Ini adalah hasil diskusi tadi setelah selesai mengajar siswa-siswa yang mengikuti bimbingan OSN Matematika SMP dengan Pak Yuda dan Pak Meizal, dua guru seni yang mengajar SBK, yang satu seni lukis, dan yang satunya adalah seni suara. Tentang apakah tema perbincangan kami? Simak selengkapnya di sini

Berawal dari rasa kangen kedua guru yang merupakan sahabat lama itu akhirnya timbullah perbincangan yang bermanfaat. Karena waktu itu aku juga di sana, aku akhirnya terlibat dalam pembicaraan itu. Apalagi setelah pak Yuda menawariku keripik singkong hasil jualan para siswa di program kewirausahaan. Aku jadi makin betah untuk mengikuti diskusi.

Pak Meizal mengawali diskusinya dengan bercerita tentang keinginannya untuk mengadopsi seorang anak yang ditelantarkan oleh orang tuanya. Beliau bertanya tentang prosedur legalitasnya kepada kami. Karena bukan para pegawai kependudukan, aku dan Pak Yuda menggelengkan kepala tanda tak tahu, dan menyarankan beliau untuk ke dinas kependudukan dan pencatatan sipil.

Akhirnya ceritanya berlanjut mengapa beliau memilih untuk mengadopsi. Sebagai pasangan yang sudah lima tahun menikah dan baru dikaruniai satu orang anak, dengan penghasilan yang lebih dari cukup (tahu sendiri kan seorang guru vokal di hari ini) beliau ingin mewakafkan harinya untuk turut merawat anak orang yang ditelantarkan orang tuanya. Mendengar keinginan itu, aku terharu, betapa keinginan itu luar biasa dan sangat langka terucap dari seorang guru hari ini yang sebagian besar justru semakin hedon karena iming-iming sertifikasi.

Mendengar keinginan itu, pak Yuda pun terkagum dan memberi beberapa nasihat kepada Pak Meizal. Aku turut mendengarkan dengan seksama. Kemudian pembicaraan tentang anak terlantar dan anak yatim menjadi lebih luas. Pak Yuda bercerita tentang kehidupan salah seorang ustadz yang mengajar di ponpes pinggiran kota Solo yang memiliki puluhan anak yatim. Mereka tinggal bersama keluarga beliau dan mendapatkan perhatian layaknya orang tua mereka.

Ada sebuah kisah menarik dari salah satu anak yang tinggal bersama ustadz tersebut. Anak itu adalah hasil zina dari seorang pasangan muda yang pernah kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di kota Bengawan ini. Kejadiannya berawal dari keinginan pasangan muda itu untuk menggugurkan kandungan. Mereka kemudian pergi ke tempat praktek aborsi di kawasan kota Solo. Naas di tengah jalan mereka mengalami kecelakaan kecil. Namun, itulah skenario dari Allah untuk kebaikan buah hati mereka. Di tengah cekaman rasa takut akan maksiat itu, yang masih akan dilanjutkan dengan kriminalitas (pembunuhan janin), Allah masih berkendak baik untuk mereka. Di tengah kondisi itu mereka bertemu dengan sang Ustadz tadi. Setelah mengetahui keadaan itu, sang Ustadz dengan nada serius dan keras meminta mereka untuk bertaubat dan tidak membunuh bayi itu. Beliau berjanji untuk mengadopsi anak tersebut setelah lahir nantinya.

Kini anak itu telah tumbuh dewasa di bawah asuhan sang ustadz, dan mungkin kelak akan menggantikan beliau atau menjadi penyambung pahala kebaikan  beliau. Hari ini rasanya sulit mencari sosok-sosok ustadz yang solutif seperti beliau. Terlalu banyak ustadz yang hari ini pandai beretorika mengatakan ini buruk itu buruk, bahkan terkadang terkesan beda tipis dengan para pencela. Mengapa? Karena mereka tidak dapat menjadi solusi di tengah kemungkaran dan kemaksiatan yang semakin merajalela, khususnya di tengah-tengah umat Islam hari ini.

Aku salut dengan ustadz tadi, Pak Meizal, dan tentu saja Pak Yuda yang aku lebih dulu mengenal beliau sebelum akhirnya bertemu di sekolah ini. Sore ini menjadi indah sekali. Bahkan lebih indah dari yang kukira, ketika aku melanjutkan perjalanan ke majelis tahsin. Ku lihat ustadz Khalid masih sendirian menunggu. Ternyata memang mengaji Quran itu menjai sesuatu yang dinomorsekiankan. Namun demikian, aku merasa lebih puas hari ini untuk setoran hafalan dan memperbaiki bacaan yang belum benar.

Ada hikmah, ada cinta, dan ada sebuah tantangan besar sebelum kita tiada. Bisakah kita berinvestasi untuk sebuah asa bagi kemenangan Islam di masa nanti? Jangan-jangan kesibukan kita hari ini yang sering terlabeli dengan kesan “aktivis” dan “dakwah” itu hanyalah tindakan kosong karena tiadanya hikmah dan visi yang jelas untuk masa depan akhirat kita, dan lengang dari ketulusan untuk mengabdi. Mari kita renungkan.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.