“Pagi-pagi mau ke mana mas?”, Tanya adikku di kamar sebelah.

“Mau dinas dek!”, jawabku lebay. Ha ha, padahal waktu tinggal menunjukkan waktu kurang dari 20 menit dari jam masuk. Alamak, masak hari pertama kerja udah harus telat. Dengan diawali bismillah dan nge-track bersama si Hitam akhirnya sampailah aku di tempat tujuan dalam waktu yang lebih sedikit dari perkiraan itu. Alhamdulillah

Kelas Science Club ???

Pagi itu aku mengalami syok berat. Karena ternyata bayanganku terhadap siswa-siswi yang akan bergabung di kelas sains itu tidak sesuai dengan perkiraanku. Wuih, meski baru kelas 7 SMP, akhwat-akhwatnya udah dibiasakan dalam style kayak ukhti-ukhti di kampus tuh. Akibatnya suasana jadi garing, biasanya aku ga melucu aja udah pada senyum-senyum. Yang ini mah malah jadi serem gitu aku bikin lelucon. Yang ikhwan-ikhwan pun juga masih melakukan penyesuaian denganku saat perkenalan.

Untuk mengantisipasi hal itu, jurus andalanku akhirnya ku keluarkan, yaitu nyetelin video dan mengulasnya. Hemm, lumayan lah, kisah N250 kepunyaan bangsa Indonesia dapat mengatasi grogiku pagi ini. Dan akhirnya pelajaran berakhir dengan senyuman. Maklum, orang yang masih idealis kayak aku, omongannya juga lebih banyak ngomporin adik-adik biar jadi resah dan kritis. Ha ha ha

Kelas Olimpiade Matematika

Belajar dari pengalaman pagi. Akhirnya aku mencoba menemukan cara yang paling pas untuk menghadapi sekumpulan akhi-akhi dan ukhti-ukhti kecil yang insya Allah akan jadi generasi shalih revolusioner Indonesia. Alhamdulillah, dengan metode yang biasa kupake waktu ngajar dulu, ternyata mengajar materi olimpiade jauh lebih enak dari pada ngajar kelas Science Club. Jadinya ga perlu pake jurus-jurus yang ampuh segala.

Dan hari ini kisah itu menjadi pelajaran berharga bagiku bagaimana belajar memikat orang lain agar bisa mengikuti alur berpikir kita.

Rabbisrohliy shodriy wa yassirliy amriy wahlul uqdatan millisaani yafqoohu qouliy

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.