“Menyampaikan gagasan besar saat kita telah berproses menjadi orang besar itu akan semakin dekat untuk diwujudkan, tetapi berkata besar ditengah ketidaksungguhan untuk berproses sungguh itu hanya sebuah gurauan dan omong kosong.” (Mas Tomy)

Hikmah itu adalah milik orang-orang mukmin. Dimanapun ia mendapatkannya, maka ia lebih berhak atasnya sekalipun itu diperoleh di tempat yang paling buruk sekalipun. Apalagi jika hikmah itu diperoleh dari tempat dan orang-orang yang memang penuh dengan hikmah. Dan hari ini aku mendapatkan hikmah dari dua majelis yang sangat luar biasa dengan dua orang yang luar biasa pula.

 Jangan Egois

Orang pertama yang kutemui adalah seorang pengusaha muda. Sangat muda, tapi luar biasa. Dan aku tidak perlu membicarakan omzetnya. Yang pasti untuk orang seusianya dengan masa mulai usahanya yang belum lama, omzet yang beliau terima sampai hari ini begitu mencengangkan. Ada hal yang mengagumkan bagiku terkait beliau ini.

Pertama, beliau adalah orang yang mempercayai bahwa berbisnis yang terbaik itu tanpa modal dan tanpa hutang. Beliau adalah orang yang begitu teguh dalam menjalani hal ini di awal sampai akhirnya bisnisnya bisa begitu besar sampai seperti sekarang. Bahkan ketika ada temenku yang butuh hutang untuk usahanya, maka aku mempertemukan dia dengan beliau. Alhasil, bukan pinjaman yang diperoleh tetapi nasihat-nasihat luar biasa dari pengusaha yang rendah hati. Beliau berkata, “bahkan sebenarnya saya bisa saja memberimu 10jt dek, tetapi saya tahu bahwa saya sedang berhadapan dengan calon pengusaha, maka mulailah dulu usahamu dengan benar, jika nanti membutuhkan pendukung dalam usaha yang sudah jelas berjalan, anda bisa saja menemui saya kembali”. Ini bukan pelit, tetapi bagaimana beliau meyakinkan diri kami agar tidak menjadi pengusaha kapitalis.

Kedua, beliau orang yang tidak profit oriented. Bagi beliau, menjadi pengusaha adalah jalan untuk menjadi perantara rizki orang lain sekaligus mengangkat harkat ekonomi masyarakat muslim. Saking hati-hatinya beliau dengan masalah keuntungan beliau sampai mengajukan permintaan kepada bank Muammalat untuk membuat buku tabungan khusus bagi dia yang tidak mengikuti ketentuan umum dimana hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan uang dengan pembebanan biaya administrasi bulanan. Namanya pengusaha kaya, yah bank pun mengabulkannya, karena mereka pasti juga butuh dana untuk diputar. Itu adalah kehati-hatiannya dari riba.

Kemudian beliau justru takut dengan capaian tahun ini. Jika sampai tutup tahun kemarin omzet beliau belum ada 1 M, sekarang baru 6 bulan saja udah di atas 1 M. Beliau khawatir jika ini adalah istidzraj dari Allah. Sebegitu takutnya beliau. (Secara, hal ini adalah sesuatu yang sangat langka muncul di kalangan pengusaha zaman ini dimana keuntungan itu adalah segala-galanya). Aku jadi sadar, sebenarnya menjadi kaya itu adalah sebuah keharusan jika memang dimulai dari impian besar dan benar. Bukan menjadi keinginan yang berbuah pada nafsu keserakahan.

Bagi beliau, setelah sukses dalam ukuran materi, hendaknya para pengusaha mendorong bangkitnya usaha-usaha baru dari para pemuda atau menjadi bagian yang kuat dalam usaha rakyat. Sekarang banyak orang muda yang kaya dan sukses, tapi sayang kontribusi mereka dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat justru nihil. Yang muncul adalah individualisme. Benarlah kata Pak Eri Sudewo, statemen bahwa “Indonesia butuh pengusaha lebih banyak lagi” itu sangat berbahaya jika tidak diikuti dengan interpretasi yang benar seperti pemahaman pengusaha muda yang kutemui hari ini. Dan aku pun mendapat motivasi untuk segera meninggalkan zona nyaman dan berbuat apa pun itu selama bisa menjadikanku mandiri. Yah, aku harus mandiri.

Allah, masih ada orang yang begitu peduli dengan hal yang sepertini. Luar biasa nikmatmu kau pertemukan aku dengan orang-orang baik di bumi ini. Bahkan beliau pun telah memikirkan mengapa kota Solo sekarang terus membangun layaknya Singapura. Ada apa? Di tengah kekuatan ekonomi kaum muslimin yang semakin melemah, modernisasi terus dijalankan di kota budaya ini. Ada apa? Apakah ada sebuah strategi untuk menghentikan nafas utama kota pergerakan ini. Beliau berharap, terlahir pada pengusaha-pengusaha muslim yang akan menjadi penyokong kekuatan pergerakan Islam sehingga tradisi dan kultur ke-Islam-an yang telah kuat tidak tergerus arus modernisasi.  Bagaimanapun Solo adalah pusat pergerakan dakwah terbesar di Indonesia, yang paling lengkap dan paling fundamental. Apakah ada konspirasi untuk menghentikan itu semua, apakah kita para pemuda tidak menyadarinya lagi? Hemm, aku juga terbelalak. Itu sebuah analisis yang tajam dan cerdas.

Sabar Berproses

Setelah aku mendapat hikmah untuk tidak menjadi manusia egois, sorenya aku kembali mendapatkan pencerahan untuk sebuah usaha besar. Yah, selama Ramadhan ini aku mengikuti pelatihan tahsin. Mirip seperti anak TPA jaman dulu. Bedanya sekarang yang mengikuti adalah orang-orang tua, dan aku mungkin tergolong peserta dengan usia paling muda. Dan ternyata aku sangat malu dengan apa yang kurasakan saat ini. Merasa udah lancar baca Quran dan paling bagus di antara teman2 satu liqo apalagi di rumah. Ternyata di majelis ini, aku mengucapkan a ba ta saja banyak yang salah. Astaghfirullah…. Aku harus segera bertaubat dari sifat takabur ini. Apa lagi aku terbiasa baca Quran dengan tempo cepat untuk mengejar target amal yaumi. Alamak, harus kuhentikan, sekarang saatnya mengejar dulu kualitas bacaannya.

Aku sampai cengar-cengir disimak oleh ustadz muda yang udah hafidz al-Quran. Begitu sabarnya belaiu membimbing kami. Hemm, melafadzkan ta’awudz dan basmallah dengan benar saja butuh berhari-hari. Dan aku sampai saat menulis artikel ini belum yakin apakah kedua lafadz tadi telah benar atau belum. Apalagi dites al-Fatihahnya. Ya Rabb, ternyata aku hampir melalaikan sebuah kewajiban besar. Alhamdulillah telah disadarkan sekarang, jika tidak tentu istri dan anakku kelak tidak bisa mendapatkan haknya tentang ulumul Quran dari seorang suami dan ayah. Ini hanya tentang membaca, belum pada tadabbur dan pemaknaan al-Quran.

Dan inti dari itu semua aku memahami bahwa proses itu ternyata sangat panjang dan akan sangat melelahkan. Bagaimana dulu aku saat masih nakal, kemudian dimbimbing untuk menjadi manusia yang lebih mengenal Islam sehingga sekarang bersemangat untuk menjadi bagian dalam dakwah Islam. Meski tertatih, tetapi ini lebih baik kurasakan dari sekian waktu silam. Dan berproses itu membutuhkan keistiqomahan dan kejelasan orientasi akhirat. Hemm, mas Tomy benar, bisnis itu bukan mengejar untungnya, tetapi kejar manfaatnya agar masa depan akhiratmu kelak menjadi lebih cerah. Dan berproses itu butuh ketekunan dan cinta, seperti senyum Ustadz Rudi yang sabar membimbing kami dalam memainkan lidah dan mulut agar dapat mengucapkan lafadz agung itu dengan benar seperti masa-masa Rasulullah dahulu.

Ada rasa gundah karena mungkin merasa terlambat, tetapi bagaimanapun optimisme jauh lebih besar di sana. Aku ingin membuat masa depan yang baik, karena pasti takdir Allah telah menunggu di sana. Dia Maha Tahu apa isi hatiku hari ini. Sebuah mimpi yang perlu kujawab dengan jujur dan dengan kerja keras. Tugasku adalah bekerja mewujudkannya, dan hasilnya terserah Dia. Tapi Dia pasti tidak akan menyia-nyiakan kerja keras hamba-Nya. Akan selalu ada balasan terbaik jika diiringi keikhlasan dan dedikasi, meskipun mungkin akan dijawab-Nya di akhirat. Itulah hikmah berproses. Ternyata proses yang kujalani belum apa2, masih panjang Dika, masih banyak yang harus kau hadapi. Yang penting pancang orientasimu dengan benar mulai hari ini. Yah hari ini, karena esok bagimu itu masih belum ada kepastian. Semoga Allah meridhoi!

2 Comments

  1. kristal

    gw pengen ikuuut tahsin lagi jadinyaaaaa..#padahal perasaan baru kemaren ya..haaa -.-” abis gw merasa belom bener… kl di suruh baca ust. rudi juga gw kadang diulang ulang. ha -.-“

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.