“Banyak orang yang bertekad dan berkeinginan besar, tetapi sedikit yang memang konsisten untuk merealisasikan”

Hemm, pernahkan kalian ikut tahsin? Iya, tahsin atau memperbaiki bacaan al-Quran sesuai dengan kaidah bahasa Arab dan riwayat qiraat yang benar. Dan di Ramadhan kali ini aku kembali melakukannya seperti beberapa tahun silam. Hanya saja aku sekarang berguru kepada seorang ustadz muda, murid para masyayih pakar ulumul Quran dari timur tengah. Tentu sesuatu banget, secara dulu-dulu hanya melalui ustadz-ustadz yang basic-nya bukan pakar al-Quran.

Nah, intinya saya sadar bahwa ternyata makharijul huruf saya saja masih banyak yang salah. Karena sudah lupa mengamalkan ajaran guru-guru sebelumnya dan cenderung berorientasi kuantitas saja saat tadarus. Akhirnya, setelah disimak langsung oleh sang ustadz, nyatalah bahwa bacaan saya masih banyak yang kacau. Dan sebagaimana postingan sebelumnya, banyak hikmah yang dapat kuurai dari perjalanan mengikuti kegiatan tahsin ini.

Hal yang paling membekas di majelis tahsin hari ini adalah saat beliau menyampaikan materi tentang mad munfashil atau sering dikenal dengan mad jaiz munfashil. Mad munfashil adalah bacaan panjang dari sebuah mad thobii yang bertemu dengan huruf hamzah pada kata yang sesudahnya. Cara bacanya adalah 4/5 harakat atau dibaca seperti mad thobii yaitu 2 harakat. Tetapi yang kemudian beliau tekankan adalah, jika kita memilih 2 harakat, maka selanjutnya untuk setiap mad munfashil yang dibaca harus 2 harakat. Atau jika 4/5 harakat maka ya harus konsisten sepanjang itu

Dan tahukah? Ternyata ini adalah sebuah pelajaran bagi kita untuk belajar konsisten. Dalam membaca al-Quran saja kaidah konsistensi ditekankan sebegitu pentingnya, apa lagi dalam mentadabburi dan mengamalkannya. Mungkin hanya sepele perkara mad, tetapi sanggupkah kita menjadi orang yang konsisten dengan sebuah pilihan yang beraneka rupa seperti sekarang. Hemm, pasti akan banyak ibrah yang akan dapat kuterima dalam pelajaran tahsin ini. Masih ada banyak pertemuan ke depan. Ya Rabb, sadarkan diriku.

Demikianlah sekilas cerita tentang sisi lain dari sebuah makna konsistensi. Semoga kita bisa menjadi pribadi yang KONSISTEN memegang teguh nilai-nilai dasar rabbaniyah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.