Jika perguruan tinggi yang katanya tempatnya kaum cendikia dan para pemimpin bangsa saja isinya mayoritas orang-orang apatis dan netral, maka mau ambil dari mana lagi nih pemimpin-pemimpin bangsa berikutnya. Atau ambil dari Amerika saja (jadinya manut banget sama Pak Obama). Atau ambil dari Jepang (rajin impor Honda jadinya). Atau ambil dari Malaysia (rajin ngirim TKI sebagai barternya). Karena partai-partai yang ada di negeri ini hanya diisi oleh golongan partai nomor dua saja, yaitu pendukung ideologi saja, bukan pemikir. Mereka sibuk dukung sana dukung sini, mana yang enak dan mana yang duitnya banyak. Partai netral dan apatis kemudian membuat resolusi golput buta, ya buta karena mereka asal pukul setiap hal yang berbau politik tanpa mencermati siapa figurnya atau apa gerakannya. Pokoknya nggak ya nggak, begitu saja (mirip anak kecil).

Itulah empat partai aneh yang telah menjamur di kampus kita. Mari bertanya kita saat ini menjadi pendukung yang mana. Jika kita terbiasa resah dan kritis serta berinisiatif macam-macam maka mungkin kita tepat di golongan pertama. Kalau kita bingungan dan cenderung ikut mana yang ngetrend atau memang karena terlalu percaya berat sama orang yang mendoktrin kita berarti ya mungkin di golongan kedua. Kalau kita cenderung ga mau ambil resiko, atau kemudian memilih-milih mana yang menguntungkan kantong kita tanpa peduli skemanya secara komprehensif yah mungkin lebih tepat di golongan tiga. Apalagi kalau kita udah masa bodoh dan tidak ingin berbuat apa-apa selain nge-date dan pacaran saja (padahal harusnya masa-masa belajar dan berkarya), bilang I Love You melulu (padahal belum nikah), nge-game melulu (padahal udah bukan anak kecil).

Ada satu hal yang perlu di waspadai. Pertumbuhan keempat partai aneh di kampus tersebut sebenarnya akan normal ketika partai mahasiswa Ideologis berkuasa dengan konflik yang minimal. Ketika konfliknya banyak hingga melibatkan partai mahasiswa Pengikut ikut bertikai, kemudian partai mahasiswa Netral ikut komentar kemudian yang kecewa memilih keluar dan menjadi pendukung partai mahasiswa Apatis ini berarti ada yang tidak beres. Apalagi jika kemudian partai mahasiswa Ideologis ini terpecah dan benar-benar menjadi golongan yang saling menghancurkan, kemungkinan ada pihak eksternal yang turut bermain untuk mengacaukan keadaan. Pihak eksternal ini tentunya bermain karena partai Ideologis ini berkuasa terlalu kuat dan berpotensi melahirkan negarawan yang siap untuk melibas kepentingan yang merugikan negara ini. Tak segan-segan mereka mengirim agen-agen terbaiknya untuk menjadi anggota setiap partai agar saling bertikai baik dalam internalnya maupun di luarnya.

Jika Anda bukan penyuka bahasan politik, aku minta maaf. Ini juga bukan tulisan politik seperti yang sering dibicarakan orang-orang hari ini. Maaf aku juga tidak tertarik membahas politik partai yang lagi rebutan uang dan anggaran belanja negara hari ini. Aku berharap generasi di partai-partai itu yang masih seperti balita segera tamat riwayatnya dan digantikan oleh negarawan-negarawan muda dari kampus yang masih tersisa hari ini. Entah masih mencukupi jumlahnya atau tidak, tapi aku yakin ketika ada yang berkuasa kembali dia akan mampu menghidupkan semangat cinta tanah air lagi, seperti Jepang yang bangkit dari kejatuhan Hiroshima dan Nagasaki, seperti Jerman yang bangkit setelah tragedi Nazi berkuasa.

Jika kita menganggap Orde Baru adalah rezim hantu yang pernah berkuasa, maka Reformasi ini adalah jawabannya. Atau sebenarnya kita ketika itu telah akan berjaya, tetapi kemudian segerombolan pengkhianat bangsa ini kemudian membunuh potensi anak bangsa berikut para pemimpinnya yang masih mencintai ibu pertiwi. Tak perlu tunjuk hidung siapa pun. Semoga kita bisa memetik hikmah dari perjalanan bangsa kita yang terus menuju titik nadir ini. Moralnya semakin hancur, kepemimpinannya tak lagi berwibawa dan kehilangan integritas. Masihkah ada yang tersisa? Masih, yaitu harapan kita, yang masih bisa kita ceritakan kepada adik-adik kita di sekolah, di TPA, di halaqah, di forum-forum, dan kepada anak-anak kita ketika kita berhasil membangun keluarga bersama rekan seperjuangan kita.

2 Comments

    1. Yuli Ardika Prihatama

      He he he, minatnya masing-masing mbak. Tapi kan mbak Nella jago banget kalo udah nulis masalah bunga. Seandainya jadi buku keren loh mbak!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.