Kategori
Dakwah Islam

Aku Berjuang Bukan Karena Umar, Tetapi Karena Tuhannya Umar

Seringkali ketika mendengar perdebatan atau perbedaan yang sering terjadi di kalangan teman-teman aktivis lagi-lagi temanya hanya seputar label dan berbagai justifikasi label. Entahlah apa yang selama ini dipikirkan atau diajarkan para senior terhadap juniornya. Tidak semua sih, tetapi ada saja yang begini. Sehingga terkadang muncul generasi-generasi intelektual yang tidak mau belajar banyak hal tetapi mengedepankan tameng pribadi untuk selalu membenarkan perkataan para pemimpinnya dan berkata tidak terhadap siapa pun yang dibenci oleh pemimpinnya.

Hari ini, dunia kampus diuji dengan wawasan intelektualnya. Entah mengapa, kampus yang seharusnya memberi ruang dialog yang mapan untuk para kaum intelektual perlahan mulai diarahkan pada pembusukan idealisme oleh orang-orang yang tidak lagi suka dengan dakwah dan perbaikan umat. Mulai dari proses boikot dan berbagai cara yang tidak sehat demi sebuah persaingan yang tidak pernah jelas masalahnya namun selalu dicari-cari masalahnya.

Jika di kampus itu mengalami perbedaan warna, bukankah itu wajar. Kan naluriah dan sangat alami jika mahasiswa itu berinteraksi dengan banyak orang dan dia menemukan kecenderungannya. Jika di kampus ada segolongan kelompok yang dominan dan mampu berkiprah banyak, bukankah itu wajar sebagai hasil jerih payah mereka. Lalu mengapa setiap perbedaan warna itu justru dibesar-besarkan sebagai masalah yang seharusnya bukan masalah? Kedewasaan kaum intelektual kita diuji.

Sebuah pesan saja, mari luruskan niat wahai para aktivis kampus. Mungkin warna-warna kita berbeda, tapi bukankah ada tujuan besar yang harus diraih, yakni perbaikan umat. Memerangi kebodohan dan kemiskinan dan mengembalikan kehormatan kaum muslimin dan bangsa Indonesia. Mari kita mengambil bagian masing-masing tanpa harus saling tuding dan banting. Yang saat ini dominan, semoga tetap bisa menjaga keistiqomahan dalam menghadhonahi yang lain. Yang saat ini masih sering mencurigai, buat apa sih diterus-teruskan, bukankah sinergi itu lebih indah bagi kita. Karena energi kita yang luar biasa ini akan lebih berharga ketika kita gunakan untuk perbaikan dan perubahan.

Siapa kita? Kita hanyalah para pejuang yang yakin dengan janji Allah atas lisan rasulnya. Seperti halnya Khalid bin Walid, mari kita katakana, “Aku berjuang bukan karena Umar, tetapi karena Tuhannya Umar“.

Kategori
Resensi Buku

Salahuddin al-Ayyubi: Ksatria yang Agung #3

SaladinBangkit dan Berkuasa

Dengan berbekal kesetiaan pada sang Khalifah di Baghdad yang memang menjadi pemegang otoritas Islam Sunni di atas seluruh kekhalifahan Islam, beliau mendapat restu untuk menaklukkan mesir di bawah komando Nuruddin yang memiliki visi besar untuk menyatukan seluruh wilayah muslim yang masih tercerai-berai dari Mesir sampai Aleppo dan Mosul untuk menjadi kekuatan penaklukan Yerusalem yang dikuasai oleh bangsa Frank.

Kemampuan politiknya yang ulung telah teruji di tugas pertama ini sehingga dengan kelihaiannya beliau bisa menggulingkan rezim Syiah relatif singkat dengan tanpa pertumpahan darah yang sangat berarti. Bahkan dalam bukunya Geoffrey, pernah ada sebuah makar yang direncanakan oleh orang-orang yang tidak terima dengan manuver Shalahuddin berhasil digagalkan dengan mudah karena kecerdikannya Shalahuddin memasukkan orang-orang intelejennya menjadi bagian dalam penyusunan makar tersebut.

Adalah yang biasa dalam dunia perpolitikan bahwa terjadi persaingan kekuasaan di antara para pemimpin yang berkuasa. Apalagi dengan berakhirnya Khulafaur Rasyidin, maka kepemimpinan Islam seakan terpisah menjadi dua yaitu Penguasa dan Ulama. Namun kekuatan Islam selalu kuat karena kepercayaan yang tinggi kepada para ulama dan penghormatan para penguasa muslim kepada para ulama (tidak seperti sekarang di mana para ulama yang hilang wibawanya di mata umat karena kezuhudan mereka yang hilang, dan para penguasa yang tidak menjadikan ulama sebagai sahabat dan pemberi nasihat mereka).

Maka terlebih pada masa Shalahuddin ini (sekitar abad ke 11), ketika kekhalifahan Abasyiyah telah melemah sehingga kekuasaan wilayah khalifah Islam ini agak mirip dengan sistem aristokrasi dan negara bagian, dimana khalifah lebih sebagai simbol legitimasi untuk berbagai keputusan dan namanya disebut dalam doa setiap shalat jumat di wilayah-wilayah yang telah ditaklukkan dalam panji Islam. Sehingga para amir wilayah bersaing untuk berkuasa dan tak jarang saling berperang sesama kaum muslimin. Maka tak heran, jika Nuruddin yang pada waktu itu dikenal sebagai penguasa yang relatif paling bagus keshalihannya sebagai penguasa dari pada pendahulunya, memiliki visi untuk menyatukan wilayah yang melingkari Yerusalem dalam satu panjinya agar nanti gerakan pembebasan Yerusalem dapat dilakukan, tentunya dengan dukungan seruan jihad dari para ulama.

Visi inilah yang dimengerti oleh Shalahuddin dan akhirnya dia ingin mewujudkannya dalam perjuangannya nanti. Meski Mesir telah dikuasai, kecurigaan Nuruddin dan kekhawatirannya akan gerak si Kurdi ini mengambil kekuasaannya tak bisa hilang. Di beberapa penaklukan yang dilakukan pasukan Mesir dan Damaskus, pasti Shalahuddin memilih menghindar dari bertemu dengan Nuruddin sehingga kecurigaan sang tuan ini menjadi semakin besar. Hingga akhirnya semua peta kekuasaan berubah setelah sang penguasa ini wafat dan diteruskan oleh generasinya yang lemah.

Shalahuddin membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membangun persatuan di wilayah yang telah menjadi visi Nuruddin. Butuh peperangan, butuh diplomasi, bahkan butuh pengorbanan harta yang besar untuk membuat beberapa emir-emir wilayah yang lebih tertarik dengan uang dan kekuasaan dari pada jihad itu untuk tunduk di bawah bendera Shalahuddin sebagai sang penguasa Mesir atas nama Khalifah Abasyiyah. Namun hal yang mengagumkan bagiku adalah kemampuan diplomasinya sehingga selama beliau dan Nuruddin masih hidup, meskipun diliputi kecurigaan tidak pernah berujung pada ketegangan yang berakibat pecahnya perang sesama muslim dari dua kekuatan besar, Damaskus dan Mesir. Di kemudian hari kedua pasukan inilah yang menjadi pasukan utama yang membawa panji khalifah dan bendera Shalahuddin untuk misi terbesarnya, pembebasan Yerusalem. Dengan kecerdikannya beliau berhasil menjaga perseteruan ini tidak membesar dengan dukungan perlindungan Khalifah di Baghdad.

bersambung

Kategori
Dakwah Islam

Bagaimana Berdakwah?

Mengawali sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan ini, aku sempatkan untuk pulang ke rumah. Di rumah lebih menenangkanku dan lebih memudahkanku untuk bermuhasabah. Kebetulan juga tidak ada amanah penting di kampus, selain hanya undangan buber yang begitu ramai di sana sini. Biar saja lah, semoga ada kesempatan lain untuk makan bareng. Usai shalat tarawih, kudengarkan siaran kajian Radio Dakwah dan Syariah (101,4 FM).

Wuih, ada kajian menarik tentang hadits-hadits kesabaran dalam berdakwah. Karena tadi aku tidak mengikuti dari awal, jadinya tidak tahu kitab apa yang digunakan dan siapa ustadz yang mengisi. Hanya sepertinya aku familiar dengan ustadz ini yang begitu faqih dan open mind dalam menyampaikan, yaitu ustadz Eman Badrutaman, Lc. Whatever-lah, yang penting isinya bagus. Nah, kurang lebih seperti ini nih yang aku dapat.

Kesabaran dalam Dakwah : Asas Perbaikan Umat

Begitu radio kuhidupkan, langsung masuk pada hadits yang disyarah oleh Syaikh Utsaimin. Diceritakan ada dialog antara Khalifah Ali rodhiyallohu ‘anhu dengan seseorang yang menjadi khawarij gara-gara fitnah yang luar biasa hebat di masa-masa akhir kekhalifahan Utsman rodhiyallohu ‘anhu. Orang tersebut memprotes kepemimpinan khalifah.

Pasalnya orang khawarij itu menganggap pemerintahan Ali dianggap tidak mau menumpas kelompok Muawiyah yang mereka anggap sebagai pemberontak dan justru khalifah dianggap berhukum dengan manusia saat gencatan senjata di Perang Siffin. Jadi di mata khawarij, baik Ali maupun Muawiyah semua buruk dan sama saja. Betapa buruknya mereka, menganggap buruk bahkan mengkafirkan 2 sahabat Rasulullah yang mulia, yang satu adalah Bahrul Ulum (lautan ilmu) dan yang lain adalah Khoirul Malik (Sebaik-baik Raja setelah Khalifah Rasyidah) yang keduanya juga sama-sama penulis wahyu di masa Rasulullah.

Akhirnya terjadi percakapan yang kurang lebih begini

Khawarij : “Hai khalifah, pemerintahan Anda tak sebaik pemerintahan Abu Bakar”

Ali : “Tahukah kamu, ketika khalifahnya Abu Bakar, rakyatnya adalah kami. Sedangkan ketika aku sekarang menjadi khalifahnya, rakyatnya macam kalian ini.”

Ini adalah jawaban yang sangat bagus dan diplomatis. Pukulan telak untuk membungkam mulut-mulut lancing orang khawarij.

Intinya, kisah tersebut memberikan ibrah bahwa dalam sebuah masyarakat atau bangsa maka keberadaan pemimpin dan rakyat adalah suatu perpaduan yang akan menentukan kualitas masyarakat itu sendiri. Jika di masa Abu Bakar, atau bahkan Rasulullah masyarakat begitu damai dan dipenuhi keadilan karena pemimpinnya sangat adil dan rakyatnya sangat taat kepada pemimpinnya. Hal ini kemudian berbeda keadannya ketika zaman fitnah terjadi, di mana pemimpinnya sebenarnya adalah orang yang adil (yaitu sahabat utama Rasulullah) tetapi rakyatnya adalah pemberontak yang lebih suka membuat kekacauan. Jadinya tatanan masyarakat pun menjadi kacau. Maka jawaban khalifah Ali itu sebenarnya akan membuat orang tersebut bersimpuh dan menyadari kesalahannya. Tapi, dasar khawarij, masih saja mencari pembenaran pribadi.

Jika itu direfleksikan kepada negeri kita saat ini. Hemm, luar biasa kacaunya. Karena jika diakumulasi, baik pemimpin maupun rakyatnya kondisinya sama-sama rusak. Jangankan berbicara penegakan syariat Islam, berbicara masalah kebaikan Islam saja sudah buru-buru menyumbat telinga, padahal mayoritas adalah kaum muslimin itu sendiri. Berapa orang baik yang mendapat kedudukan di parlemen, eksekutif, peradilan dan posisi-posisi strategis lainnya? Masih sangat sedikit, padahal banyak penjahat dan perusak yang sudah bercokol, tidak hanya secara individu tetapi sudah menjadi klan kejahatan yang siap menjarah dan merusak negeri. Tetapi, yakinlah bahwa Harapan itu Masih Ada.

Lalu bagaimana solusinya? Jika dikembalikan ke pemahaman yang benar, maka perbaikan itu berawal dari pemimpinnya. Tetapi bukan berarti rakyat tidak memiliki tanggung jawab untuk menjadi baik. Semua harus beriringan. Apakah masuk akal jika tiba-tiba ada orang shalih tiba-tiba menjadi presiden di tengah masyarakat yang begitu cinta dan berbudaya korupsi, mulai dari waktu, kepercayaan hingga uang yang jumlahnya tak terperi? Maka baik penguasa maupun rakyat semua harus berubah menjadi lebih baik jika ingin masyarakat ini menjadi baik kembali. Pemimpin menjadi teladan dalam kebaikan dan menjadi pejuang keadilan. Rakyat menjadi teladan dalam ketaatan. Alangkah indahnya.

Nah, di sinilah kemudian kesabaran berdakwah itu diperlukan. Bagaimana mengubah masyarakat yang sudah mengalami masalah super ruwet in? Pertama, perbaiki diri (islahun-nafs) dan kemudian mengajak orang-orang terdekat kita untuk mengenal dan mencintai Islam. Maka kemudian ta’lim dan tarbiyah Islamiyah itu menjadi asas perubahan masyarakat. Berbicara tarbiyah Islam itu bukan bicara target bahwa tahun sekian harus begini dan begitu, tetapi berbicara bagaimana kita melakukan dan seberapa besar passion kita dalam menjalankan proses itu. Hanyalah omong kosong jika kita bicara dakwah ini itu dengan targetan ini itu sampai detil tetapi implementasinya nihil. Maka proses yang optimal dan kesungguhan dalam berdakwah itulah kunci suksesnya dakwah dan kaderisasi umat ke depan.

Mengambil ibrah dari Rasulullah yang telah menghabiskan 23 tahun membina umat dan akhirnya menjadi peletak dasar daulah Islam maka itu seharusnya menjadikan kita untuk muhasabah dengan berbagai upaya dakwah yang seringkali tergesa-gesa. Ingin segera memetik hasil. Padahal, bahkan kejayaan Islam menjadi payung dunia itu baru terwujud selama beberapa abad kemudian setelah wafatnya Rasulullah. Tetapi mari kita lihat bagaimana Rasulullah totalitas menjalankan dakwah, dan kemudian dilanjutkan para sahabat yang mulia hingga para ulama. Rasulullah konsisten menjadi public figure yang pantas diteladani. Itulah contoh bagaimana seharusnya menjadi pemimpin. Para sahabat menjadi teladan dalam ketaatan, bagaimanapun sering kali pendapatnya berbeda, tetapi mereka percaya bahwa yang menjadi pemimpinnya adalah seorang utusan Allah.

Hal itu masih bertahan hingga masa pertengahan kekhalifahan Utsman sampai akhirnya badai fitnah berkecamuk gara-gara pengkhianat Ibnu Saba’, sang provokator ulung dari Yahudi. Dan inilah ujian bagi umat bagiaman mereka seharusnya taat kepada pemimpin dan menyikapi secara arif terhadap perbedaan yang terjadi serta mampu membedakan mana yang itu merupakan perbedaan dan mana yang itu hanyalah sebuah provokasi. Karena bagaimanapun, di masa fitnah itu rakyat kehilangan kepercayaan terhadap pemimpin, bahkan kepada pemimpin yang sudah kita kenal keadilannya itu.

Maka sekali lagi, dakwah adalah asas perbaikan umat jika ingin masyarakat kita mengamalkan Quran dan Sunnah. Dan kesabaran itu adalah senjata utama untuk melakukannya. Karena tidak akan ada dakwah yang bertahan kecuali dengan kesabaran yang membuahkan keistiqomahan. Menjalani proses dan bertahap hingga suatu saat terwujud tatanan masyarakat yang Islami dengan pemimpin yang menegakkan syariat Islam.

Sabar dalam Berjihad

Ini berkaitan tentang hadits yang menyatakan bahwa janganlah kita mencari-cari musuh, tetapi jika suatu saat musuh datang maka tetaplah ditempat dan bersabarlah untuk menghadapinya. Di akhir hadits ini dikatakan bahwa Syurga itu di bawah kilatan pedang. Hemm, yang hobi pukul-pukulan ini dianggap sebagai ayat yang melegalisasi aksi brutal untuk menghancurkan.

Padahal, kata kunci tentang jihad adalah bahwa jihad itu bagian dari proses dakwah, bukan dakwah itu untuk menuju jihad. Makanya hendaknya kita arif dalam menyikapi berbagai kemaksiatan di negeri ini agar jangan sampai kita berlaku brutal dan akhirnya menurunkan izzah Islam di mata orang-orang kafir. Jangan sampai kita membenarkan berbagai tindakan kekerasan atau terorisme. Sebelum ada perintah dari pemerintah (dalam hal ini pimpinan negara) untuk berperang dan menegakkan syariat Islam dengan jihad maka kita tidak boleh bertindak gegabah. Mungkin kekuatan hasil bela diri kita atau berbagai kekuatan perang kita untuk melawan orang-orang kafir tidak digunakan semasa kita hidup, tapi alangkah lebih indah jika ternyata Indonesia bisa menjadi lebih baik tanpa adanya perang.

Jangan sampai kita mencari-cari musuh, atau menebarkan kekacauan agar memunculkan musuh. Itu bukan tindakan yang dicontohkan Rasulullah, karena sejak jihad diserukan oleh Rasullah itu terjadi karena orang-orang kafir lah yang membuat sebab. Dan kaum muslimin menuntut bela atas kerusakan yang mereka lakukan.

Tetapi adalah sunnatullah, bahwa peperangan itu pasti akan selalu terjadi antara kaum muslimin dengan kafirin. Itu adalah sebuah keniscayaan, di mana keduanya punya tujuan untuk menebarkan pengaruhnya. Yang iman ingin menebarkan keimanannya, yang kafir ingin menebarkan kekafirannya, maka pastilah diantara keduanya akan terjadi perang. Jadi jika suatu saat hal ini telah terjadi, maka berlakulah bagian akhir dari hadits tentang bersabar dalam jihad. Artinya ketika musuh datang, maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak berjihad. Bahkan jika kedua barisan telah berhadapan, maka pantang bagi kaum muslimin untuk mundur. Berperang sampai terbunuh sebagai syuhada atau berhasil membunuh hingga tercapai kejayaan Islam. Dan inilah implementasi kesabaran dalam berjihad.

Demikian ikhtisar dari kajian yang sempat terekam di kepala. Semoga menjadi inspirasi bagi kita di sepertiga akhir ramadhan ini.