Negeri ini memang “sekuler” dan “liberal”, hingga sebagian umat Islamnya ikut-ikutan terjerat ke sana. 

Ada yang memisah-misahkan agama dan politik sehingga kalo masjid dipakai membahas persoalan keumatan dalam konteks kekuasaan buru-buru dicap jual beli ayat untuk kepentingan politik, lalu digeneralisir untuk semua yang begitu. Apa ini juga ga bisa dikatakan semacam “sekuler”.

Ada yang teriaknya memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan dari penindasan hingga kebablasan, bab adab dan masalah hati umat tidak dipedulikan, sing penting nyuara sak suara-suarane dhewe, sak enak udele dhewe. Hantam sana hantam sini sak penake dhewe. Apa ini juga ga bisa dikatakan semacam “liberal”.

Islam tetap mulia, dalam asas-asasnya yang tegas, dalam fikrahnya yang kokoh, dalam adabnya yang santun dan memesona, dalam naungannya yang damai. Bahkan dalam peperangan, silahkan diperiksa dalam sejarah baik tulisan sejarawan muslim maupun sejarawan barat yang netral, peperangan yang dilalui kaum muslimin adalah peperangan yang beradab, tidak mengenal istilah pembantaian. Begitu musuh kalah, maka segera terjadi perjanjian, bukan pembantaian. Rakyat diamankan dan dibiarkan tetap dalam keyakinannya. Dan itu hanya dapat dipraktekkan oleh hamba-hamba-Nya yang senantiasa rendah hati lagi memiliki kebeningan hati. Bukan yang diliputi kesombongan, kedengkian dan rasa ingin menjatuhkan sesamanya.

Mari istighfar saja. Istighfar yang banyak biar lisan aman dari menghantam dan mencibir yang lain.

Facebook

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.