Menelaah yang Terabaikan

Ada tiga pertanyaan yang dapat kita ajukan tentang “ketersesatan” guru-guru fisika hari ini, yaitu niatnya mengapa ingin menjadi guru fisika, kemudian apa yang telah ia dapatkan selama kuliah di kampus, dan yang terakhir adalah visi saat dilantik (baca : diwisuda) menjadi guru fisika.

Pertanyaan pertama, niat menjadi guru fisika. Sebelumnya mari kita kaji sebuah hadits dalam kitab Hadits Arba’in tentang niat. Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya akan mendapatkan atas setiap yang diniatkannya. Demikian terjemah hadits tersebut pada bagian awalnya. Jadi niat seperti apakah yang tertulis di hati para guru hari ini, khususnya guru fisika. Jika kita berkata, “hanya Allah yang tahu, maka selesailah pembahasan masalah ini. Namun sebaiknya kita tidak berhenti di sini, marilah kita lanjutkan dari dampak niat yang terlihat di luar, dengan mata kepala kita.

Apa pendapat kita jika guru mewajibkan siswa mempunyai buku pegangan dan berkata, “Anak-anak, buka halaman sekian, baca dan pelajari baik-baik, kemudian kerjakan latihan di akhir bab ya, Bapak mau ada keperluan di luar sebentar, nanti sebelum pelajaran usai Bapak akan kembali”? Jika itu sering dilakukan oleh sang guru, tentu kita akan berkata bahwa guru tersebut tidak menjadi bertanggung jawab. Berniatkah guru yang seperti itu dalam mendidik? Sulit rasanya kita berhusnudzan untuk tipe guru yang menggunakan media sebagai alibi untuk menyembunyikan kemalasannya menjalankan amanah.

Diakui atau tidak, hari ini kita masih mendapati guru-guru yang seperti itu dalam jumlah banyak, bahkan yang sudah sertifikasi sekalipun. Alih-alih sebagai sarana peningkatan profesionalitas guru, sertifikasi justru menjadikan guru semakin konsumtif, hedonis dan gila fasilitas. Guru menjadi ketergantungan dengan banyak hal mulai dari media hingga kondisi siswa. Kalau medianya tidak baik, kualitas pembelajaran menjadi menurun drastis, alasannya tidak didukung oleh media. Kalau siswanya tidak antusias, guru menjadi malas mengajar. Ini adalah indikator-indikator yang kasat mata untuk kita melihat seberapa besar niat guru mengajar, lebih-lebih mengajar fisika yang sudah dipersepsikan sulit lagi menyulitkan.

Yang kedua, apa yang telah didapatkan para guru tersebut selama dikampus. Materi fisika? Pada faktanya mungkin tidak lebih dari 40 persen atau bahkan lebih kecil dari itu materi fisika selama perkuliahan di kampus yang benar-benar menjadi bahan baku untuk diolah dan disampaikan kembali ke siswa. Lalu apa yang sebenarnya paling penting dari sebuah perkuliahan tersebut? Yang paling penting dari sebuah proses perkuliahan di kampus adalah spirit belajar dan melakukan penggalian inspirasi sebanyak-banyaknya.

Jika guru fisika hari ini tak banyak membangkitkan semangat belajar siswa, mungkin karena selama kuliah di kampus memang tidak banyak termotivasi untuk belajar. Belajar mereka hanya untuk sebuah hal yang pragmatis. Belajar yang tidak menggunakan perasaan dan nurani. Memenuhi tugas dosen saja. Dan bukan sebagai panggilan jiwa. Akibatnya, makna dan inspirasi yang diperoleh selama kuliahpun tak lebih dari seujung kuku, yang akan mudah hilang ketika uang dan kedudukan telah menggelayuti.

Yang terakhir, apa visi para guru fisika ketika dilantik (baca : diwisuda)? Janji apakah yang mereka ucapkan dalam hati saat toga telah mereka kenakan dan gelar sarjana secara resmi disematkan? Menarik sekali jika kita membaca buku-bukunya Munif Chatib, terutama yang berjudul “Gurunya Manusia”. Di sana dipaparkan inspirasi tentang membangun kepribadian sebagai guru yang benar-benar guru, gurunya manusia. Salah satu spirit yang beliau sampaikan adalah guru itu manusia yang tak pernah berhenti untuk belajar. Berkaitan dengan visi di atas, masih banyakkah guru-guru fisika hari ini yang bersedia untuk meluangkan banyak waktunya berkreasi dan melakukan eksplorasi untuk membedah berbagai fenomena alam bersama para siswanya? Yang banyak justru paradoks, guru-guru yang terlalu mengalami tekanan karena target nilai kelulusan fisika yang dipatok tinggi oleh sekolah sehingga mereka seolah-olah beralih menjadi pengajar matematika. Padahal fisika itu bukan matematika.

Tekanan sekolah sebagai implikasi kebijakan pemerintah terkait ujian nasional, sarana pendukung dari buku-buku pelajaran yang mengamini, menjadi tantangan tersendiri para guru fisika hari ini untuk tampil idealis sesuai visi ideal seorang guru fisika saat diwisuda. Sanggupkah mereka melawan berbagai tekanan itu untuk tetap menjadi gurunya manusia yang menebarkan ajaran fisika secara benar sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ada? Salah seorang doktor di bidang pendidikan IPA di kampus UNS, Dr. Sarwanto, S. Pd., M. Si. berkata bahwa idealnya seorang guru memiliki perangkat mengajar sendiri yang kreatif dan mampu menjadi inspirasi bagi siswanya.

Demikianlah telaah sebuah perkara yang sering terabaikan terkait dengan kesatuan niat, ilmu, dan visi dalam menjadi guru fisika. Menjadi guru itu berkaitan dengan niat, apakah itu profesi atau panggilan jiwa. Menjadi guru itu membutuhkan ilmu yang dalam, apakah itu sekedar pengertian atau pemahaman hingga sampai pemaknaan. Menjadi guru itu mengharuskan mereka harus bervisi untuk menanamkan dasar-dasar belajar yang baik bagi siswanya, terutama belajar tentang hidup sesuai dengan perspektif dan bidang yang diajarkan. Berkaitan dengan fisika, maka visi yang harus di bangun seorang guru dalam mendidik adalah membentuk siswa-siswa mereka yang dekat dengan alam, peduli lingkungan, dan kreatif dalam mengelola lingkungan berdasarkan konsep interaksi antara benda mati yang telah mereka pelajari.

Jika ketiga hal di atas tidak terpatri di sanubari para guru fisika hari ini, memang tidak salah jika “ketersesatan” terus merajalela dan menjadikan para siswa sebagai korban ketidakjelasan pembelajaran. Dan parahnya, mereka menjadi ikut pragmatis lantaran tidak mendapat penguatan dan motivasi yang benar tentang belajar fisika.

….bersambung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.