Kategori
Pendidikan

Belajar Menghargai Pemikiran dan Karya Sendiri

Ceritanya hari ini ada diskusi di kelas sains. Melanjutkan pertemuan sebelumnya, para siswa diminta berdiskusi merumuskan rencana proyek mereka di semester ini. Sebuah cara baru untuk melatih anak-anak SMP membangun komunikasi sejak dini dan mencoba berbagi peran untuk menghasilkan karya bersama. Selain itu, diharapkan timbul sebuah pengalaman bagaimana susahnya berpikir kreatif itu sehingga timbullah sikap untuk menghargai setiap karya sendiri.

Satu jam pelajaran berlalu, ada yang sudah berhasil melengkapi worksheet yang disediakan. Ada yang masih rewel dan saling beradu pendapat tentang karya. Ada juga yang belum punya apa pun dan malah sibuk dalam kebingungannya. Yang rewel coba dilerai dengan beberapa hal yang mendukung salah satu karya agar salah satu mengalah. Yang bingung dipantik agar segera keluar inspirasinya.

Akhirnya hampir semuanya selesai mengerjakan tugas diskusi hari ini. Aku cukup senang dengan capaian tersebut. Setidaknya cara baru ini berhasil meningkatkan keaktifan semua siswa untuk bekerja keras menampilkan karya mereka masing-masing. Jika dibandingkan tahun sebelumnya ketika aku pertama kali diberi kesempatan berbagi di kelas ini, ini jauh lebih baik.

Di pertemuan-pertemuan berikutnya, tugas kami adalah mengawal keberjalanan mereka merealisasikan proyek mereka masing-masing. Menumbuhkan semangat bekerja sama dan saling menolong satu sama lain ternyata saat ini bukan hal yang mudah. Refleksinya adalah aku sendiri mengalami beberapa kali kesulitan saat berkelompok dengan teman-teman waktu masih kuliah di kampus. Tapi beruntung satu dua orang bisa menjadi partner yang baik dalam belajar. Dan itu memang hal wajar karena tiap kita punya kecenderungan dengan tipe orang tertentu juga.

Hal yang terpenting hari ini, setiap siswa telah mengerti rasanya menahan bosan dalam diskusi mereka ketika teman yang lain sedang cerita. Mereka juga mulai berpikir apakah proyeknya bakal berhasil atau tidak. Atau bahkan mereka ada yang masih berpikir keras tentang karya yang ingin mereka hasilkan. Kesimpulannya, berkreasi itu bukan hal yang mudah, maka sebaiknya kita mulai belajar untuk menghargai kreasi-kreasi anak bangsa sendiri. Hal itu diawali dari belajar menghargai karya sendiri setelah merasakan betapa sulitnya membuat karya, terlebih melalui sebuah proses kerja sama. Semoga dari pelajaran ini nanti muncul rasa kebersaan yang semakin erat dan rasa cinta yang besar terhadap hal-hal yang berkaitan dengan negeri ini. Memang kita sedang belajar Sains, tetapi sesungguhnya itu hanya cara bagaimana kita belajar menghargai Indonesia kita.

Kategori
Pendidikan

Kembali ke Kelas Lagi

Kemarin siang saat melihat-lihat akun situs biruku tiba-tiba ada telepon berdering. Sebuah nomor rumah menelponku, dan ternyata dari seberang sana mengatakan tanpa basa-basi bahwa besok aku mengajar lagi. Bengong juga, mengingat rambutku sedang gondrong-gondrongnya dan aku sebenarnya masih ingin menikmati rambut gondrongku yang kian memanjang itu.

Tapi sudahlah, karena aku akan memasuki kelas Science Club lagi tentu harus tampil layaknya guru dong. Apalagi di sekolah Islam. Akhirnya sore itu aku menemukan tempat cukur rambut yang cukup unik. Unik karena baru pertama kali aku cukur rambut di Solo da nada basah-basahan rambut segala. Di salon itu pula aku menikmati kelakar luar biasa bersama tukang cukurnya nya yang kebetulan sepantaran denganku. Di salon itu pula akhirnya aku mengenal siapa pembuat komposisi indah yang beberapa kali ku dengar, Peter Lee Johnson.

Pagi ini aku sudah kembali ke salah satu dunia yang lama kutinggalkan. Aku sendiri tidak banyak berharap setelah setahun mengajar dengan beberapa hal yang tidak tercapai (dalam matriks pribadiku). Ternyata sekolah masih tetap mempercayakan proyek itu kepadaku. Yang aku pegang, aku dipercaya dan aku lakukan yang terbaik. Aku tidak meminta, tapi aku memiliki sesuatu yang membuat manajemen percaya padaku.

Karena sangat mendadak kemarin, ditambah kondisiku pekan ini yang sakit-sakitan akhirnya aku pagi itu datang ke sekolah tanpa sebuah persiapan khusus. Dan seperti biasa aku mengharapkan ahaaa moment terjadi saat aku bertemu dengan mereka di depan kelas. Ku kira jumlah peserta tahun ini menyusut karena banyaknya hal yang tidak berhasil kutanamkan di tahun kemarin. Ternyata justru sebaliknya, jumlahnya malah lebih banyak.

Mengawali semangat Science Club hari ini, kuputarkan sebuah lagu yang mungkin tak banyak diketahui orang

“Mother Nature”

Bila hutan yang hijau telah gersang

Bila kicau burung hanya terkurung

Bila bening sungai berganti kelam

Bila nyanyian alam menjadi hilang

Reff 1 :

Ke mana kita harus pergi

Di mana kita kan mencari

Reff 2 :

Kerusakan di muka bumi

Karena tangan-tangan manusialah semata

Dan manusialah yang akan merasakan akibatnya

Let’s start to care our mother nature

 ****

Bila mentari tertutup asap hitam

Bila udara tak lagi menyegarkan

Bila kehidupan tak pedulikan alam

Bila semua hanyalah keegoisan

Reff 1 + Interlude

Apakah kesadaran kita baru terjaga

Ketika kekuatan alam telah menelurkan bencana

Segeralah berbenah di waktu yang tersisa

Reff 2

Now let’s start to care our mother nature

Yang ingin mendengar lagunya silahkan download di sini ya! 

Kategori
Pendidikan

Ternyata Baru Pertama Kali

Ceritanya pagi ini aku mulai mengadakan latihan penelitian kecil-kecilan untuk kelas sains, yakni mengamati pertumbuhan kedelai. Sesuai perencanaan hari ini dimulai dengan proses menanam. Pekan kemarin ketua kelompoknya sudah kuberikan juklak untuk membawa alat dan bahan yang digunakan untuk praktek hari ini. Mulai dari menyiapkan botol-botol bekas untuk pot, tanah liat, pupuk hingga biji kedelai. Juklak yang kuberikan standard an cukup singkat. Dan hari ini aku melihat hasilnya? Dan aku menggeleng-geleng kepala sekaligus bersyukur.

Seperti yang sudah-sudah pasti ada kelompok yang tidak lengkap, permasalahan klasiknya adalah koordinasi antar kelas masih sulit dilakukan. Itu tandanya sistem belajar moving classnya masih agak sulit dilakukan untuk ekstrakurikuler ini. Butuh proses cukup panjang deh. Kemudian ternyata waktu mengecek barang-barang yang dibawa ternyata ada hal yang lucu juga. Mulai dari pupuk kandang yang masih basah (kuledekin, wah tadi pagi nunggu di depan kandang dong), kemudian juga kedelai yang dibawa berupa kedelai hitam buat bahan kecap, sampai ada yang membuat media tanam seperti jenang karena kebanyakan air. Namanya juga anak-anak, aku berusaha memaklumi meskipun tak tahan juga untuk tertawa, tetapi setelah dipikir-pikir salahku juga tidak memberi juklak yang lengkap, karena pikirku mereka telah punya pengalaman sebelumnya waktu di SD dulu.

Waktu aku bertanya siapa yang sudah pernah menanam tetumbuhan seperti ini? Nihil. What? Berarti selama ini nggak pernah ada percobaan dong. Trus waktu kutanya siapa yang pernah melihat orang bertanam tetumbuhan seperti ini? Sebagian besar sudah, Alhamdulillah, lumayan paling tidak ada pengalaman melihat. Hal ini membuatku geleng-geleng kepala, sekaligus bersyukur mendapat kesempatan bersama anak-anak orang berada di sebuah sekolah yang cukup favorit untuk belajar tentang sains. Sekacau apa pun hari ini, aku bersyukur melihat mereka mau berkotor ria dengan tanah becek dan pupuk yang bau.

Demikian sekilas inspirasi hari ini. Terima kasih anak-anak, kalian memberi inspirasiku untuk mempersiapkan pembelajaran yang lebih baik ke depan.

Kategori
Refleksi

Alhamdulillah, Masih Ada Kepedulian Hari ini

Ini adalah hasil diskusi tadi setelah selesai mengajar siswa-siswa yang mengikuti bimbingan OSN Matematika SMP dengan Pak Yuda dan Pak Meizal, dua guru seni yang mengajar SBK, yang satu seni lukis, dan yang satunya adalah seni suara. Tentang apakah tema perbincangan kami? Simak selengkapnya di sini

Berawal dari rasa kangen kedua guru yang merupakan sahabat lama itu akhirnya timbullah perbincangan yang bermanfaat. Karena waktu itu aku juga di sana, aku akhirnya terlibat dalam pembicaraan itu. Apalagi setelah pak Yuda menawariku keripik singkong hasil jualan para siswa di program kewirausahaan. Aku jadi makin betah untuk mengikuti diskusi.

Pak Meizal mengawali diskusinya dengan bercerita tentang keinginannya untuk mengadopsi seorang anak yang ditelantarkan oleh orang tuanya. Beliau bertanya tentang prosedur legalitasnya kepada kami. Karena bukan para pegawai kependudukan, aku dan Pak Yuda menggelengkan kepala tanda tak tahu, dan menyarankan beliau untuk ke dinas kependudukan dan pencatatan sipil.

Akhirnya ceritanya berlanjut mengapa beliau memilih untuk mengadopsi. Sebagai pasangan yang sudah lima tahun menikah dan baru dikaruniai satu orang anak, dengan penghasilan yang lebih dari cukup (tahu sendiri kan seorang guru vokal di hari ini) beliau ingin mewakafkan harinya untuk turut merawat anak orang yang ditelantarkan orang tuanya. Mendengar keinginan itu, aku terharu, betapa keinginan itu luar biasa dan sangat langka terucap dari seorang guru hari ini yang sebagian besar justru semakin hedon karena iming-iming sertifikasi.

Mendengar keinginan itu, pak Yuda pun terkagum dan memberi beberapa nasihat kepada Pak Meizal. Aku turut mendengarkan dengan seksama. Kemudian pembicaraan tentang anak terlantar dan anak yatim menjadi lebih luas. Pak Yuda bercerita tentang kehidupan salah seorang ustadz yang mengajar di ponpes pinggiran kota Solo yang memiliki puluhan anak yatim. Mereka tinggal bersama keluarga beliau dan mendapatkan perhatian layaknya orang tua mereka.

Ada sebuah kisah menarik dari salah satu anak yang tinggal bersama ustadz tersebut. Anak itu adalah hasil zina dari seorang pasangan muda yang pernah kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di kota Bengawan ini. Kejadiannya berawal dari keinginan pasangan muda itu untuk menggugurkan kandungan. Mereka kemudian pergi ke tempat praktek aborsi di kawasan kota Solo. Naas di tengah jalan mereka mengalami kecelakaan kecil. Namun, itulah skenario dari Allah untuk kebaikan buah hati mereka. Di tengah cekaman rasa takut akan maksiat itu, yang masih akan dilanjutkan dengan kriminalitas (pembunuhan janin), Allah masih berkendak baik untuk mereka. Di tengah kondisi itu mereka bertemu dengan sang Ustadz tadi. Setelah mengetahui keadaan itu, sang Ustadz dengan nada serius dan keras meminta mereka untuk bertaubat dan tidak membunuh bayi itu. Beliau berjanji untuk mengadopsi anak tersebut setelah lahir nantinya.

Kini anak itu telah tumbuh dewasa di bawah asuhan sang ustadz, dan mungkin kelak akan menggantikan beliau atau menjadi penyambung pahala kebaikan  beliau. Hari ini rasanya sulit mencari sosok-sosok ustadz yang solutif seperti beliau. Terlalu banyak ustadz yang hari ini pandai beretorika mengatakan ini buruk itu buruk, bahkan terkadang terkesan beda tipis dengan para pencela. Mengapa? Karena mereka tidak dapat menjadi solusi di tengah kemungkaran dan kemaksiatan yang semakin merajalela, khususnya di tengah-tengah umat Islam hari ini.

Aku salut dengan ustadz tadi, Pak Meizal, dan tentu saja Pak Yuda yang aku lebih dulu mengenal beliau sebelum akhirnya bertemu di sekolah ini. Sore ini menjadi indah sekali. Bahkan lebih indah dari yang kukira, ketika aku melanjutkan perjalanan ke majelis tahsin. Ku lihat ustadz Khalid masih sendirian menunggu. Ternyata memang mengaji Quran itu menjai sesuatu yang dinomorsekiankan. Namun demikian, aku merasa lebih puas hari ini untuk setoran hafalan dan memperbaiki bacaan yang belum benar.

Ada hikmah, ada cinta, dan ada sebuah tantangan besar sebelum kita tiada. Bisakah kita berinvestasi untuk sebuah asa bagi kemenangan Islam di masa nanti? Jangan-jangan kesibukan kita hari ini yang sering terlabeli dengan kesan “aktivis” dan “dakwah” itu hanyalah tindakan kosong karena tiadanya hikmah dan visi yang jelas untuk masa depan akhirat kita, dan lengang dari ketulusan untuk mengabdi. Mari kita renungkan.

Kategori
Pendidikan

Pesawat Kertas

Hal yang terpenting dari proses belajar itu adalah menemukan inspirasi. Semewah apa pun penyajiannya, semenarik apa pun penampilannya, sememikat apa pun perkataannya, jika seorang guru gagal menginspirasi dan para siswanya gagal mengambil inspirasi, sia-sialah proses belajar itu. Berapa banyak suapan-suapan ilmu yang telah menjejali kepala siswa-siswa kita hari ini, tetapi apakah mereka menjadi orang yang semakin mengerti? Mengerti bahwa belajar itu untuk mengetahui bahwa dia itu tidak tahu. Mengerti bahwa dengan banyak tidak tahu maka dia semakin giat untuk mencari tahu agar semakin mengetahui bahwa ia tidak tahu.

Tadi pagi gembira sekali rasanya bisa mengajak adik-adik bermain pesawat kertas di halaman. Riang sekali mereka. Sepertinya permainan-permainan tradisional seperti ini sudah lama sekali memudar. Beruntung aku dapat menjadi fasilitator mereka dalam kelompok sains. Aku dapat mempraktekan sesuatu aneh dan cenderung di luar pemikiran normal para guru hari ini. Yah, ekstra sains biasanya identik dengan praktikum dan seperangkat alat-alat laboratorium yang menjemukan.

Dan tahukah hari ini apa kegiatannya? Bermain pesawat kertas. Aku berpikir dengan mengajak mereka membawa kertas bekas dan melipatnya menjadi mainan pesawat sepertinya akan menjadi sesuatu hal yang menarik. Sejujurnya aku pun baru membuat pesawat kertas juga pagi hari itu setelah bertahun-tahun tak terpikir untuk mempraktekan permainan yang begitu mengasyikkan di masa kecil itu. Pertama kali, pesawat buatanku tidak dapat terbang dengan benar, meskipun untuk kali kedua dan seterusnya berhasil. Pun demikian terhadap sebagian besar adik-adik yang putri. Yah, permainan yang super murah ini hampir punah.

Meskipun riang dan tidak jarang menimbulkan kegaduhan karena yang putra saling mengejek kelompoknya lantaran pesawat yang mereka buat, ternyata pagi ini tak semulus rencanaku. Niatnya karya-karya mereka mau kufoto dan ku pampang di blog yang udah kusiapkan secara khusus, ternyata polemik persaingan mereka membuat aku harus bersabar. Dan hal yang aku sayangkan, belum muncul sebuah gagasan gila dari adik-adik mengapa aku mengajak mereka. Ada bocah yang selalu mengulang kesalahan dalam menerbangkan pesawatnya sehingga selalu mendarat di atap. Aku biarkan saja ia untuk berpikir. Ternyata masih belum muncul juga. Padahal, bukankah sebenarnya bermain-main pesawat kertas itu juga dapat digunakan untuk mengetahui arah dan gambaran besarkanya kecepatan angin. Namun kata itu tak kunjung muncul dalam celoteh mereka, maupun dalam laporan mereka. Ah, itu salahku yang kurang memantik mereka.

Ini sedikit cerita mengajarku pagi ini bersama squad level 7. Spesial untuk Kamal, imbangi teman-temanmu ya nak. Semoga berhasil meraih mimpi dan menjadi yang terbaik.

Kategori
Pendidikan

Mengawali Science Project di Terik UV Pagi

Ini kisah di hari keduaku mengajar ekstra kelompok sains di SMP Islam al-Abidin. Kali ini siswa-siswanya adalah adik-adik kelas VIII dan IX. Yah, mereka jauh lebih tertata dari pada yang sebelumnya. Jelas, secara udah ngoyot satu dan dua tahun di situ, masak ya masih sama kayak adik-adiknya. Sebagai siswa senior mereka sudah mendapatkan kultur belajar yang lebih mapan. Jika sebelumnya siswa-siswanya kalo yang hobi ramai ya clotehan melulu, yang anteng kelewat anteng, yang ini sudah lebih seimbang. Mereka berimbang dalam diam dan aktif. Dan tentu saja karena suasana belajar hari ini di luar ruangan, itu yang membuatku bisa menikmati pembelajaran tadi pagi.

Di halaman sekolah yang bersih segerombolan anak bersila untuk mendengarkan sharing dariku sambil sesekali mereka menanyakan sesuatu terkait maksud kegiatan ini. Yah, asyik juga ya ngobrol dengan adik-adik yang masih fresh. Dan tahu, nggak ketika pembelajaran itu belangsung, matahari sudah sepenggalah naik. Rasa hangat yang hampir mendekati derajat panas mulai terasa di kulit hingga butiran-butiran keringat pun keluar satu per satu. Hmm, aku memotivasi mereka untuk bertahan, karena UV pagi itu sangat baik untuk kesehatan tulang, terutama bagi yang tidak suka minum susu. (Lho apa hubungannya? Cari sendiri)

Setelah saling berkenalan dan membuat kesepakatan akhirnya berakhirlah kelas yang menurutku terasa lama lantaran bingung juga mau ngapain lagi. Mau ngajakin nyanyi-nyanyi kayak TPA, adik-adik yang akhwat malu-malu dan sepertinya memang tidak usah, karena itu lebih baik bagi mereka. Diminta tanya belum pada tertarik untuk bertanya. Dan aku sampai bosan bercerita, karena juga tidak baik terlalu banyak bercerita. Semoga tugas mencari semua “tumbuhan yang berbau wangi” dapat berjalan dengan baik. Dan selesailah tulisan pagi ini.

Kategori
Pendidikan

Kali Pertama Mengajar, Dual Hal yang Berbeda

“Pagi-pagi mau ke mana mas?”, Tanya adikku di kamar sebelah.

“Mau dinas dek!”, jawabku lebay. Ha ha, padahal waktu tinggal menunjukkan waktu kurang dari 20 menit dari jam masuk. Alamak, masak hari pertama kerja udah harus telat. Dengan diawali bismillah dan nge-track bersama si Hitam akhirnya sampailah aku di tempat tujuan dalam waktu yang lebih sedikit dari perkiraan itu. Alhamdulillah

Kelas Science Club ???

Pagi itu aku mengalami syok berat. Karena ternyata bayanganku terhadap siswa-siswi yang akan bergabung di kelas sains itu tidak sesuai dengan perkiraanku. Wuih, meski baru kelas 7 SMP, akhwat-akhwatnya udah dibiasakan dalam style kayak ukhti-ukhti di kampus tuh. Akibatnya suasana jadi garing, biasanya aku ga melucu aja udah pada senyum-senyum. Yang ini mah malah jadi serem gitu aku bikin lelucon. Yang ikhwan-ikhwan pun juga masih melakukan penyesuaian denganku saat perkenalan.

Untuk mengantisipasi hal itu, jurus andalanku akhirnya ku keluarkan, yaitu nyetelin video dan mengulasnya. Hemm, lumayan lah, kisah N250 kepunyaan bangsa Indonesia dapat mengatasi grogiku pagi ini. Dan akhirnya pelajaran berakhir dengan senyuman. Maklum, orang yang masih idealis kayak aku, omongannya juga lebih banyak ngomporin adik-adik biar jadi resah dan kritis. Ha ha ha

Kelas Olimpiade Matematika

Belajar dari pengalaman pagi. Akhirnya aku mencoba menemukan cara yang paling pas untuk menghadapi sekumpulan akhi-akhi dan ukhti-ukhti kecil yang insya Allah akan jadi generasi shalih revolusioner Indonesia. Alhamdulillah, dengan metode yang biasa kupake waktu ngajar dulu, ternyata mengajar materi olimpiade jauh lebih enak dari pada ngajar kelas Science Club. Jadinya ga perlu pake jurus-jurus yang ampuh segala.

Dan hari ini kisah itu menjadi pelajaran berharga bagiku bagaimana belajar memikat orang lain agar bisa mengikuti alur berpikir kita.

Rabbisrohliy shodriy wa yassirliy amriy wahlul uqdatan millisaani yafqoohu qouliy

Kategori
Pendidikan

Meeting Perdana, Mulai Kerja Lagi dah

Hemm, waktu semester 2 dulu saya memberanikan diri untuk melamar pekerjaan di sebuah lembaga bimbingan belajar di pinggir bengawan Solo. Gajinya sih tidak begitu tinggi, tetapi waktu itu aku merasa wah sekali setelah mengajukan lamaran kemudian interview dan diterima. Huwa rasanya luar biasa bisa keterima kerja. Sampai akhirnya di awal semester 5 semua kegiatan itu kuhentikan agar dapat fokus di organisasi dan kuliah di kampus, karena semakin banyaknya job ngelesi ternyata berpengaruh signifikan pada penurunan IP-q. Yah, ternyata uang memang menggiurkan.

Setelah keluar dari kerja les di lembaga, aku memilih les privat sendiri yang bisa kuatur sendiri waktunya dan bisa kupilih sendiri muridnya. Untuk orang aneh sepertiku, tidak semua orang kuterima untuk kulesin dan barangkali tidak setiap anak suka dengan gayaku mengajar. Yah, wajar saja, setiap hal itu berpasangan kok. Profesi ini pun kulanjutkan sampai akhir semester 8 kemarin. Dan taraa, aku kok jadi tidak segera mengerjakan skripsi yah. Padahal IP-ku juga tidak jelek-jelek amat (artinya tidak perlu make up kuliah lagi kan). Tapi aku yakin mulai semester 9 ini, pekerjaan yang paling membosankan sepanjang kuliah ini dapat kuselesaikan dengan baik, meskipun amanah organisasi seakan tak mengerti pada orang yang tengah meraba-raba dunianya. Biarlah, tak mengapa.

Al-Abidin Memanggil

Tidak kerja, hanya berharap pada beasiswa, padahal keinginan beli ini itu, terutama buku makin menggila. Ah, kebutuhan pulsa makin membengkak. Ternyata Allah memberikan jawabannya lewat sebuah SMS untuk tawaran mengajar science club di SMP Islam Internasional al-Abidin. Meskipun belum pernah punya pengalaman mengajar, kuberanikan diri untuk mengambil tantangan itu, karena juga terdesak kebutuhan ekonomi. Ah, aku pasti bisa. Insya Allah

Dan kali ini aku merasa lebih baik, karena bukan aku yang mencari pekerjaan, tetapi aku masih dipercaya untuk membimbing anak orang agar menjadi lebih baik. Semoga bisa memenuhi harapan sekolah dan anak-anak yang ingin belajar sains dengan lebih baik.

Hari ini, undangan meeting perdana untuk guru-guru telah dilakukan. Ternyata sekolah Islam terpadu itu memiliki sebuah warna tersendiri yang membuat orang yang bekerja lebih nyaman. Iya lah, pemandangan di dalamnya juga enak di mata kok. Dan itu makin membuat aku nyaman dan enjoy menikmati profesi baru di sekolah ini. Semoga bisa bertahan lama sampai aku bisa mengajari anak-anak untuk membuat produk sains, meskipun hanya sederhana sekali.

Inspirasi Mendirikan Sekolah

Saat Mr. Pam pam, sang Kepala Sekolah memberikan pengarahan, banyak inspirasi baru yang muncul di kepalaku. Intinya semua itu mengerucut pada sebuah mimpi untuk membuat sekolah seperti itu di daerah sendiri nantinya. Yah, mimpi yang pernah ku gambar di atas kertas dan discan Pak Sriyanta waktu SMA akan mengalami sedikit modifikasi seiring dengan perkembangan wawasan dan momentum yang kumiliki. Membuat sekolah yang menjadi garda terdepan dalam menjaga moral dan akhlak bangsa harus menjadi mimpi para aktivis hari ini, khususnya aktivis yang sedang berkecimpung dalam pendidikan. Karena sekolah mandiri yang Islami adalah solusi nyata untuk mencetak generasi-generasi yang salih.