihad. Artinya ketika musuh datang, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak berjihad. Bahkan jika kedua barisan telah berhadapan, maka pantang bagi kaum muslimin untuk mundur. Berperang sampai terbunuh sebagai syuhada atau berhasil membunuh hingga tercapai kejayaan Islam. Dan inilah implementasi kesabaran dalam berjihad.

Demikian ikhtisar dari kajian yang sempat terekam di kepala. Semoga menjadi inspirasi bagi kita di sepertiga akhir ramadhan ini.

Kategori
Memori

Kisah Cintaku bersama si NH

Sekilas baca judul ini, aku yakin ada yang mulai berpikir aneh tentang diriku. Siapa sih NH? Cewekku ya. Ha ha ha. Kan NH bisa kepanjangannya Nur Hidayah (wuih nama cewek kan), atau Nabila Hawa (makin ngaco). Bukan itu kawan, NH adalah Nurul Huda. Siapa dia? Temanku? Bukan juga. Lho siapa sih? Mbulet2 amat ya nulisnya. Simak liputan selengkapnya.

Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama

Ha ha, kayak nulis kisah asmara aja ya. Aku dulu pertama kali ke UNS sempat tersasar ke sana kemari. Mulai dari blusukan di kawasan Sangkrah (yang waktu itu aku ketemu dengan banyak preman, hiii ngeri) hingga muter-muter ga jelas sebelum akhirnya sampai di Jl. Ir. Sutami. Akhirnya aku melihat gerbang almamaterku tercinta. Itulah Universitas Sebelas Maret. Lho bukan Universitas Negeri Surakarta ta? Secara, UNS kan harusnya singkatannya begitu. Hemm, kata Prof. Ravik, rector kami ya begitulah UNS = Universitas Sebelas Maret. Udahlah bilang iya aja deh. Dari pada mbulet-mbulet dan ruwet pada pembahasan sebuah nama.

Setelah puas menatapnya akhirnya aku segera masuk dan menjelajahi kampus hijau itu. Hingga sampailah aku pada suatu bangunan berwarna hijau yang tampak tua namun begitu ramah menyapa penghuninya. Itulah NH, Nurul Huda. Oalah, masjid kampus ta? Iya betul. Itulah masjid kampusku yang telah melahirkan banyak kader dakwah yang terus bersemangat meneruskan perjuangan Rasulullah. Dan aku pun jatuh cinta padanya sejak pandangan pertama. Disinilah aku lepas lelahku dan kusandarkan badanku pada tiang-tiangnya yang megah.

Saat itu aku melihat pohon-pohon di depannya mulai ditebang. Ada apa gerangan? Sepertinya aka nada sesuatu proyek besar yang akan dijalankan di sini. Karena beberapa waktu kemudian banyak pekerja yang menggali saluran untuk pondasi. Akhirnya aku tahu bahwa suatu saat masjid ini akan segera direnovasi menjadi bangunan baru yang lebih kokoh.

Dari Syura hingga Daurah

NH, begitu aku dan semua pecintanya memanggil namanya, telah menjadi saksi sejarah bagaimana kader-kader dakwah di bentuk di sini. Di sana tersimpan hijab—hijab berwarna hijau yang akan selalu merekam percakapan dan berbagai syura perencanaan dakwah para pejuang Islam ini untuk senantiasa menghidupkan nuansa ke-Islam-an kampus UNS. Kata Aa Bim, itulah saksi bisu bagaimana semangat dan gagasan terkomunikasikan, bahkan hingga Cinta Lintas Hijab mulai bermunculan. Apa pun itu, kenangan akan NH dahulu adalah kenangan yang amat manis dan heroic.

Tak lupa daurah-daurah dan kajian senantiasa mewarnai kehidupan masjid kampus yang telah berusia 3 dekade itu. Masjid itu menjadi saksi hadirnya para pembesar di negeri ini untuk “medhar sabda” kepada para generasi muda, hingga kita bisa melihat hari ini ada banyak generasi Islam yang kokoh dan luar biasa terlahir dari rahim pembinaan masjid ini. Aku sendiri melihat banyak ustadz bahkan menteri mengunjungi masjid kampus ini. Adalah sebuah hal yang istimewa kurasakan bersama masjid yang begitu bersejarah ini. Bersejarah karena didirikan oleh rektor UNS yang berlatar belakang angkatan bersenjata. Konon waktu itu merupakan hal yang sangat tabu jika seorang ABRI begitu dekat dengan dakwah Islam, karena begitu kuatnya doktrin Pancasila melekat erat dalam dada mereka.

Dan Kini Ia Sedang Berganti Cover

Ha ha, mengapa aku menggunakan istilah cover. Secara terpisah aku baca postingan adikku di blognya tentang MHMMD ada foto peta hidup yang menyatakan pertama X ganti cover (maksudnya apa? Cari sendiri). Intinya sekarang NH yang dulu hijau dan ramai jamaah sekarang telah dihancurkan oleh bulldozer hingga rata dengan tanah. Eit, tenang, bukan untuk selamanya, karena setelahnya akan dibangun lagi NH yang baru dan lebih megah. Dan itulah dia, sedang mengalami pergantian cover.

Cerita tentang pembangunan NH ini pun menurutku benar-benar luar biasa. Awalnya takmir hanya ingin merenovasi bertahap (secara kalo mau ngebangun ulang juga butuh dana bermilyar-milyar). Sampai ada GISS (Gerakan Infak Seribu Seminggu) yang melibatkan relawan dari mahasiswa. Selain itu penggalangan dana renovasi NH juga giat dilakukan di event-event besar. Alhamdulillah akhirnya bisa terkumpul hampir 2,5 M. Luar biasa kan jika itu dapat diraih dari infaq hanya selama kurang lebih 3 tahun.

Allah pun tak menyia-nyiakan kerja keras itu. Di tahun anggaran 2012 ini akhirnya pemerinta menyetujui proposal pembangunan kembali masjid kampus NH yang sekarang lebih akrab dengan NHIC (Nurul Huda Islamic Center) dengan angka 14 M. Luar biasa, insya Allah cukup untuk membangun kembali masjid kampus dengan kapasitas dan fasilitas yang lebih baik. Alhamdulillah, kini kau akan segera menjadi lebih gagah NH. Makin cinta deh ma kamu. Suatu saat setelah aku lulus nanti, aku pasti kembali untuk melihat wajahmu yang baru.

NHq sayang, inilah kisah cinta kita yang bisa kutulis.

Kategori
Refleksi

Mad Munfashil : Pentingnya Sebuah Konsistensi

“Banyak orang yang bertekad dan berkeinginan besar, tetapi sedikit yang memang konsisten untuk merealisasikan”

Hemm, pernahkan kalian ikut tahsin? Iya, tahsin atau memperbaiki bacaan al-Quran sesuai dengan kaidah bahasa Arab dan riwayat qiraat yang benar. Dan di Ramadhan kali ini aku kembali melakukannya seperti beberapa tahun silam. Hanya saja aku sekarang berguru kepada seorang ustadz muda, murid para masyayih pakar ulumul Quran dari timur tengah. Tentu sesuatu banget, secara dulu-dulu hanya melalui ustadz-ustadz yang basic-nya bukan pakar al-Quran.

Nah, intinya saya sadar bahwa ternyata makharijul huruf saya saja masih banyak yang salah. Karena sudah lupa mengamalkan ajaran guru-guru sebelumnya dan cenderung berorientasi kuantitas saja saat tadarus. Akhirnya, setelah disimak langsung oleh sang ustadz, nyatalah bahwa bacaan saya masih banyak yang kacau. Dan sebagaimana postingan sebelumnya, banyak hikmah yang dapat kuurai dari perjalanan mengikuti kegiatan tahsin ini.

Hal yang paling membekas di majelis tahsin hari ini adalah saat beliau menyampaikan materi tentang mad munfashil atau sering dikenal dengan mad jaiz munfashil. Mad munfashil adalah bacaan panjang dari sebuah mad thobii yang bertemu dengan huruf hamzah pada kata yang sesudahnya. Cara bacanya adalah 4/5 harakat atau dibaca seperti mad thobii yaitu 2 harakat. Tetapi yang kemudian beliau tekankan adalah, jika kita memilih 2 harakat, maka selanjutnya untuk setiap mad munfashil yang dibaca harus 2 harakat. Atau jika 4/5 harakat maka ya harus konsisten sepanjang itu

Dan tahukah? Ternyata ini adalah sebuah pelajaran bagi kita untuk belajar konsisten. Dalam membaca al-Quran saja kaidah konsistensi ditekankan sebegitu pentingnya, apa lagi dalam mentadabburi dan mengamalkannya. Mungkin hanya sepele perkara mad, tetapi sanggupkah kita menjadi orang yang konsisten dengan sebuah pilihan yang beraneka rupa seperti sekarang. Hemm, pasti akan banyak ibrah yang akan dapat kuterima dalam pelajaran tahsin ini. Masih ada banyak pertemuan ke depan. Ya Rabb, sadarkan diriku.

Demikianlah sekilas cerita tentang sisi lain dari sebuah makna konsistensi. Semoga kita bisa menjadi pribadi yang KONSISTEN memegang teguh nilai-nilai dasar rabbaniyah.

Kategori
Misi Perubahan

Berproses itu ….

“Menyampaikan gagasan besar saat kita telah berproses menjadi orang besar itu akan semakin dekat untuk diwujudkan, tetapi berkata besar ditengah ketidaksungguhan untuk berproses sungguh itu hanya sebuah gurauan dan omong kosong.” (Mas Tomy)

Hikmah itu adalah milik orang-orang mukmin. Dimanapun ia mendapatkannya, maka ia lebih berhak atasnya sekalipun itu diperoleh di tempat yang paling buruk sekalipun. Apalagi jika hikmah itu diperoleh dari tempat dan orang-orang yang memang penuh dengan hikmah. Dan hari ini aku mendapatkan hikmah dari dua majelis yang sangat luar biasa dengan dua orang yang luar biasa pula.

 Jangan Egois

Orang pertama yang kutemui adalah seorang pengusaha muda. Sangat muda, tapi luar biasa. Dan aku tidak perlu membicarakan omzetnya. Yang pasti untuk orang seusianya dengan masa mulai usahanya yang belum lama, omzet yang beliau terima sampai hari ini begitu mencengangkan. Ada hal yang mengagumkan bagiku terkait beliau ini.

Pertama, beliau adalah orang yang mempercayai bahwa berbisnis yang terbaik itu tanpa modal dan tanpa hutang. Beliau adalah orang yang begitu teguh dalam menjalani hal ini di awal sampai akhirnya bisnisnya bisa begitu besar sampai seperti sekarang. Bahkan ketika ada temenku yang butuh hutang untuk usahanya, maka aku mempertemukan dia dengan beliau. Alhasil, bukan pinjaman yang diperoleh tetapi nasihat-nasihat luar biasa dari pengusaha yang rendah hati. Beliau berkata, “bahkan sebenarnya saya bisa saja memberimu 10jt dek, tetapi saya tahu bahwa saya sedang berhadapan dengan calon pengusaha, maka mulailah dulu usahamu dengan benar, jika nanti membutuhkan pendukung dalam usaha yang sudah jelas berjalan, anda bisa saja menemui saya kembali”. Ini bukan pelit, tetapi bagaimana beliau meyakinkan diri kami agar tidak menjadi pengusaha kapitalis.

Kedua, beliau orang yang tidak profit oriented. Bagi beliau, menjadi pengusaha adalah jalan untuk menjadi perantara rizki orang lain sekaligus mengangkat harkat ekonomi masyarakat muslim. Saking hati-hatinya beliau dengan masalah keuntungan beliau sampai mengajukan permintaan kepada bank Muammalat untuk membuat buku tabungan khusus bagi dia yang tidak mengikuti ketentuan umum dimana hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan uang dengan pembebanan biaya administrasi bulanan. Namanya pengusaha kaya, yah bank pun mengabulkannya, karena mereka pasti juga butuh dana untuk diputar. Itu adalah kehati-hatiannya dari riba.

Kemudian beliau justru takut dengan capaian tahun ini. Jika sampai tutup tahun kemarin omzet beliau belum ada 1 M, sekarang baru 6 bulan saja udah di atas 1 M. Beliau khawatir jika ini adalah istidzraj dari Allah. Sebegitu takutnya beliau. (Secara, hal ini adalah sesuatu yang sangat langka muncul di kalangan pengusaha zaman ini dimana keuntungan itu adalah segala-galanya). Aku jadi sadar, sebenarnya menjadi kaya itu adalah sebuah keharusan jika memang dimulai dari impian besar dan benar. Bukan menjadi keinginan yang berbuah pada nafsu keserakahan.

Bagi beliau, setelah sukses dalam ukuran materi, hendaknya para pengusaha mendorong bangkitnya usaha-usaha baru dari para pemuda atau menjadi bagian yang kuat dalam usaha rakyat. Sekarang banyak orang muda yang kaya dan sukses, tapi sayang kontribusi mereka dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat justru nihil. Yang muncul adalah individualisme. Benarlah kata Pak Eri Sudewo, statemen bahwa “Indonesia butuh pengusaha lebih banyak lagi” itu sangat berbahaya jika tidak diikuti dengan interpretasi yang benar seperti pemahaman pengusaha muda yang kutemui hari ini. Dan aku pun mendapat motivasi untuk segera meninggalkan zona nyaman dan berbuat apa pun itu selama bisa menjadikanku mandiri. Yah, aku harus mandiri.

Allah, masih ada orang yang begitu peduli dengan hal yang sepertini. Luar biasa nikmatmu kau pertemukan aku dengan orang-orang baik di bumi ini. Bahkan beliau pun telah memikirkan mengapa kota Solo sekarang terus membangun layaknya Singapura. Ada apa? Di tengah kekuatan ekonomi kaum muslimin yang semakin melemah, modernisasi terus dijalankan di kota budaya ini. Ada apa? Apakah ada sebuah strategi untuk menghentikan nafas utama kota pergerakan ini. Beliau berharap, terlahir pada pengusaha-pengusaha muslim yang akan menjadi penyokong kekuatan pergerakan Islam sehingga tradisi dan kultur ke-Islam-an yang telah kuat tidak tergerus arus modernisasi.  Bagaimanapun Solo adalah pusat pergerakan dakwah terbesar di Indonesia, yang paling lengkap dan paling fundamental. Apakah ada konspirasi untuk menghentikan itu semua, apakah kita para pemuda tidak menyadarinya lagi? Hemm, aku juga terbelalak. Itu sebuah analisis yang tajam dan cerdas.

Sabar Berproses

Setelah aku mendapat hikmah untuk tidak menjadi manusia egois, sorenya aku kembali mendapatkan pencerahan untuk sebuah usaha besar. Yah, selama Ramadhan ini aku mengikuti pelatihan tahsin. Mirip seperti anak TPA jaman dulu. Bedanya sekarang yang mengikuti adalah orang-orang tua, dan aku mungkin tergolong peserta dengan usia paling muda. Dan ternyata aku sangat malu dengan apa yang kurasakan saat ini. Merasa udah lancar baca Quran dan paling bagus di antara teman2 satu liqo apalagi di rumah. Ternyata di majelis ini, aku mengucapkan a ba ta saja banyak yang salah. Astaghfirullah…. Aku harus segera bertaubat dari sifat takabur ini. Apa lagi aku terbiasa baca Quran dengan tempo cepat untuk mengejar target amal yaumi. Alamak, harus kuhentikan, sekarang saatnya mengejar dulu kualitas bacaannya.

Aku sampai cengar-cengir disimak oleh ustadz muda yang udah hafidz al-Quran. Begitu sabarnya belaiu membimbing kami. Hemm, melafadzkan ta’awudz dan basmallah dengan benar saja butuh berhari-hari. Dan aku sampai saat menulis artikel ini belum yakin apakah kedua lafadz tadi telah benar atau belum. Apalagi dites al-Fatihahnya. Ya Rabb, ternyata aku hampir melalaikan sebuah kewajiban besar. Alhamdulillah telah disadarkan sekarang, jika tidak tentu istri dan anakku kelak tidak bisa mendapatkan haknya tentang ulumul Quran dari seorang suami dan ayah. Ini hanya tentang membaca, belum pada tadabbur dan pemaknaan al-Quran.

Dan inti dari itu semua aku memahami bahwa proses itu ternyata sangat panjang dan akan sangat melelahkan. Bagaimana dulu aku saat masih nakal, kemudian dimbimbing untuk menjadi manusia yang lebih mengenal Islam sehingga sekarang bersemangat untuk menjadi bagian dalam dakwah Islam. Meski tertatih, tetapi ini lebih baik kurasakan dari sekian waktu silam. Dan berproses itu membutuhkan keistiqomahan dan kejelasan orientasi akhirat. Hemm, mas Tomy benar, bisnis itu bukan mengejar untungnya, tetapi kejar manfaatnya agar masa depan akhiratmu kelak menjadi lebih cerah. Dan berproses itu butuh ketekunan dan cinta, seperti senyum Ustadz Rudi yang sabar membimbing kami dalam memainkan lidah dan mulut agar dapat mengucapkan lafadz agung itu dengan benar seperti masa-masa Rasulullah dahulu.

Ada rasa gundah karena mungkin merasa terlambat, tetapi bagaimanapun optimisme jauh lebih besar di sana. Aku ingin membuat masa depan yang baik, karena pasti takdir Allah telah menunggu di sana. Dia Maha Tahu apa isi hatiku hari ini. Sebuah mimpi yang perlu kujawab dengan jujur dan dengan kerja keras. Tugasku adalah bekerja mewujudkannya, dan hasilnya terserah Dia. Tapi Dia pasti tidak akan menyia-nyiakan kerja keras hamba-Nya. Akan selalu ada balasan terbaik jika diiringi keikhlasan dan dedikasi, meskipun mungkin akan dijawab-Nya di akhirat. Itulah hikmah berproses. Ternyata proses yang kujalani belum apa2, masih panjang Dika, masih banyak yang harus kau hadapi. Yang penting pancang orientasimu dengan benar mulai hari ini. Yah hari ini, karena esok bagimu itu masih belum ada kepastian. Semoga Allah meridhoi!

Kategori
Misi Perubahan

Tak Kenal Henti

Hari ini terasa begitu menyenangkan. Ketika seharian dipenuhi berbagai aktivitas bermanfaat sehingga Ramadhan kali ini kian bermakna. Kira-kira ngapain aja ya. Seperti biasa Ahad pagi ini diisi dengan jalan-jalan. Ke mana? Pasti ke zona-zona ga jelas. Maksudnya blusukan ke alam bebas. Itu adalah jalan untuk menanamkan kembali semangat pedesaan di jiwa adik-adikku yang sekarang rentan terkenan gejala-gejala kotaisme. Halah, maksude gengsi urbanisasi dan individualism hidup.

Alhamdulillah, Kepengurusan Pun Berganti

Ketika matahari telah beranjak memasuki waktu dhuhanya. Sebuah sejarah baru terukir di Masjid At-Taqwa Grojogan. Sebuah masa dimana para pemuda muslim di Beji menemukan dirinya, semoga demikian. Hari itu, telah diputuskan pergantian pengurus PRISMA (Persatuan Remaja Islam Cendikia) Desa Beji dari generasi tua (termasuk aku) ke generasi yang lebih muda, lebih segar dan lebih atraktif. Aku terharu ketika musyarawarah dapat berjalan dengan baik kendati hanya dihadiri perwakilan dari 7 masjid, padahal ada 14 masjid se desa yang harusnya datang. Tidak mengapa, kini kepemimpinan PRISMA telah berpindah dari sahabat baikku Dedi kepada adikku yang luar biasa Hendri, dan tentunya dibersamai sahabat-sahabatnya dari perwakilan masjid.

Harapannya kepengurusan ini dapat semakin lebih mendekatkan dan merangkul para pemuda di Beji agar bergabung dalam agenda2 yang lebih positif dan berisi, tidak terombang-ambing tidak jelas seperti sebagian besar yang terjadi sekarang. Semoga Hendri dan teman-temannya dapat berkiprah lebih baik dari pada kami. Kami selaku generasi tua siap mensupport apa pun agar keberjalanannya ke depan semakin baik dan bermanfaat. Dedi, Rahmad, Ega, dek Citra, our time is over, but we have to assist them everytime. Kurasakan ada energy baru yang akan segera membakar semangat generasi muda dan membawa Bejiku lebih teduh dalam naungan Islam.

Ternyata Ayahnya adalah Inspirator

Setelah selesai urusan PRISMA, ternyata ada ajakan dari mbak Indah (IM3 dan YIM UGM ) untuk menemui salah satu tokoh pemuda + pengusaha di Ngawen. Siapa dia? Mas Joko Pitoyo, sosok nyentrik jebolan FKIP UNS yang pernah menjadi Presiden BEM FKIP dan menjadi ketuanya para presiden BEM KIP se-Indonesia. Dia adalah kakak kelasku jauh di waktu SMP. Ya, sekarang beliau sudah menjadi pengusaha sukses (menurutku).

Bukan Joko Pitoyonya sih yang akan banyak saya ceritakan. Waktu kami datang ke rumah beliau, tepatnya rumah ortu beliau, mas JokPit belum sampai di sana. Jadilah kami mengobrol dengan ayahnya, Bapak Samso, sang petani tulen yang luar biasa. Dari beliau kami mendapatkan banyak kisah hikmah mulai dari tekad beliau untuk membuat keenam putra-putri beliau sukses dalam pendidikan dan memiliki visi hidup yang tinggi. Beliau mungkin hanya petani di mata orang, tapi siapa mengira bahwa beliau adalah sosok petani tingkat provinsi DIY. Petani yang cara pandangnya maju. Wajarlah jika ternyata semangat ini menurun ke anak-anaknya yang semuanya telah menjadi “orang”.

Apa resepnya? Doa dan dukungan yang kuat. Luar biasa, sampai sekarang beliau tetap membiasakan anak-anaknya untuk kumpul 2 pekanan di rumah beliau. Makan bersama adalah sebuah tradisi yang selalu beliau tanamkan, meski hanya berlauk “sambel bawang”, sambal kesukaanku kalo lagi pulang ke rumah. Mungkin sederhana, hanya makan bersama, pake sambel lagi, tapi ternyata itulah kekuatan yang membuat klan keluarga beliau begitu kuat dan memiliki ikatan yang solid.

Di tanya wawasannya? Ga kalah deh sama anaknya. Cerdas tenan. Dan siapa mengira rumah beliau yang tergolong sederhana pernah dikunjungi oleh Prof. Furqon Hidayatullah, M. Pd. Dekan FKIP UNS selama 2 periode ini. Apa yang istimewa dari seorang Joko Pitoyo? Atau mungkin memang Bapak dan Anak ini adalah prototip langka manusia-manusia pejuang yang ada di tanah kelahiranku. Intinya aku perlu banyak belajar lagi dari mereka tentang sebua visi hidup.

Indahnya Bersama Masyarakat

Dan perjalananku hari ini ditutup oleh sebuah undangan dari dek Risa, KKN PPM UGM di Sidorejo. Hah, aku di suruh ceramah di depan jamaah di sana. Bismillah, berani dulu. Bermodal bahasa jawa ajaran alm. Pak Darmadi, ku sanggupi permintaan mereka. Dengan bahasa yang sederhana aku berbagi tentang pentingnya membina generasi muda.

Melihat begitu mengerikannya angka urbanisasi yang berdampak pada matinya kepemimpinan muda di desa membuatku begitu semangat untuk “meracuni” orang-orang tua dalam masalah membina SDM di desa. Intinya aku bercerita tentang bagaimana membina adik-adik yang sekarang masih sekolah agar memiliki cita-cita yang jelas dan berkontribusi bagi desanya kelak. Secara, generasi pemuda adalah generasi penerus, generasi pengganti, dan generasi pembaharu. Aku menawarkan beberapa poin:

  1. Menanamkan pendidikan agama dan membentuk karakter yang baik sejak dini.

Ini perlu peningkatan ilmu parenting dan kesadaran orang tua maupun calon orang tua. Dari pada pacaran ga jelas, mending pada belajar persiapan jadi calon orang tua. Sehingga ga masalah kalo nikah ketemu dengan siapa, asal lawan jenis (iya dong, masak homo), shalih/ shalihah, dan bertanggung jawab.

  1. Menumbuhkan kepercayaan pada mereka sebagai bagian dari masyarakat dan pelibatan secara aktif dalam kegiatan kemasyarakatan

Terkadang masyarakat menganggap generasi muda (ABG) itu masih seperti anak kecil. Dianggap belum bisa berpikir dan macem-macem lah. Kalo anaknya dari keluarga baik sih tidak masalah. Kalo nggak, gimana coba? Sebenarnya salah satu timbulnya komunitas negatif di kalangan remaja desa, karena masyarakat kurang “nguwongke” mereka sehingga mereka lebih memilih menjadi komunitas mandiri yang saling memanusiakan yang lain. Dan menjadikan para tokoh tetua itu rival abadinya. Jika sudah begini, bagaimana desa akan ada penerusnya yang berkualitas. Sementara yang agak pintar sedikut udah buru-buru diminta kerja ke kota, biar kaya dan bisa setoran tiap bulan.

  1. Kesadaran sosial untuk melakukan pembinaan remaja

Dan ini adalah puncak kesadaran yang harus dibangun masyarakat jika ingin para pemudanya tetap sehat akhlaknya. Pembiasaan kolektif harus segera dilakukan. Di sini aku menyampaikan gagasan Gerakan Beji Belajar, yaitu menghidupkan masjid mulai dari maghrip sampai isya’ untuk kegiatan positif, mulai dari ngaji hingga belajar dan diskusi. Jadi selain mengalihkan perhatian adik-adik dari televisi, sekaligus menghidupkan masjid dari kesepian yang selama ini terjadi. Seandainya masjid bisa berkata, tentu dia akan menangis karena telah ditinggalkan oleh kaum muslimin saat ini. Desa Beji harus kembali bersinar dengan cahaya Islam

Alhamdulillah, ternyata pada waktu itu my best friend, Dedi masih di rumah, dia kemudian menguatkan apa yang telah aku sampaikan. Sungguh aku menjadi saksi bagaimana dia telah menjadi manusia yang mampu mengalahkan dirinya sendiri sehingga menjadi hebat seperti sekarang. Bahkan aku merasa malu telah kalah jauh melangkah dibandingkan dia. Ya Rabb, berikanlah kekuatan padaku agar bisa bertaubat dan segera bangkit lebih baik. Dan yang lebih berkesan, dek Risa memberiku hadiah sebuah buku. Apa ya judulnya? Rahasia dong. Yang jelas, itu buku yang sangat bermanfaat untuk kehidupanku.

Nah itulah hikmah hari ini yang dapat ku bagi, semoga semakin menginspirasi dan menjadikan langkahku lebih mantap. Allahu akbar!

Kategori
Misi Perubahan

Kemah yang “Extra-Ordinary” (Hikmah di Balik Mukhoyyam Dasar I, 31 Juni-1 Juli 2012)

Hwaaa, rasanya berbeda sekali hari itu. Ingatanku kembali ke masa SMP ketika mengikuti kemah tahunan kegiatan pramuka. Kemudian ke masa KBTB (apa ya, oh iya itu Kemah Bakti Taruna Bangsa) Dewan Ambalan Ekamas (sebuah organisasi kepramukaan SMA 1 Wonosari). Ternyata sekian tahun lama tak berkecimpung di dunia kepanduan aku kembali merasakan aroma itu sekarang, meski tidak seperti masa itu. Ya, jelas berbeda, karena kepanduan yang aku ikuti kali ini adalah kepanduan luar biasa. Kepanduan apa ya? Ah, mungkin juga ada yang sudah tahu.

Intinya aku ingin bercerita hikmah dari pengalaman kemahku kali ini, setelah hampir 4 tahun tak merasaknnya. Maklum, 3 tahun pertama masih ga jelas. Terus tahun selanjutnya ada agenda lain yang sangat penting. Akhirnya tahun ini bisa bergabung. Dan ternyata Allah memilihkan waktu yang tepat bagiku untuk bergabung. Momentum yang tak akan terlupakan.

Niat Aneh demi Pembinaan Jasadi

Eits, jangan suuzon dulu. Niatku untuk mengikuti mukhoyyam (baca : kemah) ini bulat dan lillahita’alaa. Insya Allah. Tapi image yang tertanam dikepalaku kan memang ini kegiatan pembinaan jasadi, jadi kusengaja tidak membawa beberapa tugas dan tidak mengikuti kegiatan pra mukhoyyam. Agar nanti aku dapat menikmati “penyiksaan fisik” secara optimal. Niat yang aneh ya? Ga usah heran. Aku juga tahu kok ini aneh. Tapi kan demi kebaikan diri dan memenuhi hasrat pribadi setelah lama tidak mengalami dunia penggojlogan.

Dengan di antar sahabat setiaku yang kayaknya bakal jadi sastrawan, aku bergegas menuju alun-alun utara keraton kasunanan Solo. Di sana panitia berselayer orange telah sedia menunggu untuk “membantai” kami dalam kebaikan. Bismillah, kusiapkan hati untuk menanggung segala rasa dan rintangan. Acara pun dimulai dengan upacara. Sedikit berbeda dengan upacara bendera biasa. Tapi jauh lebih khidmat, apa lagi saat ustadz Rudi menyenandungkan tilawah quran yang luar biasa. Sejuk rasanya. Setelah itu, kami yang tidak ikut mukhoyyam dihidangkan “sarapan pagi”, yakni lari keliling alun-alun 3 kali dan melakukan push up, back up, sit up masing-masing 30 kali. Kenyang betul, tapi belum apa-apa. Masih kuat. Setelah itu, kami kembali ke kelompok untuk mendirikan tenda dan berkenalan dengan teman-teman yang lain.

Materi yang Keren

Apa yang membuat kemah tahun ini begitu spesial? Kata kunci yang kuajukan adalah “Social Orientation”. Bagiku, konsep kemah kali ini lebih berasa, karena dia mengusung konsep pendekatan sosial. Sederhananya adalah sebuah gerakan sosial tentu akan lebih bermanfaat ketika aktivitas pembinaannya beririsan langsung dengan medan kerjanya. Jadi kali ini perkemahan di lakukan di tengah kota, tidak seperti sebelum-sebelumnya yang dilakukan di hutan belantara (yak arena kondisi sekarang sudah memungkinkan ding).

Berawal dari konsep itu, ternyata konten yang disajikan pun lebih berkualitas. Di antara konsep kepanduan ini mulai bersinergi dengan Gerakan Kepramukaan Indonesia. Luar biasa, kemudian ada juga materi baris berbaris dan wawasan kebangsaan yang diisi langsung oleh institusi kepolisian dan TNI. Ini merupakan hal baru yang sangat keren kawan. Selanjutnya ada materi tentang P3K dan Manajemen Kebencanaan. Bahkan ada simulasinya loh. Asyik sekali.

Tapi namanya materi, pasti akan membuatku mengantuk. Dan setiap kali mendapat sodokan tongkat dari panitia, maka setelah itu aku akan melakukan push up sebanyak 20 kali untuk setiap pelanggarannya. Alamak, makin kenyang. Tapi semuanya itu terbayang dengan rasa puas yang tak tergantikan, bersanding dengan saudara-saudara seiman, dan bersinergi dengan sahabat lain yang sama-sama berjuang.

Kata kunci yang kudapatkan berikutnya adalah pentingnya “bersinergi” untuk mewujudkan tatanan kehidupan bangsa yang baik. Kompetisi bukan berarti selalu rivalitas, tetapi upaya perbaikan yang saling bergabung untuk melengkapi sisi-sisi perbaikan kehidupan berbangsa dan bernegara. Berkawan untuk membangun bangsa, bersaing untuk meningkatkan kualitas SDM, bukan berebut dan saling menjatuhkan.

Berkontribusi kepada Masyarakat

Nah, yang lebih kusukai lagi adalah Ahad paginya. Meskipun sejak dini hari mengalami pembantaian sampai lenganya udah pegel2 karena kekenyangan push up. Bahkan paginya masih harus sarapan juga dengan dibekuk-bekuk dan disuruh jalan sepanjang hampir 4 km.

Dan tahukah apa itu? Grebeg sampah kawasan Car Free Day, sesuatu banget. Ini adalah gerakan yang realistic meskipun minimal. Tapi penting untuk di lakukan. Aku dapat merasakan bagaimana berat dan mulianya petugas kebersihan kota Bengawan ini. Setiap hari dengan gaji yang jauh lebih kecil di banding para dosen lingkungan yang sebagian ternyata juga masih bercokol di markas, ngomong tentang lingkungan, tetapi nihil aktivitasnya. Bahkan kata Pak Sutanto, ada mahasiswa yang dengan gagahnya berdebat soal lingkungan, di saat para petugas kebersihan sedang membersihkan sampah bersama beliau. Mungkin ada yang bilang bahwa aktivitas ini pencitraan doang? Ya tidak salah sih, tapi ini dapat dilanjutkan kok tanpa harus memakai bendera yang sama. Yang terpenting ambillah inspirasi dari kegiatan ini.

Tidak berhenti sampai di situ, kami lanjutkan perjalanan yang heroik ini ke kawasan Sangkrah, kawasan yang sungainya menurutku sudah tidak karuan. Semak belukarnya luar bisa, sampahnya apa lagi. Hemm, mesti agak merinding membayangkan kerja rodi hari ini, tetapi ada kecintaan terhadap lingkungan yang tumbuh. Bukankah ajaran Islam senantiasa mengajarkan kita untuk bersih dan selalu menjaga kebersihan. Itulah spirit yang muncul saat menatap sungai yang kotor.

Begitu komando diberikan kami berbaris rapi bersenjatakan sabit, sapu, dan ikrak. Alhamdulillah, ternyata tugasnya adalah membabat semak belukar. Meski jangkauan kerjanya belum begitu luas dan hasilnya belum semuanya tuntas (kelihatan soalnya ada yang kurang ahli menyabit, sehingga kelihatan seperti nyukur rambut namun tidak rata) dan bersih sekali, namun kerja hari ini adalah inspirasi bagiku untuk membuat kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. Saatnya mahasiswa kembali bergerak, bukan lagi bergerak memprotes pemerintah, tetapi bergerak untuk menggerakkan. Menggerakkan masyarakat melawan ketidakadilan, menyuarakan kebenaran, melakukan perbaikan dan peduli lingkungan. Keyword berikutnya adalah “kontribusi nyata” kepada masyarakat.

Sayonara

Setelah semuanya selesai dan kami juga menuntaskan ujian akhir (hadew kayak sekolah saja) yang membuat semua energy tersisa benar-benar teroptimalkan, kami segera berkemas dan kembali ke peradaban masing-masing. Dengan melepas senyum dan sapa, serta salam tentunya, kami berpisah di bawah pohon beringin besar. Serasa di baiatur ridhwan. Dan semuanya terasa indah. Terima kasih kawan-kawan. Terima kasih panitia atas hukumannya yang luar biasa. Aku suka, semoga bisa mengikuti untuk yang kali selanjutnya. Terima kasih dan sayonara. Gamsha habnida.

Kategori
Misi Perubahan

Memaknai Amanah

Hemm, ini minggu-minggu yang membuatku harus banyak menangis. Kenapa? Ga tahu. Ingin saja tiba-tiba menangis sepuasnya untuk mengeluarkan segala hal yang tersimpan dan tertahan. Hampir 6 tahun aku menjalani hidup dalam dunia organisasi mulai dari organisasi “kecil-kecilan” hingga betulan. Hah, semuanya punya kisah unik tersendiri dan memberikan pengaruh dalam hidupku.

Nah, diskusi-diskusi yang kental pekan ini adalah seputar pertanyaan apakah kita itu benar-benar mencintai organisasi kita atau dalam bahasa kerennya adalah apakah kita memiliki sense of belongin yang tinggi terhadap organisasi yang sedang kita ikuti selama ini. Hemm, itu jawaban sulit, karena tidak penting untuk dijawab dengan MULUT, tapi akan terlihat dari setiap apa yang kita lakukan di organisasi selama ini. Ga perlu juga diperdebatkan apakah yang menjadi ukurang itu banyak jasa atau prestasinya, yang pasti ada feeling tersendiri di hati kita untuk mengetahui seberapa besar SOB itu.

Berawal dari FGD beberapa hari kemarin, dua temanku yang keren abis membuat aku harus berpikir berat untuk beberapa pertanyaan

Pertama, apakah kita itu benar-benar berkembang dan mendapat manfaat yang besar dari organisasi yang kita ikuti selama ini? Ini pertanyaan mendasar yang membuatku nge-jleb. Sejujurnya aku tidak pernah mendapatkan kemanfaatan yang sifatnya pembentukan diri dari organisasi yang ku jalani di kampus selama ini. Aku tidak pernah mendapatkan sesuatu yang itu membentukkku dari tataran dasar. Tapi memang aku terwarnai dengan sesuatu yang indah di kampus ini.

Maka bagaimana jawaban teman-teman yang lain? Yah, ga tahu juga. Tapi mungkin ini akan jadi masalah, karena pengurus di generasiku boleh jadi masih menjadi duta-duta yang diutus dari negeri luar untuk membuat organisasi yang “kelihatan keren” ini bener-bener keren seperti pandangan orang. Yang tidak menjual nama tapi menawarkan bukti nyata.

Kedua, adik-adik yang ingin bergabung bersama kita sesungguhnya hanya punya kemauan belajar, tidak ada yang lain. Maka apakah lembaga bisa menjawab apa yang menjadi keinginan itu. Lihat apa yang kita lakukan sekarang? Itu pertanyaan yang makin menohokku. Ah, iya, kita masih asyik membicarakan dan melakukan hal-hal yang tidak penting. Mulai dari kegiatan yang tidak jelas konsepnya, gila foto-foto, gila pujian, takut cercaan, takut ….. dan berbagai hal yang tidak penting.

Maka tak heran kalau temanku itu mengatakan, organisasi kita sampai sekarang boleh jadi belum memberikan apa-apa jika memang masih banyak pengurus yang seenaknya sendiri. Karena mereka memang belum mendapatkan apa-apa yang seharusnya diterima dari lembaga. Dan memang lembaga harus berbenah untuk memberikan pelayanan yang sebenarnya. Bukan pura-pura melayani

Dan akhirnya aku menjadi geram. Yah, paradigma formatis yang begitu akut menjangkiti setiap kepala dari kebanyakan teman-temanku adalah tantangan terbesar untuk disingkirkan dan diganti paradigma berpikir yang esensial. Sekarang sudah bukan jamannya berpikir apa yang terlihat baik, tapi berpikir APA YANG BAIK. Sangat beda. Karena kalo ingin terlihat baik, boleh saja buruk asal ga ketahuan. Tetapi kalo ingin baik, maka tidak ada lagi tempat untuk keburukan.

Ya Rabb, aku sedang beramanah di tempat yang tidak sesejuk angin Gununggambar. Tapi Engkau masih memberiku teman yang baik. Semoga aku dapat menuntaskan amanah ini dengan keridhoan-Mu.