Hemm, ini minggu-minggu yang membuatku harus banyak menangis. Kenapa? Ga tahu. Ingin saja tiba-tiba menangis sepuasnya untuk mengeluarkan segala hal yang tersimpan dan tertahan. Hampir 6 tahun aku menjalani hidup dalam dunia organisasi mulai dari organisasi “kecil-kecilan” hingga betulan. Hah, semuanya punya kisah unik tersendiri dan memberikan pengaruh dalam hidupku.

Nah, diskusi-diskusi yang kental pekan ini adalah seputar pertanyaan apakah kita itu benar-benar mencintai organisasi kita atau dalam bahasa kerennya adalah apakah kita memiliki sense of belongin yang tinggi terhadap organisasi yang sedang kita ikuti selama ini. Hemm, itu jawaban sulit, karena tidak penting untuk dijawab dengan MULUT, tapi akan terlihat dari setiap apa yang kita lakukan di organisasi selama ini. Ga perlu juga diperdebatkan apakah yang menjadi ukurang itu banyak jasa atau prestasinya, yang pasti ada feeling tersendiri di hati kita untuk mengetahui seberapa besar SOB itu.

Berawal dari FGD beberapa hari kemarin, dua temanku yang keren abis membuat aku harus berpikir berat untuk beberapa pertanyaan

Pertama, apakah kita itu benar-benar berkembang dan mendapat manfaat yang besar dari organisasi yang kita ikuti selama ini? Ini pertanyaan mendasar yang membuatku nge-jleb. Sejujurnya aku tidak pernah mendapatkan kemanfaatan yang sifatnya pembentukan diri dari organisasi yang ku jalani di kampus selama ini. Aku tidak pernah mendapatkan sesuatu yang itu membentukkku dari tataran dasar. Tapi memang aku terwarnai dengan sesuatu yang indah di kampus ini.

Maka bagaimana jawaban teman-teman yang lain? Yah, ga tahu juga. Tapi mungkin ini akan jadi masalah, karena pengurus di generasiku boleh jadi masih menjadi duta-duta yang diutus dari negeri luar untuk membuat organisasi yang “kelihatan keren” ini bener-bener keren seperti pandangan orang. Yang tidak menjual nama tapi menawarkan bukti nyata.

Kedua, adik-adik yang ingin bergabung bersama kita sesungguhnya hanya punya kemauan belajar, tidak ada yang lain. Maka apakah lembaga bisa menjawab apa yang menjadi keinginan itu. Lihat apa yang kita lakukan sekarang? Itu pertanyaan yang makin menohokku. Ah, iya, kita masih asyik membicarakan dan melakukan hal-hal yang tidak penting. Mulai dari kegiatan yang tidak jelas konsepnya, gila foto-foto, gila pujian, takut cercaan, takut ….. dan berbagai hal yang tidak penting.

Maka tak heran kalau temanku itu mengatakan, organisasi kita sampai sekarang boleh jadi belum memberikan apa-apa jika memang masih banyak pengurus yang seenaknya sendiri. Karena mereka memang belum mendapatkan apa-apa yang seharusnya diterima dari lembaga. Dan memang lembaga harus berbenah untuk memberikan pelayanan yang sebenarnya. Bukan pura-pura melayani

Dan akhirnya aku menjadi geram. Yah, paradigma formatis yang begitu akut menjangkiti setiap kepala dari kebanyakan teman-temanku adalah tantangan terbesar untuk disingkirkan dan diganti paradigma berpikir yang esensial. Sekarang sudah bukan jamannya berpikir apa yang terlihat baik, tapi berpikir APA YANG BAIK. Sangat beda. Karena kalo ingin terlihat baik, boleh saja buruk asal ga ketahuan. Tetapi kalo ingin baik, maka tidak ada lagi tempat untuk keburukan.

Ya Rabb, aku sedang beramanah di tempat yang tidak sesejuk angin Gununggambar. Tapi Engkau masih memberiku teman yang baik. Semoga aku dapat menuntaskan amanah ini dengan keridhoan-Mu.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.