Hal yang terpenting dari proses belajar itu adalah menemukan inspirasi. Semewah apa pun penyajiannya, semenarik apa pun penampilannya, sememikat apa pun perkataannya, jika seorang guru gagal menginspirasi dan para siswanya gagal mengambil inspirasi, sia-sialah proses belajar itu. Berapa banyak suapan-suapan ilmu yang telah menjejali kepala siswa-siswa kita hari ini, tetapi apakah mereka menjadi orang yang semakin mengerti? Mengerti bahwa belajar itu untuk mengetahui bahwa dia itu tidak tahu. Mengerti bahwa dengan banyak tidak tahu maka dia semakin giat untuk mencari tahu agar semakin mengetahui bahwa ia tidak tahu.

Tadi pagi gembira sekali rasanya bisa mengajak adik-adik bermain pesawat kertas di halaman. Riang sekali mereka. Sepertinya permainan-permainan tradisional seperti ini sudah lama sekali memudar. Beruntung aku dapat menjadi fasilitator mereka dalam kelompok sains. Aku dapat mempraktekan sesuatu aneh dan cenderung di luar pemikiran normal para guru hari ini. Yah, ekstra sains biasanya identik dengan praktikum dan seperangkat alat-alat laboratorium yang menjemukan.

Dan tahukah hari ini apa kegiatannya? Bermain pesawat kertas. Aku berpikir dengan mengajak mereka membawa kertas bekas dan melipatnya menjadi mainan pesawat sepertinya akan menjadi sesuatu hal yang menarik. Sejujurnya aku pun baru membuat pesawat kertas juga pagi hari itu setelah bertahun-tahun tak terpikir untuk mempraktekan permainan yang begitu mengasyikkan di masa kecil itu. Pertama kali, pesawat buatanku tidak dapat terbang dengan benar, meskipun untuk kali kedua dan seterusnya berhasil. Pun demikian terhadap sebagian besar adik-adik yang putri. Yah, permainan yang super murah ini hampir punah.

Meskipun riang dan tidak jarang menimbulkan kegaduhan karena yang putra saling mengejek kelompoknya lantaran pesawat yang mereka buat, ternyata pagi ini tak semulus rencanaku. Niatnya karya-karya mereka mau kufoto dan ku pampang di blog yang udah kusiapkan secara khusus, ternyata polemik persaingan mereka membuat aku harus bersabar. Dan hal yang aku sayangkan, belum muncul sebuah gagasan gila dari adik-adik mengapa aku mengajak mereka. Ada bocah yang selalu mengulang kesalahan dalam menerbangkan pesawatnya sehingga selalu mendarat di atap. Aku biarkan saja ia untuk berpikir. Ternyata masih belum muncul juga. Padahal, bukankah sebenarnya bermain-main pesawat kertas itu juga dapat digunakan untuk mengetahui arah dan gambaran besarkanya kecepatan angin. Namun kata itu tak kunjung muncul dalam celoteh mereka, maupun dalam laporan mereka. Ah, itu salahku yang kurang memantik mereka.

Ini sedikit cerita mengajarku pagi ini bersama squad level 7. Spesial untuk Kamal, imbangi teman-temanmu ya nak. Semoga berhasil meraih mimpi dan menjadi yang terbaik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.