Asesmen adalah aktivitas yang sangat penting dalam pembelajaran. Sebuah proses pembelajaran akan berkualitas manakala di mulai dari sebuah tujuan yang jelas, perencanaan yang matang dan dikawal dengan proses asesmen yang baik. Tujuan yang jelas akan menjadikan aktivitas pembelajaran terarah. Tujuan yang dimaksudkan di sini adalah tujuan instruksional dalam pembelajaran. Sedangkan perencanaan akan memungkinkan segala hal yang perlu di lakukan selama aktivitas belajar dapat disiapkan dan dapat dikontrol dengan baik. Pada akhirnya dengan adanya kawalan asesmen yang berkelanjutan akan menghasilkan sebuah hasil belajar yang baik. Baik karena memang prosesnya juga baik. Dan baik karena outcome dan output-nya juga memenuhi standar yang telah ditetapkan.

Salah satu bagian terpenting dalam proses asesmen adalah teknik yang digunakan. Dalam bahasa yang lebih khusus, maka teknik yang dimaksud adalah teknik-teknik penilaian yang digunakan untuk mengukur kemampuan proses dan hasil yang ditunjukkan oleh siswa selama mengikuti pembelajaran. Dalam konteks pembicaraan tentang asesmen pembelajaran fisika maka teknik-teknik yang tepat dalam pembelajaran fisika sangat diperlukan. Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang selalu dikawal dengan asesmen yang tepat. Asesmen yang baik adalah asesmen yang dapat mengukur kondisi-kondisi dan capaian hasil yang diinginkan selama proses pembelajaran sampai selesai.

Seperti dalam makalah tentang SAIL FORCES yang pernah saya tulis sebelumnya sebagai UKD I asesmen, maka di sini saya akan memaparkan berbagai ragam teknik penilaian fisika yang berbasis Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Maka dari itu, sebelum pembahasan dilanjutkan pada ragam teknik penilaian, akan saya ulas kembali tentang makalah yang pernah saya tulis, yaitu SAIL – FORCES adalah kependekan Smart Assessment and Optimize Learning for Rebuilding Character of Student. SAIL – FORCES adalah sebuah metode asesmen dan perbaikan kualitas pembelajaran berdasarkan pengamatan di lapangan dan kajian-kajian terkait perbaikan pembelajaran.

Substansi dari SAIL – FORCES adalah

  1. Asesmen atau Penilaian

Asesmen yang dilakukan di sini adalah asesmen otentik, yaitu praktik asesmen yang secara langsung dan bermakna atau apa yang diases merupakan sesuatu yang benar-benar diperlukan dalam kehidupan nyata siswa.

Menurut (Hart, 1994), asesmen otentik yaitu asesmen yang melibatkan siswa didalam tugas-tugas otentik yang bermanfaat, penting, dan bermakna.  Berbagai tipe asesmen otentik menurut Hibbard (2000) adalah: 1) asesmen kinerja, 2) observasi dan pertanyaan, 3) presentasi dan diskusi, 4) proyek dan investigasi, dan 5) portofolio dan jurnal.  Hal senada juga dijelaskan oleh David W. Johnson dan Roger T. Johnson (2002) bahwa otentik asesmen meminta siswa untuk mendemonstrasikan keterampilan atau prosedur dalam konteks dunia nyata.

Dengan demikian, evaluasi terhadap siswa tidak terbatas pada aktivitas-aktivitas selama di dalam kelas atau bahkan hanya dari kertas hasil ulangan mereka, tetapi juga apa yang mereka rencanakan dan wujudkan di luar sana pada hal-hal yang relevan dengan pelajaran. Hal ini adalah bentuk dari smart assessment yang bersifat integral dan komprehensif.

  1. Optimalisasi pembelajaran

Sebagai follow up dari asesmen yang telah dilakukan, maka dapat dilakukan optimalisasi pembelajaran dengan melakukan perbaikan metode agar sesuai dengan kebutuhan siswa yang sebenarnya berdasarkan hasil asesmen yang telah dilakukan.

Hal ini merupakan wujud nyata komitmen seorang guru untuk memberikan pendidikan yang mencerdaskan siswanya. Karena asesmen adalah sarana untuk mengukur kemajuan perkembangan peserta didik, bukan untuk menjustifikasi bodoh dan pintarnya mereka. Hal ini sesuai dengan pandangan Munif Chatib dalam bukunya yang berjudul “Sekolahnya Manusia”.

Kemudian, apa relevansi SAIL – FORCES dengan ragam teknik penilaian pembelajaran Fisika berbasis KTSP? Relevansinya adalah KTSP menuntut adanya otonomi pembelajaran berbasis kondisi riil yang ada di tingkat satuan pendidikan berdasarkan arahan-arahan materi umum dari pusat. Sehingga teknik-teknik penilaian yang dilakukan harus tepat sesuai dengan kebutuhan belajar siswa dan harus dapat dijadikan bahan refleksi untuk perbaikan pembelajaran selanjutnya. Karena menilai tidak sekedar memberikan angka justifikasi, tetapi sebuah apresiasi yang menyiratkan pesan untuk siswa belajar dan guru memperbaiki pembelajarannya.

Adapun ragam teknik penilaian pembelajaran Fisika berbasis KTSP harus dilihat dari model yang digunakan dahulu. Dalam konteks KTSP seorang guru dapat membuat variasi pembelajaran selama satu semester, bahkan satu tahun. Hal ini dimaksudkan agar pembelajaran yang diberikan relevan dan mudah diterima oleh siswa. Jadi tidak harus mengikuti arahan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dalam hal metode dan urutan penyampaian, selagi substansi pembelajaran dapat tersampaikan sesuai SK dan KD yang telah ditetapkan dalam batas-batas waktu studi.

Maka dari itu, teknik-teknik pembelajaran yang dapat digunakan secara kondisional dengan basis KTSP adalah sebagai berikut:

  1. Jika pembelajaran selama satu semester lebih banyak membutuhkan metode didaktis dan diskusi, maka teknik penilaian yang dapat digunakan adalah soal pilihan ganda, soal esai, atau soal penugasan makalah. Misalkan untuk materi-materi kelas XII SMA, maka di sana lebih banyak kajian secara teoritis, sehingga teknik penilaian yang tepat adalah dengan penyelenggaraan ujian secara konvensional, hanya saja substansi ujiannya lebih diperhatikan agar dapat mengukur kompetensi siswa sesuai dengan SK dan KD yang telah ditetapkan.
  2. Jika pembelajaran selama satu semester lebih banyak membutuhkan praktik dan penguasaan konsep, maka teknik penilaian dapat dilakukan dengan tes praktikum, dapat juga dilakukan tes dalam bentuk expo. Ini dapat diterapkan pada materi-materi di kelas X dan kelas XI SMA pada bagian semester pertama. Di sana siswa tidak hanya dituntut mengerti secara konsep, tetapi lebih banyak pada penjelasan mendasar mengenaik konsep dan prinsip kerja konsep fisika.
  3. Jika pembelajaran selama satu semester materi-materinya dapat dikonsep secara integral, maka teknik penilaian dapat dilakukan secara komprehensif melalui penugasan proyek di mana didalamnya mencakup berbagai hal meliputi tes wawancara untuk mengetahui penguasaan konsep dan kreativitas gagasan, tes presentasi untuk melihat kemampuan menyampaikan gagasan dan konsep-konsep fisikaagar dimengerti oleh yang lain. Ini dapat dilakukan pada waktu akhir tahun, dapat bersifat individual dapat juga secara kelompok, intinya adalah pada instrument penilaiannya. Sehingga guru benar-benar dapat mengerti apakah siswa-siswa memiliki asertifitas terhadap pembelajaran fisika sehingga dapat meningkat kompetensinya.

Pada prinsipnya, teknik-teknik di atas bisa juga digabungkan untuk mengasesmen keberjalanan pembelajarn fisika yang dilakukan. Ragam-ragam teknik di atas sangat fleksibel untuk ditetapkan sesuai dengan kondisi untuk mengukur ketercapaian kompetensi siswa selama mengikuti pembelajaran.

Demikian ragam-ragam teknik-teknik penilaian pembelajaran fisika berbasis KTSP yang dapat dilakukan para guru agar kualitas pembelajaran dapat semakin baik dan dapat menjadi bahan informasi yang baik pula dalam pendidikan. Akhirnya saya berharap semoga tulisan ini dapat mencerahkan wawasan untuk kita tidak hanya sekedar mengerti jenis-jenis teknik penilaian pembelajaran fisika, tetapi juga mengerti konteks bagaimana menerapkannya. Peluru butuh senjata yang paling tetap untuk melontarkannya. Demikianlah teknik-teknik penilaian, ia hanya sebuah peluru yang butuh konteks yang tepat untuk diaplikasikan.

 

Ini adalah tugas Mata Kuliah Asesmen Pembelajaran Fisika

oleh Yuli Ardika Prihatama

1 Comment

  1. Pingback: Paket Cerdas Teknik Penilaian Pembelajaran Fisika dalam Bingkai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan | Fisika

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.