Hari ini terasa begitu menyenangkan. Ketika seharian dipenuhi berbagai aktivitas bermanfaat sehingga Ramadhan kali ini kian bermakna. Kira-kira ngapain aja ya. Seperti biasa Ahad pagi ini diisi dengan jalan-jalan. Ke mana? Pasti ke zona-zona ga jelas. Maksudnya blusukan ke alam bebas. Itu adalah jalan untuk menanamkan kembali semangat pedesaan di jiwa adik-adikku yang sekarang rentan terkenan gejala-gejala kotaisme. Halah, maksude gengsi urbanisasi dan individualism hidup.

Alhamdulillah, Kepengurusan Pun Berganti

Ketika matahari telah beranjak memasuki waktu dhuhanya. Sebuah sejarah baru terukir di Masjid At-Taqwa Grojogan. Sebuah masa dimana para pemuda muslim di Beji menemukan dirinya, semoga demikian. Hari itu, telah diputuskan pergantian pengurus PRISMA (Persatuan Remaja Islam Cendikia) Desa Beji dari generasi tua (termasuk aku) ke generasi yang lebih muda, lebih segar dan lebih atraktif. Aku terharu ketika musyarawarah dapat berjalan dengan baik kendati hanya dihadiri perwakilan dari 7 masjid, padahal ada 14 masjid se desa yang harusnya datang. Tidak mengapa, kini kepemimpinan PRISMA telah berpindah dari sahabat baikku Dedi kepada adikku yang luar biasa Hendri, dan tentunya dibersamai sahabat-sahabatnya dari perwakilan masjid.

Harapannya kepengurusan ini dapat semakin lebih mendekatkan dan merangkul para pemuda di Beji agar bergabung dalam agenda2 yang lebih positif dan berisi, tidak terombang-ambing tidak jelas seperti sebagian besar yang terjadi sekarang. Semoga Hendri dan teman-temannya dapat berkiprah lebih baik dari pada kami. Kami selaku generasi tua siap mensupport apa pun agar keberjalanannya ke depan semakin baik dan bermanfaat. Dedi, Rahmad, Ega, dek Citra, our time is over, but we have to assist them everytime. Kurasakan ada energy baru yang akan segera membakar semangat generasi muda dan membawa Bejiku lebih teduh dalam naungan Islam.

Ternyata Ayahnya adalah Inspirator

Setelah selesai urusan PRISMA, ternyata ada ajakan dari mbak Indah (IM3 dan YIM UGM ) untuk menemui salah satu tokoh pemuda + pengusaha di Ngawen. Siapa dia? Mas Joko Pitoyo, sosok nyentrik jebolan FKIP UNS yang pernah menjadi Presiden BEM FKIP dan menjadi ketuanya para presiden BEM KIP se-Indonesia. Dia adalah kakak kelasku jauh di waktu SMP. Ya, sekarang beliau sudah menjadi pengusaha sukses (menurutku).

Bukan Joko Pitoyonya sih yang akan banyak saya ceritakan. Waktu kami datang ke rumah beliau, tepatnya rumah ortu beliau, mas JokPit belum sampai di sana. Jadilah kami mengobrol dengan ayahnya, Bapak Samso, sang petani tulen yang luar biasa. Dari beliau kami mendapatkan banyak kisah hikmah mulai dari tekad beliau untuk membuat keenam putra-putri beliau sukses dalam pendidikan dan memiliki visi hidup yang tinggi. Beliau mungkin hanya petani di mata orang, tapi siapa mengira bahwa beliau adalah sosok petani tingkat provinsi DIY. Petani yang cara pandangnya maju. Wajarlah jika ternyata semangat ini menurun ke anak-anaknya yang semuanya telah menjadi “orang”.

Apa resepnya? Doa dan dukungan yang kuat. Luar biasa, sampai sekarang beliau tetap membiasakan anak-anaknya untuk kumpul 2 pekanan di rumah beliau. Makan bersama adalah sebuah tradisi yang selalu beliau tanamkan, meski hanya berlauk “sambel bawang”, sambal kesukaanku kalo lagi pulang ke rumah. Mungkin sederhana, hanya makan bersama, pake sambel lagi, tapi ternyata itulah kekuatan yang membuat klan keluarga beliau begitu kuat dan memiliki ikatan yang solid.

Di tanya wawasannya? Ga kalah deh sama anaknya. Cerdas tenan. Dan siapa mengira rumah beliau yang tergolong sederhana pernah dikunjungi oleh Prof. Furqon Hidayatullah, M. Pd. Dekan FKIP UNS selama 2 periode ini. Apa yang istimewa dari seorang Joko Pitoyo? Atau mungkin memang Bapak dan Anak ini adalah prototip langka manusia-manusia pejuang yang ada di tanah kelahiranku. Intinya aku perlu banyak belajar lagi dari mereka tentang sebua visi hidup.

Indahnya Bersama Masyarakat

Dan perjalananku hari ini ditutup oleh sebuah undangan dari dek Risa, KKN PPM UGM di Sidorejo. Hah, aku di suruh ceramah di depan jamaah di sana. Bismillah, berani dulu. Bermodal bahasa jawa ajaran alm. Pak Darmadi, ku sanggupi permintaan mereka. Dengan bahasa yang sederhana aku berbagi tentang pentingnya membina generasi muda.

Melihat begitu mengerikannya angka urbanisasi yang berdampak pada matinya kepemimpinan muda di desa membuatku begitu semangat untuk “meracuni” orang-orang tua dalam masalah membina SDM di desa. Intinya aku bercerita tentang bagaimana membina adik-adik yang sekarang masih sekolah agar memiliki cita-cita yang jelas dan berkontribusi bagi desanya kelak. Secara, generasi pemuda adalah generasi penerus, generasi pengganti, dan generasi pembaharu. Aku menawarkan beberapa poin:

  1. Menanamkan pendidikan agama dan membentuk karakter yang baik sejak dini.

Ini perlu peningkatan ilmu parenting dan kesadaran orang tua maupun calon orang tua. Dari pada pacaran ga jelas, mending pada belajar persiapan jadi calon orang tua. Sehingga ga masalah kalo nikah ketemu dengan siapa, asal lawan jenis (iya dong, masak homo), shalih/ shalihah, dan bertanggung jawab.

  1. Menumbuhkan kepercayaan pada mereka sebagai bagian dari masyarakat dan pelibatan secara aktif dalam kegiatan kemasyarakatan

Terkadang masyarakat menganggap generasi muda (ABG) itu masih seperti anak kecil. Dianggap belum bisa berpikir dan macem-macem lah. Kalo anaknya dari keluarga baik sih tidak masalah. Kalo nggak, gimana coba? Sebenarnya salah satu timbulnya komunitas negatif di kalangan remaja desa, karena masyarakat kurang “nguwongke” mereka sehingga mereka lebih memilih menjadi komunitas mandiri yang saling memanusiakan yang lain. Dan menjadikan para tokoh tetua itu rival abadinya. Jika sudah begini, bagaimana desa akan ada penerusnya yang berkualitas. Sementara yang agak pintar sedikut udah buru-buru diminta kerja ke kota, biar kaya dan bisa setoran tiap bulan.

  1. Kesadaran sosial untuk melakukan pembinaan remaja

Dan ini adalah puncak kesadaran yang harus dibangun masyarakat jika ingin para pemudanya tetap sehat akhlaknya. Pembiasaan kolektif harus segera dilakukan. Di sini aku menyampaikan gagasan Gerakan Beji Belajar, yaitu menghidupkan masjid mulai dari maghrip sampai isya’ untuk kegiatan positif, mulai dari ngaji hingga belajar dan diskusi. Jadi selain mengalihkan perhatian adik-adik dari televisi, sekaligus menghidupkan masjid dari kesepian yang selama ini terjadi. Seandainya masjid bisa berkata, tentu dia akan menangis karena telah ditinggalkan oleh kaum muslimin saat ini. Desa Beji harus kembali bersinar dengan cahaya Islam

Alhamdulillah, ternyata pada waktu itu my best friend, Dedi masih di rumah, dia kemudian menguatkan apa yang telah aku sampaikan. Sungguh aku menjadi saksi bagaimana dia telah menjadi manusia yang mampu mengalahkan dirinya sendiri sehingga menjadi hebat seperti sekarang. Bahkan aku merasa malu telah kalah jauh melangkah dibandingkan dia. Ya Rabb, berikanlah kekuatan padaku agar bisa bertaubat dan segera bangkit lebih baik. Dan yang lebih berkesan, dek Risa memberiku hadiah sebuah buku. Apa ya judulnya? Rahasia dong. Yang jelas, itu buku yang sangat bermanfaat untuk kehidupanku.

Nah itulah hikmah hari ini yang dapat ku bagi, semoga semakin menginspirasi dan menjadikan langkahku lebih mantap. Allahu akbar!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.