Siapa yang tak mengenal pelajaran fisika? Sejak SD kita sudah mengenal IPA. Ketika SMP, kita kemudian mengenal fisika sebagai bagian dari IPA. Seterusnya ketika SMA hingga akhirnya di perguruan tinggi. Konon, pelajaran fisika adalah pelajaran yang sangat ditakuti oleh para siswa bahkan terkadang sampai dibenci hingga mati-matian. Terkadang pernah terungkap cerita bagaimana seorang ayah rela mengucurkan dana yang besar untuk menguatkan kemampuan anaknya mengerjakan soal fisika melalui bimbingan belajar terfavorit. Dan biasanya itu diiringi sekalian dengan belajar matematika.

Ada apa dengan fisika? Di sini kita tidak akan berbicara banyak tentang materi fisika. Kita tidak akan membahas tentang elektron yang didefinisikan dalam fungsi gelombang di alam elektron. Tetapi kita akan membahas arti penting membelajarkan fisika dan menjadikannya sebagai salah satu pelajaran untuk membentuk kepemimpinan siswa.

Fisika bukan Matematika

Ada sebuah cerita tentang tindakan seorang guru besar di Pendidikan Fisika UNS dalam meluruskan persepsi pembelajaran fisika. Ketika itu beliau mengisi kegiatan PLPG guru, beliau menampilkan aplikasi hukum Archimedes dalam sebuah praktikum sederhana yang memanfaatkan air dan plastisin. Beliau ingin menunjukkan bagaimana benda itu melayang. Tiba-tiba ada guru yang menyeletuk, “Pak, kalau seperti itu terus, kapan pelajaran fisikanya?” kata seorang guru peserta PLPG. Mendengar pertanyaan itu beliau menatap para peserta dengan sorot mata tajam dan bertanya, “Saudara guru fisika atau matematika?” kemudian beliau berlalu dan materi pun dilanjutkan oleh dosen pendamping beliau yang lebih muda.

Kisah di atas hanyalah gambaran bagaimana guru fisika hari ini mendidik para siswanya. Memang tidak semuanya, tetapi saya yakin sebagian besar guru fisika telah memulai pembelajarannya dengan sebuah kesalahan, yaitu mentransformasikan pelajaran fisika menjadi matematika. Fisika adalah kumpulan rumus yang rumit dan membosankan. Belajar fisika adalah belajar bagaimana menghafal rumus dan menggunakannya dalam menghitung soal-soal. Yang paling menyedihkan, pembelajaran fisika di kelas tertinggi baik SMP atau SMA semua difokuskan untuk mengasah kemampuan siswa menjawab soal demi tercapainya nilai Ujian Nasional yang tinggi secara kolektif agar reputasi sekolah meningkat. Apakah itu salah? Tidak sepenuhnya, tapi rasanya sia-sia jika tiga tahun siswa belajar fisika hanya untuk menjadi pekerja soal yang abstrak lagi muskil.

Pertanyaan balik guru besar kepada peserta adalah ekspresi kemarahan sekaligus kekecewaan pada guru yang mendapat amanah besar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Bagaimana pembelajaran fisika akan menyenangkan jika guru-gurunya saja tidak jauh berbeda dengan dosen matematika yang hanya mengajarkan simbol, angka dan persamaan. Inilah titik permasalahan mendasar yang menjadikan fisika sampai hari ini mata pelajaran yang ditakuti banyak siswa hingga menjadikan mereka malas belajar. Padahal, kata Prof. Yohannes Surya fisika itu seharusnya menyenangkan. Karena fisika adalah ilmu yang mengajak para siswa mengeksplorasi kejadian yang ada disekitarnya dari benda-benda mati yang saling berinteraksi. Dan pada akhirnya itu mengantarkan kita pada kekaguman kepada yang menciptakan itu semua, dialah sang Pencipta alam raya ini.

Di samping itu, menurut pemerintah dalam hal ini kemendikbud, melalui dikdasmen-nya menyatakan bahwa pembelajaran fisika itu sendiri dilakukan untuk membekali peserta didik dasar pengetahuan tentang hukum-hukum kealaman yang penguasaannya menjadi dasar sekaligus syarat kemampuan yang berfungsi mengantarkan para siswa mencapai kompetensi program keahliannya. Di samping itu mata pelajaran fisika mempersiapkan siswa agar dapat mengembangkan program keahliannya pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Penguasaan mata pelajaran fisika memudahkan para siswa menganalisis proses-proses yang berkaitan dengan dasar-dasar kinerja peralatan dan piranti yang difungsikan untuk mendukung pembentukan kompetensi  program keahlian.

Jadi pembelajaran fisika yang ideal itu diarahkan sesuai dengan visi dan harapan siswa ke depan. Maka, pembelajaran fisika yang ideal itu tidak sekadar untuk menghabiskan waktu membahas rumus, tetapi juga memotivasi dan menempatkan siswa untuk berpikir tentang cita-citanya nanti setelah selesai dari jenjang pendidikan dasar dan menengah. Mungkinkah itu terjadi jika, banyak “ketersesatan” yang dialami oleh banyak guru fisika hari ini?

…..bersambung

2 Comments

  1. ardianmuad19

    Terkadang guru Fisika itu sulit untuk mengajarkan ilmunya, karena Fisika itu rumit dan luas cakupannya, sehingga perlu teknik,metode dan media yang cocok untuk mentrasfer materi fisika. Metode dan media yang tidak membosankan tentunya. Bagaimana caranya biar fisika itu bisa membuat siswa-siswi asik dalam menyelami dunia fisika.

    Pada hakikatnya, mudah untuk mentrasfer nilai, tapi susah untuk mentransfer sebuah materi, terutama materi yang berkaitan dengan rumus-rumus, seperti astronomi, mekanika kuantum, Listrik Magnet, Usaha dan Energi, Termodinamika, Gaya, Gelombang Optik, dll. YAng jelas fisika itu memang asik. YA ga mas?

    mas dika, buku nya masih di sya mas…

    jrang ketemu , jadi blm tak kembaliin,,, hehe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.