Boleh percaya, boleh juga enggak. Setelah penghancuran bahasa, sebuah peradaban dapat diguncang dengan strategi kompleks agar pemikiran masyarakatnya terpolitisasi. Jika mesin itu telah bekerja, sang penghancur tinggal ngopi sambil sesekali jeprat-jepret latihan fotografi lihat masyarakat peradaban itu saling serang satu sama lain dan merasa paling benar.

Pemikiran yang terpolitisasi itu menjadikan semua pendapat relatif, bahkan terkadang dalam membicarakan soal agama setiap orang saling otot2an. Yang pasti dalam perselisihan ini, salah satu adalah pihak yang benar dalam ilmunya dan yang lainnya salah memahami. Tapi yang diharapkan para penghancur adalah keributan ini berjalan lama dan dibiarkan sampai semua saling melumatkan satu sama lain.

Saking terpolitisasinya pemikiran orang hari ini, orang yang dianggap memiliki relevansi politik tertentu, kalau sedang baca ayat dianggap menjual ayat-ayat tuhan. Punya tujuan akhir sama hanya masih berbeda jalan, saling menghantamnya lebih mengerikan ketimbang yang nggak ada urusan. Jadi friksi dan pertempuran itu terjadi di orang-orang yang sama-sama jalan searah. Sementara yang berlawanan arah atau yang berbelok diabaikan, padahal mereka mencopet, menculik anak-anak, dan menikam satu demi satu.

Kehancuran peradaban itu kadang berasal dari dirinya sendiri yang tidak mau berbenah dan cenderung menyalahkan serta saling bertikai satu sama lain. Ketiadaan rasa persatuan dan cinta lebih menumbuhkan ego untuk merasa paling benar dan berkuasa sendiri. Jika yakin sesuatu yang benar, yang dilakukan adalah transformasi hingga dimengerti yang lain, bukan intimidasi dan pemaksaan agar seolah-olah mengerti.

Facebook

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.