Kategori
Refleksi

Ketika TA Tak Kunjung Selesai

Menjadi mahasiswa semester sangat tua ternyata memang semakin tidak populer. Meskipun tidak ada masalah secara pribadi, namun status tersebut rupanya bukanlah status yang saat ini banyak diinginkan orang. Termasuk dosen pembimbing saya. Dan akhirnya, pekan lalu saya mendapatkan ultimatum untuk segera menyelesaikan studi. Ya, saya sadar, semakin lama saya menyandang status mahasiswa S-1, semakin buruk reputasi prodi dan dosen yang membimbing saya.

Akhirnya dengan kecepatan penuh, makalah eksperimen fisika pun selesai. Karya media pembelajaran yang kuminta dibuatkan oleh rekanku yang jadi programer sudah lebih bagus dibandingkan sebelumnya. Sebagai perancang program yang tidak ngerti basic pemrograman tentu saja hanya bisa menganalisis lalu berkomentar ke programer untuk dibetulkan. Karena kami sama-sama nyambi, saya blogger dan dia juga ngantor jadinya tugas akhir kedua saya terkatung-katung hingga berbulan-bulan lamanya.

Meskipun setelah beberapa bulan ini seperti mengalir saja. Tetap saja status mahasiswa saya ternyata mengganjal juga kalau tidak segera diselesaikan. Apalagi skripsi saya adalah lanjuta dari tugas akhir tersebut. Ah, kuliah di prodi yang TA-nya banyak memang menjenuhkan. Klop saat ketemu dengan orang yang tipikalnya liar seperti aku. Ketika skripsi tidak selesai lama meskipun sudah diseminarkan setahun yang lalu, sebenarnya karena saya tidak melanjutkan satu huruf pun. Makanya tidak usah heran, belum ada perkembangan.

Yang dirumah juga sudah telpon kapan mau wisuda. Ha ha ha, sidang skripsi aja belum. Ah ternyata aku terlalu banyak bermain-main dan bereksperimen ya. Jika soal membaca buku, aku membaca banyak buku. Tapi buku yang menjadi skripsiku, ah ternyata aku belum melakukan banyak hal untuk itu. Jurnal? Jangan tanya, aku bahkan baru mengoleksi kurang dari 10 jurnal. Buku? Wah bahkan belum ada 10 buku induk yang kubaca. Karena skripsi tidak mengizinkan banyak copas dari internet, ya sudahlah. Mungkin bulan ini akan sangat suram bagiku karena aku harus mampu bertahan untuk membaca sesuatu yang monoton dan sangat teoritis itu.

Aku cuma butuh lulus. Asal makalahnya layak diujikan, udahlah maju. Ga usah pake neka-neka lagi. Biar segera lulus. Biar segera menghirup udara bebas. Melanjutkan aktivitas anehku lagi. Ngantor di kamar kos. Sampai nanti pindah ke kontrakan (kalo sudah nikah). Dan mungkin akan segera pindah ke kamar khusus di rumah. Lulusku nanti insya Allah adalah hari yang paling bahagia, karena aku tak galau lagi dengan pekerjaan yang harus kucari. Pekerjaan sudah menanti di hadapanku.

Kategori
Pendidikan

Meeting Perdana, Mulai Kerja Lagi dah

Hemm, waktu semester 2 dulu saya memberanikan diri untuk melamar pekerjaan di sebuah lembaga bimbingan belajar di pinggir bengawan Solo. Gajinya sih tidak begitu tinggi, tetapi waktu itu aku merasa wah sekali setelah mengajukan lamaran kemudian interview dan diterima. Huwa rasanya luar biasa bisa keterima kerja. Sampai akhirnya di awal semester 5 semua kegiatan itu kuhentikan agar dapat fokus di organisasi dan kuliah di kampus, karena semakin banyaknya job ngelesi ternyata berpengaruh signifikan pada penurunan IP-q. Yah, ternyata uang memang menggiurkan.

Setelah keluar dari kerja les di lembaga, aku memilih les privat sendiri yang bisa kuatur sendiri waktunya dan bisa kupilih sendiri muridnya. Untuk orang aneh sepertiku, tidak semua orang kuterima untuk kulesin dan barangkali tidak setiap anak suka dengan gayaku mengajar. Yah, wajar saja, setiap hal itu berpasangan kok. Profesi ini pun kulanjutkan sampai akhir semester 8 kemarin. Dan taraa, aku kok jadi tidak segera mengerjakan skripsi yah. Padahal IP-ku juga tidak jelek-jelek amat (artinya tidak perlu make up kuliah lagi kan). Tapi aku yakin mulai semester 9 ini, pekerjaan yang paling membosankan sepanjang kuliah ini dapat kuselesaikan dengan baik, meskipun amanah organisasi seakan tak mengerti pada orang yang tengah meraba-raba dunianya. Biarlah, tak mengapa.

Al-Abidin Memanggil

Tidak kerja, hanya berharap pada beasiswa, padahal keinginan beli ini itu, terutama buku makin menggila. Ah, kebutuhan pulsa makin membengkak. Ternyata Allah memberikan jawabannya lewat sebuah SMS untuk tawaran mengajar science club di SMP Islam Internasional al-Abidin. Meskipun belum pernah punya pengalaman mengajar, kuberanikan diri untuk mengambil tantangan itu, karena juga terdesak kebutuhan ekonomi. Ah, aku pasti bisa. Insya Allah

Dan kali ini aku merasa lebih baik, karena bukan aku yang mencari pekerjaan, tetapi aku masih dipercaya untuk membimbing anak orang agar menjadi lebih baik. Semoga bisa memenuhi harapan sekolah dan anak-anak yang ingin belajar sains dengan lebih baik.

Hari ini, undangan meeting perdana untuk guru-guru telah dilakukan. Ternyata sekolah Islam terpadu itu memiliki sebuah warna tersendiri yang membuat orang yang bekerja lebih nyaman. Iya lah, pemandangan di dalamnya juga enak di mata kok. Dan itu makin membuat aku nyaman dan enjoy menikmati profesi baru di sekolah ini. Semoga bisa bertahan lama sampai aku bisa mengajari anak-anak untuk membuat produk sains, meskipun hanya sederhana sekali.

Inspirasi Mendirikan Sekolah

Saat Mr. Pam pam, sang Kepala Sekolah memberikan pengarahan, banyak inspirasi baru yang muncul di kepalaku. Intinya semua itu mengerucut pada sebuah mimpi untuk membuat sekolah seperti itu di daerah sendiri nantinya. Yah, mimpi yang pernah ku gambar di atas kertas dan discan Pak Sriyanta waktu SMA akan mengalami sedikit modifikasi seiring dengan perkembangan wawasan dan momentum yang kumiliki. Membuat sekolah yang menjadi garda terdepan dalam menjaga moral dan akhlak bangsa harus menjadi mimpi para aktivis hari ini, khususnya aktivis yang sedang berkecimpung dalam pendidikan. Karena sekolah mandiri yang Islami adalah solusi nyata untuk mencetak generasi-generasi yang salih.