Realita Pembelajaran Fisika

Fisika sering dikenal sebagai “momoknya” pelajaran sebagai saudaranya matematika, bahkan terkadang ada yang berpendapat jauh lebih mengerikan. Karena di samping menghitung, fisika juga dianggap sebagai mata pelajaran yang mengharuskan siswa menghafalkan segudang symbol dan rumus yang sulit dimengerti. Disadari atau tidak, paradigma ini telah berkembang dan menghinggapi banyak kepala siswa-siswi di negeri ini.

Guru Besar Ilmu Pendidikan Fisika Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof. Wiyanto menilai, proses pembelajaran ilmu fisika yang berlangsung di sekolah-sekolah hingga saat ini cenderung terjebak pada rutinitas. “Rutinitas yang dimaksud adalah guru memberi rumus, contoh soal, dan latihan-latihan yang dikerjakan siswa, sehingga siswa akan cepat bosan,” demikian ungkapan beliau dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar ke-62 Unnes di kampus Unnes, Semarang.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa secara substansial, fisika itu memang sulit. Karena pada prinsipnya, fisika itu memadukan sebuah kemampuan memandang fenomena alam untuk kemudian diterjemahkan dalam rumus-rumus matematis. Sehingga hal ini menuntut orang-orang yang belajar fisika untuk memahami dengan benar dan menerapkannya dalam kaidah matematika. Maka sulitnya belajar fisika itu akan semakin sempurna manakala banyak guru yang mengajarkannya menggunakan cara yang membosankan dan menegangkan. Hal ini secara berkelanjutan akan menjadi pengalaman belajar yang buruk bagi para siswa sehingga dapat meningkatkan rasa kebencian mereka terhadap fisika.

Dampak secara langsung dari kondisi ini adalah minat siswa untuk belajar memahami fisika dengan baik menjadi berkurang dan bahkan hilang. Ditambah lagi dengan sistem penilaian yang saat ini cenderung lebih justifikatif dari pada evaluative. Justifikatif maksudnya penilaian terhadap hasil belajar siswa hanya bersifat pelaporan hasil semata tanpa disertai sebuah solusi yang aplikatif tentang bagaimana cara memperbaiki kualitas belajar fisika. Maka tidak menutup kemungkinan juga bahwa siswa belajar fisika bukan untuk mengerti dan bisa mengaplikasikannya, tetapi hanya sekedar untuk memenuhi kewajiban sekolah dan mendapatkan nilai yang menyenangkan orang tua. Akibatnya, berbagai kecurangan dan serangkaian tindakan terpuji memenuhi suasana kelas pembelajaran fisika. Hal ini tidaklah mengherankan ketika dilakukan oleh anak-anak usia sekolah, mengingat kepala mereka terisi dengan ketakutan dengan nilai-nilai yang mengerikan lantaran ketidakmampuan mereka memahami materi dengan baik.

Dampak jangka panjangnya adalah tidak adanya karakter yang terbentuk dalam jiwa para siswa untuk mengimplementasikan secara eksplisit dan implisit dari materi-materi fisika yang telah mereka pelajari. Siswa akan tetap saja tidak mengerti mengapa benda bisa bergerak melingkar, mereka hanya mengerti berapa besarnya percepatan sentripetal dan gaya sentripetalnya. Betapa menjenuhkan akhirnya belajar fisika itu, karena hanya bermain pada domain soal khayalan dan ditambah dengan justifikasi angka kritis yang diberikan oleh guru.

Maka dari itu perlu adanya sebuah usaha agar pembelajaran fisika itu menjadi lebih bermakna, yang membuat siswa itu merasa membutuhkannya karena itu bermanfaat bagi dirinya. Maka ada dua hal mendasar yang harus segera dibenahi yaitu metode pembelajarannya dan asesmen pembelajarannya. Dalam makalah ini, penulis mengusulkan sebuah gagasan yang diberi nama SAIL – FORCES untuk perbaikan kualitas pembelajaran fisika.

SAIL – FORCES

SAIL – FORCES adalah kependekan Smart Assessment and Optimize Learning for Rebuilding Character of Student. SAIL – FORCES adalah sebuah metode asesmen dan perbaikan kualitas pembelajaran yang diusulkan oleh penulis berdasarkan pengamatan di lapangan dan kajian-kajian terkait perbaikan pembelajaran.

Substansi dari SAIL – FORCES adalah

  1. Asesmen atau Penilaian

Asesmen yang dilakukan di sini adalah asesmen otentik, yaitu praktik asesmen yang secara langsung dan bermakna atau apa yang diases merupakan sesuatu yang benar-benar diperlukan dalam kehidupan nyata siswa.

Menurut (Hart, 1994), asesmen otentik yaitu asesmen yang melibatkan siswa didalam tugas-tugas otentik yang bermanfaat, penting, dan bermakna.  Berbagai tipe asesmen otentik menurut Hibbard (2000) adalah: 1) asesmen kinerja, 2) observasi dan pertanyaan, 3) presentasi dan diskusi, 4) proyek dan investigasi, dan 5) portofolio dan jurnal.  Hal senada juga dijelaskan oleh David W. Johnson dan Roger T. Johnson (2002) bahwa otentik asesmen meminta siswa untuk mendemonstrasikan keterampilan atau prosedur dalam konteks dunia nyata.

Dengan demikian, evaluasi terhadap siswa tidak terbatas pada aktivitas-aktivitas selama di dalam kelas atau bahkan hanya dari kertas hasil ulangan mereka, tetapi juga apa yang mereka rencanakan dan wujudkan di luar sana pada hal-hal yang relevan dengan pelajaran. Hal ini adalah bentuk dari smart assessment yang bersifat integral dan komprehensif.

  1. Optimalisasi pembelajaran

Sebagai follow up dari asesmen yang telah dilakukan, maka dapat dilakukan optimalisasi pembelajaran dengan melakukan perbaikan metode agar sesuai dengan kebutuhan siswa yang sebenarnya berdasarkan hasil asesmen yang telah dilakukan.

Hal ini merupakan wujud nyata komitmen seorang guru untuk memberikan pendidikan yang mencerdaskan siswanya. Karena asesmen adalah sarana untuk mengukur kemajuan perkembangan peserta didik, bukan untuk menjustifikasi bodoh dan pintarnya mereka. Hal ini sesuai dengan pandangan Munif Chatib dalam bukunya yang berjudul “Sekolahnya Manusia”.

Paparan diatas hanyalah bentuk teoritis terhadap substansi SAIL – FORCES itu sendiri. Dalam uraian berikutnya akan dijelaskan lebih lanjut bagaimana aplikasi dari metode tersebut.

Implementasi SAIL – FORCES dalam Pembelajaran Fisika

Sebagaimana telah dijelaskan dalam paparan sebelumnya, substansi metode SAIL – FORCES terdiri dari asesmen otentik dan optimalisasi pembelajaran. Bagaimana penerapannya dalam pembelajaran fisika? Berikut adalah bagan tentang penerapan SAIL – FORCES tersebut.

Pada gambar di atas dipaparkan beberapa istilah seperti Zona K-7 yang merupakan kepanjangan dari Kejujuran, Komitmen, Keaktifan, Kerja sama, Kedisiplinan, Kemanfaatan, Keberlanjutan. Hal ini dimaksudkan agar KBM fisika senantiasa menjunjung tinggi kejujuran, yang diikuti komitmen dan keaktifan untuk belajar, kemudian didukung oleh proses kerja sama dan kedisiplinan untuk mencapai hasil yang memberikan kemanfaatan serta memiliki keberlanjutan.

Jadi, misalnya SAIL – FORCES diaplikasikan dalam pembelajaran fisika selama satu semester, maka proses pembelajarannya dapat dirancang seperti berikut.

 

Gambar 2. Bagan proses pembelajaran fisika mengaplikasikan SAIL – FORCES

  1. Pengenalan awal à internalisasi nilai dalam KBM Zona K-7 dengan outcome agar siswa menyepakati aturan main selama belajar fisika dengan semangat K-7.
  2. Pemaparan tema besar dan visi pembelajaran, artinya pembelajaran fisika satu semester tersebut ditargetkan untuk mencapai kompetensi apa saja. Pemaparan tersebut tidak hanya berbentuk pemaparan teoritis, tetapi lebih pada pemberian motivasi dan tantangan kepada siswa dengan target waktu satu semester. Misalnya pada pelajaran kelas X, ada materi tentang pengukuran, kinematika gerak, dan mekanika klasik seputar hukum Newton, maka sebaiknya ada tantangan bagi siswa untuk menciptakan sebuah karya, baik tulisan maupun produk yang lain untuk diprensentasikan atau dipamerkan di akhir pembelajaran. Sehingga pembelajaran fisika itu akan bermanfaat.
  3. Proses pembelajaran dan asesmen. Dalam proses ini guru sekedar menjadi fasilitator dalam pemaparan materi yang diikuti dengan asesmen secara terus menerus. Selama menjalankan aktivitas pembelajaran untuk menghasilkan produk atau karya ilmiah di akhir, maka asesmen dilakukan secara bertahap selama proses tersebut berlangsung. Secara teknis, semuanya merupakan kombinasi dari sekian bentuk-bentuk penilaian otentik yang telah disebutkan di atas. Misalnya terkai dengan proyek yang telah dipaparkan sebelumnya, berarti asesmen yang dapat dilakukan antara lain
    1. Tugas proyek dan investigasi, ini merupakan penugasan yang telah diberikan sejak awal sebagai tema besar
    2. Portofolio, jurnal, observasi, dan wawancara , untuk mengukur kemajuan aktivitas siswa selama mengikuti proses belajar menuju pencapaian hasil. Disini termasuk untuk melihat apakah siswa serius belajar untuk memahami substansi materi-materi yang ditargetkan selama satu semester tersebut.
    3. Penilaian diri, untuk mendukung proses kerja siswa melalui budaya kerja sama dan sifat-sifat baik yang lain
    4. Penilaian kinerja, untuk melihat keterampilan siswa dalam mewujudkan karya
    5. Presentasi dan diskusi, untuk mengukur kemampuan siswa dalam menyampaikan gagasan dan paparan tentang karya yang dibuatnya serta kemampuan berargumentasi yang baik terhadap berbagai respon dari siswa yang lain.
  4. Show Project adalah sarana untuk mengapresiasi hasil karya siswa sehingga dapat meningkatkan kebanggaan dan memotivasi mereka untuk berkarya
  5. Refleksi, sebagai sarana evaluasi bagi guru untuk memberikan penilaian atas kinerja yang dia lakukan dan siswa lakukan.

Tentu saja, hal terpenting dalam merealisasikan gagasan di atas adalah perencanaan yang matang. Hal ini dapat dilakukan melalui FGD yang panjang dan uji coba asesmen secara parsial dalam skala kecil.

Manfaat SAIL – FORCES

Jika SAIL – FORCES dilaksanakan, maka akan diperoleh beberapa manfaat sebagai berikut:

  1. Guru akan menjadi tertantang untuk membuat perencanaan pembelajaran. Jika organisasi saja membutuhkan program kerja, apalagi sebuah proses pendidikan yang akan mencetak manusia-manusia unggul, maka tentu perencanaannya harus lebih serius. Dan yang terpenting, mendidik itu adalah panggilan jiwa, bukan komersialisasi ilmu.
  2. Siswa akan terbiasa belajar dengan target dan mimpi. Siswa yang memiliki mimpi/ cita-cita yang jelas akan berbeda dengan siswa yang belajarnya mengalir seperti air. Perbedaannya adalah terletak pada kreativitas dia untuk mewujudkan mimpinya. Dampak jangka panjangnya, akan terbentuk manusia – manusia visioner yang berwawasan sains dengan karakter K-7.
  3. Siswa akan memiliki rasa kebanggaan karena hasil kerja kerasnya diapresiasi secara manusiawi, melalui berbagai proses dan ujian secara nyata, bukan semata-mata angka di rapor.
  4. Siswa akan terbiasa berkreasi untuk menciptakan hal-hal baru karena mendapatkan teladan yang nyata dari gurunya yang serius melakukan pembelajaran.

Kesimpulan

Sebagai penutup dari makalah ini, penulis menegaskan kembali bahwa SAIL – FORCES adalah gagasan bagaimana kita dapat mengelola pembelajaran fisika dengan baik yang dimulai dari proses asesmen yang komprehensif dan di-follow up dengan dinamis sehingga akan dihasilkan mutu pembelajaran yang baik dengan pencapaian kompetensi siswa yang memuaskan. Sehingga pendidikan Indonesia yang selama ini hanya menjadi komoditas akan bertransformasi menjadi sarana pencetakan generasi-generasi unggulan yang berwawasan sains dan berkarakter.

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu mencerdaskan kehidupan bangsa, itulah amanat undang-undang dasar kita. Pendidikan yang bermartabat adalah yang memanusiakan manusia sebagai entitas sosial yang berhak untuk berkembang dan merdeka. Semoga melalui perbaikan asesmen pembelajaran dan perbaikan kualitas pembelajaran pendidikan kita semakin maju dan berada di atas jalan yang benar.

 

Referensi

Chatib, Munif. 2009. Sekolahnya Manusia. Bandung: Mizan

http://www.fisikanet.lipi.go.id/utama.cgi?cetakartikel&1262401114

http://www.masbied.com/2010/01/14/pengertian-asesmen-bentuk-asesmen-dan-langkah-penerapan-asesmen/

http://nlearning.wordpress.com/2008/12/30/asesmen-otentik-untuk-kurikulum-tingkat-satuan-pendidikan/

http://majuburu.edublogs.org/2011/11/18/kenapa-fisika-membosankan/

Ini merupakan tulisan untuk tugas Mata Kuliah Assesmen Pembelajaran Fisika

1 Comment

  1. Pingback: Implementasi SAIL – FORCES untuk Membentuk Siswa yang Berwawasan Sains dan Berkarakter | Fisika

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.